4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilema Mati di Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 16, 2025
in Esai
Dilema Mati di Bali

Foto ilustrasi: Dede

DI Bali, mati bukan sekadar mati. Ia adalah upacara, urusan keluarga, gotong royong, arak-arakan, doa, gamelan, sampai ke soal yang paling duniawi: uang. Mati di Bali harus dirayakan, dilengkapi, dihantarkan ke alam lain dengan berbagai macam ritus. Tapi siapa sangka, di zaman sekarang, mati pun bisa jadi praktis. Cukup pesan jadwal, bayar tarif, dan tunggu antrean di krematorium.

‘Orang Bali takut mati’, begitu kata para pemikir, yang juga orang Bali. Bukan karena tak siap bertemu Tuhan, tapi karena belum siap dengan urusan dunia: masih ingin menikmati hidup, takut menyusahkan kerabat, atau takut tak ada yang peduli karena semasa hidup tak pernah ikut mebraya (gotong royong adat Bali). Selain itu, orang Bali takut mati karena mati dianggap mahal dan ruwet.

“Kalau bisa, saya mau hidup sampai 2050. Biar bisa ngerasain mobil terbang,” canda Made Landuh (62), pria yang saban pagi menyiram bonsai dan mendengarkan lagu-lagu Obbie Messakh. Ia mengucapkannya sembari tertawa, tapi dari caranya mengelus dada dan minum jamu herbal lima kali sehari, tampak jelas: ia takut mati.

Made Landuh seolah tahu, ngaben itu bukan urusan kecil. Ia masih ingat biaya ngaben kakaknya dulu menghabiskan ratusan juta. “Untung waktu itu masih ramai keluarga yang bantu. Sekarang? Saudara sudah sibuk semua, hidup masing-masing,” katanya, menghela napas.

Di sisi lain, Nyoman Gangsar (74), hidup sendiri di rumah tua yang dindingnya mulai retak. Ia dulu pernah jadi kelian banjar, tapi sejak dua puluh tahun lalu, memilih menarik diri dari keramaian, tak pernah aktif di masyarakat lagi. Ia bilang ingin damai, tapi di dalam hati kecilnya, ada kerisauan tentang kematian. “Semasa muda, saya pikir bisa hidup sendiri, mandiri, tak perlu banyak bantu-bantu banjar,” katanya sambil menyulut rokok.

“Sekarang saya sadar, kalau saya mati, siapa yang akan bantu urus ngaben saya? Saya tak punya anak, istri sudah meninggal. Setelah berhenti jadi kelian banjar, saya tak pernah mebraya. Lantas siapa yang sudi membantu?” ucapnya.

Berbeda dengan dua lelaki itu, Ketut Sari (35) tak mau ambil pusing. Beberapa bulan lalu, suaminya meninggal karena stroke. Tak banyak pertimbangan, ia langsung membawa jenazah suaminya ke krematorium di pinggiran kota. “Kami nggak sanggup ngaben besar-besaran. Saudara jauh, waktu sempit, anak-anak masih kecil. Krematorium saja. Praktis, tak perlu banyak orang dan tak perlu banyak uang,” katanya tanpa ragu.

Ia mengaku sempat digunjing beberapa kerabat. Tapi banyak juga yang paham, di zaman sekarang, siapa punya waktu berbulan-bulan hanya untuk mempersiapkan upacara? Lagipula, Ketut Sari merasa ritual itu tetap ada. “Ada doa, tirta, upakara, abu. Bukankah itu yang penting?”

Di krematorium itu, Ketut Sari menyaksikan enam mayat lain mengantre. Semua dimandikan dan diupacarai bergiliran. Kemudian, dibakar bersamaan dalam sekat-sekat berbeda.

Dulu, upacara ngaben bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk dipersiapkan. Ada yang mengubur jenazah terlebih dahulu, menunggu waktu sekian tahun, dan menanti dana cukup. Kini, krematorium menjamur dari kota sampai ke desa. Bahkan ada desa adat yang membangun krematorium sendiri untuk warganya, biar tak perlu jauh-jauh. Tapi diam-diam, ada pula yang bertanya: kalau semua jadi instan, apa yang akan terjadi dengan budaya mebraya?

Mebraya bukan sekadar datang–bantu, Ia adalah cara menjaga ikatan sosial. Karena kematian bukan hanya urusan satu keluarga, tapi komunitas. Ketika mebraya ditinggalkan, siapa yang akan menjaga ikatan itu? Perubahan zaman membawa efisiensi, tapi di sisi lain juga mengikis. Masyarakat menjadi semakin ringan, juga kian renggang.

Made Landuh masih hidup, masih minum jamu dan menyiram bonsai. Tapi ia mulai bertanya, “Kalau nanti saya mati, apakah anak saya tahu bagaimana prosesi ngaben yang benar?”

Nyoman Gangsar masih hidup juga. Kini ia mulai datang ke banjar lagi, diam-diam sekadar bantu angkat kursi, menyapu halaman pura, dan ikut ngayah di setiap kesempatan. Ia tahu, mebraya bukan investasi spiritual semata, tapi cara bertahan sebagai mahluk sosial di Bali.

Ketut Sari juga masih hidup, tetap mengurus anak dan membuka warung kecil. Ia tak menyesal membawa jenazah suaminya ke krematorium, baginya itu adalah pilihan yang tepat. “Saya tidak tahu apakah anak-anak saya nanti masih kenal upacara ngaben saat saya mati. Tapi mungkin, zaman sudah berubah, begitupun dengan tradisi,” ujarnya.

Orang Bali kini hidup di zaman serba instan. Bahkan mati pun bisa diatur lebih praktis. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan ditinggalkan: kebersamaan, gotong royong, dan makna yang tak bisa dibakar bersama jenazah. Mati memang tidak bisa ditunda. Tapi cara kita mengantarkan orang mati, barangkali menentukan siapa kita sebenarnya. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Libur Orang Bali, Sebuah Renungan
“Punia Digital”: Dari Kotak Kayu ke Kode QR
Kulihat Kematian | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: balidesa adatkematianupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Next Post

Jalan Amblas, Nyawa Melayang, dan Pekerjaan Rumah Bali yang Tak Boleh Lagi Ditunda

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Jalan Amblas, Nyawa Melayang, dan Pekerjaan Rumah Bali yang Tak Boleh Lagi Ditunda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co