24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demokrasi Ala Leluhur Bali – Membaca Peribahasa “Clebingkah Batan Biu, Gumi Linggah Ajak Liu”

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 9, 2025
in Esai
Demokrasi Ala Leluhur Bali – Membaca Peribahasa “Clebingkah Batan Biu, Gumi Linggah Ajak Liu”

ilustrasi tatkala.co

ORANG Bali memiliki warisan bahasa dan budaya yang kaya. Salah satu wujudnya adalah peribahasa atau wewangsalan, yang tak hanya berfungsi sebagai permainan kata, melainkan juga menyimpan kearifan hidup.

Salah satunya adalah peribahasa “Clebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu.” Secara harfiah, baris pertama berarti “pecahan genteng di bawah pohon pisang” yang hanya berfungsi sebagai sampiran. Baris kedua mengandung makna inti, bahwa bumi ini luas, dan di dalamnya hidup bersama banyak orang. Dengan kata lain, peribahasa ini menegaskan bahwa kehidupan manusia ditandai oleh keragaman, baik karakter, sifat, keyakinan, dan cara hidup.

Leluhur kami memahami betul bahwa keberagaman adalah hukum alam. Sama seperti batang pisang yang tumbuh dengan banyak cabang, kehidupan manusia pun wajar bila berwarna-warni. Tugas kita bukan menyeragamkan, melainkan bagaimana mengelola perbedaan itu agar tetap bisa berjalan bersama. Inilah inti dari demokrasi ala leluhur Bali adalah demokrasi yang lahir dari kesadaran akan pluralitas, bukan dari paksaan kekuasaan.

Dari “Sok Eksis” ke Demokrasi

Seorang kawan wartawan pernah berkata, dengan nada setengah bercanda, bahwa saya ini “sok eksis” karena terlalu aktif di media sosial. Saya tersenyum. Benar, saya kerap berbagi banyak hal: yang serius, yang ringan, bahkan yang dianggap remeh-temeh. Tetapi bagi saya, media sosial bukan sekadar ajang pamer. Ia adalah wadah ekspresi, tempat ide dan gagasan berkelindan, sekaligus portofolio terbuka, wajah saya sebagai wartawan, penyair, dan esais.

Saya mengenal diri saya sejak kecil. Ketika hidup sedikit berbeda dari orang kebanyakan lantas dianggap aneh, saya justru ingin bertanya balik; sejak lama kita mengumandangkan demokrasi, tapi mengapa perbedaan cara hidup dan berpikir masih sering ditolak? Apakah demokrasi hanya berhenti pada slogan, tanpa benar-benar diwujudkan dalam laku keseharian?

Keseragaman kini seakan menjadi cita-cita manusia modern. Cara hidup, budaya, politik, agama, bahkan sistem sosial masyarakat, ingin dibuat seragam. Padahal, bila di Jawa seolah-olah semua orang diwajibkan Islam, atau di Bali seakan-akan semua orang diwajibkan Hindu—bukankah itu absurd?

Leluhur kami sudah jauh-jauh hari menegaskan bahwa manusia akan selalu berbeda. Maka tugas kita bukan menghapus perbedaan, melainkan mengolahnya menjadi harmoni.

Bagi orang Bali, menyampaikan pendapat bukan perkara sepele. Sejak kecil, kami diajarkan bahwa suara punya tempat. Tempat itu bernama sangkep, paruman, atau pesamuhan.

Di bale banjar, tubuh-tubuh duduk melingkar. Yang muda lebih banyak mendengar, lalu berbicara pelan dengan bahasa sopan. Yang tua menimbang, kadang lama sekali, sebelum akhirnya mufakat diucapkan. Keputusan lahir bukan dari suara yang paling keras, melainkan dari kesabaran saling menunggu. Demokrasi, dalam versi leluhur kami, tumbuh dari lingkaran, bukan dari podium.

Di paruman desa, suara-suara bisa berlangsung hingga larut malam. Di pesamuhan agung, para pemuka adat berbicara tentang tata upacara hingga masalah sosial yang menyangkut banyak orang. Semua dijalankan dengan satu sandaran, rasa malu (lek). Perbedaan tidak diumbar sembarangan. Ia dibawa masuk ke forum, dibungkus adat, dan diputuskan bersama. Kritik boleh tajam, tapi tetap ada pagar hormat.

Bagi orang Bali, forum bukan sekadar tempat bicara, melainkan ruang untuk merawat martabat. Kata yang salah tempat bisa merusak harmoni. Karena itulah, forum dijaga dengan etika: siapa berbicara, kapan waktunya, bagaimana cara menyampaikan. Demokrasi dijalankan bukan dengan kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan yang dipandu oleh malu, hormat, dan tata krama.

Pergeseran ke Media Sosial

Namun zaman bergeser. Internet datang, media sosial tumbuh. Forum-forum tidak lagi selalu berbentuk bale banjar. Ia berpindah ke layar ponsel.

Kini, orang Bali—meski tidak semuanya—lebih sering menyampaikan pendapat di Facebook, Instagram, atau grup WhatsApp. Suara yang dulunya berputar di bale banjar, kini bisa bergema hingga ke luar desa. Keluhan kecil bisa viral, menarik simpati, bahkan jadi perbincangan nasional.

Tetapi forum virtual itu sering kehilangan sifat dialogis. Grup WhatsApp kadang jadi monolog satu arah, yakni satu orang berbicara panjang, yang lain hanya membalas dengan emoji. Kritik yang dulu berlapis adat kini meluncur tanpa filter, kadang melukai perasaan. Perdebatan kusir mudah tercipta, sesuatu yang dahulu dianggap memalukan bila dipertontonkan di depan banyak orang.

Hal yang dulu dijaga dengan rasa malu, kini kerap menjadi tontonan publik. Rasa malu yang dulu merawat keseimbangan forum, perlahan terkikis oleh logika kecepatan. Di media sosial, orang merasa berhak berkata apa saja, tanpa lagi menimbang apakah kata itu menjaga harmoni atau justru merusak.

Di titik inilah kita perlu merenung. Demokrasi ala leluhur Bali tidak pernah memisahkan kebebasan dengan rasa malu. Malu bukan berarti takut bersuara, melainkan kesadaran bahwa suara kita punya dampak bagi orang lain. Malu membuat orang berpikir dua kali sebelum berbicara, bukan karena takut, melainkan karena menghormati.

Demokrasi tanpa malu akan melahirkan kebebasan yang liar. Demokrasi dengan malu melahirkan keseimbangan, yaitu, suara tetap bebas, tetapi disampaikan dengan hati-hati. Malu adalah pagar agar demokrasi tidak berubah menjadi anarki.

Dalam tradisi Bali, sopan santun bukan sekadar etiket, melainkan bagian dari sistem sosial. Seseorang yang berteriak di forum tanpa aturan akan dianggap tidak dewasa, bahkan memalukan keluarganya. Karena itu, demokrasi ala Bali selalu berdiri di atas dua kaki, kebebasan dan sopan.

Dari Desa Adat ke Ruang Digital

Desa adat selama ini berfungsi sebagai ruang demokrasi lokal. Ia menjadi tempat orang Bali belajar bahwa keputusan bersama lebih berharga daripada kemenangan pribadi. Bahkan ketika ada perbedaan pendapat yang tajam, desa adat selalu mencari jalan mufakat.

Kini, ketika forum berpindah ke media sosial, nilai itu mulai teruji. Orang lebih mudah menulis status marah ketimbang datang ke sangkep. Orang lebih cepat menyebar isu di grup WhatsApp ketimbang berbicara langsung di paruman.

Perubahan ini tidak bisa kita tolak. Media sosial adalah bagian dari hidup modern. Tetapi tantangannya adalah bagaimana membawa nilai demokrasi ala leluhur ke ruang baru ini. Bagaimana menjadikan Facebook sebagai bale banjar virtual, Instagram sebagai pesamuhan digital, dan WhatsApp sebagai paruman yang tetap dijalankan dengan sopan.

Demokrasi ala leluhur Bali adalah demokrasi yang mengakui perbedaan, menjaga forum, dan mengedepankan malu serta sopan. Ia lahir bukan dari teori politik Barat, melainkan dari praktik hidup sehari-hari: bagaimana banjar berjalan, bagaimana desa adat mengambil keputusan, bagaimana keluarga besar menyelesaikan masalah.

Hari ini, demokrasi itu ditantang oleh era digital. Tetapi justru di sinilah kita bisa membuktikan bahwa nilai leluhur tetap relevan. Bahwa meski forum berubah bentuk, semangatnya tetap sama: mendengar, menghormati, dan mencari mufakat.

Peribahasa lama berkata, clebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu. Dunia penuh cabang, manusia penuh rupa. Demokrasi sejati adalah ketika kita mampu menerima cabang-cabang itu, merawat perbedaan, tanpa kehilangan akar. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Tags: balidemokrasidigital
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Stop di Silat, Sukses di Muaythai — Kadek Bayu Suteja Raih Medali Emas di Porprov Bali 2025

Next Post

Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co