6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
July 13, 2025
in Tualang
Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Sebuah lapak di Pasar Maling yang ramai dikerubuti pengunjung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Di pasar loak jejak timpa menimpa,
menghapus kau dan aku,
mengingat kau mengingat aku.”

—Goenawan Mohamad, Di Pasar Loak (1994)

“MAU cari HP, Mas?” tanya seorang ibu berwajah sendu kepada saya. “Sini, Mas, dilihat-lihat dulu!” pintanya kemudian. Seperti kena gendam saya menghampiri lapak jualannya. Di atas tikarnya yang buluk segala jenis telepon genggam lawas berjajar rapi. Dari produk Nokia, Sony, sampai Samsung model lama ada dan tersedia. Tak hanya HP bekas, ibu berwajah sendu ini juga jual batrai dan diska lepas. “Semuanya bekas, Mas,” terangnya. Dan, wajah sendu itu seketika berubah tampak kecewa saat saya memutuskan beranjak dari lapaknya tanpa membeli apa-apa.

Pagi itu Jalan Pasar Turi begitu semarak. Di kawasan ini, meminjam istilah Benny Arnas, pagi bukan hanya tentang matahari terbit. Pagi di Bubutan adalah bunyi klakson kereta, deru kendaraan yang bercampur umpatan, denting sendok pada cangkir kopi di warung emperan, dan suara-suara dari pasar-pasar sekitar, seperti di sisi kanan-kiri Jalan Pasar Turi.

Lapak penjual telepon genggam jadul di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sana, pedagang berdesakan. Mereka mendaulat trotoar pejalan dengan tikar-tikar lapak jualan. Sedangkan pengunjung pasar—para pencari harta karun—berjubel di jalan raya, menghambat kendaraan. Suara Rhoma Irama dan Lata Mangeshkar menyembur dari perekam pita tahun 80an, bercampur dengan klakson kendaraan yang menyemut. Pemandangan seperti ini terjadi setidaknya nyaris delapan jam setiap hari. Dari subuh sampai pukul sepuluh, jalan itu penuh sesak, jangan coba-coba melintasinya jika Anda tak mau diumpati orang-orang—meski Anda sebenarnya tidak salah.

Jalan yang membentang di belakang Pasar Turi itu, sejak Orde Baru, dengan semena-mena telah menjelma pasar yang hidup dari pagi sampai siang menjelang. Orang-orang menjuluki pasar ini dengan julukan “Pasar Maling Surabaya”—di daerah Wonokromo juga terdapat pasar dengan sebutan serupa. Banyak orang menyebut pasar loak ini dengan sebutan seperti itu karena barang-barang yang dijual banyak yang tak jelas asal-usulnya—atau beberapa barangkali memang benar-benar hasil curian. Tapi sebagian lainnya percaya itu hanya sekadar julukan belaka, tak ada hubungannya dengan riwayat barang-barang di sana.

Suasana pagi Pasar Maling di Jalan Pasar Turi Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Mengenai keberadaan pasar ini, Pemerintah Surabaya seperti tak bisa berbuat apa-apa. Sebab jika digusur, maka gelombang protes bisa terjadi berhari-hari.

Saya berjalan menyusuri Pasar Maling di Jalan Pasar Turi itu pada Minggu pagi yang hiruk-pikuk. Saya melihat mejikom bekas, boneka tanpa lengan, gawai Cina ketengan yang layarnya ambyar, gitar tanpa senar, kaset pita berjamur, radio rusak, sepatu busuk tanpa sol, sendal tanpa pasangan, dan banyak barang aneh lainnya, berserak di sepanjang pasar di Bubutan, Surabaya, itu. Saya terheran-heran melihatnya.

Tetapi, di antara belantara barang-barang rongsokan itu; di bawah tumpukan benda-benda remuk dan tak berguna itu, kadang terselip mutiara-mutiara macam Seiko, Expedition, Alexander Christie, Diesel, atau Nike, Adidas, Puma, New Balance, Converse, juga Fila, Uniqlo, dan Polo (Ralph Lauren), atau jenama terkenal lainnya yang terkubur di antara tumpukan pakaian bekas yang kondisinya masih memungkinkan untuk bergaya sedangkan harganya tak lebih mahal daripada tiket pesawat Surabaya-Jakarta yang paling murah sekalipun. Tapi, menemukan barang-barang itu seperti berburu harta karun: tak mudah.

Kaset pita bekas di sebuah lapak di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Ini salah satu daya tarik Pasar Maling, Mas. Barang-barang bermerek harganya semurah kacang goreng,” ujar penjual jam bekas dengan berlebihan kepada para pengunjung lapaknya. “Ini ori,” sambungnya, meyakinkan. Nama panggilannya Mas As. Nama lengkapnya tak ada yang tahu. Lelaki paruh baya itu menjajakan Seiko, Expedition, Alexander Christie, sampai Diesel yang entah ia dapat dari mana. Yang jelas, harganya tak lebih mahal dari gawai Cina keluaran terbaru.

Di sebuah lapak yang berantakan penuh barang apkiran, saya menemukan kaset-kaset pita bekas yang usang. Dari kaset dangdut sampai pementasan ludruk; dari DJ sampai musik rock. Ada kumpulan lagu rock Rod Stewart dengan label: The Best of Rod Stewart di samping 20 Mega Hits Meggi Z, All Stars Dee Jay Show, dan Rebut Balung jula-juli Kartolo. “Itu semua masih bisa diputar, Mas,” ujar penjualnya dengan nada meyakinkan saat saya memegangi kaset-kaset audio karatan itu.

***

HARI kian terik. Pasar tak kunjung sepi. Dari sejak memarkir motor, saya mendengar banyak orang berbahasa Madura—atau setidaknya berlogat Madura. Tampaknya memang banyak orang Madura yang menjadi pedagang maupun pembeli di pasar ini. Bubutan tak jauh dari Suramadu, hanya setengah jam perjalanan. Itu memungkinkan orang-orang Madura bolak-balik untuk berdagang maupun berbelanja di sini. Di Surabaya bagian utara, orang-orang Madura seperti hidup di kampung halaman sendiri. Surabaya bagi orang Madura seperti halaman belakang saja.

Dan migrasi di Jawa merupakan bagian dari sejarah orang-orang Blok-M—sebutan semena-mena (untuk tidak mengatakan rasis) yang disematkan kebanyakan orang Surabaya kepada orang-orang Madura. Bayangkan, pada 1806 sudah banyak orang Madura yang tinggal di desa-desa di Pasuruan, Probolinggo, Puger, sampai Panarukan.

Sebuah lapak di Pasar Maling yang ramai dikerubuti pengunjung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pada 1846, populasi orang Madura di Surabaya, Gresik, dan Sedayu kurang lebih 240.000 jiwa. Laporan dari Sumenep pada 1857 mencatat, bahwa setiap tahun 20.000 orang meminta izin untuk meninggalkan Pulau Madura. Mereka lebih banyak menempati afdeling-afdeling Jawa Timur sebelah timur. Di Probolinggo, misalnya, pertumbuhan etnis Madura yang besar telah terjadi sejak 1855 M.

Dalam artikel panjang “Urbanisasi dan Migrasi di Karesidenan Surabaya pada Akhir Abad ke 19 dan Awal Abad ke-20”, yang terhimpun dalam buku Kota-Kota di Jawa, Sigit Wahyudi menulis mayoritas kaum migran di Surabaya berasal dari Madura. Diperkirakan 1/3 penduduk Surabaya dan Gresik merupakan keturunan orang-orang Madura.

Lapak batu akik, pipa rokok, dan berbagai pusaka di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya menerobos himpitan orang-orang, berjalan sampai ujung utara Pasar Maling Surabaya. Di sana saya sempat singgah di lapak seorang bapak-bapak Madura bermata lelah yang menjajakan batu akik, pipa rokok (once), dan rupa-rupa pusaka. Saya melihat batu warna-warni, besi Semar Kuning, empring petuk, dan keris-keris kecil bertuliskan Arab di sana. Saya berjongkok di sebelah seorang lelaki tua yang sibuk memperhatikan sebuah cicin batu berwarna biru.

Tumpukan barang-barang bekas yang dijual di sebuah lapak di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sebuah persimpangan jalan saya melangkah ke arah barat, menyusuri trotoar Jalan Indrapura. Di depan kantor DPRD Provinsi Jawa Timur saya mematung. Kenapa gedung ini teronggok dekat sekali dengan Pasar Maling? Sebuah mobil melintas, sedang tepat di depan pagar kantor anggota dewan para pedagang sibuk berjualan. Rupanya, saat akhir pekan, jalan di samping kantor Dewan Perwakilan Rakyat ini menjadi tempat niaga yang ramai. Sementara dari Senin sampai Sabtu, jual-beli mungkin saja pindah ke ruangannya. Bukankah kantor yang megah itu kini serupa pasar?—oh, salah, taman kanan-kanak, kata Gus Dur.

Menjelang siang, saya meninggalkan Pasar Maling tanpa “harta karun” apa pun. Tampaknya saya memang tak pandai berburu. Satu-satunya hal yang saya bawa pulang adalah kenyataan bahwa selain melihat barang-barang masa lalu, yang remuk maupun yang masih berguna, saya juga menemukan wajah-wajah putus asa yang bergelayut di beberapa kepala para pedagang di pasar itu. Tak sedikit dari mereka yang diam, sekadar duduk termenung menunggu pembeli, nyaris tak melakukan apa-apa.

Seorang pedagang yang termangu di lapak jualannya di Pasar Maling Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Mereka seperti merasa terabaikan, sepi di tengah keramaian. Sedangkan mata-mata itu seperti menyorotkan kehidupan yang penuh kegetiran. Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, kata Bunda Teresa, itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar daripada orang yang tak bisa makan. Kenyataan itu yang saya bawa pulang—dan hanya itu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa
Melihat Wajah Dolly, Kini
Saat Malam Jatuh di Surabaya Barat
Berniaga di Pinggir Lintasan Kereta — Cerita dari “Pasar Ekstrem” Dupak Magersari, Surabaya
Tags: Jawa TimurMadurapasar malingSurabayatraveling
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Next Post

Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co