4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demokrasi Ala Leluhur Bali – Membaca Peribahasa “Clebingkah Batan Biu, Gumi Linggah Ajak Liu”

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 9, 2025
in Esai
Demokrasi Ala Leluhur Bali – Membaca Peribahasa “Clebingkah Batan Biu, Gumi Linggah Ajak Liu”

ilustrasi tatkala.co

ORANG Bali memiliki warisan bahasa dan budaya yang kaya. Salah satu wujudnya adalah peribahasa atau wewangsalan, yang tak hanya berfungsi sebagai permainan kata, melainkan juga menyimpan kearifan hidup.

Salah satunya adalah peribahasa “Clebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu.” Secara harfiah, baris pertama berarti “pecahan genteng di bawah pohon pisang” yang hanya berfungsi sebagai sampiran. Baris kedua mengandung makna inti, bahwa bumi ini luas, dan di dalamnya hidup bersama banyak orang. Dengan kata lain, peribahasa ini menegaskan bahwa kehidupan manusia ditandai oleh keragaman, baik karakter, sifat, keyakinan, dan cara hidup.

Leluhur kami memahami betul bahwa keberagaman adalah hukum alam. Sama seperti batang pisang yang tumbuh dengan banyak cabang, kehidupan manusia pun wajar bila berwarna-warni. Tugas kita bukan menyeragamkan, melainkan bagaimana mengelola perbedaan itu agar tetap bisa berjalan bersama. Inilah inti dari demokrasi ala leluhur Bali adalah demokrasi yang lahir dari kesadaran akan pluralitas, bukan dari paksaan kekuasaan.

Dari “Sok Eksis” ke Demokrasi

Seorang kawan wartawan pernah berkata, dengan nada setengah bercanda, bahwa saya ini “sok eksis” karena terlalu aktif di media sosial. Saya tersenyum. Benar, saya kerap berbagi banyak hal: yang serius, yang ringan, bahkan yang dianggap remeh-temeh. Tetapi bagi saya, media sosial bukan sekadar ajang pamer. Ia adalah wadah ekspresi, tempat ide dan gagasan berkelindan, sekaligus portofolio terbuka, wajah saya sebagai wartawan, penyair, dan esais.

Saya mengenal diri saya sejak kecil. Ketika hidup sedikit berbeda dari orang kebanyakan lantas dianggap aneh, saya justru ingin bertanya balik; sejak lama kita mengumandangkan demokrasi, tapi mengapa perbedaan cara hidup dan berpikir masih sering ditolak? Apakah demokrasi hanya berhenti pada slogan, tanpa benar-benar diwujudkan dalam laku keseharian?

Keseragaman kini seakan menjadi cita-cita manusia modern. Cara hidup, budaya, politik, agama, bahkan sistem sosial masyarakat, ingin dibuat seragam. Padahal, bila di Jawa seolah-olah semua orang diwajibkan Islam, atau di Bali seakan-akan semua orang diwajibkan Hindu—bukankah itu absurd?

Leluhur kami sudah jauh-jauh hari menegaskan bahwa manusia akan selalu berbeda. Maka tugas kita bukan menghapus perbedaan, melainkan mengolahnya menjadi harmoni.

Bagi orang Bali, menyampaikan pendapat bukan perkara sepele. Sejak kecil, kami diajarkan bahwa suara punya tempat. Tempat itu bernama sangkep, paruman, atau pesamuhan.

Di bale banjar, tubuh-tubuh duduk melingkar. Yang muda lebih banyak mendengar, lalu berbicara pelan dengan bahasa sopan. Yang tua menimbang, kadang lama sekali, sebelum akhirnya mufakat diucapkan. Keputusan lahir bukan dari suara yang paling keras, melainkan dari kesabaran saling menunggu. Demokrasi, dalam versi leluhur kami, tumbuh dari lingkaran, bukan dari podium.

Di paruman desa, suara-suara bisa berlangsung hingga larut malam. Di pesamuhan agung, para pemuka adat berbicara tentang tata upacara hingga masalah sosial yang menyangkut banyak orang. Semua dijalankan dengan satu sandaran, rasa malu (lek). Perbedaan tidak diumbar sembarangan. Ia dibawa masuk ke forum, dibungkus adat, dan diputuskan bersama. Kritik boleh tajam, tapi tetap ada pagar hormat.

Bagi orang Bali, forum bukan sekadar tempat bicara, melainkan ruang untuk merawat martabat. Kata yang salah tempat bisa merusak harmoni. Karena itulah, forum dijaga dengan etika: siapa berbicara, kapan waktunya, bagaimana cara menyampaikan. Demokrasi dijalankan bukan dengan kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan yang dipandu oleh malu, hormat, dan tata krama.

Pergeseran ke Media Sosial

Namun zaman bergeser. Internet datang, media sosial tumbuh. Forum-forum tidak lagi selalu berbentuk bale banjar. Ia berpindah ke layar ponsel.

Kini, orang Bali—meski tidak semuanya—lebih sering menyampaikan pendapat di Facebook, Instagram, atau grup WhatsApp. Suara yang dulunya berputar di bale banjar, kini bisa bergema hingga ke luar desa. Keluhan kecil bisa viral, menarik simpati, bahkan jadi perbincangan nasional.

Tetapi forum virtual itu sering kehilangan sifat dialogis. Grup WhatsApp kadang jadi monolog satu arah, yakni satu orang berbicara panjang, yang lain hanya membalas dengan emoji. Kritik yang dulu berlapis adat kini meluncur tanpa filter, kadang melukai perasaan. Perdebatan kusir mudah tercipta, sesuatu yang dahulu dianggap memalukan bila dipertontonkan di depan banyak orang.

Hal yang dulu dijaga dengan rasa malu, kini kerap menjadi tontonan publik. Rasa malu yang dulu merawat keseimbangan forum, perlahan terkikis oleh logika kecepatan. Di media sosial, orang merasa berhak berkata apa saja, tanpa lagi menimbang apakah kata itu menjaga harmoni atau justru merusak.

Di titik inilah kita perlu merenung. Demokrasi ala leluhur Bali tidak pernah memisahkan kebebasan dengan rasa malu. Malu bukan berarti takut bersuara, melainkan kesadaran bahwa suara kita punya dampak bagi orang lain. Malu membuat orang berpikir dua kali sebelum berbicara, bukan karena takut, melainkan karena menghormati.

Demokrasi tanpa malu akan melahirkan kebebasan yang liar. Demokrasi dengan malu melahirkan keseimbangan, yaitu, suara tetap bebas, tetapi disampaikan dengan hati-hati. Malu adalah pagar agar demokrasi tidak berubah menjadi anarki.

Dalam tradisi Bali, sopan santun bukan sekadar etiket, melainkan bagian dari sistem sosial. Seseorang yang berteriak di forum tanpa aturan akan dianggap tidak dewasa, bahkan memalukan keluarganya. Karena itu, demokrasi ala Bali selalu berdiri di atas dua kaki, kebebasan dan sopan.

Dari Desa Adat ke Ruang Digital

Desa adat selama ini berfungsi sebagai ruang demokrasi lokal. Ia menjadi tempat orang Bali belajar bahwa keputusan bersama lebih berharga daripada kemenangan pribadi. Bahkan ketika ada perbedaan pendapat yang tajam, desa adat selalu mencari jalan mufakat.

Kini, ketika forum berpindah ke media sosial, nilai itu mulai teruji. Orang lebih mudah menulis status marah ketimbang datang ke sangkep. Orang lebih cepat menyebar isu di grup WhatsApp ketimbang berbicara langsung di paruman.

Perubahan ini tidak bisa kita tolak. Media sosial adalah bagian dari hidup modern. Tetapi tantangannya adalah bagaimana membawa nilai demokrasi ala leluhur ke ruang baru ini. Bagaimana menjadikan Facebook sebagai bale banjar virtual, Instagram sebagai pesamuhan digital, dan WhatsApp sebagai paruman yang tetap dijalankan dengan sopan.

Demokrasi ala leluhur Bali adalah demokrasi yang mengakui perbedaan, menjaga forum, dan mengedepankan malu serta sopan. Ia lahir bukan dari teori politik Barat, melainkan dari praktik hidup sehari-hari: bagaimana banjar berjalan, bagaimana desa adat mengambil keputusan, bagaimana keluarga besar menyelesaikan masalah.

Hari ini, demokrasi itu ditantang oleh era digital. Tetapi justru di sinilah kita bisa membuktikan bahwa nilai leluhur tetap relevan. Bahwa meski forum berubah bentuk, semangatnya tetap sama: mendengar, menghormati, dan mencari mufakat.

Peribahasa lama berkata, clebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu. Dunia penuh cabang, manusia penuh rupa. Demokrasi sejati adalah ketika kita mampu menerima cabang-cabang itu, merawat perbedaan, tanpa kehilangan akar. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Tags: balidemokrasidigital
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Stop di Silat, Sukses di Muaythai — Kadek Bayu Suteja Raih Medali Emas di Porprov Bali 2025

Next Post

Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co