2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keberanian dan Kecerdasan pada Topeng Perempuan Buleleng yang Jauh di Swiss

Dian Suryantini by Dian Suryantini
August 25, 2025
in Khas
Keberanian dan Kecerdasan pada Topeng Perempuan Buleleng yang Jauh di Swiss

Topeng wanita purba yang tersimpan di Swiss | Foto: Dian

BERBICARA tentang topeng di Bali, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada pertunjukan tari, ritual sakral, atau barong yang menari di bale banjar. Namun, sejarah topeng Bali ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar fungsi hiburan atau upacara. Salah satu buktinya datang dari Buleleng. Sebuah topeng perempuan yang kini tersimpan jauh di Museum Etnologi Basel, Swiss.

Topeng ini ditemukan oleh seorang kolektor pada tahun 1975 dan kemudian tercatat dalam publikasi The Art and Culture of Bali karya Urs Ramseyer (1977). Bukan sekadar benda seni, topeng ini memuat pesan kultural yang kuat, penghormatan pada peran perempuan dalam masyarakat Bali kuno.

Dalam sebuah seminar di Buleleng Festival (Bulfest) 2025 yang bertema “The Mask History of Buleleng: Topeng Leluhur, Jiwa Buleleng”, budayawan Bali, Prof. I Made Bandem menyinggung keberadaan topeng perempuan tersebut. Diskusi itu membuka kembali memori tentang sebuah artefak kecil—hanya berukuran 17,7 cm tinggi dan 18 cm lebar—namun sarat makna.

Prof Made Bandem saat memberi materi pada seminar topeng di Bulfest 2025 | Foto: Dian

Detailnya mengesankan. Mata besar sedikit sipit, telinga lebar berhias subang, hidung panjang, alis melengkung dan sedikit tebal, serta bibir tegas. Setiap ukiran seolah menghadirkan karakter perempuan yang tidak sekadar cantik, tetapi juga berani dan cerdas. Sebuah gambaran yang kontras dengan stereotip perempuan dalam banyak tradisi seni rupa Nusantara, yang kerap ditempatkan sekadar sebagai figur pendamping.

Prof. Bandem menduga, topeng ini bukan diciptakan untuk dipakai menari. Tetapi berfungsi sebagai persembahan, simbol penghormatan pada perempuan. Artinya, sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Bali Utara telah menempatkan perempuan dalam posisi yang vital dalam kehidupan sosial maupun spiritual.

Bentuk wajah topeng perempuan Buleleng memperlihatkan pengaruh asing. Mata sipit dan telinga lebar misalnya, mengingatkan pada interaksi dengan komunitas pendatang. Hal ini masuk akal, mengingat Buleleng sejak lama menjadi pintu masuk perdagangan internasional.

Melalui pelabuhan Julah dan pelabuhan-pelabuhan kecil lain, kapal dari Jawa, Bugis, India, hingga Tiongkok singgah membawa rempah-rempah, ternak, dan kerajinan. Pertemuan itu bukan hanya soal barang, tetapi juga gagasan, estetika, dan simbol-simbol budaya. Maka, tidak mengherankan jika seni rupa Buleleng memperlihatkan kekayaan hibrid—lokal sekaligus kosmopolitan.

Topeng wanita purba yang tersimpan di Swiss | Foto: Dian

Topeng perempuan ini lahir dari persilangan budaya tersebut. Bukan hanya imitasi pengaruh luar, melainkan hasil asimilasi yang memperkaya identitas seni Bali Utara.

Jejak topeng di Bali sudah sangat tua. Catatan arkeologis menunjukkan keberadaannya jauh sebelum era kerajaan klasik.

Seperti di Gilimanuk. Ditemukan topeng mata dari emas, dikubur bersama fosil manusia. Simbol bahwa topeng telah hadir sebagai bagian dari ritual kematian.

Di Pejeng, terdapat relief topeng pada sarkofagus berbentuk kura-kura serta ukiran pada Nekara Pejeng, artefak perunggu besar yang misterius.

Dan pada Prasasti kuno, kata topeng sudah muncul dalam prasasti Bebetin (896), Tengkulak (1049–1077), Belantih (1058), hingga Julah (1071). Di sana topeng disebut dengan istilah Partapuka.

Artinya, sejak lebih dari seribu tahun lalu, topeng telah menjadi bagian dari ritual, estetika, dan identitas masyarakat Bali. Bukan lagi sebuah seni rupa, tetapi media komunikasi dengan dunia sakral.

Dalam kajian ikonografi Bali, topeng memiliki laksana (atribut/ciri khas), estetika (sakral atau profan), serta bawa (ekspresi wajah yang memancarkan karakter).

Topeng perempuan Buleleng memperlihatkan bawa yang unik. Tatapan cerdas, bibir tegas, dan kehadiran subang pada telinga menandakan sosok yang anggun sekaligus kuat. Bukan hanya perwujudan kecantikan, melainkan simbol otoritas dan intelektualitas perempuan.

Hal ini berbeda dengan banyak topeng dalam tari Bali, yang biasanya menggambarkan karakter lelaki seperti raja, prajurit, atau punakawan. Kehadiran topeng perempuan dalam posisi simbolik justru menunjukkan penghormatan mendalam terhadap kaum perempuan di masa lampau.

Meski begitu, ironi terasa ketika menilik keberadaan topeng ini. Alih-alih tersimpan di Bali, ia justru berada jauh di Swiss. Di Museum Etnologi Basel, topeng ini dilihat sebagai benda penelitian antropologi. Namun di Buleleng, kisahnya nyaris tidak terdengar.

Masyarakat Buleleng bahkan (mungkin) tidak tahu bahwa leluhurnya pernah menciptakan simbol penghormatan setinggi itu kepada perempuan. Padahal, jika dikontekstualkan ulang, kisah ini bisa menjadi narasi penting dalam pembangunan identitas lokal.

Keterputusan pengetahuan ini memperlihatkan bagaimana sejarah seringkali terasing di museum-museum luar negeri, sementara masyarakat asalnya kehilangan akses pada warisan budayanya sendiri.

oppo_2

Prof Made Bandem saat memberi materi pada seminar topeng di Bulfest 2025 | Foto: Dian

Kisah topeng perempuan Buleleng sebetulnya bisa dibaca sebagai refleksi atas posisi perempuan hari ini. Dalam tradisi kuno, perempuan dipandang memiliki keberanian, kecerdasan, dan peran besar dalam kehidupan sosial. Nilai itu relevan di tengah perjuangan perempuan modern yang saat ini menuntut kesetaraan.

Menghidupkan kembali kisah ini dapat dilakukan lewat berbagai cara. Misalnya, pameran lokal, dengan menghadirkan dokumentasi dan replika topeng. Melakukan riset akademis, yang mengkaji peran perempuan dalam seni rupa Bali kuno. Atau membuat kreasi seni pertunjukan, misalnya drama tari yang mengangkat kisah topeng perempuan sebagai tokoh utama.

Langkah-langkah ini bukan sekedar upaya pelestarian, tetapi juga strategi untuk membangun kebanggaan identitas.

Pada akhirnya, topeng perempuan Buleleng ini menyimpan kisah besar dalam tubuhnya yang mungil. Topeng itu, berbicara tentang perdagangan maritim, percampuran budaya, penghormatan pada perempuan, serta kecanggihan seni rupa Bali.

Tatapan matanya yang besar seolah ingin menyampaikan pesan lintas abad, jangan lupakan aku, jangan lupakan perempuan.

Topeng bisa diam seribu bahasa, tetapi ekspresi ukirannya mampu bercerita sepanjang zaman. Dan kisah yang diceritakannya kali ini, bukan hanya soal seni, melainkan tentang keberanian, kecerdasan, dan penghormatan. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengbuleleng festivalbulfestBulfest 2025Prof Made Bandemtopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [13]—Sarapan Gratis di Manggalewa

Next Post

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co