4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demokrasi Ala Leluhur Bali – Membaca Peribahasa “Clebingkah Batan Biu, Gumi Linggah Ajak Liu”

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 9, 2025
in Esai
Demokrasi Ala Leluhur Bali – Membaca Peribahasa “Clebingkah Batan Biu, Gumi Linggah Ajak Liu”

ilustrasi tatkala.co

ORANG Bali memiliki warisan bahasa dan budaya yang kaya. Salah satu wujudnya adalah peribahasa atau wewangsalan, yang tak hanya berfungsi sebagai permainan kata, melainkan juga menyimpan kearifan hidup.

Salah satunya adalah peribahasa “Clebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu.” Secara harfiah, baris pertama berarti “pecahan genteng di bawah pohon pisang” yang hanya berfungsi sebagai sampiran. Baris kedua mengandung makna inti, bahwa bumi ini luas, dan di dalamnya hidup bersama banyak orang. Dengan kata lain, peribahasa ini menegaskan bahwa kehidupan manusia ditandai oleh keragaman, baik karakter, sifat, keyakinan, dan cara hidup.

Leluhur kami memahami betul bahwa keberagaman adalah hukum alam. Sama seperti batang pisang yang tumbuh dengan banyak cabang, kehidupan manusia pun wajar bila berwarna-warni. Tugas kita bukan menyeragamkan, melainkan bagaimana mengelola perbedaan itu agar tetap bisa berjalan bersama. Inilah inti dari demokrasi ala leluhur Bali adalah demokrasi yang lahir dari kesadaran akan pluralitas, bukan dari paksaan kekuasaan.

Dari “Sok Eksis” ke Demokrasi

Seorang kawan wartawan pernah berkata, dengan nada setengah bercanda, bahwa saya ini “sok eksis” karena terlalu aktif di media sosial. Saya tersenyum. Benar, saya kerap berbagi banyak hal: yang serius, yang ringan, bahkan yang dianggap remeh-temeh. Tetapi bagi saya, media sosial bukan sekadar ajang pamer. Ia adalah wadah ekspresi, tempat ide dan gagasan berkelindan, sekaligus portofolio terbuka, wajah saya sebagai wartawan, penyair, dan esais.

Saya mengenal diri saya sejak kecil. Ketika hidup sedikit berbeda dari orang kebanyakan lantas dianggap aneh, saya justru ingin bertanya balik; sejak lama kita mengumandangkan demokrasi, tapi mengapa perbedaan cara hidup dan berpikir masih sering ditolak? Apakah demokrasi hanya berhenti pada slogan, tanpa benar-benar diwujudkan dalam laku keseharian?

Keseragaman kini seakan menjadi cita-cita manusia modern. Cara hidup, budaya, politik, agama, bahkan sistem sosial masyarakat, ingin dibuat seragam. Padahal, bila di Jawa seolah-olah semua orang diwajibkan Islam, atau di Bali seakan-akan semua orang diwajibkan Hindu—bukankah itu absurd?

Leluhur kami sudah jauh-jauh hari menegaskan bahwa manusia akan selalu berbeda. Maka tugas kita bukan menghapus perbedaan, melainkan mengolahnya menjadi harmoni.

Bagi orang Bali, menyampaikan pendapat bukan perkara sepele. Sejak kecil, kami diajarkan bahwa suara punya tempat. Tempat itu bernama sangkep, paruman, atau pesamuhan.

Di bale banjar, tubuh-tubuh duduk melingkar. Yang muda lebih banyak mendengar, lalu berbicara pelan dengan bahasa sopan. Yang tua menimbang, kadang lama sekali, sebelum akhirnya mufakat diucapkan. Keputusan lahir bukan dari suara yang paling keras, melainkan dari kesabaran saling menunggu. Demokrasi, dalam versi leluhur kami, tumbuh dari lingkaran, bukan dari podium.

Di paruman desa, suara-suara bisa berlangsung hingga larut malam. Di pesamuhan agung, para pemuka adat berbicara tentang tata upacara hingga masalah sosial yang menyangkut banyak orang. Semua dijalankan dengan satu sandaran, rasa malu (lek). Perbedaan tidak diumbar sembarangan. Ia dibawa masuk ke forum, dibungkus adat, dan diputuskan bersama. Kritik boleh tajam, tapi tetap ada pagar hormat.

Bagi orang Bali, forum bukan sekadar tempat bicara, melainkan ruang untuk merawat martabat. Kata yang salah tempat bisa merusak harmoni. Karena itulah, forum dijaga dengan etika: siapa berbicara, kapan waktunya, bagaimana cara menyampaikan. Demokrasi dijalankan bukan dengan kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan yang dipandu oleh malu, hormat, dan tata krama.

Pergeseran ke Media Sosial

Namun zaman bergeser. Internet datang, media sosial tumbuh. Forum-forum tidak lagi selalu berbentuk bale banjar. Ia berpindah ke layar ponsel.

Kini, orang Bali—meski tidak semuanya—lebih sering menyampaikan pendapat di Facebook, Instagram, atau grup WhatsApp. Suara yang dulunya berputar di bale banjar, kini bisa bergema hingga ke luar desa. Keluhan kecil bisa viral, menarik simpati, bahkan jadi perbincangan nasional.

Tetapi forum virtual itu sering kehilangan sifat dialogis. Grup WhatsApp kadang jadi monolog satu arah, yakni satu orang berbicara panjang, yang lain hanya membalas dengan emoji. Kritik yang dulu berlapis adat kini meluncur tanpa filter, kadang melukai perasaan. Perdebatan kusir mudah tercipta, sesuatu yang dahulu dianggap memalukan bila dipertontonkan di depan banyak orang.

Hal yang dulu dijaga dengan rasa malu, kini kerap menjadi tontonan publik. Rasa malu yang dulu merawat keseimbangan forum, perlahan terkikis oleh logika kecepatan. Di media sosial, orang merasa berhak berkata apa saja, tanpa lagi menimbang apakah kata itu menjaga harmoni atau justru merusak.

Di titik inilah kita perlu merenung. Demokrasi ala leluhur Bali tidak pernah memisahkan kebebasan dengan rasa malu. Malu bukan berarti takut bersuara, melainkan kesadaran bahwa suara kita punya dampak bagi orang lain. Malu membuat orang berpikir dua kali sebelum berbicara, bukan karena takut, melainkan karena menghormati.

Demokrasi tanpa malu akan melahirkan kebebasan yang liar. Demokrasi dengan malu melahirkan keseimbangan, yaitu, suara tetap bebas, tetapi disampaikan dengan hati-hati. Malu adalah pagar agar demokrasi tidak berubah menjadi anarki.

Dalam tradisi Bali, sopan santun bukan sekadar etiket, melainkan bagian dari sistem sosial. Seseorang yang berteriak di forum tanpa aturan akan dianggap tidak dewasa, bahkan memalukan keluarganya. Karena itu, demokrasi ala Bali selalu berdiri di atas dua kaki, kebebasan dan sopan.

Dari Desa Adat ke Ruang Digital

Desa adat selama ini berfungsi sebagai ruang demokrasi lokal. Ia menjadi tempat orang Bali belajar bahwa keputusan bersama lebih berharga daripada kemenangan pribadi. Bahkan ketika ada perbedaan pendapat yang tajam, desa adat selalu mencari jalan mufakat.

Kini, ketika forum berpindah ke media sosial, nilai itu mulai teruji. Orang lebih mudah menulis status marah ketimbang datang ke sangkep. Orang lebih cepat menyebar isu di grup WhatsApp ketimbang berbicara langsung di paruman.

Perubahan ini tidak bisa kita tolak. Media sosial adalah bagian dari hidup modern. Tetapi tantangannya adalah bagaimana membawa nilai demokrasi ala leluhur ke ruang baru ini. Bagaimana menjadikan Facebook sebagai bale banjar virtual, Instagram sebagai pesamuhan digital, dan WhatsApp sebagai paruman yang tetap dijalankan dengan sopan.

Demokrasi ala leluhur Bali adalah demokrasi yang mengakui perbedaan, menjaga forum, dan mengedepankan malu serta sopan. Ia lahir bukan dari teori politik Barat, melainkan dari praktik hidup sehari-hari: bagaimana banjar berjalan, bagaimana desa adat mengambil keputusan, bagaimana keluarga besar menyelesaikan masalah.

Hari ini, demokrasi itu ditantang oleh era digital. Tetapi justru di sinilah kita bisa membuktikan bahwa nilai leluhur tetap relevan. Bahwa meski forum berubah bentuk, semangatnya tetap sama: mendengar, menghormati, dan mencari mufakat.

Peribahasa lama berkata, clebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu. Dunia penuh cabang, manusia penuh rupa. Demokrasi sejati adalah ketika kita mampu menerima cabang-cabang itu, merawat perbedaan, tanpa kehilangan akar. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Tags: balidemokrasidigital
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Stop di Silat, Sukses di Muaythai — Kadek Bayu Suteja Raih Medali Emas di Porprov Bali 2025

Next Post

Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co