UDARA lembap kian menyelimuti Ubud malam itu, saat jarum jam mendekati pukul 21.40 Wita. Lampu panggung Subak Stage berkedip lembut, memantul di wajah-wajah penonton yang duduk tenang. Tak ada teriakan, tak ada keramaian, hanya sorotan ke panggung kecil, bersiap menyambut penampil terakhir malam itu.
Seorang remaja berusia 15 tahun asal Bali bernama Mahanada Putra Yapari melangkah pelan ke tengah panggung, menggenggam mikrofon dengan satu tangan. Di belakangnya, tiga musisi ─ pianis, drummer, dan pemain kontrabas sudah siap memainkan irama. Penampilannya malam itu menjadi penutup di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF), Sabtu, 2 Agustus 2025.
Nada, begitu ia biasa disapa, tampil tenang sejak awal. Tak ada raut gugup, meskipun ia berdiri sendiri di depan penonton yang sebagian besar belum pernah mendengar namanya. Begitu lagu pertama dimulai, perhatian langsung terpusat padanya. Suaranya bulat dan terkontrol, gaya bernyanyinya dewasa. Penonton menyimak dalam diam ─ sebagian tampak mengangguk pelan, sebagian lain tersenyum, tak menyangka remaja seusia itu bisa tampil sebaik itu.

Mahanada saat bermain pianika │Foto: tatkala.co/Dede
“Belum musisi jazz namanya kalau belum tampil di UVJF,” ucap sebagian penggemar jazz. Kalaupun itu memang kenyataannya, artinya Mahanada telah membuktikan kalau dirinya adalah seorang musisi jazz yang patut diperhitungkan.
Saat beberapa kali melakukan scat singing, sambil sesekali melempar senyum ke penonton, respons spontan pun muncul. Tepuk tangan ringan terdengar, tanpa mengganggu alur pertunjukan. Improvisasinya bersih, tidak dipaksakan. Nada tidak sedang meniru musisi jazz senior, tapi membawakan musik yang sudah ia pahami sejak lama, bahkan sebagian besar lagu yang dibawakan adalah lagunya sendiri.
Penampilan Nada malam itu tidak dramatis, tapi terasa utuh. Ia tidak menampilkan atraksi, tidak berusaha tampil lebih dewasa dari usianya. Ia hanya menyanyi, dan itu cukup. Penonton pun tahu, mereka sedang menyaksikan seorang musisi muda serius, yang akan menjadi generasi penerus jazz.
Ketertarikan Mahanada pada jazz bukan kebetulan. Sejak kecil ia sudah dikenalkan pada musik ini oleh kakeknya, Jeffrey Tahalele ─ musisi jazz senior yang cukup berpengaruh di Indonesia. Lingkungan keluarganya mendukung, dan bakatnya makin diasah ketika ia disekolahkan oleh orang tuanya di D’jazz Music School Jakarta.
“Saya memilih musik jazz karena memang suka, kemudian lingkungan saya juga dipenuhi dengan jazz,” ujarnya suatu waktu.
Ia bukan wajah baru di dunia jazz. Mahanada pernah tampil di berbagai panggung, bahkan sempat berkolaborasi dengan nama-nama besar seperti Indra Lesmana dan Vina Panduwinata. Mengutip dari Froyonion.com, pada 1 Juni 2024, ia merilis album debutnya, “Me Myself Nada”, di Reverend & Co Studio, D’jazz Music School Jakarta. Album tersebut ia ciptakan sebagai wadah untuk memperkenalkan dirinya secara lebih personal, menyampaikan nilai-nilai yang ia pegang, serta mengungkapkan rasa syukurnya atas hidup. Dua single ciptaannya, “Hometown” dan “Friendship,” tersaji apik di dalam album tersebut dan berhasil memikat hati penikmat musik jazz Indonesia lewat aransemen swing jazz yang indah nan menyentuh.

Mahanada di Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2025 │Foto: tatkala.co/Dede
Kembali ke UVJF 2025, musik Mahanada terasa dalam. Dengan suasana yang akrab, ia menyanyikan jazz seperti seseorang yang benar-benar tahu apa yang ia bawa. Tidak menggurui, tidak berpura-pura, hanya bernyanyi.
“Ini adalah penampilan pertama saya di UVJF, sangat bangga dan senang bisa berpartisipasi di UVJF tahun ini,” ucap Mahanada kepada penonton.
Ketika penampilannya usai, ia menunduk singkat. Penonton memberi tepuk tangan panjang, tidak meledak-ledak tapi penuh penghargaan. Malam ditutup dengan tenang, tak ada gemuruh, tapi ada kesan yang tertinggal.
Di antara nama-nama yang tampil di festival tahun ini, Mahanada mungkin bukan yang paling dikenal. Tapi malam itu, ia adalah yang termuda. Ia menunjukkan bahwa jazz tidak selalu datang dari nama besar, bisa saja dari seorang anak muda yang bernyanyi dengan hati dan penuh perasaan di panggung Sthala Ubud Village Jazz Festival. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























