2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Air Mata Luka Arak | Cerpen Sonhaji Abdullah

Son Lomri by Son Lomri
August 30, 2025
in Cerpen
Air Mata Luka Arak | Cerpen Sonhaji Abdullah

Ilustrasi tatkala.co

“Yang murni hanyalah arak!”

CARA orang-orang bertahan hidup sekarang, seperti saling tarik menarik ke liang kadal. Memberi umpan saling menjebak. Atau yang paling banal saling makan, setelah saling tangkap.

Itu aku sudah muak. Aku pindah percaya hanya pada temanku, Amir. Sebagai teman, dia tidak menarik siapa-siapa pada liang apa pun.

Tanpa mesti curiga pula dia seorang siluman ular atau bukan. Tindakannya tak pernah licin seperti belut. Omongannya dapat diseret ke dalam tubuh rapuh dan mudah tertipu seperti aku ini, tanpa takut akan dimakan atau disekap.

Amir temanku satu-satunya yang paling jujur. Dia sudah berbeda dengan karakternya yang dulu, yang pemarah, juga penipu. Dulu memang aku sering dikadalinya soal pinjam buku tapi dicuri. Ketika aku meminta balik buku itu, ia justru marah lebih beringas seperti ular kobra. Mendesis mulutnya dan meracau ngomong ke mana-mana.

Terlebih tentang Amir yang dulu, juga tidak bisa mendengar orang lain sehabis baca buku tebal lalu banyak omongnya. Dia pasti datangi orang itu, dan meladeninya berdebat. Busa-busa di mulutnya berubah menjadi api. Bicaranya meledak-ledak seperti mulutnya mengulum bara api.

Aku selalu melengos pergi jika menemukan Amir dalam kondisi seperti itu. Aku tahu hanya bakal membakar rokok menghabiskan kopi, duit dan waktu. Sia-sia umur mudaku hanya mendengarkan mereka ngoceh debat kusir.

Tapi sekarang Amir tampak lebih kalem. Jujur. Aku datang-mampir ke kostnya, untuk terakhir kalinya mengajaknya pergi. Kami akan jarang bertemu setelah itu.

Dia datang ke Singaraja karena minggu depan akan diwisuda—setelah rajin bimbingan online, di rumah.

Dan tiga minggu setelah diwisuda ia berencana akan pulang lagi ke Situbondo. Meneruskan karirnya sebagai pekerja seni, yang sejak semester satu telah dilakukannya. Ketika sudah di rumah, membuka studio lukis adalah pilihan hidup satu-satunya.

“Tak peduli laku atau tidak,” kata Amir.

Soal ilmu melukis memang dia sudah matang. Bahkan, sekarang pula ia sudah seperti seorang psikolog, yang paham situasi-kondisi jiwa temannya seperti apa, itu, dia sudah tahu cara meladeninya. Tidak semua orang harus diladeni, diajak baku hantam omong kosong.

Seperti sekarang, dia lebih tahu kondisiku butuh ditemani saja. Diajak ngobrol. Diberi omongan-omongan baik.

“Satu perempuan telah meninggalkanku!” Aku memulai cerita. “Seakan dia sudah tahu kalau aku bakal menyatakan cinta padanya.”

Mendengar itu Amir tertawa lepas.

“Setan!” aku mengumpat kepadanya.

“Perempuan memang setan bercula tujuh. Tinggalkan semua perempuan di dunia ini. Sisakan hanya ibumu,” timpal Amir. “Ingat selalu ibumu!”

Dugaanku betul kalau dia sudah bijak. Pikirannya sudah sehat, bahkan ingat dawuh Nabi—tentang orang yang mesti diutamakan di dunia ini, hanyalah; ibu, ibu, ibu. Yang tadinya aku tak butuh siraman rohani, jadi mau mendengar dan menghirupnya sebagai angin suluk.

Karena aku merasakan betul dia pernah gagal soal cinta, yang ngilunya seperti gigi ngilu melumat es krim. Yang nyerinya seperti mata ketusuk jarum. Yang ngerinya seperti tubuh dipotong sepuluh bagian.

Tapi sekarang Amir sudah berhasil terlepas dari ngeri-rasa sakit itu. Bisalah dia dinyatakan sudah sembuh sekarang. Karena sudah tidak pernah menyebut-nyebut nama mantannya lagi di depanku, juga tidak pernah mengatainya babi seolah mengataiku juga.

Aku berani taruhan dengan siapa pun, bahwa dia betul-betul sudah sembuh soal cinta.

Tidak seperti aku belum bisa menata hidup. Belum bisa mengumpulkan hatiku yang lebur-bau seperti tai, dan pecah seperti cermin di kasur hotel itu—menjadikannya sebagai bahan bakar semangat hidup, atau satu alasan untuk bunuh diri; membunuh apa-apa yang berkelindan di kepala itu.

Padahal belum bercinta. Tapi nyaris mau gila setiap kali bangun tidur, pagi atau siang selalu teringat rupa-tingkahnya. Dia perempuan paling kejam karena menolak aku cintai di kasur. Perempuan itu langsung pergi dari penginapan itu. Seolah memberi batas agar aku tak jatuh cinta padanya sampai ke dada.

Nyambi bercerita ngalor-ngidul, aku dan Amir pergi—berjalan kaki keliling kampus. Kost Amir dengan kampus memang tidak terlalu jauh, hanya perlu dua puluh kali melangkahkan kaki.

Melihat-lihat perkembangan apa saja setelah dua tahun tak pernah datang ke kampus itu, ternyata tidak ada perkembangan.

***

Kami merayakan pertemuan terakhir—sebelum akan pulang ke kampung masing-masing, membuka-buka kenangan lama. Tentang hidup. Tentang cinta. Tentang hidup dan perkuliahan yang berantakan—karena patah cinta.

Kami terus bercerita soal itu, sepanjang-panjang kami berjalan dari pintu gerbang masuk kampus hingga balik lagi keluar pintu gerbang, seperti orang bingung.

Menemukan sekitar enam pohon masa lalu sudah ditebang. Meringis hati Amir. Salah satu teman memberi tahu jika pohon itu ditebang, dianggap menghalangi jalan parkir, juga terlalu menghalangi gedung fakultas yang baru saja dibangun lebih modern.

Di dekat perpustakan, kemunculan sebuah coffee shop secara tiba-tiba, dengan menu minum-makanan harganya mahal ditempel di dinding disimpan di meja. Menambah rasa nyeri—karena hilang kenangannya.

Lebih mencolok lagi di seberang kedai itu, ada tempat untuk nyarjer mobil/motor listrik milik para leak—menggantikan pohonan. Termasuk tempat air minum siap pakai berbentuk tabung besar, sudah membangkai.

Padahal, dulu, tahun 2019,tabung itu dielu-elukan semua dosen termasuk rektor, hanya karena Pak Menteri sudah tanda tangan di tabung itu.

Kami pernah dipaksa sewaktu maba untuk berdiri-berderet sepanjang jalan pintu masuk. Mengibarkan bendera merah putih, menyambut menteri itu, seakan menyambut pahlawan datang.

Tapi sekarang tempat itu sudah berkarat. Mungkin juga sudah diisi oleh ular atau kecoa. Atau dikencingi leak karena terlihat keramat ditumbuhi semak belukar panjang-panjang di sisi tabung.

“Nasib buruk terus menimpa, sedari dulu, tidak pernah enggak!” Amir mengeluhkan pohon-pohon bekas dulunya berteduh itu ditebang, juga tempat duduk kecil di pinggiran perpustakaan sudah hilang.

Dia memang pencinta pohon. Di bawah pohon-pohon itu pula ia pernah menyatakan cintanya pada seorang perempuan yang dianggapnya setia, Santi. Dan Santi menerima cintanya. Membalas cinta Amir di tempat duduk kecil itu yang sekarang jadi colokan mobil listrik.

“Kalau mereka sudah bosan dan tidak mau merawat, mungkin kedai dan tempat nyarjer itu juga bakal bernasib sama jadi bangkai dihuni setan seperti tabung air itu,” kataku.

“Mungkin,” timpal Amir.

Kami berhenti sebentar di tembok pagar rektorat kampus. Capek. Kencing di sana sekadar istirahat ambil napas panjang, sebelum lanjut berjalan.

“Kampus anjing!” umpat Amir sambil mengadu tititnya dengan tembok tiga kali.

“Awas hamil!” kataku.

Ia tertawa.

Di sela menikmati angin malam dan tertawa lepas, aku sisipkan cerita yang getir. Tentang perempuan yang pernah dicatatnya akan menjadi istrinya dulu, itu telah mati. Aku mengungkitnya.

Perempuan itu satu kampus dengan kami, tapi jurusan akuntansi. Mereka pernah bertemu di perpustakaan, dan pendek cerita menjalin hubungan, lalu kandas—menjadi panjang cerita.

Barangkali itu yang membuatnya mengumpat jika kampus itu seperti kandang anjing nakal layak dikencingi. Digebuk bila perlu, seakan dirinya benci hanya karena pernah terpapar rabies gigitan anjing.

Tapi selayaknya benda, catatan bisa hilang. Bukan sebab catatan itu hilang seperti selembar kertas yang hilang entah ke mana. Tapi memang perempuan itu pergi meninggalkan Amir. Hanya karena ia dianggap belum pasti sebagai seniman yang punya nasib baik, setelah diwisuda dari tujuh tahun kuliah baru kelar.

Tarik ulur cinta oleh perempuan itu sebenarnya yang membuat Amir tak kelar-kelar dan tak pandai merawat diri. Tapi perempuan itu tidak merasa dirinya adalah bibit masalah paling dasar mengapa Amir memilih hidup bohemianan dan menunda kelulusan. Dan aku sebut, perempuan itu telah mati sehari setelah diwisuda dua tahun lalu.

“Amir. Aku tahu kamu tulus soal cinta. Tapi soal malam hari dan angin malam masuk ke dada, sebaiknya kita belok kiri dulu nyari kopi,” kataku.

Lantas ia mengacungkan jempol tangan kanan dan bilang, “Oke!” sambil menunduk pasrah.

Kami menyudahi keliling kampus. Dan sepanjang jalan ia terus menunduk sambil menendang-nendang batu kerikil. Dari caranya berjalan lesu dan menendang batu kerikil tak bertenaga, jalanan seperti tampak murung menerima hantamannya.

Tak ada batu kerikil yang ditendangnya melesat jauh. Di tempat sampah, ia memungut botol bir kosong. Lalu melemparnya ke tembok dekat jalan keluar kampus, seolah ada Santi di sana.

“Biar ada kerja tambahan besok pagi si petugas kebersihan,” kata Amir.

“Gila!” kataku.

Santi selalu dianggapnya terus menguntitnya, termasuk nongol di tembok itu. Padahal tidak. Tapi terus-masih dibayangkannya seolah si perempuan itu selalu ada, masih terus menguntitnya. Merupa leak yang bersemayam di kampus itu—abadi, di mana-mana bahkan. Dianggapnya selalu ada.

***

Tidak jauh dari tempat duduk—ngopi kami, seorang gadis baru saja membuka warung gorengannya. Gadis itu bertubuh gembrot dengan sifatnya yang centil. Sudah gendut, centil pula.

Merasa diri cantik dan pintar hanya karena pandai membuat gorengan. Lantas ia merasa berani meladeni om-om. Tapi om-om enggan meladeninya balik hanya karena perempuan itu terlalu gendut dan bau.

“Jangan begitu,” kata Amir. “Body shaming itu namanya!”

“Tapi begitulah dunia memandangnya, Mir. Terkecuali kalau dia cantik, terus centil, okelah—tidak apa-apa. Bisa dimaklumi. Tapi ini tubuh gendut kulit coklat, apa mau dipakai? Bau pula!”

“Sebab itulah kau ditinggalkan gebetanmu tanpa sebab!” kata Amir. “Karena tak ada ketulusan di matamu memandang perempuan.”

“Halah. Tulus-tulus tai kucing! Tapi memang aku yang salah, sih, aku telah menggebet perempuan itu tapi tidak pernah memberinya apa-apa,” kataku.

Tapi aku menegaskan pada Amir bahwa dunia ini lebih kejem dari cara pandangku, soal tidak pernah memberikan apa-apa selain ciuman.

Gebetanku mau aku cium, dan sebaliknya, aku mau dicium dia. Tapi lama-lama seperti itu, dia tidak mau lagi aku cium. Bahkan menganggapku kurang ajar hanya karena tidak pernah memberinya apa-apa setelah 100 kali ciuman.

“Jadi, yang tulus itu, Mir, hanya ada di negeri dongeng atau kisah-kisah klasik seperti Tutur Tinular,” kataku.

Ada sesuatu yang dipertukarkan di sana. Kamandanu yang tulus cintanya bersih untuk Nariratih, tapi ujung-ujungnya dia makan sisa—kesetiaan—bekas kakaknya sendiri, si penyair gila tuak—Arya Dwipangga. Jadi, di mana bagian dunia yang murni itu?

“Ya, mau bagaimana pun, hidup hanya sekali. Melahap cinta murni itu…” kata Amir mau ceramah tapi aku potong.

“Halah! Yang murni itu hanya kucit. Itu pun kalau kita jeli bisa membedakan mana yang sakit, mana yang sehat walafiat,” bantahku.

Aku tahu Amir paham soal apa yang aku katakan itu, yang aku bahas itu, adalah untuk menggugat perempuan yang diidamkannya, yang dianggapnya masih ada sekarang, itu sudah minggat. Sudah mati. Layak dilupakan seperti angin lewat.

“Berhentilah melukis perempuan yang sudah pergi dan bertunangan itu,” kataku.

Anggap saja dia sudah mati. Lepaskan dia dari jiwamu. Ikhlaskan. Sangat tidak layak untuk diingat-ingat sebagai perempuan murni paling puitik. Apalagi eksotis untuk dilukis.

Percuma. Dengan teknik apapun itu percuma. “Hanya menambah rasa nyeri!” kataku dengan nada bicara terkesan ngotot.

Dunia sudah semakin menipu, Amir. Dunia yang murni sudah tidak ada. Siapa pandai menipu, hidupnya akan selamat. Apa saja barang penipuan itu? Kata-kata, jawabku. Atau kedipan mata. Atau apa saja yang bisa dijadikan pelumas masa depan. Maka, bakarlah lukisan-lukisanmu itu. Itu bukan pelumas masa depan, Amir. Itu pengawet rasa sakit.

Dari dua puluh lima lukisan berwajah perempuan sama dilukismu sia-sia. Tak satu pun tandas terjual. Tapi dilukismu terus menerus—yang sekarang sudah mau ke-26 dengan ukuran lebih gede; 145 x 200 cm oil on canvas.

“Untuk apa? Selain pantas dibakar!” kataku.

Tapi dia tetap puja-puji perempuan itu dilukisannya. Terutama tentang cinta murni hanyalah kau, Santi. Berikut dengan ciuman dan pelukan.

Dia seolah menari dengan Santi di kanvas itu. Seperti seorang sedang mabuk, warna dimainkannya di bibir ketika wajah masih setengah berwarna.

Kemudian, kuas disapunya tebal seperti belaian seorang kekasih yang sedang ingin bercinta melalui wajah dan dada, melompat ke rambut lalu ke perut. Merayap-rayap kuas itu diajaknya bermain di bagian torso—menggunakan teknik impasto.

Melewati batas kenyataan dan khayalan. Lantas ia mengigau sekali lagi, “Kulukis wajah engkau dengan bismillah, Santi. Berikut dengan janji-janji kita…”

Kanvas-kanvas di dunia ini seperti tak lagi putih dipandangnya untuk digoreskan warna-pola-bentuk lain. Semua kanvas seakan harus dibentuk satu objek saja; wajah Santi—yang elok seksi bibirnya. Yang memiliki alis melengkung seperti arit di tangan para petani. Yang bermata coklat bening seperti telaga. Yang berbuah dada yang menggunung rindang pohonan hijau subur—Den Bukit.

Berhentilah mengkhayalkannya sebagai lukisan satu-satunya untuk dunia sekejem ini, Amir. Lukislah yang lain. Lukis saja wajah ibumu lebih berarti.

“Aku benci ibuku!” kata Amir. “Dia mati lebih dulu sebelum aku lukis, sebelum aku tahu wajahnya.”

Aku terdiam seketika. Gelap. Amir juga terdiam dan merunduk gelap. Seolah roh yang lain merasukinya lewat kepala. Yang mendorongnya akan melakukan sesuatu selain melukis perempuan itu, atau mengataiku babi—karena kurang ajar mencolek hidung ibunya di dalam kubur. Tiba-tiba ia mendongak, menatapku. [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Chatrine F. Ndrotndrot | Aku yang Bukan Mereka

Next Post

Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co