4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilema Mati di Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 16, 2025
in Esai
Dilema Mati di Bali

Foto ilustrasi: Dede

DI Bali, mati bukan sekadar mati. Ia adalah upacara, urusan keluarga, gotong royong, arak-arakan, doa, gamelan, sampai ke soal yang paling duniawi: uang. Mati di Bali harus dirayakan, dilengkapi, dihantarkan ke alam lain dengan berbagai macam ritus. Tapi siapa sangka, di zaman sekarang, mati pun bisa jadi praktis. Cukup pesan jadwal, bayar tarif, dan tunggu antrean di krematorium.

‘Orang Bali takut mati’, begitu kata para pemikir, yang juga orang Bali. Bukan karena tak siap bertemu Tuhan, tapi karena belum siap dengan urusan dunia: masih ingin menikmati hidup, takut menyusahkan kerabat, atau takut tak ada yang peduli karena semasa hidup tak pernah ikut mebraya (gotong royong adat Bali). Selain itu, orang Bali takut mati karena mati dianggap mahal dan ruwet.

“Kalau bisa, saya mau hidup sampai 2050. Biar bisa ngerasain mobil terbang,” canda Made Landuh (62), pria yang saban pagi menyiram bonsai dan mendengarkan lagu-lagu Obbie Messakh. Ia mengucapkannya sembari tertawa, tapi dari caranya mengelus dada dan minum jamu herbal lima kali sehari, tampak jelas: ia takut mati.

Made Landuh seolah tahu, ngaben itu bukan urusan kecil. Ia masih ingat biaya ngaben kakaknya dulu menghabiskan ratusan juta. “Untung waktu itu masih ramai keluarga yang bantu. Sekarang? Saudara sudah sibuk semua, hidup masing-masing,” katanya, menghela napas.

Di sisi lain, Nyoman Gangsar (74), hidup sendiri di rumah tua yang dindingnya mulai retak. Ia dulu pernah jadi kelian banjar, tapi sejak dua puluh tahun lalu, memilih menarik diri dari keramaian, tak pernah aktif di masyarakat lagi. Ia bilang ingin damai, tapi di dalam hati kecilnya, ada kerisauan tentang kematian. “Semasa muda, saya pikir bisa hidup sendiri, mandiri, tak perlu banyak bantu-bantu banjar,” katanya sambil menyulut rokok.

“Sekarang saya sadar, kalau saya mati, siapa yang akan bantu urus ngaben saya? Saya tak punya anak, istri sudah meninggal. Setelah berhenti jadi kelian banjar, saya tak pernah mebraya. Lantas siapa yang sudi membantu?” ucapnya.

Berbeda dengan dua lelaki itu, Ketut Sari (35) tak mau ambil pusing. Beberapa bulan lalu, suaminya meninggal karena stroke. Tak banyak pertimbangan, ia langsung membawa jenazah suaminya ke krematorium di pinggiran kota. “Kami nggak sanggup ngaben besar-besaran. Saudara jauh, waktu sempit, anak-anak masih kecil. Krematorium saja. Praktis, tak perlu banyak orang dan tak perlu banyak uang,” katanya tanpa ragu.

Ia mengaku sempat digunjing beberapa kerabat. Tapi banyak juga yang paham, di zaman sekarang, siapa punya waktu berbulan-bulan hanya untuk mempersiapkan upacara? Lagipula, Ketut Sari merasa ritual itu tetap ada. “Ada doa, tirta, upakara, abu. Bukankah itu yang penting?”

Di krematorium itu, Ketut Sari menyaksikan enam mayat lain mengantre. Semua dimandikan dan diupacarai bergiliran. Kemudian, dibakar bersamaan dalam sekat-sekat berbeda.

Dulu, upacara ngaben bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk dipersiapkan. Ada yang mengubur jenazah terlebih dahulu, menunggu waktu sekian tahun, dan menanti dana cukup. Kini, krematorium menjamur dari kota sampai ke desa. Bahkan ada desa adat yang membangun krematorium sendiri untuk warganya, biar tak perlu jauh-jauh. Tapi diam-diam, ada pula yang bertanya: kalau semua jadi instan, apa yang akan terjadi dengan budaya mebraya?

Mebraya bukan sekadar datang–bantu, Ia adalah cara menjaga ikatan sosial. Karena kematian bukan hanya urusan satu keluarga, tapi komunitas. Ketika mebraya ditinggalkan, siapa yang akan menjaga ikatan itu? Perubahan zaman membawa efisiensi, tapi di sisi lain juga mengikis. Masyarakat menjadi semakin ringan, juga kian renggang.

Made Landuh masih hidup, masih minum jamu dan menyiram bonsai. Tapi ia mulai bertanya, “Kalau nanti saya mati, apakah anak saya tahu bagaimana prosesi ngaben yang benar?”

Nyoman Gangsar masih hidup juga. Kini ia mulai datang ke banjar lagi, diam-diam sekadar bantu angkat kursi, menyapu halaman pura, dan ikut ngayah di setiap kesempatan. Ia tahu, mebraya bukan investasi spiritual semata, tapi cara bertahan sebagai mahluk sosial di Bali.

Ketut Sari juga masih hidup, tetap mengurus anak dan membuka warung kecil. Ia tak menyesal membawa jenazah suaminya ke krematorium, baginya itu adalah pilihan yang tepat. “Saya tidak tahu apakah anak-anak saya nanti masih kenal upacara ngaben saat saya mati. Tapi mungkin, zaman sudah berubah, begitupun dengan tradisi,” ujarnya.

Orang Bali kini hidup di zaman serba instan. Bahkan mati pun bisa diatur lebih praktis. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan ditinggalkan: kebersamaan, gotong royong, dan makna yang tak bisa dibakar bersama jenazah. Mati memang tidak bisa ditunda. Tapi cara kita mengantarkan orang mati, barangkali menentukan siapa kita sebenarnya. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Libur Orang Bali, Sebuah Renungan
“Punia Digital”: Dari Kotak Kayu ke Kode QR
Kulihat Kematian | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: balidesa adatkematianupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Next Post

Jalan Amblas, Nyawa Melayang, dan Pekerjaan Rumah Bali yang Tak Boleh Lagi Ditunda

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Jalan Amblas, Nyawa Melayang, dan Pekerjaan Rumah Bali yang Tak Boleh Lagi Ditunda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co