“Yang murni hanyalah arak!”
CARA orang-orang bertahan hidup sekarang, seperti saling tarik menarik ke liang kadal. Memberi umpan saling menjebak. Atau yang paling banal saling makan, setelah saling tangkap.
Itu aku sudah muak. Aku pindah percaya hanya pada temanku, Amir. Sebagai teman, dia tidak menarik siapa-siapa pada liang apa pun.
Tanpa mesti curiga pula dia seorang siluman ular atau bukan. Tindakannya tak pernah licin seperti belut. Omongannya dapat diseret ke dalam tubuh rapuh dan mudah tertipu seperti aku ini, tanpa takut akan dimakan atau disekap.
Amir temanku satu-satunya yang paling jujur. Dia sudah berbeda dengan karakternya yang dulu, yang pemarah, juga penipu. Dulu memang aku sering dikadalinya soal pinjam buku tapi dicuri. Ketika aku meminta balik buku itu, ia justru marah lebih beringas seperti ular kobra. Mendesis mulutnya dan meracau ngomong ke mana-mana.
Terlebih tentang Amir yang dulu, juga tidak bisa mendengar orang lain sehabis baca buku tebal lalu banyak omongnya. Dia pasti datangi orang itu, dan meladeninya berdebat. Busa-busa di mulutnya berubah menjadi api. Bicaranya meledak-ledak seperti mulutnya mengulum bara api.
Aku selalu melengos pergi jika menemukan Amir dalam kondisi seperti itu. Aku tahu hanya bakal membakar rokok menghabiskan kopi, duit dan waktu. Sia-sia umur mudaku hanya mendengarkan mereka ngoceh debat kusir.
Tapi sekarang Amir tampak lebih kalem. Jujur. Aku datang-mampir ke kostnya, untuk terakhir kalinya mengajaknya pergi. Kami akan jarang bertemu setelah itu.
Dia datang ke Singaraja karena minggu depan akan diwisuda—setelah rajin bimbingan online, di rumah.
Dan tiga minggu setelah diwisuda ia berencana akan pulang lagi ke Situbondo. Meneruskan karirnya sebagai pekerja seni, yang sejak semester satu telah dilakukannya. Ketika sudah di rumah, membuka studio lukis adalah pilihan hidup satu-satunya.
“Tak peduli laku atau tidak,” kata Amir.
Soal ilmu melukis memang dia sudah matang. Bahkan, sekarang pula ia sudah seperti seorang psikolog, yang paham situasi-kondisi jiwa temannya seperti apa, itu, dia sudah tahu cara meladeninya. Tidak semua orang harus diladeni, diajak baku hantam omong kosong.
Seperti sekarang, dia lebih tahu kondisiku butuh ditemani saja. Diajak ngobrol. Diberi omongan-omongan baik.
“Satu perempuan telah meninggalkanku!” Aku memulai cerita. “Seakan dia sudah tahu kalau aku bakal menyatakan cinta padanya.”
Mendengar itu Amir tertawa lepas.
“Setan!” aku mengumpat kepadanya.
“Perempuan memang setan bercula tujuh. Tinggalkan semua perempuan di dunia ini. Sisakan hanya ibumu,” timpal Amir. “Ingat selalu ibumu!”
Dugaanku betul kalau dia sudah bijak. Pikirannya sudah sehat, bahkan ingat dawuh Nabi—tentang orang yang mesti diutamakan di dunia ini, hanyalah; ibu, ibu, ibu. Yang tadinya aku tak butuh siraman rohani, jadi mau mendengar dan menghirupnya sebagai angin suluk.
Karena aku merasakan betul dia pernah gagal soal cinta, yang ngilunya seperti gigi ngilu melumat es krim. Yang nyerinya seperti mata ketusuk jarum. Yang ngerinya seperti tubuh dipotong sepuluh bagian.
Tapi sekarang Amir sudah berhasil terlepas dari ngeri-rasa sakit itu. Bisalah dia dinyatakan sudah sembuh sekarang. Karena sudah tidak pernah menyebut-nyebut nama mantannya lagi di depanku, juga tidak pernah mengatainya babi seolah mengataiku juga.
Aku berani taruhan dengan siapa pun, bahwa dia betul-betul sudah sembuh soal cinta.
Tidak seperti aku belum bisa menata hidup. Belum bisa mengumpulkan hatiku yang lebur-bau seperti tai, dan pecah seperti cermin di kasur hotel itu—menjadikannya sebagai bahan bakar semangat hidup, atau satu alasan untuk bunuh diri; membunuh apa-apa yang berkelindan di kepala itu.
Padahal belum bercinta. Tapi nyaris mau gila setiap kali bangun tidur, pagi atau siang selalu teringat rupa-tingkahnya. Dia perempuan paling kejam karena menolak aku cintai di kasur. Perempuan itu langsung pergi dari penginapan itu. Seolah memberi batas agar aku tak jatuh cinta padanya sampai ke dada.
Nyambi bercerita ngalor-ngidul, aku dan Amir pergi—berjalan kaki keliling kampus. Kost Amir dengan kampus memang tidak terlalu jauh, hanya perlu dua puluh kali melangkahkan kaki.
Melihat-lihat perkembangan apa saja setelah dua tahun tak pernah datang ke kampus itu, ternyata tidak ada perkembangan.
***
Kami merayakan pertemuan terakhir—sebelum akan pulang ke kampung masing-masing, membuka-buka kenangan lama. Tentang hidup. Tentang cinta. Tentang hidup dan perkuliahan yang berantakan—karena patah cinta.
Kami terus bercerita soal itu, sepanjang-panjang kami berjalan dari pintu gerbang masuk kampus hingga balik lagi keluar pintu gerbang, seperti orang bingung.
Menemukan sekitar enam pohon masa lalu sudah ditebang. Meringis hati Amir. Salah satu teman memberi tahu jika pohon itu ditebang, dianggap menghalangi jalan parkir, juga terlalu menghalangi gedung fakultas yang baru saja dibangun lebih modern.
Di dekat perpustakan, kemunculan sebuah coffee shop secara tiba-tiba, dengan menu minum-makanan harganya mahal ditempel di dinding disimpan di meja. Menambah rasa nyeri—karena hilang kenangannya.
Lebih mencolok lagi di seberang kedai itu, ada tempat untuk nyarjer mobil/motor listrik milik para leak—menggantikan pohonan. Termasuk tempat air minum siap pakai berbentuk tabung besar, sudah membangkai.
Padahal, dulu, tahun 2019,tabung itu dielu-elukan semua dosen termasuk rektor, hanya karena Pak Menteri sudah tanda tangan di tabung itu.
Kami pernah dipaksa sewaktu maba untuk berdiri-berderet sepanjang jalan pintu masuk. Mengibarkan bendera merah putih, menyambut menteri itu, seakan menyambut pahlawan datang.
Tapi sekarang tempat itu sudah berkarat. Mungkin juga sudah diisi oleh ular atau kecoa. Atau dikencingi leak karena terlihat keramat ditumbuhi semak belukar panjang-panjang di sisi tabung.
“Nasib buruk terus menimpa, sedari dulu, tidak pernah enggak!” Amir mengeluhkan pohon-pohon bekas dulunya berteduh itu ditebang, juga tempat duduk kecil di pinggiran perpustakaan sudah hilang.
Dia memang pencinta pohon. Di bawah pohon-pohon itu pula ia pernah menyatakan cintanya pada seorang perempuan yang dianggapnya setia, Santi. Dan Santi menerima cintanya. Membalas cinta Amir di tempat duduk kecil itu yang sekarang jadi colokan mobil listrik.
“Kalau mereka sudah bosan dan tidak mau merawat, mungkin kedai dan tempat nyarjer itu juga bakal bernasib sama jadi bangkai dihuni setan seperti tabung air itu,” kataku.
“Mungkin,” timpal Amir.
Kami berhenti sebentar di tembok pagar rektorat kampus. Capek. Kencing di sana sekadar istirahat ambil napas panjang, sebelum lanjut berjalan.
“Kampus anjing!” umpat Amir sambil mengadu tititnya dengan tembok tiga kali.
“Awas hamil!” kataku.
Ia tertawa.
Di sela menikmati angin malam dan tertawa lepas, aku sisipkan cerita yang getir. Tentang perempuan yang pernah dicatatnya akan menjadi istrinya dulu, itu telah mati. Aku mengungkitnya.
Perempuan itu satu kampus dengan kami, tapi jurusan akuntansi. Mereka pernah bertemu di perpustakaan, dan pendek cerita menjalin hubungan, lalu kandas—menjadi panjang cerita.
Barangkali itu yang membuatnya mengumpat jika kampus itu seperti kandang anjing nakal layak dikencingi. Digebuk bila perlu, seakan dirinya benci hanya karena pernah terpapar rabies gigitan anjing.
Tapi selayaknya benda, catatan bisa hilang. Bukan sebab catatan itu hilang seperti selembar kertas yang hilang entah ke mana. Tapi memang perempuan itu pergi meninggalkan Amir. Hanya karena ia dianggap belum pasti sebagai seniman yang punya nasib baik, setelah diwisuda dari tujuh tahun kuliah baru kelar.
Tarik ulur cinta oleh perempuan itu sebenarnya yang membuat Amir tak kelar-kelar dan tak pandai merawat diri. Tapi perempuan itu tidak merasa dirinya adalah bibit masalah paling dasar mengapa Amir memilih hidup bohemianan dan menunda kelulusan. Dan aku sebut, perempuan itu telah mati sehari setelah diwisuda dua tahun lalu.
“Amir. Aku tahu kamu tulus soal cinta. Tapi soal malam hari dan angin malam masuk ke dada, sebaiknya kita belok kiri dulu nyari kopi,” kataku.
Lantas ia mengacungkan jempol tangan kanan dan bilang, “Oke!” sambil menunduk pasrah.
Kami menyudahi keliling kampus. Dan sepanjang jalan ia terus menunduk sambil menendang-nendang batu kerikil. Dari caranya berjalan lesu dan menendang batu kerikil tak bertenaga, jalanan seperti tampak murung menerima hantamannya.
Tak ada batu kerikil yang ditendangnya melesat jauh. Di tempat sampah, ia memungut botol bir kosong. Lalu melemparnya ke tembok dekat jalan keluar kampus, seolah ada Santi di sana.
“Biar ada kerja tambahan besok pagi si petugas kebersihan,” kata Amir.
“Gila!” kataku.
Santi selalu dianggapnya terus menguntitnya, termasuk nongol di tembok itu. Padahal tidak. Tapi terus-masih dibayangkannya seolah si perempuan itu selalu ada, masih terus menguntitnya. Merupa leak yang bersemayam di kampus itu—abadi, di mana-mana bahkan. Dianggapnya selalu ada.
***
Tidak jauh dari tempat duduk—ngopi kami, seorang gadis baru saja membuka warung gorengannya. Gadis itu bertubuh gembrot dengan sifatnya yang centil. Sudah gendut, centil pula.
Merasa diri cantik dan pintar hanya karena pandai membuat gorengan. Lantas ia merasa berani meladeni om-om. Tapi om-om enggan meladeninya balik hanya karena perempuan itu terlalu gendut dan bau.
“Jangan begitu,” kata Amir. “Body shaming itu namanya!”
“Tapi begitulah dunia memandangnya, Mir. Terkecuali kalau dia cantik, terus centil, okelah—tidak apa-apa. Bisa dimaklumi. Tapi ini tubuh gendut kulit coklat, apa mau dipakai? Bau pula!”
“Sebab itulah kau ditinggalkan gebetanmu tanpa sebab!” kata Amir. “Karena tak ada ketulusan di matamu memandang perempuan.”
“Halah. Tulus-tulus tai kucing! Tapi memang aku yang salah, sih, aku telah menggebet perempuan itu tapi tidak pernah memberinya apa-apa,” kataku.
Tapi aku menegaskan pada Amir bahwa dunia ini lebih kejem dari cara pandangku, soal tidak pernah memberikan apa-apa selain ciuman.
Gebetanku mau aku cium, dan sebaliknya, aku mau dicium dia. Tapi lama-lama seperti itu, dia tidak mau lagi aku cium. Bahkan menganggapku kurang ajar hanya karena tidak pernah memberinya apa-apa setelah 100 kali ciuman.
“Jadi, yang tulus itu, Mir, hanya ada di negeri dongeng atau kisah-kisah klasik seperti Tutur Tinular,” kataku.
Ada sesuatu yang dipertukarkan di sana. Kamandanu yang tulus cintanya bersih untuk Nariratih, tapi ujung-ujungnya dia makan sisa—kesetiaan—bekas kakaknya sendiri, si penyair gila tuak—Arya Dwipangga. Jadi, di mana bagian dunia yang murni itu?
“Ya, mau bagaimana pun, hidup hanya sekali. Melahap cinta murni itu…” kata Amir mau ceramah tapi aku potong.
“Halah! Yang murni itu hanya kucit. Itu pun kalau kita jeli bisa membedakan mana yang sakit, mana yang sehat walafiat,” bantahku.
Aku tahu Amir paham soal apa yang aku katakan itu, yang aku bahas itu, adalah untuk menggugat perempuan yang diidamkannya, yang dianggapnya masih ada sekarang, itu sudah minggat. Sudah mati. Layak dilupakan seperti angin lewat.
“Berhentilah melukis perempuan yang sudah pergi dan bertunangan itu,” kataku.
Anggap saja dia sudah mati. Lepaskan dia dari jiwamu. Ikhlaskan. Sangat tidak layak untuk diingat-ingat sebagai perempuan murni paling puitik. Apalagi eksotis untuk dilukis.
Percuma. Dengan teknik apapun itu percuma. “Hanya menambah rasa nyeri!” kataku dengan nada bicara terkesan ngotot.
Dunia sudah semakin menipu, Amir. Dunia yang murni sudah tidak ada. Siapa pandai menipu, hidupnya akan selamat. Apa saja barang penipuan itu? Kata-kata, jawabku. Atau kedipan mata. Atau apa saja yang bisa dijadikan pelumas masa depan. Maka, bakarlah lukisan-lukisanmu itu. Itu bukan pelumas masa depan, Amir. Itu pengawet rasa sakit.
Dari dua puluh lima lukisan berwajah perempuan sama dilukismu sia-sia. Tak satu pun tandas terjual. Tapi dilukismu terus menerus—yang sekarang sudah mau ke-26 dengan ukuran lebih gede; 145 x 200 cm oil on canvas.
“Untuk apa? Selain pantas dibakar!” kataku.
Tapi dia tetap puja-puji perempuan itu dilukisannya. Terutama tentang cinta murni hanyalah kau, Santi. Berikut dengan ciuman dan pelukan.
Dia seolah menari dengan Santi di kanvas itu. Seperti seorang sedang mabuk, warna dimainkannya di bibir ketika wajah masih setengah berwarna.
Kemudian, kuas disapunya tebal seperti belaian seorang kekasih yang sedang ingin bercinta melalui wajah dan dada, melompat ke rambut lalu ke perut. Merayap-rayap kuas itu diajaknya bermain di bagian torso—menggunakan teknik impasto.
Melewati batas kenyataan dan khayalan. Lantas ia mengigau sekali lagi, “Kulukis wajah engkau dengan bismillah, Santi. Berikut dengan janji-janji kita…”
Kanvas-kanvas di dunia ini seperti tak lagi putih dipandangnya untuk digoreskan warna-pola-bentuk lain. Semua kanvas seakan harus dibentuk satu objek saja; wajah Santi—yang elok seksi bibirnya. Yang memiliki alis melengkung seperti arit di tangan para petani. Yang bermata coklat bening seperti telaga. Yang berbuah dada yang menggunung rindang pohonan hijau subur—Den Bukit.
Berhentilah mengkhayalkannya sebagai lukisan satu-satunya untuk dunia sekejem ini, Amir. Lukislah yang lain. Lukis saja wajah ibumu lebih berarti.
“Aku benci ibuku!” kata Amir. “Dia mati lebih dulu sebelum aku lukis, sebelum aku tahu wajahnya.”
Aku terdiam seketika. Gelap. Amir juga terdiam dan merunduk gelap. Seolah roh yang lain merasukinya lewat kepala. Yang mendorongnya akan melakukan sesuatu selain melukis perempuan itu, atau mengataiku babi—karena kurang ajar mencolek hidung ibunya di dalam kubur. Tiba-tiba ia mendongak, menatapku. [T]
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Made Adnyana Ole



























