RONA, perempuan yang terlalu cermat untuk tertawa sembarangan, tapi juga terlalu rawan untuk menyembunyikan tawa sepenuhnya. Dan Amor, lelaki yang lebih mudah mengingat nama-nama hewan ketimbang menebak kapan perasaannya harus diucapkan.
Tidak ada yang lebih lucu dari dua orang peneliti jatuh cinta di atas kapal Pelni yang mengangkut truk, anak-anak rewel, dan beberapa orang yang tak tahu ke mana arah berlayar. Tapi di situlah Rona dan Amor duduk: berdebat soal kuda liar Sumbawa ketimbang memikirkan nasib hati mereka sendiri. Seolah cinta bisa ditakar dengan parameter, dan rindu bisa didefinisikan lewat perilaku hewan.
Mereka hendak meneliti kuda-kuda Sumbawa yang bertahan hidup setelah letusan Tambora 1815—populasi terakhir yang mengembangkan adaptasi unik terhadap tanah vulkanis. Generasi ke-200 ini menunjukkan perilaku migrasi yang aneh. Kuda-kuda itu, berkumpul setiap sore di area bekas aliran lahar. Seolah melakukan ritual kolektif. Kalau kata Rona, “memori genetik trauma geologis”. Amor lebih sederhana, “mungkin mereka cuma kangen leluhurnya.”
Namun di tengah laut inilah, sebelum kaki mereka menginjak tanah Sumbawa, percakapan-percakapan konyol yang tak bisa dimasukkan ke jurnal ilmiah itu muncul. Jangan harap ada kesimpulan akademik dari cerita ini. Bahkan mungkin, tak ada kesimpulan sama sekali. Yang ada hanya dua orang dengan rasa ingin tahu yang kelewat serius, dan iman yang kadang bolong seperti jala tua yang mencoba merangkul laut.
“Jangan duduk di situ, Mas,” kata Rona sambil menunjuk bagian kapal yang berkarat.
“Kenapa? Biar kalau kapalnya tenggelam aku langsung masuk surga?” jawab Amor, mengedipkan mata.
“Masuk surga kepalamu. Paling juga diseret malaikat, terus dikirim ke barak.”
Laut mendengus menertawakan mereka. Kapal Pelni itu menderu pelan, menelan matahari yang condong di ufuk barat.
“Aku mimpi kuda semalam,” kata Rona. “Kepalanya manusia, tapi tetap suka makan rumput.”
“Berarti itu aku. Aku manusia, tapi suka ngunyah daun kemangi.”
“Bukan kamu. Kuda itu lebih gendut.”
Amor tertawa keras. Angin mengibarkan kerudung Rona hingga menampar wajahnya sendiri.
“Kau serius soal proposal itu?” tanya Rona. “Kuda, ruang liarnya, dan sisa trauma letusan Tambora?”
“Kalau nggak serius, mana mungkin aku puasa anime tiga bulan untuk garap revisi latar belakang teoritis.”
“Dan kamu pakai Foucault segala.”
Amor menoleh, menahan senyum. “Trauma itu kan warisan juga. Di tubuh, di habitat, di ingatan. Foucault bilang, tubuh makhluk hidup menyimpan jejak kekuasaan.”
Rona mengangkat alis, menatapnya curiga, “Kamu beneran baca Foucault, atau biar terlihat seperti ilmuwan yang pernah makan buku, bukan cuma nasi padang?”
“Serius, dong. Aku bahkan pernah mimpi debat sama Foucault di terminal Bungurasih. Dia kalah telak karena nggak bisa jawab kenapa cinta bikin orang lupa teori.”
Rona terkekeh. Amor melanjutkan dengan wajah meyakinkan.
***
Di pertengahan jalan, sekitar selat Bali, dari jauh, lampu-lampu pulau dinyalakan. Satu-dua kecil-kecil seperti kunang. Dari langit, adzan Maghrib memantul di tubuh air. Rona diam. Tangannya menyentuh pagar dek kapal. Ia menatap laut seolah mencari sesuatu yang lebih dahsyat dari pusaran ombak.
“Kalau kita mati di sini, kamu pikir Tuhan bakal pisahkan kita?” tanyanya tiba-tiba.
“Kita mati pas Maghrib?” Amor membalikkan badan, menatap mata Rona yang meredup. “Berarti kita bisa minta pengantar khusus.”
“Pengantar?”
“Ya, malaikat yang jaga jam Maghrib, mungkin lebih romantis daripada yang jaga jam Zuhur. Zuhur itu pasti serius. Nggak bisa diajak bercanda.”
Rona tertawa. Tawanya ringan, seperti buih-buih kecil yang menari di ujung kapal.
***
Isya’ di laut datang diam-diam. Langit gelap, basah. Seolah baru selesai menangis.
“Kamu ingat cara salat?” tanya Rona, setengah bercanda, setengah takut.
Amor mengangguk. “Seingatku, cukup berdiri dan merasa malu.”
Rona tertawa, lalu diam. “Malu sama Tuhan?”
“Malu karena kita cuma mendekat kalau merasa kehilangan.”
Hening. Hanya percik air di sisi kapal, dan suara azan dari radio milik awak kapal.
“Mereka bilang salat itu mi’raj,” gumam Amor. “Tapi kadang kita hanya naik turun, tanpa tahu sedang ke mana.”
“Kita semua peneliti,” balas Rona, “Tapi tak ada yang benar-benar teliti soal diri sendiri.”
“Pintarnnya gadis ini, Ya Allah,” jawab Amor, lalu menatap ke arah langit. Udara dingin mencolek ujung hidungnya. “Kadang aku pikir, kamu itu bukan ilmuwan. Tapi pelawak yang nyasar ke dunia biologi,” katanya.
“Dan kamu dosen gagal yang terlalu tampan untuk jadi serius.”
“Ngaku,” bisik Amor, “Kamu naksir aku pertama kali gara-gara aku presentasi pakai batik printing, kan?”
Rona tertawa keras memukuli pundak Amor. Mereka saling tatap. Saling melempar masa silam. Mata mereka berkaca, suatu tanda cinta yang amat berlapis.
“Kalau kamu mau salat isya,” bisik Rona. “Bilang ke Tuhan, aku ingin selamanya dengar kamu bercanda.”
***
Angin subuh datang dengan napas asin. Laut menggelinjang pelan, seolah sedang menggeliat dari tidur panjangnya. Burung-burung terbang rendah. Di atas kepala mereka, cahaya pertama menyala seperti lilin dinyalakan. Ombak tenang. Tanpa tawa. Tanpa prasangka. Rona menunduk. Amor diam.
Rona menarik syal ke leher. “Doamu tadi apa?” tanya Rona, pelan, setelah diam cukup lama.
“Doaku?” Amor menoleh. “Aku bilang ke Tuhan: terima kasih sudah kasih laut yang segini luas, walau aku cuma berani berenang di matamu.”
“Cheesy sekali kamu, Mas.” Rona tersenyum. Tipis. Seperti garis cahaya yang mulai menjilat tiang-tiang kapal.
“Ya. Tapi kamu enggak kabur juga.” Amor menoleh. “Berarti doa itu dikabulkan.”
“Kalau kamu, Ron,” tanya Amor. “Doa subuhmu apa?”
Rona menghela napas, pelan. “Aku bilang ke Tuhan, tolong jangan bikin aku jatuh cinta lagi.”
“Lho?” Amor mengangkat alis. “Terus kenapa sekarang kamu duduk di sebelahku?”
Rona terkekeh. “Mungkin karena Tuhan suka bercanda.”
“Ah. Kami cocok berarti,” kata Amor. “Tuhan suka bercanda, aku suka kamu.”
Rona menutup wajahnya dengan syal. “Tuh, kan. Masih ngantuk ini, gombal terus.”
“Ini bukan gombal. Ini ekspresi biologis dari hati yang mengalami osmosis cinta.”
“Apaan itu, Mas?”
“Cinta, Ron. Cinta itu cairan. Dia merembes masuk ke dalam celah paling sempit, kayak cipratan air di celana yang belum kering.”
Rona tertawa geli, lalu menggigit bibir menahan dingin. “Kamu tuh, ya. Ilmuwan yang gagal romantis atau penyair yang gagal paham anatomi?”
“Dua-duanya gagal, tapi kamu tetap di sini. Jadi siapa sebenarnya yang harus dievaluasi?”
Mereka tertawa, lepas, lepas.
“Kamu ini ya, Mas… kadang bikin aku nyaman. Kadang juga bikin aku pengen nyemplung ke laut.”
“Pilih yang pertama, Ron. Lautnya dingin, hatiku hangat. Prioritaskan keselamatan.”
***
Menjelang Zuhur, kapal melamban. Matahari jadi dewa pemarah yang menembak ubun-ubun dengan tombak panasnya.
“Kuda-kuda di Sumbawa itu bisa tidur sambil berdiri,” kata Rona, menyeka keringat.
“Kayak dosen pas presentasi materi.”
“Kalau kamu kuda, kamu pasti yang tidur sambil jalan.”
“Kalau kamu kuda, kamu pasti yang naksir penjaganya.”
Mereka tergelak. Anak kapal melirik sekilas. Tertawa diam-diam.
“Zuhur tuh waktunya manusia mikir dosa, kamu tahu?” kata Rona, duduk di lantai dek.
“Tapi kita malah mikirin kuda.”
“Karena kuda nggak berdosa.”
“Hm, salah. Kuda bisa zinah. Kamu pikir kuda ngapain malam-malam di padang?”
Rona meninju lengan Amor.
Rona menatap ke langit yang putih dan panas. Dalam hatinya mungkin, ada sepotong doa yang ia selipkan tanpa suara.
***
Ashar jatuh seperti kelopak bunga yang luruh. Ombak mulai malas bergulung. Matahari perlahan melelehkan emasnya pada laut yang lelah.
“Pernah bayangin nggak,” kata Amor, “Kalau Tuhan duduk di antara awan pas Ashar, sambil nonton kita dari jauh?”
“Dan Tuhan mikir, ‘Duh, dua orang ini kapan dewasa?”
“Tepat sekali.”
Rona duduk dengan kepala bersandar ke pundak Amor. Kali ini tidak ada lelucon. Hanya desir angin. Waktu menguap dari tubuh mereka, dan laut, tampak seperti kaca yang pecah. Rona bicara perlahan:
“Kalau ternyata ini semua cuma fase, Mas… kamu dan aku… laut dan tawa… cuma sebentar, kamu takut nggak?”
Lama. Amor diam. Menghela napas, menatap jauh ke ujung horison.
“Takut, Ron” katanya pelan.
Rona menunduk. Angin menyibak anak rambutnya yang lepas dari kerudung.
“Aku pernah jatuh cinta sebelumnya,” kata Rona. “Dan yang paling kutakutkan… bukan patahnya. Tapi betapa cepat aku bisa lupa.”
Amor mengangguk pelan.
“Kamu tahu, Ron,” bisiknya, “Kalau cinta kita ini memang akan hilang, hanya satu permintaanku.”
“Apa?”
“Biarkan aku yang mengingat paling akhir.”
***
Maghrib turun seperti air mengalir dari langit. Sunyi menggantung seperti tirai. Amor memejamkan mata. Rona memeluk lutut.
“Kamu tahu,” kata Amor perlahan, “kalau semua waktu salat itu punya simbol?”
“Simbol?”
“Isya itu berani. Subuh itu harap. Zuhur itu fokus. Ashar itu pulang. Maghrib itu… rindu.”
Rona menoleh. Di matanya, warna jingga menari. “Kamu rindu siapa?” katanya.
“Diriku sendiri,” kata Amor. “Yang nggak takut kehilangan kamu.”
Dan di tengah laut, dengan langit yang membelah antara siang dan malam, mereka saling diam dalam pelukan laut. Di kapal ini, waktu tunduk pada percakapan. Waktu Zuhur bisa tiba lebih cepat bila Rona sedang serius. Waktu Maghrib bisa molor bila Amor menatap Rona terlalu lama. Dan Subuh—entah kenapa—selalu terasa seperti hari pertama mereka saling mengenal: hening, gugup, dan terlalu jujur untuk disembunyikan.
***
Pelabuhan Pato Tano sudah tampak di cakrawala. Sumbawa di ujung dermaga, siluet para kuda samar-samar di kejauhan.
“Lihat.” bisik Amor, “Mereka sudah menunggu kita.”
Rona tersenyum, indah sekali. “Jangan-jangan kuda-kuda itu yang bakal meneliti kita, siapa tahu, mereka lebih paham tentang cinta,” katanya.
Di geladak belakang, dua peneliti masih menggenggam satu sama lain, menunggu turunnya jangkar, sambil memikirkan kuda-kuda liar dan Tuhan yang barangkali sedang mengamati, tertawa kecil, lalu melanjutkan pekerjaan-Nya yang lain. [T]
Penulis: Kind Shella
Editor: Adnyana Ole



























