6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Cahaya Daffa Fuadzen by Cahaya Daffa Fuadzen
August 28, 2025
in Ulas Buku
Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Sampul buku Kokokan Mencari Arumbawangi

AKU baru mulai mengenal nama Cyntha Hariadi sebagai prosais lewat bukunya berjudul Mimi Lemon yang terbit tahun 2023. Begitu Mimi Lemon hadir, sejurus itu aku tersihir dengannya sebagai pengarang yang emosional. Sialnya, aku tak sempat merasakan atmosfer kala dirinya meraih Pemenang III Sayembara Manuskrip Puisi DKJ tahun 2016.

Ironis, sebagai calon lulusan sastra, aku tak mengenal rekam jejaknya. Baru pada saat aku menjadi penulis mukim di Singaraja Literary Festival 2025, aku tak ingin menyiakan momentum berjumpa dengannya lewat diskusi bukunya Kokokan Mencari Arumbawangi (selanjutnya disingkat KMA) bersama Gustra Adnyana sebagai pendamping pariwara. Seusai berbincang, seketika aku berutang tulisan hasil refleksiku sebagai pembaca yang belajar setia kepadanya.

Gustra Adnyana (kiri) dan Cyntha Hariadi (kanan) berdiskusi buku di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Daffa

Sebermula Kisah Keluarga Nanamama

Alkisah, seekor kokokan menjatuhkan seorang bayi ke kebun bawang merah milik Nanamama. Tubuh dan wajahnya menarik perhatian Kakaputu untuk segera membawanya pulang, dan sejak saat itu langsung dinamai Arumbawangi oleh Nanamama.

Singkatnya, mereka terusik ketika seorang pengusaha datang berencana membangun hotel di tengah sawah. Ketika seluruh warga tergiur menjual tanah mereka, hanya Nanamama yang teguh menolak. Bagi Nanamama, tanah adalah denyut nadi kehidupan. Bersama Kakaputu dan Arumbawangi, ia berdiri gagah menentang keserakahan yang mengancam tanah mereka.

Dalam pengisahan KMA, Cyntha berpijak kuat pada fenomena yang terjadi di kawasan pedesaan Ubud. Munculnya burung kokokan sebagai perangkat lokalitas Bali, Cyntha turut membalut kisahnya menjadi realisme magis bernuansa ekosentris. Konsistensi Cyntha juga terlihat jelas dalam merasionalkan hal-hal yang dianggap surreal lewat pendekatan ekologis yang konkret.

Dimulai Nanamama, misalnya. Sebagai tokoh dengan karakter ibu yang perkasa, Nanamama dipusatkan sebagai sentral moral, yang tak luput dari hakikat tradisi, penggerak spiritualitas alam, dan perjuangan sosok perempuan untuk berupaya mempertahankan ruang hidupnya.

Kemapanan relasi ekofeminis itulah sebagai gagasan utama dalam memantik kritik tentang konflik agraria yang tidak berkesudahan. Singkatnya bisa kita temukan lewat satu contoh penggalan berikut:

Semua yang hidup, tumbuh dari pori-pori bumi yang juga hidup. Aku bisa mendengar denyut nadiku dengan anak-anakku dalam tanah yang kami olah dan sayangi setiap hari. Sebagai balasan, tanah ini memberi kami hidup. Apa jadinya, kalau kemudian mesin-mesin itu datang, mengebor, dan menancapkan beton dan besi menembus kulit ke dalam daging sampai jantungku? Tanah ini akan mati. Kami semua (hlm 152-153).

Tidak berhenti di situ, pusaran cerita juga difokuskan pada tokoh Kakaputu dan Arumbawangi, di mana Cyntha menjadikannya wahana eksplorasi dunia anak-anak yang terasa spontan dalam kerumitan konflik sosial.

Arumbawangi mengepang seluruh rambut ibunya dan melilitnya menumpuk di atas kepala. Lalu ia menyelipkan puluhan kembang mitir sampai memenuhi seluruh rambutnya. Anak-anak berusaha membuat ibu mereka tampil bersih dan istimewa di saat terakhir tubuhnya dilihat dunia. Kalau masih hidup, Nanamama pasti menolak didandani seperti ini. Bukan karena mitir lumrah dijadikan hiasan kepala, tapi karena kepalanya jadi mirip sarang lebah. Kakaputu meletekkan kwangen di antara kedua tangan Nanamama yang terlipat di atas perut (hlm 4).

Lewat adegan proses pemakaman yang begitu getir, Cyntha ingin menyoal dunia mereka tampak polos, cair dan penuh ketulusan. Di satu sisi, mereka dituntut menghadapi kematian, konflik batin, hingga transformasi jiwa dengan legawa.

Kesadaran dan Ketidaksadaran Sebuah Dongeng

Aku begitu salut dengan simpati Cyntha ketika dirinya memiliki tanggung jawab moral dan terdorong untuk memotret sebuah isu perampasan tanah sengketa yang marak terjadi di Ubud, meskipun Cyntha tidak lahir dan tumbuh di sana.

Patut diapresiasi sebagai bentuk empati yang ditempuhnya tanpa menimbulkan kesan berjarak. Yang lebih menarik acapkali keputusan Cyntha mengadopsi konsep dongeng sebagai format bercerita. Ada satu paragraf yang kusuka. Terdengar sederhana namun aku suka cara Cyntha mendeskripsikannya adegan seorang anak yang jatuh dari langit dengan begitu imajinatif.

Anggap saja anak ini kiriman dari dewa-dewi langit untuk kelangsungan hidup manusia di bumi. Tak beda seperti hujan, cahaya, angin, dan petir. Tapi kali ini seorang manusia yang lahir bukan dari rahim manusia. tapi perut angkasa (hlm, 32).

Dalam sesi diskusi, Cyntha mengaku bahwa inspirasi menulisnya lahir dari rutinitas anaknya di sekolah alam. Benar saja, sembari membaca, sekilas aku merasakan lapisan personal yang tidak bisa luput dari penuturannya. Membaca KMA seperti membaca otobiografi yang terselubung. Agaknya, Cyntha punya keleluasaan untuk meleburkan fakta dan fantasi menjadi kian estetik.

Kekagumanku seringkali tergamang oleh apa yang boleh kusebut sebagai ketimpangan. Aku tidak bisa sepenuhnya menyebut KMA sebagai novel anak. Ada ketidaksadaran Cyntha yang menarik untuk ditelusuri. Terlihat Cyntha dengan kental menuturkannya menggunakan sudut pandang layaknya orang dewasa.

Perspektif moral, pilihan diksi, dan kedalaman refleksi masih terasa seperti suara seorang ibu yang mengajak duduk anak-anaknya untuk mendengar nasihat, bukan suara anak yang lugu menceritakan dunianya sendiri. Apalagi, setengah bahasa yang digunakan adalah metafora. Membikin KMA memerlukan waktu relatif lebih lama untuk mampu dicerna anak-anak, sesekali dipandu orangtua dalam menebalkan pemahaman konteks.

Penutup

KMA tampak menghadirkan kegelisahan Cyntha sebagai outsider yang peduli terhadap isu lingkungan serta berkomitmen untuk menyampaikannya dengan cara tersirat namun tetap kontekstual.

Tentu saja, ketika buku ini berjumpa kepada pembacanya, seperti punya cara tersendiri untuk mewartakan wacana yang dirasa penting. Sangat mungkin apabila buku ini akan melekat pada pembaca, serupa seorang ibu mendongeng hangat sebagai penghantar tidur kepada anaknya.

Data Buku

Judul: Kokokan Mencari Arumbawangi
Pengarang: Cyntha Hariadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2025, Cetakan ketiga

Penulis: Cahaya Daffa Fuadzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cyntha HariadiKokokan Mencari ArumbawanginovelSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

Next Post

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Cahaya Daffa Fuadzen

Cahaya Daffa Fuadzen

Mahasiswa Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman. Aktif bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Beberapa karyanya termuat di media cetak dan daring. Puisinya termaktub dalam antologi Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Sebagai penyair terpilih di Pertemuan Penyair Nusantara Dewan Kesenian Jakarta 2025.

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co