Rabu 16 November 2022. Sejak dari Gresik, saya sudah menghabiskan waktu bersepeda selama lima hari, dengan dua hari recovery di Denpasar. Menurut teori, idealnya istirahat dua hari jika sudah bersepeda selama 3 hari berturut-turut.
Kecuali jika kita bersepeda ekstrim, seperti dalam ajang ultra cycling “Bentang Jawa”. Di mana peserta dituntut harus mampu menempuh jarak 1.500 meter dengan waktu maksimal 6,5 hari.
Tapi saya tidak sedang memburu apa pun, kecuali kegembiraan. Selain, tentu saja, saya berkampanye untuk penggalangan dana bagi lansia, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya.
Saya berangkat dari Mataram menuju ke Pelabuhan Kayangan pada pukul 05.10 WITA. Saya memang sudah pernah melewati rute menuju ke pelabuhan tersebut, tapi menggunakan mobil.
Secara umum rute dengan jarak sekitar 80 kilometer itu relatif datar. Tapi saya tetap menemukan beberapa tanjakan, yang tidak terasa jika menggunakan kendaraan bermotor. Karena perjalanan relatif lancar, saya sampai di Pelabuhan Kayangan pukul 10.15 WITA.
Kapal feri yang saya tumpangi menyeberang ke Sumbawa pukul 10.35 WITA. Selama penyeberangan ombak relatif tenang. Setelah hampir dua jam, kapal merapat di Pelabuhan Pototano.
Udara panas terasa menyengat ketika saya keluar dari kapal feri. Meskipun sudah lapar, saya tidak langsung menuju warung, tapi mencari penginapan terlebih dulu. Saya harus memastikan malam ini saya mendapatkan penginapan.
Menurut data yang saya dapat dari Google, di pelabuhan kecil itu ada satu penginapan. Lokasinya sekitar dua kilometer dari dermaga. Saya meluncur ke arah yang ditunjukkan Google Map.
Setelah sampai, ternyata tempat itu bukan penginapan, hanya semacam indekos dengan jumlah kamar terbatas. Kebetulan saat itu semua kamar penuh.
Karena perut sudah sangat lapar, saya kembali lagi ke arah pelabuhan untuk menuju warung makan yang tadi saya lewati. Warung makan tersebut terlihat cukup asri dan bersih.
Saya sapukan pandangan ke dalam warung yang cukup luas itu. Hanya ada dua lelaki muda yang sedang makan di sisi kiri. Mereka bercakap-cakap dengan bahasa lokal. Sementara beberapa meja tampak kosong, mungkin karena sudah melewati jam makan siang.
“Ada masakan ikan laut, Bu?” tanya saya pada seorang perempuan berkerudung. Sepertinya dia pemilik warung.
“Ada kerapu, kakap, cumi dan udang. Silakan,” jawabnya.
Dari dialeknya, saya menduga dia bukan orang Sumbawa.
“Kerapu saja dan es teh.”
“Dari Jawa?” tanyanya sambil mengambil nasi dari bakul plastik.
“Iya.”
“Surabaya?”
Saya mengangguk.
“Saya juga dari Surabaya!” katanya dengan antusias.
Kami pun segera akrab. Apalagi perempuan yang bersuamikan orang Pototano itu ternyata dulu tinggal di Panjangjiwo, dekat dengan SMA saya.
“Apakah di sini tidak ada penginapan, minimal indekos harian?”
“Tidak ada. Sebaiknya Anda menginap di Alas, kurang lebih 21 kilometer dari sini. Di Alas ada dua hotel kecil.”
“Terima kasih.”
Saat hendak membayar, perempuan itu menolak. Mungkin sebagai bentuk solidaritas sesama Arek Suroboyo. Atau bisa jadi dia merasa kasihan, melihat ada orang tua bersepeda sendiri dari Jawa.
Meskipun jarak dari Pototano ke Kecamatan Alas relatif dekat, tapi cukup menguras tenaga. Karena sinar matahari demikian menyengat. Benar apa yang disampaikan pemilik toko sepeda di Mataram. Sumbawa memang memiliki lima matahari.
Sesampai di Alas saya segera mencari penginapan. Dari dua penginapan yang ada, saya memilih yang sebelah kiri jalan. Karena penginapan itu dekat dengan warung makan.
Malam itu saya menginap di Alas, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa Besar. Besok saya harus berangkat lebih pagi, agar bisa seminim mungkin terpapar sengatan matahari Sumbawa. [T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
- BACA CERITA SEBELUMNYA:
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [10]–Makan Gratis di Warung Milik Arek Suroboyo](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-sepeda10-750x375.jpeg)


























