AKU selalu membawa garpu plastik. Satu di tas kerja, satu di tas kecil warna hitam yang biasa kupakai belanja, dan beberapa lagi tersimpan rapi di laci dapur, masing-masing dibungkus plastik bening seperti hadiah kecil yang tak pernah diminta. Semuanya hanya kupakai sekali. Lalu kubuang. Entah kenapa. Mungkin karena aku merasa tak layak mencuci sesuatu yang bisa langsung dilupakan. Aku hidup dengan cara itu. Rapi. Terkontrol. Bahkan dengan orang-orang.
Suatu sore, sepulang kerja, aku memutuskan berhenti di kedai tua pinggir kota. Letaknya di bawah pohon asam besar yang tampaknya sudah ada sejak zaman Belanda belum tahu malu. Kedai itu sepi, hanya ada dua meja, kursi kayu yang sudah miring, dan aroma yang mengingatkanku pada dapur rumah ibu, dapur yang dulu ingin kutinggalkan.
Aku memesan semangkuk mi dan secangkir kopi. Ketika diantar, aku mematung. Di samping mangkuk, ada sebatang garpu. Berat. Kusam. Terbuat dari kuningan. Tak ada sumpit. Aku membuka tas, merogoh kantong kecil di dalamnya, tempat garpu plastik biasanya tersimpan. Nihil. Aku lupa membawanya. Sial.
Aku menatap garpu kuningan itu seakan ia benda asing dari planet lain. Mungkin karena ia pernah disentuh banyak orang. Mungkin karena ia tak bisa dibuang setelah kupakai. Mungkin karena, entahlah. Aku hanya mengaduk-aduk mi yang perlahan mendingin, berharap tiba-tiba seseorang datang dan menggantinya dengan mi kemasan yang tinggal seduh.
Saat itulah anak kecil datang. Usianya sekitar tiga tahun. Ia berlari sambil menggenggam pasir, tertawa lepas seperti tidak pernah tahu apa itu rasa malu atau takut gagal, sampai ia terpeleset dan menabrak meja tempatku duduk. Sebagian pasir itu terbang, menukik, dan jatuh tepat ke dalam mangkuk mi-ku yang belum tersentuh.
Anak itu menangis. Pemilik kedai terburu-buru menghampiri. Meminta maaf berulang kali. Sementara aku hanya mematung, merasa bersalah padahal tak tahu salahnya di mana. Aku melirik mangkuk. Pasir menempel di antara helai mi. Lapar dan muak bersamaan.
Pemilik kedai datang membawa mangkuk baru. Kali ini lengkap dengan sepasang sumpit kayu. Sekali pakai. “Maaf, cuma punya ini. Garpu satunya belum dicuci,” katanya pelan. Aku mengangguk. Mengucap terima kasih. Tapi lagi-lagi, aku hanya memegang sumpit itu tanpa niat benar-benar memakainya. Tangan kananku memainkannya seperti pensil. Mangkuk mi itu kembali dingin, seperti sebelumnya.
Aku tidak selalu begini. Dulu aku suka makan langsung dari piring besar, rebutan dengan saudara-saudara. Makan pakai tangan, bahkan berebutan gorengan terakhir yang tinggal setengah. Lalu suatu masa datang. Waktu di mana ayah pulang membawa luka. Ibu sibuk menangis diam-diam. Dan kami dipaksa tumbuh cepat tanpa diberi kesempatan bertanya kenapa nasi tiba-tiba harus dibagi lebih tipis dari biasanya.
Sejak itu aku belajar, jangan berharap banyak. Jangan terlalu dekat. Jangan pakai garpu yang harus dicuci. Semuanya sebaiknya sekali pakai saja. Ringan. Praktis. Tanpa beban kenangan. Termasuk hubungan.
Aku pernah pacaran. Satu kali. Lima tahun lalu. Lelaki itu suka masak, suka menyendok kuah langsung dari panci, suka menyuapiku meski kutolak. Ia bilang, “Makan itu soal rasa, bukan protokol.” .Tapi aku selalu cuci tangan terlalu lama, selalu pilih sendok yang baru dibuka dari bungkusnya. Lalu suatu malam, ia bertanya, “Kamu takut aku atau takut dekat?” Dan aku tidak menjawab. Karena aku tak tahu.
Sumpit itu masih di tanganku. Kedai mulai sepi. Anak kecil yang tadi jatuh kini duduk di kursi kecil sambil menggambar di tanah. Goresan jari-jarinya seperti puisi yang tak selesai. Aku merasa ingin mendekat. Ingin menanyakan namanya. Tapi aku tetap duduk, bermain sumpit seolah sedang memainkan waktu yang tak ingin bergerak.
Pemilik kedai menyapaku, kali ini dengan senyum. “Tak suka mi-nya, ya?”
Aku gelagapan. “Suka. Cuma, saya belum terlalu lapar.”
Ia mengangguk. Mungkin ia tahu aku berbohong. Tapi ia tidak menekan. Hanya duduk di bangku samping, mengambil benang dan jarum dari bawah meja, mulai menjahit sobekan kecil di celemeknya.
Aku menunduk, memandangi mangkuk mi yang makin menggumpal. Di luar, anak kecil tadi tertidur di pangkuan seseorang, mungkin ibunya. Jalanan di pinggir hutan mulai diselimuti kabut. Kedai ini seperti tersangkut di antara waktu yang menolak bergerak dan dunia yang enggan menunggu.
Lalu seseorang masuk. Aku tak langsung menoleh. Tapi langkahnya terdengar aneh. Ringan tapi mantap. Ada suara logam beradu. Mungkin kunci, atau gesper, atau semacamnya. Pemilik kedai langsung berdiri. Tak berkata apa-apa, hanya mematung. Begitu juga aku. Sumpit masih di tangan. Mangkuk di depan.
Lelaki itu menarik kursi. Duduk di seberangku. Rambutnya lebat. Matanya cekung. Tapi senyumnya seperti seseorang yang tahu terlalu banyak. Ia tak memesan apa pun. Hanya mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya: sepasang sumpit kuningan.
“Aku pinjam punyamu,” katanya, menunjuk sumpit kayu di tanganku. “Sekali pakai, kan?”
Aku mengangguk. Lidahku kelu. Ada sesuatu dalam caranya bicara, seperti deja vu yang kelewat halus. Ia menyendok mi dari mangkukku. Pelan. Rapi. Seperti tahu rasanya dingin dan tak ingin membuatnya tambah sedih.
“Lima tahun lalu kamu pergi tanpa pamit,” katanya sambil mengunyah. “Tapi aku tetap simpan ini. Yang dari rumah. Yang biasa kita rebutkan.”
Aku nyaris menjawab. Tapi suara di kepalaku lebih keras. Aku tak ingat siapa dia. Aku sungguh tak ingat. Pemilik kedai masih berdiri. Tapi ia tetap tak berkata apa-apa. Hanya menatap sumpit kuningan itu seakan melihat sesuatu yang dulu pernah hilang.
“Aku kembalikan setelah selesai,” katanya, lalu bangkit. Keluar begitu saja. Tanpa menoleh. Sumpit kuningan itu dibawa pergi. Mangkukku tinggal separuh isi. Dan aku masih di sana, memegang sumpit kayu sekali pakai, tak yakin siapa sebenarnya yang baru saja duduk di hadapanku.
Pemilik kedai akhirnya duduk dan menjahit lagi. Aku berdiri. Meninggalkan mangkuk yang setengah isi dan sumpit kayu yang entah kenapa tadi terasa ringan sekali, seperti tidak pernah benar-benar kupegang. Aku berdiri, ingin cuci tangan. Penjual langsung menunjuk sebuah tempat. Tapi sebelum sampai di tempatnya, aku berbalik, seperti orang linglung.
Aku kembali duduk. Di kursi tempat lelaki tadi duduk. Lalu menemukan sesuatu di ujung baki: sebuah tisu yang dilipat rapi. Di salah satu sisinya, ada gambar kura-kura bertopi. Dan di bawahnya, tertulis dengan pulpen: Kupikir, tak cukup sekali. Ayo, besok lusa kita coba naik kereta yang sama. Duduk di gerbong dua, bangku dekat jendela.
Darahku berhenti sebentar. Tanganku ingat gerakan melipat itu. Cara ia selalu menggambar sesuatu di kertas yang akan dibuang. Kadang boneka, kadang peta kecil, kadang angka tanpa urutan. Tapi kura-kura, sesuatu yang pernah kupinta sekali digambarkan. Untuk alasan yang dulu kupikir sepele. Aku tak tahu sejak kapan tisu itu ada di situ. Tapi rasanya seperti ia baru saja meletakkannya. Aku merobek bungkus sumpit kayu yang tersisa. Perlahan. Seperti membuka amplop dari masa lalu. Dan kali ini, sumpitnya langsung kumasukkan ke saku. Dan aku masih betah duduk di kursinya. Aku tak ingin buru-buru melupakan, bahkan ingin mengingat-ingat sesuatu. [T]
Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























