15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilema Mati di Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 16, 2025
in Esai
Dilema Mati di Bali

Foto ilustrasi: Dede

DI Bali, mati bukan sekadar mati. Ia adalah upacara, urusan keluarga, gotong royong, arak-arakan, doa, gamelan, sampai ke soal yang paling duniawi: uang. Mati di Bali harus dirayakan, dilengkapi, dihantarkan ke alam lain dengan berbagai macam ritus. Tapi siapa sangka, di zaman sekarang, mati pun bisa jadi praktis. Cukup pesan jadwal, bayar tarif, dan tunggu antrean di krematorium.

‘Orang Bali takut mati’, begitu kata para pemikir, yang juga orang Bali. Bukan karena tak siap bertemu Tuhan, tapi karena belum siap dengan urusan dunia: masih ingin menikmati hidup, takut menyusahkan kerabat, atau takut tak ada yang peduli karena semasa hidup tak pernah ikut mebraya (gotong royong adat Bali). Selain itu, orang Bali takut mati karena mati dianggap mahal dan ruwet.

“Kalau bisa, saya mau hidup sampai 2050. Biar bisa ngerasain mobil terbang,” canda Made Landuh (62), pria yang saban pagi menyiram bonsai dan mendengarkan lagu-lagu Obbie Messakh. Ia mengucapkannya sembari tertawa, tapi dari caranya mengelus dada dan minum jamu herbal lima kali sehari, tampak jelas: ia takut mati.

Made Landuh seolah tahu, ngaben itu bukan urusan kecil. Ia masih ingat biaya ngaben kakaknya dulu menghabiskan ratusan juta. “Untung waktu itu masih ramai keluarga yang bantu. Sekarang? Saudara sudah sibuk semua, hidup masing-masing,” katanya, menghela napas.

Di sisi lain, Nyoman Gangsar (74), hidup sendiri di rumah tua yang dindingnya mulai retak. Ia dulu pernah jadi kelian banjar, tapi sejak dua puluh tahun lalu, memilih menarik diri dari keramaian, tak pernah aktif di masyarakat lagi. Ia bilang ingin damai, tapi di dalam hati kecilnya, ada kerisauan tentang kematian. “Semasa muda, saya pikir bisa hidup sendiri, mandiri, tak perlu banyak bantu-bantu banjar,” katanya sambil menyulut rokok.

“Sekarang saya sadar, kalau saya mati, siapa yang akan bantu urus ngaben saya? Saya tak punya anak, istri sudah meninggal. Setelah berhenti jadi kelian banjar, saya tak pernah mebraya. Lantas siapa yang sudi membantu?” ucapnya.

Berbeda dengan dua lelaki itu, Ketut Sari (35) tak mau ambil pusing. Beberapa bulan lalu, suaminya meninggal karena stroke. Tak banyak pertimbangan, ia langsung membawa jenazah suaminya ke krematorium di pinggiran kota. “Kami nggak sanggup ngaben besar-besaran. Saudara jauh, waktu sempit, anak-anak masih kecil. Krematorium saja. Praktis, tak perlu banyak orang dan tak perlu banyak uang,” katanya tanpa ragu.

Ia mengaku sempat digunjing beberapa kerabat. Tapi banyak juga yang paham, di zaman sekarang, siapa punya waktu berbulan-bulan hanya untuk mempersiapkan upacara? Lagipula, Ketut Sari merasa ritual itu tetap ada. “Ada doa, tirta, upakara, abu. Bukankah itu yang penting?”

Di krematorium itu, Ketut Sari menyaksikan enam mayat lain mengantre. Semua dimandikan dan diupacarai bergiliran. Kemudian, dibakar bersamaan dalam sekat-sekat berbeda.

Dulu, upacara ngaben bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk dipersiapkan. Ada yang mengubur jenazah terlebih dahulu, menunggu waktu sekian tahun, dan menanti dana cukup. Kini, krematorium menjamur dari kota sampai ke desa. Bahkan ada desa adat yang membangun krematorium sendiri untuk warganya, biar tak perlu jauh-jauh. Tapi diam-diam, ada pula yang bertanya: kalau semua jadi instan, apa yang akan terjadi dengan budaya mebraya?

Mebraya bukan sekadar datang–bantu, Ia adalah cara menjaga ikatan sosial. Karena kematian bukan hanya urusan satu keluarga, tapi komunitas. Ketika mebraya ditinggalkan, siapa yang akan menjaga ikatan itu? Perubahan zaman membawa efisiensi, tapi di sisi lain juga mengikis. Masyarakat menjadi semakin ringan, juga kian renggang.

Made Landuh masih hidup, masih minum jamu dan menyiram bonsai. Tapi ia mulai bertanya, “Kalau nanti saya mati, apakah anak saya tahu bagaimana prosesi ngaben yang benar?”

Nyoman Gangsar masih hidup juga. Kini ia mulai datang ke banjar lagi, diam-diam sekadar bantu angkat kursi, menyapu halaman pura, dan ikut ngayah di setiap kesempatan. Ia tahu, mebraya bukan investasi spiritual semata, tapi cara bertahan sebagai mahluk sosial di Bali.

Ketut Sari juga masih hidup, tetap mengurus anak dan membuka warung kecil. Ia tak menyesal membawa jenazah suaminya ke krematorium, baginya itu adalah pilihan yang tepat. “Saya tidak tahu apakah anak-anak saya nanti masih kenal upacara ngaben saat saya mati. Tapi mungkin, zaman sudah berubah, begitupun dengan tradisi,” ujarnya.

Orang Bali kini hidup di zaman serba instan. Bahkan mati pun bisa diatur lebih praktis. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan ditinggalkan: kebersamaan, gotong royong, dan makna yang tak bisa dibakar bersama jenazah. Mati memang tidak bisa ditunda. Tapi cara kita mengantarkan orang mati, barangkali menentukan siapa kita sebenarnya. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Libur Orang Bali, Sebuah Renungan
“Punia Digital”: Dari Kotak Kayu ke Kode QR
Kulihat Kematian | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: balidesa adatkematianupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Next Post

Jalan Amblas, Nyawa Melayang, dan Pekerjaan Rumah Bali yang Tak Boleh Lagi Ditunda

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Jalan Amblas, Nyawa Melayang, dan Pekerjaan Rumah Bali yang Tak Boleh Lagi Ditunda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co