8 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 9, 2025
in Esai
Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Foto: koleksi penulis

DI sebuah panggung berhias cahaya obor, jemari seorang penari legong bergetar lincah, setiap lirik matanya seolah menebar mantra yang membuat penonton terpesona. Di sudut lain pulau, pada kanvas seorang maestro, goresan-goresan abstrak berwarna kelam menjelma menjadi gemuruh gunung berapi yang pernah disaksikannya.

Bagi mata yang tak terlatih, tarian itu hanyalah rangkaian gerak yang rumit, lukisan itu sekadar tumpahan cat yang ngasal. Bagi jiwa yang terbuka, ada sesuatu yang lain di karya tersebut, ada getaran yang melampaui logika. Inilah gerbang menuju apresiasi seni yang paling hakiki, sebuah jalan yang ditempuh melalui rasa.

Dalam kosmos seni Bali, di mana karya adalah perpanjangan dari ritual dan napas kehidupan itu sendiri, menikmati seni melalui rasa bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Puncaknya adalah sebuah momen hening dan agung ketika taksu karya berhasil mengetuk pintu kalbu, sebuah pengalaman yang resonansinya dapat kita pahami melalui konsep “jiwa ketok”.

“Rasa”, dalam konteks budaya Nusantara, adalah sebuah kata yang lebih dalam dari sekadar emosi. Ia berada di fakultas batin yang memadukan intuisi, empati, dan pemahaman. Di Bali, konsep ini berkelindan erat dengan kekuatan gaib yang menjadi urat nadi setiap penciptaan: taksu. Taksu adalah anugerah ilahi.

Taksu merupakan kharisma spiritual atau energi kosmik yang dialirkan melalui seorang seniman ke dalam karyanya. Sebuah patung bisa saja sempurna secara anatomis, memesona. Seorang penari bisa saja hafal setiap gerakan, fasih menari. Tetapi karya itu tanpa taksu, akan terasa hampa.

Taksu tidak dapat di nalar, hanya dapat dirasakan. Inilah titik temu antara sang seniman dan penikmatnya. Seniman menjadi medium mengalirnya taksu. Penikmat menjadi wadah yang menerima energi tersebut. Pendekatan ini menempatkan pengalaman seni sebagai peristiwa jiwa. Perjumpaan itu bukanlah aktivitas intelektual. Dialog yang terjadi bukanlah antara pikiran dengan objek, melainkan dialog antara jiwa dengan jiwa.

Dialog Jiwa di Seni

Istilah “Jiwa Ketok” (jiwa yang terketuk) dicetuskan oleh S. Sudjojono dalam konteks seni rupa Indonesia. Esensinya telah hidup selama berabad-abad dalam praktik seni Bali. Bagi Sudjojono, karya seni sejati adalah yang mampu memancarkan jiwa dan menyentuh jiwa penikmatnya.

Di Bali, di mana setiap topeng, patung, atau bahkan bangunan disucikan melalui upacara pasupati untuk “dihidupkan”. Sebuah karya memiliki “jiwa” adalah sebuah kebenaran yang fundamental. Maka, Jiwa Ketok menjadi momen sakral ketika percikan jiwa dari karya seni bertemu dan menyalakan percikan jiwa dalam diri kita.

Lihatlah karya-karya mendiang maestro I Made Wianta. Kanvasnya bukanlah sekadar jendela menuju pemandangan indah, melainkan medan pertempuran energi. Wianta melukis dengan rasa dari tangkapan peristiwa kecemasan, kekacauan, harapan, kekuatan alam, dan kerapuhan manusia. Melalui sapuan kuas yang liar dan kaligrafis, ia menangkap gemuruh bumi dan isak tangis langit.

Menikmati lukisan Wianta adalah sebuah pengalaman jiwa. Kita tidak perlu “memahami” artinya. Kita cukup berdiri di hadapannya dan membiarkan rasa dari energi destruktif sekaligus kreatif itu menjalari kita. Momen ketika kita merasakan getaran teror dan keagungan alam di dalam goresan cat itu, itulah Jiwa Ketok.

Berbeda, namun sama kuatnya, adalah pengalaman menikmati lukisan gaya Kamasan. Secara visual, lukisan ini bersifat naratif, datar, dan padat dengan figur-figur dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Apresiasi analitis akan fokus pada identifikasi tokoh dan alur cerita. Namun, apresiasi berbasis rasa akan menangkap suasana agung dari adegan para dewa, greget (ketegangan) dari adegan pertempuran, atau trenyuh (rasa iba) dari adegan kesedihan Sita.

Warna-warna tanah dan komposisi yang seimbang memancarkan rasa harmoni kosmik, bahkan di tengah-tengah kekacauan. Jiwa kita terketuk bukan oleh visual realis, tetapi oleh gema cerita abadi tentang dharma dan adharma yang meresap dari kanvas.

Panggung seni pertunjukan Bali adalah altar di mana “rasa” menjadi sesaji utama. Pertunjukan Calon Arang adalah contoh menarik. Ini bukan sekadar drama, melainkan sebuah ritual pengusiran kekuatan jahat. Penonton tidak datang untuk hiburan semata, mereka datang untuk merasakan benturan dua kekuatan kosmik (Rwa Bhineda).

Saat Barong yang agung muncul, suasana panggung terasa sakral dan menenangkan (tenget). Sebaliknya, kemunculan Rangda dengan tawa melengking dan kuku-kuku tajamnya menyebarkan rasa teror yang mencekam.

Puncak dari pertunjukan ini adalah saat para pengikut Rangda mengalami kerauhan (kesurupan) dan menusukkan keris ke dada mereka sendiri. Pada momen ini, nalar sepenuhnya runtuh. Para penari tidak lagi berakting; tubuh mereka telah menjadi medium bagi kekuatan tak kasat mata. Penonton yang ikut merasakan ketegangan ini: merinding, cemas, hingga merasa lega saat keseimbangan pulih. Mereka mengalami jiwa ketok dalam bentuknya yang paling komunal. Jiwa kolektif desa seolah “terketuk” dan dibersihkan bersama.

Demikian pula dalam kelembutan Tari Legong Keraton. Seorang penari legong yang mumpuni adalah ia yang memiliki taksu. Gerakannya mungkin sempurna, tetapi yang membuat penonton terpukau adalah cahaya batin yang terpancar dari ekspresinya. Jiwa ketok terjadi dalam momen-momen subtil: saat lirikan mata sang penari terasa menembus kalbu, atau saat getaran lehernya (ngeliet) selaras sempurna dengan pukulan gamelan, menciptakan sebuah keindahan yang melampaui kata-kata. Kita tidak hanya menonton tarian, kita menyaksikan penjelmaan keanggunan ilahi.

Harmoni Nalar dan Kalbu

Menempatkan “rasa” sebagai yang utama bukan berarti meniadakan peran pengetahuan (nalar). Pengetahuan justru berfungsi untuk memperdalam palung sungai agar aliran “rasa” bisa mengalir lebih deras. Mengetahui kisah Calon Arang akan membuat rasa takut dan takjub yang kita alami menjadi lebih bermakna. Memahami filosofi di balik gerakan legong akan membuat apresiasi kita terhadap taksu sang penari menjadi lebih khusyuk.

Namun, bahaya muncul ketika nalar mendahului rasa. Ketika kita terlalu sibuk memotret, menganalisis, dan membandingkan, kita membangun dinding yang menghalangi getaran taksu untuk mencapai jiwa kita. Seni Bali mengajarkan kita untuk melakukan sebaliknya: rasakan terlebih dahulu, biarkan jiwa terketuk, baru kemudian gunakan pengetahuan untuk merenungkan pengalaman itu. Tujuannya adalah harmoni, sebuah Rwa Bhineda antara intuisi dan intelek, di mana keduanya menari bersama dalam kesadaran kita.

Menikmati seni melalui “rasa” adalah sebuah laku meditatif. Ini adalah undangan untuk menanggalkan jubah arogansi intelektual dan mengenakan kepekaan batin. Karya-karya di pulau Bali bukanlah objek mati di dalam museum. Karya-karya itu merupakan entitas hidup yang bernapas, berdenyut dengan taksu, dan senantiasa mencari jiwa-jiwa yang terbuka untuk diajak berdialog. Untuk benar-benar melihat seni, kita tidak cukup hanya membuka mata. Kita harus terlebih dahulu membuka hati, menunggu dalam keheningan, hingga terdengar sebuah ketukan lembut dari jagat. Itulah jiwa ketok.

Referensi:

  • Dibia, I Wayan, 2012. Taksu dalam Seni dan Kehidupan Bali. Bali Mangsi: Denpasar.
  • Bandem, I Made, dan deBoer, Fredrik Eugene. 1981. Balinese Dance in Transition: Kaja and Kelod. Oxford University Press: Kuala Lumpur.

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliSenitaksu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokrasi Ala Leluhur Bali – Membaca Peribahasa “Clebingkah Batan Biu, Gumi Linggah Ajak Liu”

Next Post

Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

by Asep Kurnia
May 7, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

Read moreDetails

Tengah Malam Rokok Habis                           

by Angga Wijaya
May 7, 2026
0
Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

Read moreDetails

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

by Sugi Lanus
May 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

Read moreDetails

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

by Nur Kamilia
May 5, 2026
0
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

Read moreDetails

Aoroville: Kota Eksperimental

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
0
Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

Read moreDetails

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

by Angga Wijaya
May 4, 2026
0
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

Read moreDetails

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
0
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

Read moreDetails

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
0
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

Read moreDetails

Guru Profesional Bekerja Proporsional

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
0
Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

Read moreDetails

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

Read moreDetails
Next Post
Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

by Asep Kurnia
May 7, 2026
Tengah Malam Rokok Habis                           
Esai

Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

by Angga Wijaya
May 7, 2026
Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program...

by Dede Putra Wiguna
May 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

by Sugi Lanus
May 7, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Bermain dengan Jin Tengah Malam

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

by Chusmeru
May 7, 2026
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup
Ulas Rupa

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi
Ulas Film

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

by Made Adnyana
May 6, 2026
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co