RAGU, bimbang, dan gelisah adalah tiga kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya. Dan sepertinya sebagian besar penonton lain juga merasakan hal yang serupa saat film terakhir diputar pada hari Jumat, 20 Juni 2025 di Kedai Umah Pradja Singaraja, dalam program Layar Kolektif Bali Utara
Film fiksi berjudul Purusa: Wedding Sacred ini sukses mengiris perasaan penonton di Kedai Umah Praja, Banyuasri, Buleleng, Bali malam itu. Film berdurasi 15 menit ini bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi tajam tentang tradisi adat Bali yang begitu mengikat hingga kerap menyingkirkan akal sehat dan mempertaruhkan masa depan individu.
I Made Suniartika sebagai sutradara memperkenalkan tokoh utamanya, seorang perempuan Bali yang menjadi anak tunggal setelah ditinggal meninggal oleh Gede (saudara laki-lakinya). Perempuan itu kemudian harus menerima tuntutan keluarga untuk menikah secara nyentana, sebuah prosesi pernikahan yang laki-lakinya masuk ke dalam keluarga pihak perempuan dan menjadi penerus garis keturunan di keluarga tersebut.
Praktik nyentana kerap kali menyimpan polemik sosial tersendiri, sebab di beberapa kasus, calon pasangan laki-laki merasa gengsi atau malu menjalani prosesi ini.
Sangat disayangkan, ternyata perempuan ini telah hamil besar. Demi menjaga nama baik keluarga dan adat istiadat desa, pernikahan harus segera dilaksanakan. Namun, di luar dugaan menjelang hari H, keluarga mempelai pria secara tiba-tiba tidak mengizinkan si pria untuk nyentana.
Di sinilah tekanan adat mulai terasa menyesakkan. Setelah perundingan dengan para tetua desa, diputuskan bahwa perempuan ini harus tetap menikah, tetapi bukan dengan manusia, melainkan dengan sebuah “keris”.

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton
Pilihan jalan cerita ini benar-benar menyentil kesadaran saya. Bagaimana mungkin di zaman modern ini masih ada budaya yang bisa begitu kuat menekan perempuan hingga menikahkan mereka dengan benda mati demi menyelamatkan nama keluarga? Film ini jelas ingin menyampaikan kritik tajam terhadap warisan adat yang tak lagi relevan dengan perkembangan sosial saat ini.
Menurut saya, puncak emosi film ini hadir saat mantan pacar si perempuan datang di malam prosesi pernikahan. Ia mengajak si perempuan kabur, berharap bisa membangun hidup baru bersama. Namun, alih-alih menerima ajakan itu, si perempuan memilih tetap tinggal bersama keluarganya.
Adegan ini bukan sekadar plot twist, melainkan gambaran dilematis perempuan Bali dalam posisi yang serba terjepit. Di satu sisi, ada keinginan untuk bebas, tetapi di sisi lain, ada ikatan batin dan beban moral terhadap keluarga dan adat.
Dialog yang paling membekas bagi saya adalah saat si pria berkata bahwa ia malu untuk nyentana karena takut dicap “sekadi paid bangkung”, yang secara harfiah berarti seperti babi betina yang menarik babi jantan. Ungkapan ini menjadi simbol kuat sebuah kekuasaan sosial patriarki dan adat mempengaruhi cara berpikir masyarakat, bahkan dalam hal memilih pasangan hidup.
Sementara itu, jawaban dari si perempuan juga tak kalah menusuk batin penonton. Ia menolak ajakan kabur dan memilih tetap tinggal di rumah bersama orang tuanya. Keputusan ini bisa ditafsirkan sebagai bentuk kepasrahan, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan diam terhadap adat, karena menikah dengan sebuah “keris”, ia seakan menolak norma sosial yang memaksakan perempuan menikah dengan siapa pun hanya demi status.
Melihat fenomena yang begitu miris ini, saya pun tidak bisa menahan diri untuk mempertanyakan lebih jauh. Apakah selama ini tidak ada upaya penelusuran atau kajian kritis terhadap sistem adat seperti ini? Siapa sebenarnya yang pertama kali mencetuskan aturan yang menyimpang dari nilai kemanusiaan tersebut? Dan bagaimana mungkin para pemangku kepentingan di sana masih bisa mempertahankan sistem yang jelas-jelas menempatkan perempuan dalam posisi tertekan?
Jangan-jangan, regulasi semacam ini lahir bukan dari kebutuhan adat yang murni, melainkan atas dasar ego kelompok tertentu yang ingin mempertahankan wibawa sosial semata, tanpa mempertimbangkan dampak psikologis, sosial, maupun masa depan individu yang terpaksa terikat di dalamnya.

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton
Secara artistik, Purusa cukup berhasil membangun atmosfer emosional. Musik gambelan gender wayang yang menjadi backsound pada ending film berhasil mempertebal suasana mistis dan tragis yang mengikat cerita. Musik tradisional ini dipilih dengan sangat tepat karena bukan hanya berfungsi sebagai backsound, tetapi juga menjadi bagian dari penceritaan.
Dari segi teknis, saya cukup mengapresiasi audio yang jernih serta pemilihan jenis shoot yang pas dalam memperkuat cerita. Beberapa scene close-up mampu menangkap ekspresi karakter dengan baik, terutama di adegan saat upacara perikahan berlangsung.
Namun, ada catatan penting yang ingin saya sampaikan terkait pewarnaan atau color grading dalam film ini. Saya menebak dalam proses produksi, tim hanya mengandalkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Akibatnya, dalam beberapa scene yang diambil di hari yang berbeda, tone warna gambar terlihat tidak konsisten. Perbedaan tone ini sedikit mengganggu kesinambungan visual, terlebih di film pendek yang durasinya singkat dan padat.
Akan tetapi, kekurangan itu tidak sampai merusak kualitas keseluruhan film. Purusa berhasil menjadi film pendek yang berani dan penting untuk ditonton, khususnya di tengah masyarakat Bali yang masih memegang erat tradisi adat.
Film ini bukan semata-mata ingin menyalahkan adat, melainkan mengajak masyarakat untuk mulai merefleksi ulang warisan budaya mana yang masih layak dipertahankan dan mana yang perlu ditinggalkan.
Saya berharap, Purusa bisa diputar di lingkup desa adat. Agar isu yang diangkat film ini bisa menjadi diskusi bersama. Sebab, film ini menyuarakan keresahan banyak perempuan yang selama ini tak bersuara. Semoga Purusa menjadi awal dari lebih banyak karya film pendek lokal yang berani mengangkat isu-isu sensitif dan mengkritik ketidakadilan yang masih dilanggengkan atas nama adat. [T]
Penulis: Komang Gede Samudra Artajaya
Editor: Adnyana Ole
Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.
- BACA JUGA:



























