2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 9, 2025
in Esai
Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Foto: koleksi penulis

DI sebuah panggung berhias cahaya obor, jemari seorang penari legong bergetar lincah, setiap lirik matanya seolah menebar mantra yang membuat penonton terpesona. Di sudut lain pulau, pada kanvas seorang maestro, goresan-goresan abstrak berwarna kelam menjelma menjadi gemuruh gunung berapi yang pernah disaksikannya.

Bagi mata yang tak terlatih, tarian itu hanyalah rangkaian gerak yang rumit, lukisan itu sekadar tumpahan cat yang ngasal. Bagi jiwa yang terbuka, ada sesuatu yang lain di karya tersebut, ada getaran yang melampaui logika. Inilah gerbang menuju apresiasi seni yang paling hakiki, sebuah jalan yang ditempuh melalui rasa.

Dalam kosmos seni Bali, di mana karya adalah perpanjangan dari ritual dan napas kehidupan itu sendiri, menikmati seni melalui rasa bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Puncaknya adalah sebuah momen hening dan agung ketika taksu karya berhasil mengetuk pintu kalbu, sebuah pengalaman yang resonansinya dapat kita pahami melalui konsep “jiwa ketok”.

“Rasa”, dalam konteks budaya Nusantara, adalah sebuah kata yang lebih dalam dari sekadar emosi. Ia berada di fakultas batin yang memadukan intuisi, empati, dan pemahaman. Di Bali, konsep ini berkelindan erat dengan kekuatan gaib yang menjadi urat nadi setiap penciptaan: taksu. Taksu adalah anugerah ilahi.

Taksu merupakan kharisma spiritual atau energi kosmik yang dialirkan melalui seorang seniman ke dalam karyanya. Sebuah patung bisa saja sempurna secara anatomis, memesona. Seorang penari bisa saja hafal setiap gerakan, fasih menari. Tetapi karya itu tanpa taksu, akan terasa hampa.

Taksu tidak dapat di nalar, hanya dapat dirasakan. Inilah titik temu antara sang seniman dan penikmatnya. Seniman menjadi medium mengalirnya taksu. Penikmat menjadi wadah yang menerima energi tersebut. Pendekatan ini menempatkan pengalaman seni sebagai peristiwa jiwa. Perjumpaan itu bukanlah aktivitas intelektual. Dialog yang terjadi bukanlah antara pikiran dengan objek, melainkan dialog antara jiwa dengan jiwa.

Dialog Jiwa di Seni

Istilah “Jiwa Ketok” (jiwa yang terketuk) dicetuskan oleh S. Sudjojono dalam konteks seni rupa Indonesia. Esensinya telah hidup selama berabad-abad dalam praktik seni Bali. Bagi Sudjojono, karya seni sejati adalah yang mampu memancarkan jiwa dan menyentuh jiwa penikmatnya.

Di Bali, di mana setiap topeng, patung, atau bahkan bangunan disucikan melalui upacara pasupati untuk “dihidupkan”. Sebuah karya memiliki “jiwa” adalah sebuah kebenaran yang fundamental. Maka, Jiwa Ketok menjadi momen sakral ketika percikan jiwa dari karya seni bertemu dan menyalakan percikan jiwa dalam diri kita.

Lihatlah karya-karya mendiang maestro I Made Wianta. Kanvasnya bukanlah sekadar jendela menuju pemandangan indah, melainkan medan pertempuran energi. Wianta melukis dengan rasa dari tangkapan peristiwa kecemasan, kekacauan, harapan, kekuatan alam, dan kerapuhan manusia. Melalui sapuan kuas yang liar dan kaligrafis, ia menangkap gemuruh bumi dan isak tangis langit.

Menikmati lukisan Wianta adalah sebuah pengalaman jiwa. Kita tidak perlu “memahami” artinya. Kita cukup berdiri di hadapannya dan membiarkan rasa dari energi destruktif sekaligus kreatif itu menjalari kita. Momen ketika kita merasakan getaran teror dan keagungan alam di dalam goresan cat itu, itulah Jiwa Ketok.

Berbeda, namun sama kuatnya, adalah pengalaman menikmati lukisan gaya Kamasan. Secara visual, lukisan ini bersifat naratif, datar, dan padat dengan figur-figur dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Apresiasi analitis akan fokus pada identifikasi tokoh dan alur cerita. Namun, apresiasi berbasis rasa akan menangkap suasana agung dari adegan para dewa, greget (ketegangan) dari adegan pertempuran, atau trenyuh (rasa iba) dari adegan kesedihan Sita.

Warna-warna tanah dan komposisi yang seimbang memancarkan rasa harmoni kosmik, bahkan di tengah-tengah kekacauan. Jiwa kita terketuk bukan oleh visual realis, tetapi oleh gema cerita abadi tentang dharma dan adharma yang meresap dari kanvas.

Panggung seni pertunjukan Bali adalah altar di mana “rasa” menjadi sesaji utama. Pertunjukan Calon Arang adalah contoh menarik. Ini bukan sekadar drama, melainkan sebuah ritual pengusiran kekuatan jahat. Penonton tidak datang untuk hiburan semata, mereka datang untuk merasakan benturan dua kekuatan kosmik (Rwa Bhineda).

Saat Barong yang agung muncul, suasana panggung terasa sakral dan menenangkan (tenget). Sebaliknya, kemunculan Rangda dengan tawa melengking dan kuku-kuku tajamnya menyebarkan rasa teror yang mencekam.

Puncak dari pertunjukan ini adalah saat para pengikut Rangda mengalami kerauhan (kesurupan) dan menusukkan keris ke dada mereka sendiri. Pada momen ini, nalar sepenuhnya runtuh. Para penari tidak lagi berakting; tubuh mereka telah menjadi medium bagi kekuatan tak kasat mata. Penonton yang ikut merasakan ketegangan ini: merinding, cemas, hingga merasa lega saat keseimbangan pulih. Mereka mengalami jiwa ketok dalam bentuknya yang paling komunal. Jiwa kolektif desa seolah “terketuk” dan dibersihkan bersama.

Demikian pula dalam kelembutan Tari Legong Keraton. Seorang penari legong yang mumpuni adalah ia yang memiliki taksu. Gerakannya mungkin sempurna, tetapi yang membuat penonton terpukau adalah cahaya batin yang terpancar dari ekspresinya. Jiwa ketok terjadi dalam momen-momen subtil: saat lirikan mata sang penari terasa menembus kalbu, atau saat getaran lehernya (ngeliet) selaras sempurna dengan pukulan gamelan, menciptakan sebuah keindahan yang melampaui kata-kata. Kita tidak hanya menonton tarian, kita menyaksikan penjelmaan keanggunan ilahi.

Harmoni Nalar dan Kalbu

Menempatkan “rasa” sebagai yang utama bukan berarti meniadakan peran pengetahuan (nalar). Pengetahuan justru berfungsi untuk memperdalam palung sungai agar aliran “rasa” bisa mengalir lebih deras. Mengetahui kisah Calon Arang akan membuat rasa takut dan takjub yang kita alami menjadi lebih bermakna. Memahami filosofi di balik gerakan legong akan membuat apresiasi kita terhadap taksu sang penari menjadi lebih khusyuk.

Namun, bahaya muncul ketika nalar mendahului rasa. Ketika kita terlalu sibuk memotret, menganalisis, dan membandingkan, kita membangun dinding yang menghalangi getaran taksu untuk mencapai jiwa kita. Seni Bali mengajarkan kita untuk melakukan sebaliknya: rasakan terlebih dahulu, biarkan jiwa terketuk, baru kemudian gunakan pengetahuan untuk merenungkan pengalaman itu. Tujuannya adalah harmoni, sebuah Rwa Bhineda antara intuisi dan intelek, di mana keduanya menari bersama dalam kesadaran kita.

Menikmati seni melalui “rasa” adalah sebuah laku meditatif. Ini adalah undangan untuk menanggalkan jubah arogansi intelektual dan mengenakan kepekaan batin. Karya-karya di pulau Bali bukanlah objek mati di dalam museum. Karya-karya itu merupakan entitas hidup yang bernapas, berdenyut dengan taksu, dan senantiasa mencari jiwa-jiwa yang terbuka untuk diajak berdialog. Untuk benar-benar melihat seni, kita tidak cukup hanya membuka mata. Kita harus terlebih dahulu membuka hati, menunggu dalam keheningan, hingga terdengar sebuah ketukan lembut dari jagat. Itulah jiwa ketok.

Referensi:

  • Dibia, I Wayan, 2012. Taksu dalam Seni dan Kehidupan Bali. Bali Mangsi: Denpasar.
  • Bandem, I Made, dan deBoer, Fredrik Eugene. 1981. Balinese Dance in Transition: Kaja and Kelod. Oxford University Press: Kuala Lumpur.

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliSenitaksu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokrasi Ala Leluhur Bali – Membaca Peribahasa “Clebingkah Batan Biu, Gumi Linggah Ajak Liu”

Next Post

Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co