SETELAH lampu padam, seorang perempuan muncul dari sayap panggung. Suara tambur terdengar. Perempuan muda itu mulai melantunkan sebuah tembang—atau kidung—Bali yang magis. Gemerincing lonceng berbunyi di sela-sela jeda napasnya. Selesai menampilkan suaranya, perempuan itu duduk di bale bambu panjang yang di samping kanan-kirinya beberapa orang juga duduk di sana membelakangi penonton. Panggung kembali gelap.
Lalu, sesaat setelah perempuan pelantun tembang itu duduk, lampu sorot tertuju pada sosok lelaki 60 tahun yang kini bergerak ke tengah panggung. Lelaki itu kemudian mulai membaca puisi Ronggeng Sumba (1984) karya Umbu Landu Paranggi dengan penghayatan yang dalam, seperti nyaris—seperti lelucon yang ia lontarkan setelah membaca puisi tersebut—kesurupan. Pada sebuah layar di bagian belakang panggung, Ronggeng Sumba ditampilkan sehingga penonton dapat membacanya dengan jelas.

Putu Fajar Arcana menjadi pemandu dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini
Di atas adalah potongan dari pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi”, sebuah persembahan khusus untuk mengenang Maha Guru Umbu. Tribute to Umbu menampilkan pertunjukan gagasan dan pembacaan karya Umbu yang menggugah segala pertanyaan dan jawaban. Namun, selain itu, menurut pandangan awam saya, karya ini juga tentang hikayat puisi dan hidup Umbu Landu Paranggi—puisi dan Umbu adalah satu-kesatuan.
Dan lebih dari sekadar pertunjukan, Tribute to Umbu juga terlihat seperti jagongan sastra yang membedah dan mendedah riwayat Umbu Landu Paranggi melalui puisi-puisi (karya, pikiran) yang ia lahirkan alih-alih mitos atau dongeng yang melakat di balik laku hidupnya yang misterius.Lebih lanjut, pertunjukan ini tidak mengandalkan hafalan, tapi ekspresi dan interpretasi personal setiap aktor. Lihatlah, bebas saja aktor membaca naskah di depan penonton.

Made Adnyana Ole membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini
Tribute to Umbu disutradarai oleh Made Adnyana Ole, sastrawan, budayawan, cum wartawan senior. Dan diperankan oleh nama-nama besar yang tak asing dalam dunia sastra dan budaya seperti Putu Farjar Arcana, Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Adnyana Ole, Made Sujaya, Kadek Sonia Piscayanti, Putu Eka Guna Yasa, dan Yesi Candrika. Putu Fajar Arcana, selain sebagai pembaca puisi, juga berperan sebagai pemantik diskusi antara Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa. Keempat orang ini yang mengantar penonton menuju hikayat hidup dan alam pikiran Umbu Landu Paranggi.
Untuk pementasan, Tribute to Umbu Landu Paranggi pertama kali dipertunjukan di panggung Singaraja Literary Festival 2025 di Sasana Budaya, Singaraja, Bali, Sabtu (26/7/2025) malam.
Hikayat Puisi, Hikayat Maha Guru
Benar adanya jika karya Tribute to Umbu adalah semacam pembacaan kritis dan dalam atas perjalanan hidup (biografi puisi) Umbu Landu Paranggi dari Sumba ke Jogja, dari Joga ke Bali—meski pernah singgah sebentar di Bandung sebelum akhirnya menetap di Bali. Hal ini tampak jelas, bukan saja oleh Putu Fajar Arcana dan Kadek Sonia Piscayanti yang menyampaikan selikas tentang biografi Umbu pada awal pertunjukan, tapi juga puisi-puisi Umbu yang dipilih dalam pertunjukan ini.

Wicaksono Adi (kiri) dan Arif B Prasetyo (kanan) membicarakan puisi Umbu dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini
Sependek ingatan, ada enam puisi Umbu yang dibacakan dan dibedah dalam Tribute to Umbu. Pertama Ronggeng Sumba, lalu Percakapan Selat, Tiga Kuda, Tujuh Cemara, Upacara XXXVII, dan terakhir Ibunda Tercinta. Pemilihan keenam puisi ini saya kira bukan tanpa alasan, melainkan dalam enam puisi inilah kita dapat mengetahui fase hidup Umbu di tiga tempat berbeda: Sumba, Jogja, dan Bali. Dan itu yang disampaikan oleh Wicaksono Adi dan Arif B. Prasetyo selama hampir setengah durasi pertunjukan.
Puisi pertama, Ronggeng Sumba yang dibacakan oleh Fajar Arcana, menurut pembacaan Wicaksono Adi, dapat dilihat sebagai rahim kultural Umbu sebelum menginjakkan kaki di dunia ramai. Dalam Ronggeng Sumba, tampak Umbu sedang menulis kampung halamannya: Sumba, yang oleh Arif B. Prasetyo dinilai berbeda dengan puisi-puisi penyair lain saat menulis hal yang sama. Kata Arif, beberapa puisi penyair Indonesia yang bicara soal kampung halaman, misalkan puisi “Tanah Kelahiran” Ramadhan KH, “Madura” Abdul Hadi WM, dan “Cipasung” Acep Zamzam Noor, tanah kelahiran cenderung dilihat sebagai bentang alam, lebih sebagai lanskap fisik, meskipun juga mencerminkan lanskap batin. Sedangkan Umbu dalam “Ronggeng Sumba” memandang tanah kelahiran sebagai lanskap budaya.
Dari sinilah pertunjukan Tribute to Umbu perlahan mulai menampakkan wajah aslinya.

Yesi Candrika membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini
Sedari penonton memasuki arena pertunjukan, karya ini sudah menyita perhatian. Pasalnya dua instalasi—atau kerajinan-anyaman—bambu diletakkan di tengah-tengah panggung pertunjukan.`Itu membuat saya sebagai penonton bertanya-tanya akan jadi seperti apa pertunjukan ini? Ketika pertunjukan dimulai, instalasi itu ternyata difungsikan sebagai semacam bale atau cangkruk tempat nongkrong orang-orang desa sambil membincangkan banyak hal.
Ya, Putu Fajar Arcana, Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa, berusaha membincangkan puisi-puisi Umbu seolah-seolah mereka sedang duduk di bale bambu di sebuah warung kopi di suatu tempat. Namun sayang, tak ada rokok dan kopi atau hidangan macam pisang goreng atau kacang asin di sana. Hal itu mengakibatkan improvisasi para aktor menjadi terbatas. Dan pada titik tertentu membuat pertunjukan menjadi kaku, lambat, statis, seolah menjelma menjadi ruang seminar kritik sastra yang ilmiah, akademik, dan memusingkan.
Tribute to Umbu, sebagaimana telah disinggung di atas, berusaha mengungkap perjalanan hidup Umbu Landu Paranggi dari Sumba ke Jogja, dari Jogja ke Bali. “Ronggeng Sumba” katakanlah sebagai fase saat Umbu masih di Sumba. Sedangkan puisi “Percakapan Selat”, yang dibaca Made Adnyana Ole, sebagaimana dikatakan Fajar Arcana, menggambarkan bagaimana sang penyair memulai petualangan setelah meninggalkan rahim kulturalnya di Sumba. Lalu “Tiga Kuda” yang dibacakan Candrika, sebagai simbol pengembaraan Umbu menuju Jogja—yang menurut Arif digelayuti nada muram dari kesunyian, kesendirian, keterpencilan, dan kemurungan yang mengiringi pengembaraan.
Selanjutnya, Sonia Piscayanti membacakan puisi “Tujuh Cemara” sebagai penanda Umbu telah di Yogyakarta. Dalam puisi ini, menurut Wicaksono Adi, pandangan Umbu tentang Yogyakarta ternyata tidak semuram penyair-penyair lainnya. Umbu memandang Jogja dalam gambaran yang kompleks, semacam “ibukota kata sendi kata” yang berlapis-lapis, sejarah tua, revolusi, percintaan anak muda di antara deretan cemara di kampus biru, rahasia dan rindu dendam, ada pula sang Jenderal Sudirman, biji asam Malioboro, dan sebagainya. “Yogya juga semacam medan pergolakan untuk pematangan diri,” kata Adi.
Tibalah Umbu di Bali—setelah sempat singgah di Bandung, Jawa Barat—sampai akhir hayatnya. Pada babak ini, Made Sujaya membacakan puisi “Upacara XXXVII”. Dari Sujaya penonton tahu bahwa Umbu menghabiskan lebih dari separuh usianya di Bali, kurang lebih 43 tahun (1978-2021). Melalui halaman “Apresiasi” di Bali Post, kata Sujaya, Umbu tidak hanya merangsang gairah kreatif anak-anak muda Bali untuk nyastra, tetapi juga tampaknya menyerap pandangan dan falsafah hidup Bali. Pemahamannya terhadap Bali sebagian kecil dituangkan dalam beberapa buah sajaknya yang secara eksplisit berbicara tentang Bali, namun sebagian besar lainnya disampaikannya secara lisan dalam berbagai kesempatan diskusi apresiasi sastra.

Made Sujaya membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini
Pada babak ini pula Putu Eka Guna Yasa tampil meyakinkan. Filolog muda itu melengkapi paparan Sujaya dan memberitahu penonton bahwa Umbu, disadarinya atau tidak, sejatinya telah mempraktikkan konsep anurat asing gon (menulis di semua ruang) dan menempatkan tanah Bali sebagai altar kesempatan untuk mayasa lacur (menjadikan kemiskinan material sebagai tapa) untuk melahirkan berbagai karya sastra. Dua konsep kepengarangan tersebut, kata Guna, adalah istilah yang diambil dari karya Ida Pedanda Made Sidemen berjudul “Geguritan Salampah Laku”.
Dan puisi terakhir, Ibunda Tercinta yang juga dibaca Fajar Arcana, menjadi penutup fase hidup Umbu Landu Paranggi. Menurut Wicaksono Adi, jika di awal pada sajak “Ronggeng Sumba” kampung halaman mengandung gambaran “rahim” dalam perspektif rumah kultural, maka sang Kuda Sumba yang telah jauh meninggalkan “rahim” asalnya, pada akhirnya pulang ke haribaan “Ibu”—yakni “Ibu” sebagai sosok manusia maupun “Ibu” sebagai sosok simbolik, sebagai rumah puisi. “Ia [Umbu] telah kembali pada haribaan puisi itu sendiri,” ujar Adi.
Berbicara Karya, Bukan Mitos-Legenda
Umbu adalah penyair dengan nama besar, kata Arif B. Prasetyo. Karena itulah ia diselubungi karisma tertentu yang membuatnya tampak lebih besar daripada kenyataan, menjelma jadi semacam mitos. Saat Umbu hijrah ke Bali sebagai penyair karismatik—yang legendanya dibangun dan dilestarikan melalui beragam cerita oleh kalangan penulis muda di sekitarnya pada periode ketika ia tinggal di Jogya—mitos itu terus berlanjut. Akibatnya, orang lebih banyak mengenal nama Umbu dan mendengar legenda-mitosnya ketimbang membaca puisinya.

Wicaksono Adi, Putu Eka Guna Yasa, Fajar Arcana, Made Sujaya dan Arif B Prasetyo membincangkan puisi-puisi Umbu ketika sedang berada di Bali | Foto: Oka Rusmini
Mitos Umbu, kata Arif, seperti halnya mitos Chairil Anwar, menenggelamkan namanya dalam kelisanan yang membuat orang tidak terlalu memperhatikan puisinya. Namun, lanjut Arif, mitos Umbu sebagai penyair legendaris misterius ternyata bekerja efektif mendukung kiprah sosialnya di luar kerja individual menulis puisi, yaitu menghidupkan nyala api gairah bersastra di Bali.
Benar. Jamak diketahui bahwa Umbu merupakan sosok motivator pilih-tanding dan sangat pandai dalam mencari bakat yang selalu punya cara unik untuk mendekati seseorang dan memperkenalkan kehidupan puisi. Ia, ujar Arif, tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih bergerilya ke berbagai pelosok Bali untuk menggerakkan kehidupan kesusastraan lewat kegiatan apresiasi puisi. Mitos Umbu terbukti bukan sekadar dongeng, melainkan kekuatan yang mampu membentuk kenyataan.

Yesi Candrika menutup perbincangan dengan menyanyikan sejumlah pupuh | Foto: Oka Rusmini
Sampai di sini, sekali lagi, jika disadari, pertunjukan ini berujung pada pesan bahwa karya-karya Umbu tidak kalah menarik untuk dibicarakan alih-alih legenda atau mitos yang melekat pada nama besarnya.
Di situlah Tribute to Umbu menurut saya memberikan perhatian lebih atas apa yang menurutnya penting untuk digarisbawahi. Dengan dramaturgi yang simpel tetapi tepat guna, karya ini berhasil menyampaikan pesan tersebut secara eksplisit dan dapat diterima ketika menyaksikannya.

Penutupan pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini
Kendati demikian, menurut hemat saya, interpretasi—Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa—atas puisi Umbu yang dipresentasikan terlalu “berat-berlarat” tanpa diselinggi, katakanlah, gegojekan (humor) sebagaimana obrolan di bale bambu di sebuah warung kopi pinggiran sehingga alur terasa lambat dan membosankan—meski beberapa kali Fajar Arcana sebagai pemantik berusaha mencairkan suasana.
Jika yang diinginkan adalah menstimulasi penonton—yang sudah mengetahui (atau setidaknya yang pernah mendengar nama) Umbu Landu Pranggi—untuk berpikir ulang maka hal tersebut berhasil, tetapi jika yang diinginkan adalah “membumikan” karya dan nama Umbu di kalangan anak muda pada umumnya maka gaya interpretasi semacam itu perlu dipertimbangkan.

Berfoto bersama Rambu Raina Paranggi (cucu tertua dari Umbu Landu Paranggi) usai pertunjukan | Foto: Oka Rusmini
Itulah yang dicapai Tribute to Umbu dalam menarasikan hikayat puisi dan Umbu Landu Paranggi dengan cara pembacaan kritis karya-karyanya yang dipresentasikan melalui seni pertunjukan. Karya ini seakan menjadi penerang atas sosok Umbu yang “misterius”—ia terkenal sulit ditemui, tempat tinggalnya tidak jelas, suka muncul di acara secara sembunyi-sembunyi, dsb, kata Arif.
Cukup dengan menyaksikan pertunjukan ini saya diajak menelusuri jalan hidup sang Maha Guru melalui puisi-puisinya yang selama ini jarang atau nyaris tak pernah dibicarakan meski sedang membahas tentang riwayatnya.[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























