2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 9, 2025
in Esai
Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Foto: koleksi penulis

DI sebuah panggung berhias cahaya obor, jemari seorang penari legong bergetar lincah, setiap lirik matanya seolah menebar mantra yang membuat penonton terpesona. Di sudut lain pulau, pada kanvas seorang maestro, goresan-goresan abstrak berwarna kelam menjelma menjadi gemuruh gunung berapi yang pernah disaksikannya.

Bagi mata yang tak terlatih, tarian itu hanyalah rangkaian gerak yang rumit, lukisan itu sekadar tumpahan cat yang ngasal. Bagi jiwa yang terbuka, ada sesuatu yang lain di karya tersebut, ada getaran yang melampaui logika. Inilah gerbang menuju apresiasi seni yang paling hakiki, sebuah jalan yang ditempuh melalui rasa.

Dalam kosmos seni Bali, di mana karya adalah perpanjangan dari ritual dan napas kehidupan itu sendiri, menikmati seni melalui rasa bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Puncaknya adalah sebuah momen hening dan agung ketika taksu karya berhasil mengetuk pintu kalbu, sebuah pengalaman yang resonansinya dapat kita pahami melalui konsep “jiwa ketok”.

“Rasa”, dalam konteks budaya Nusantara, adalah sebuah kata yang lebih dalam dari sekadar emosi. Ia berada di fakultas batin yang memadukan intuisi, empati, dan pemahaman. Di Bali, konsep ini berkelindan erat dengan kekuatan gaib yang menjadi urat nadi setiap penciptaan: taksu. Taksu adalah anugerah ilahi.

Taksu merupakan kharisma spiritual atau energi kosmik yang dialirkan melalui seorang seniman ke dalam karyanya. Sebuah patung bisa saja sempurna secara anatomis, memesona. Seorang penari bisa saja hafal setiap gerakan, fasih menari. Tetapi karya itu tanpa taksu, akan terasa hampa.

Taksu tidak dapat di nalar, hanya dapat dirasakan. Inilah titik temu antara sang seniman dan penikmatnya. Seniman menjadi medium mengalirnya taksu. Penikmat menjadi wadah yang menerima energi tersebut. Pendekatan ini menempatkan pengalaman seni sebagai peristiwa jiwa. Perjumpaan itu bukanlah aktivitas intelektual. Dialog yang terjadi bukanlah antara pikiran dengan objek, melainkan dialog antara jiwa dengan jiwa.

Dialog Jiwa di Seni

Istilah “Jiwa Ketok” (jiwa yang terketuk) dicetuskan oleh S. Sudjojono dalam konteks seni rupa Indonesia. Esensinya telah hidup selama berabad-abad dalam praktik seni Bali. Bagi Sudjojono, karya seni sejati adalah yang mampu memancarkan jiwa dan menyentuh jiwa penikmatnya.

Di Bali, di mana setiap topeng, patung, atau bahkan bangunan disucikan melalui upacara pasupati untuk “dihidupkan”. Sebuah karya memiliki “jiwa” adalah sebuah kebenaran yang fundamental. Maka, Jiwa Ketok menjadi momen sakral ketika percikan jiwa dari karya seni bertemu dan menyalakan percikan jiwa dalam diri kita.

Lihatlah karya-karya mendiang maestro I Made Wianta. Kanvasnya bukanlah sekadar jendela menuju pemandangan indah, melainkan medan pertempuran energi. Wianta melukis dengan rasa dari tangkapan peristiwa kecemasan, kekacauan, harapan, kekuatan alam, dan kerapuhan manusia. Melalui sapuan kuas yang liar dan kaligrafis, ia menangkap gemuruh bumi dan isak tangis langit.

Menikmati lukisan Wianta adalah sebuah pengalaman jiwa. Kita tidak perlu “memahami” artinya. Kita cukup berdiri di hadapannya dan membiarkan rasa dari energi destruktif sekaligus kreatif itu menjalari kita. Momen ketika kita merasakan getaran teror dan keagungan alam di dalam goresan cat itu, itulah Jiwa Ketok.

Berbeda, namun sama kuatnya, adalah pengalaman menikmati lukisan gaya Kamasan. Secara visual, lukisan ini bersifat naratif, datar, dan padat dengan figur-figur dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Apresiasi analitis akan fokus pada identifikasi tokoh dan alur cerita. Namun, apresiasi berbasis rasa akan menangkap suasana agung dari adegan para dewa, greget (ketegangan) dari adegan pertempuran, atau trenyuh (rasa iba) dari adegan kesedihan Sita.

Warna-warna tanah dan komposisi yang seimbang memancarkan rasa harmoni kosmik, bahkan di tengah-tengah kekacauan. Jiwa kita terketuk bukan oleh visual realis, tetapi oleh gema cerita abadi tentang dharma dan adharma yang meresap dari kanvas.

Panggung seni pertunjukan Bali adalah altar di mana “rasa” menjadi sesaji utama. Pertunjukan Calon Arang adalah contoh menarik. Ini bukan sekadar drama, melainkan sebuah ritual pengusiran kekuatan jahat. Penonton tidak datang untuk hiburan semata, mereka datang untuk merasakan benturan dua kekuatan kosmik (Rwa Bhineda).

Saat Barong yang agung muncul, suasana panggung terasa sakral dan menenangkan (tenget). Sebaliknya, kemunculan Rangda dengan tawa melengking dan kuku-kuku tajamnya menyebarkan rasa teror yang mencekam.

Puncak dari pertunjukan ini adalah saat para pengikut Rangda mengalami kerauhan (kesurupan) dan menusukkan keris ke dada mereka sendiri. Pada momen ini, nalar sepenuhnya runtuh. Para penari tidak lagi berakting; tubuh mereka telah menjadi medium bagi kekuatan tak kasat mata. Penonton yang ikut merasakan ketegangan ini: merinding, cemas, hingga merasa lega saat keseimbangan pulih. Mereka mengalami jiwa ketok dalam bentuknya yang paling komunal. Jiwa kolektif desa seolah “terketuk” dan dibersihkan bersama.

Demikian pula dalam kelembutan Tari Legong Keraton. Seorang penari legong yang mumpuni adalah ia yang memiliki taksu. Gerakannya mungkin sempurna, tetapi yang membuat penonton terpukau adalah cahaya batin yang terpancar dari ekspresinya. Jiwa ketok terjadi dalam momen-momen subtil: saat lirikan mata sang penari terasa menembus kalbu, atau saat getaran lehernya (ngeliet) selaras sempurna dengan pukulan gamelan, menciptakan sebuah keindahan yang melampaui kata-kata. Kita tidak hanya menonton tarian, kita menyaksikan penjelmaan keanggunan ilahi.

Harmoni Nalar dan Kalbu

Menempatkan “rasa” sebagai yang utama bukan berarti meniadakan peran pengetahuan (nalar). Pengetahuan justru berfungsi untuk memperdalam palung sungai agar aliran “rasa” bisa mengalir lebih deras. Mengetahui kisah Calon Arang akan membuat rasa takut dan takjub yang kita alami menjadi lebih bermakna. Memahami filosofi di balik gerakan legong akan membuat apresiasi kita terhadap taksu sang penari menjadi lebih khusyuk.

Namun, bahaya muncul ketika nalar mendahului rasa. Ketika kita terlalu sibuk memotret, menganalisis, dan membandingkan, kita membangun dinding yang menghalangi getaran taksu untuk mencapai jiwa kita. Seni Bali mengajarkan kita untuk melakukan sebaliknya: rasakan terlebih dahulu, biarkan jiwa terketuk, baru kemudian gunakan pengetahuan untuk merenungkan pengalaman itu. Tujuannya adalah harmoni, sebuah Rwa Bhineda antara intuisi dan intelek, di mana keduanya menari bersama dalam kesadaran kita.

Menikmati seni melalui “rasa” adalah sebuah laku meditatif. Ini adalah undangan untuk menanggalkan jubah arogansi intelektual dan mengenakan kepekaan batin. Karya-karya di pulau Bali bukanlah objek mati di dalam museum. Karya-karya itu merupakan entitas hidup yang bernapas, berdenyut dengan taksu, dan senantiasa mencari jiwa-jiwa yang terbuka untuk diajak berdialog. Untuk benar-benar melihat seni, kita tidak cukup hanya membuka mata. Kita harus terlebih dahulu membuka hati, menunggu dalam keheningan, hingga terdengar sebuah ketukan lembut dari jagat. Itulah jiwa ketok.

Referensi:

  • Dibia, I Wayan, 2012. Taksu dalam Seni dan Kehidupan Bali. Bali Mangsi: Denpasar.
  • Bandem, I Made, dan deBoer, Fredrik Eugene. 1981. Balinese Dance in Transition: Kaja and Kelod. Oxford University Press: Kuala Lumpur.

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliSenitaksu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokrasi Ala Leluhur Bali – Membaca Peribahasa “Clebingkah Batan Biu, Gumi Linggah Ajak Liu”

Next Post

Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co