12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Chatrine F. Ndrotndrot | Aku yang Bukan Mereka

Chatrine F. Ndrotndrot by Chatrine F. Ndrotndrot
August 30, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Chatrine F. Ndrotndrot  |  Aku yang Bukan Mereka

Chatrine F. Ndrotndrot

AKU YANG BUKAN MEREKA

Aku tak pernah benar-benar berada
di posisi perempuan-perempuan itu
yang dipatahkan dalam diam
yang disingkirkan tanpa alasan
yang tubuhnya dijadikan cerita
tanpa hak untuk bersuara

Namun, entah mengapa
aku mudah sekali menempatkan diriku
pada posisi mereka
Seolah luka itu tertulis juga di bawah lapisan kulitku
di balik senyum yang tak selalu kuat

Mereka
yang hidup dalam posisi yang sangat disayangkan
dibiarkan dalam posisi yang tak adil
dipaksa bertahan di posisi yang tak diinginkan

Aku bukan mereka
tapi kadang dunia memperlakukan kita sama
sebagai tubuh yang bisa dipilih atau bahan diabaikan
sebagai suara yang boleh dibungkam kapan saja

Maka jika aku menangis
bukan karena aku lemah
tapi karena aku tahu
rasa sakit mereka nyata
dan aku tak bisa pura-pura tak merasakan

SAHABAT DI PELUKAN ALAM

Aku merasa menyatu
dengan bisikan air yang jatuh lembut
menyapu lembut di diding batu
seakan setiap tetesnya adalah nada
yang memanggil namaku

Mereka sahabatku
udara yang menari di sela dedaunan
lumut yang membentang bagai
permadani surga
berudu mungil yang bermain riang
di dinginnya bebatuan air
Aku jatuh cinta pada setiap denyut
kehidupan ini
pada kilau basah yang memantulkan cahaya
pada daun yang basah oleh rahmat
langit
dan pada hening yang terasa begitu hidup
Di sini, aku tak lagi sendiri
Alam memelukku
dan aku memeluknya kembali

DUKA DI LEMBARAN KERTAS BISU 1

Di hadapan kertas yang tak bersuara
kupeluk luka yang enggan terbagi
Tinta menetes pelan
seperti air mata yang takut disaksikan langit

Setiap huruf berdiri gemetar
menyimpan jeritan yang tak pernah selesai
Ada nama yang kutulis
namun selalu kubiarkan kabur
takut ia kembali dalam ingatan

Kertas ini bisu
tapi ia lebih jujur dari mulut manusia
ia tahu
betapa hancur suaraku
betapa sepi berdian di dada yang penuh sesak

Andai kertas bisa menangis
barangkali ia sudah hanyut bersama air mata
tenggelam bersama rahasia yang tak pernah kusampaikan

Maka biarlah ia tetap diam
sebagai saksi yang setia
atas duka yang kucatat dalam sunyi
di lembar kertas
yang tak berani membalas

TULIS SAJA 2

Tulis saja
lirik tembang dukamu
di lembar kertas bisu
Biar ia yang menanggung
ratapmu, rahasiamu
segala jerit yang tak berani kau teriakkan kepada langit

Robek!
Robek nuranimu dengan penamu
biarkan ia berdarah huruf
menangis tinta
sampai luka berhenti menggigil

Bagi dukamu
dengan untaian kata
karena diam terlalu sempit
terlalu kejam
untuk menahan semua bebanmu

Ingatlah
kata adalah senjata terakhirmu
Ia bisa menusuk sepi
menghantam gelap
menyalakan api
di dada yang hampir padam

Dan meski dunia membisu
kau tetap punya kata
kata yang tak bisa dibungkam
kata yang selalu hidup bersamamu

LUKA YANG DISEMBUNYIKAN

Kau lihat betapa lihainya mereka
menyulam luka di balik senyum
menatap bau busuk yang kian membusuk
Seakan duka adalah pameran biasa
di ruang yang tak lagi asing

Ada tubuh yang tak pernah disemayamkan
ada tanah yang menanggung beban tanpa nama
Semua kisah itu
kebenaran yang dikebiri
hanya berani berbisik di telinga malam

Namun kelak
bila cerita itu sampai pada anakmu
mungkin ia akan memikul maut terlalu dini
terkubur sebelum sempat merasakan
panjangnya usia
karena kebenaran di sini
lebih berbahaya daripada dusta yang meraja

ADAKAH KAU LAYAK DIMAKAMKAN

Saat waktu itu tiba
aku baru akan tahu
hidup yang kau jalani adalah lorong sempit
antara napas dan kutukan kematian

Setiap langkah terasa dipaksa
hingga ujungnya kau mati
dibiarkan membusuk
seperti bangkai yang diperebutkan
burung pemangsa langit kelam

Seantero dunia tak pernah tahu siapa dirimu?
Di mana tubuhmu rebah?
Atau adakah kau layak dimakamkan?
Tulang-belulangmu barangkali
hanya menjadi butir debu
atau tanah yang tak sempat disebut subur

Pertanyaan menggantung di udara
mengepul seperti asap di lorong gelap.
Siapa kau?
di mana akhirmu?
Mengapa misteri tubuhmu
tak bisa dikenali
Bahkan forensik pun menyerah
di hadapan kegilaan ini

KAU SUDAH BERTUAN

Ada cahaya di matamu
tapi bukan untukku
Ada senyum di bibirmu
namun bukan namaku yang kau sebut

Aku berdiri di tepi jarak
menatapmu bagai bulan
yang indah
tapi terikat pada langit yang bukan milikku

Kau sudah bertuan
dan aku belajar menundukkan hati
menyembunyikan rindu
dalam lipatan doa paling sunyi

Maka biarkan aku mencintaimu
dengan cara yang tidak menggangu
seperti angin yang hanya lewat
menyentuh sebentar, lalu reda
tanpa pernah meminta balas

.

Penulis: Chatrine F. Ndrotndrot
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketua DPRD Harapkan Atlet Pencak Silat Buleleng Raih Hasil Maksimal di Porprov Bali 2025

Next Post

Air Mata Luka Arak | Cerpen Sonhaji Abdullah

Chatrine F. Ndrotndrot

Chatrine F. Ndrotndrot

Chatrine Florentina Ndrotndrot, lahir di Fakfak pada 13 April 2005, adalah mahasiswa asal Kabupaten Fakfak, Papua Barat, yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Ganesha. Ketertarikannya pada dunia puisi telah tumbuh sejak duduk di bangku SMP dan terus ia tekuni hingga kini. Perjalanan cintanya pada sastra membawanya bergabung dengan Komunitas Mahima, sebuah komunitas sastra di Singaraja, Buleleng, Bali, tempat ia semakin mengasah kemampuan dan menyalurkan ekspresi kreatif melalui kata-kata.

Related Posts

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails
Next Post
Air Mata Luka Arak | Cerpen Sonhaji Abdullah

Air Mata Luka Arak | Cerpen Sonhaji Abdullah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co