MALAM baru saja jatuh saat saya memarkir motor di Terminal Manukan setelah menyusuri gang-gang sempit di Manukan Wetan mencari penjual martabak mi yang ternyata sedang libur jualan. Tujuan utama saya ke Manukan memang itu, ingin mencoba kuliner yang bagi saya baru, tak biasa. Tapi sayang, saat sampai di lokasi jualannya, saya hanya mendapati bekas minyak yang tercecer di sana. Nanggung, saya pikir, karena sudah di Manukan, sekalian saja saya mengelilinginya.
Jadilah saya memutar, berbelok ke arah Terminal Manukan. Di sini, mulai sore sampai malam, ramainya seperti pasar malam. Terminal kecil—yang dipenuhi bemo-bemo itu—bertransformasi menjadi sentra jajanan kekinian saat petang. Segala jajanan tumpah di sini. Dari yang inovatif sampai yang aneh. Dari harga secengan sampai puluhan. Semua ada, semua laku.
Kawasan Manukan memang sesuatu di Surabaya Barat. Kelurahan di Tandes ini semacam “juru selamat” bagi kalangan menengah-bawah. Di tengah gemerlap Pakuwon, Citraland, atau kawasan elit lainnya yang tak tersentuh, Manukan adalah Taman Eden bagi mereka yang gajinya di bawah UMR Surabaya.
Semua tersedia di Manukan, dari urusan sandang, pangan, sampai papan, tercecer sejak memasuki kawasannya. Lihatlah di sepanjang Jl. Kyai Amir, salah satu pintu masuk Manukan, toko-toko berserak. Pedagang baju-celana, asesoris HP, toko elektronik, toko emas, warung makan, berdesakan di kanan-kiri jalan. Tak ada trotoar bagi pejalan kaki. Semua tempat penuh barang dagangan. Sedangkan jalanan sangat ramai. Deru kendaraan, debu beterbangan.

Ramai kendaraan dan pedagang di kawasan Jl. Kyai Amir Manukan | Foto: tatkala.co/Jaswan
Seperti tak ada tempat sepi di Manukan. Entah, kawasan ini sempat tidur atau tidak. Yang jelas, dari pagi sampai pagi lagi, Manukan seperti tak pernah terpejam. Geliat ekonomi begitu semarak dan hidup di tempat ini.
Sebab banyak orang yang bergantung padanya, ia menjelma kawasan yang penuh harapan. Tak hanya mereka yang lahir dan besar di Manukan, pula orang-orang yang datang dari tempat-tempat jauh di seberang sana, seperti Dani Saputra, misalnya. Pemuda dengan tato dan tindik telinga itu sejak 2015 telah mengais remah rezeki di Manukan. Dia mengaku dari Bandung, Jawa Barat, dia jualan otak-otak bandung—jajanan tepung kanji goreng yang berbentuk seperti ulat sagu—di sini.
“Dulu jualan keliling, Mas. Sekarang mangkal di terminal ini. Cukup bayar uang pangkal 3 ribu setiap hari,” Dani berkata kepada saya sesaat setelah membumbui otak-otak pesanan dua gadis remaja langganannya. Di Bandung, lanjutnya, ia sulit mencari kerja.

Ramai kendaraan dan pedagang di kawasan Jl. Kyai Amir Manukan | Foto: tatkala.co/Jaswan
Tak jauh dari pangkalan Dani, di seberang terminal, seorang pemuda sedang duduk termenung di balik gerobak jualannya. Tampaknya ia baru saja buka. Terlihat dari barang dagangannya yang sama sekali belum berkurang. Pemuda itu menjajakan keripik cemilan, dari kripik singkong sampai kripik kentang. Namanya Zuli, tiga belas tahun merantau dari Pati, Jawa Tengah, ke Manukan, Surabaya Barat. Kripik-kripik ini bukan dagangannya sendiri. Ia hanya pegawai dan dibayar per bulan. Sama seperti Dani, di Pati, Zuli juga tak kunjung mendapat pekerjaan.
“Susah cari kerja di Pati, Mas, apalagi cari jodoh. Bahkan udah 13 tahun merantau ke sini juga tak kunjung dapat jodoh. Hehe,” ujar Zuli mencoba akrab. Saya terbahak mendengarnya. Bukan karena merasa lucu, lebih kepada ingin menjadi temannya walau sesaat—sekadar menunjukkan kepedulian.
***
LUPAKAN Kota Pahlawan, kini Surabaya juga punya julukan “Kota Buruh”. Banyak pabrik, perusahaan, tempat usaha lain yang dibangun, dibuka, beroperasi di kota ini. Dan tentu semua tempat usaha itu membutuhkan pekerja. Banyak lowongan kerja—dari yang ketengan sampai yang menjanjikan—dibuka, disebar, diinformasikan di mana-mana.


Kawasan Paguyuban Nasi Goreng Manukan, tempat puluhan pedagang nasi goreng jualan di sepanjang Jl. Manukan Tama | Foto: tatkala.co/Jaswan
Tak kaget jika Surabaya menjadi salah satu kota tujuan banyak orang. Banyak korea daerah berbondong-bondong memasuki kota metropolitan ini demi mengadu nasib. Surabaya, bagi banyak orang, adalah “Tanah Harapan”, sebagaimana London bagi orang India, atau Malaysia bagi beberapa orang di desa di daerah-daerah di Indonesia era 80′-an sampai 2000-an. Surabaya, kata penyair Zawawi Imron, “molek bagai perempuan genit.”
Tetapi, meski begitu, sudah menjadi rahasia umum saya kira, melamar atau diterima kerja di negara ini—termasuk di Surabaya—sama susahnya seperti perjuangan Timnas Indonesia lolos Piala Dunia. Bukan saja karena syarat-ketentuan atau prosesnya yang berbelit-belit dan berlapis-lapis, tapi juga tak sedikit perusahaan (atau tempat usaha lainnya) yang masih melakukan praktik nepotis (the power of orang dalam) atau praktik-praktik culas lainnya.
Tak semua tempat usaha demikian memang, tapi untuk mengatakannya sedikit—atau tidak ada sama sekali—saya kira juga tidak tepat. Di Tuban, Jawa Timur, beberapa orang rela menukar sekian juta untuk bisa bekerja di pabrik semen. Praktik semacam itu seperti sudah mendarahdaging.
Melamar atau diterima kerja di negara ini, sekali lagi, lebih sulit daripada percaya bahwa Hitler mati di Surabaya. Di negara ini, pintar saja tidak cukup. Anda juga harus berpenampilan menarik, bersedia bekerja di bawah tekanan, minimal 1 tahun pernah bekerja di bidang yang sama, bekerja keras, jujur, disiplin, bla bla bla. Tak cukup di situ, tempat usaha yang membuka lowongan kerja juga tak sedikit yang diskriminatif. Meski Anda sangat berpengalaman dalam suatu bidang tertentu, tapi tinggi badan Anda kurang beberapa senti, atau gaya rambut Anda tidak cocok bagi perusahaan, misalnya, Anda bisa tidak diterima. Ya, banyak hal tidak masuk akal di negara ini.


Suasana Terminal Manukan di malam hari | Foto: tatkala.co/Jaswan
Pendidikan harus menumbuhkan kesadaran kritis dan empati, bukan sekadar keterampilan teknis, kata para akademisi. Tapi nyatanya, banyak pabrik tak butuh itu. Pabrik hanya butuh mereka yang taktis, mekanis, tak banyak cakap—Wiji Tukul dan Marsinah sudah membuktikannya. Pabrik tak suka mereka yang tahu banyak hal. Karyawan perusahaan tak perlu tahu konflik Iran-Israel, atau isu tambang di Raja Ampat, atau bagaimana keringat mereka diperas sedangkan upah yang mereka terima tidak sebanding dengan itu.
Namun, meski tak banyak cakap, tak cerewet, orang-orang seperti Dani tetap tak mungkin masuk radar. Ia bertato dan bertindik. Sebuah tempat usaha mie di daerah Gubeng, misalnya, tak akan pernah menerima Dani sebagai karyawan. Usaha tempat makan—yang katanya legendaris itu—alergi dengan orang-orang bertato dan bertindik. Mungkin mereka lupa bahwa juru masak populer Juna Rorimpandey juga bertato dan bertindik.
Begitulah, selain Tanah Harapan, Surabaya juga Huthamah bagi mereka yang terpinggirkan. Kota ini bakal menghukum mereka yang malas, tak berpendidikan, tak punya koneksi. Akan mencambuk mereka—orang-orang yang kurang beruntung, kalah—dengan kecemasan dan keputusasaan yang berlarut-larut sampai bayang-bayang kelaparan yang mengerikan. Menjadikan mereka “binatang jalang dari kumpulannya terbuang”; dan memandang rendah mereka bagai budak Abad Kegelapan. Bahkan, seperti lirik Silampukau dalam lagu Malam Jatuh di Surabaya (2015), di kota ini, “Magrib mengambang lirih dan terabaikan… Tuhan kalah di riuh jalan…”
Dan keberuntungan, di kota ini, seperti hanya milik anak-anak pejabat atau crazy rich bermata sipit yang party menenggak anggur di The Consulate atau memamahbiak wagyu A5 di Confit Restaurant, bukan milik saya, Dani, Zuli, atau mereka yang lahir di emperan kota yang bopeng.
***
MALAM kian beranjak. Saya berdiri tepat di kawasan Yayasan Daarul Muttaqien, Manukan, sambil mengamati pedagang nasi goreng yang sibuk. Benar. Kawasan ini didaulat sebagai ladang rezeki Paguyuban Nasi Goreng Manukan. Sekitar 20-an gerobak nasi goreng berjejer di sepanjang Jl. Manukan Tama—dan mereka sibuk sekali. Setiap gerobak memiliki pembelinya sendiri. Yang unik, semua penjualnya memakai baju seragam kuning terang—kadang hijau terang di hari lain—bertuliskan “Crew Bursa Nasgor Manukan” di punggungnya. Sayang, saya tak sempat berbincang dengan mereka. Mungkin lain waktu. Setelah mengambil beberapa gambar, saya berlalu begitu saja, melanjutkan keliling sampai ke Lontar.
Dari Lontar, di balik kelontong penuh debu yang berdesakan di sepanjang jalan, Pakuwon yang elit, menjulang, angkuh, gemerlap tak tersentuh, terlihat. Bangunan itu seperti dunia lain di Lontar. Ia jelas pusat perhatian di antara bangunan tua toko kelontong yang rombeng, pengap, dan sempit. Ia jelas raksasa kapitalis yang banyak menghabiskan energi. Ia habitat mereka yang tak risau soal cicilan napas hidup yang harus dibayar. Ia tempat para bohir menyembah barang-barang bermerek yang hanya jadi dongeng sebelum tidur bagi orang-orang yang berpenghasilan setara pengeluaran mereka sekali makan. Pakuwon, adalah dimensi lain di Surabaya Barat.


Gedung-gedung di Pakuwon, Surabaya Barat, dilihat dari Kelurahan Lontar | Foto: tatkala.co/Jaswan
Di Pakuwon, semua orang terlihat begitu tajir—bahkan yang berprofesi sebagai penjual bakso sekalipun. Raut wajah mereka menjelaskan kondisi keuanganya. Di sebuah restoran cepat saji mereka enteng saja menghabiskan uang, sama seperti saat saya membelanjakan uang di pasar templek di perumahan tempat saya tinggal. Wajah orang-orang itu—yang mayoritas bermata sipit dan berkulit putih—seperti tak memiliki beban finansial. Berbeda dengan beberapa orang yang saya temui di sekitar Terminal Manukan.
Manukan dan Pakuwon jelas bumi dan langit, tak sebanding—meski sama-sama terletak di Surabaya Barat. Tak ada otak-otak Dani atau keripik singkong Zuli di Pakuwon. Tak ada paguyuban nasi goreng, tak ada telur gulung secengan, tak ada es timun tiga ribuan. Di Pakuwon, orang-orang ngemil di McDonald’s atau nongkrong di kafe-kafe elit sekitar pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia: Pakuwon Mall Surabaya (PM), atau ongkang-ongkang kaki di kawasan G-Walk Citraland yang tak jauh dari situ. Intinya, kesenjangan di Surabaya Barat seterang kerlap-kerlip apartemen mewah di Pakuwon—dan itu sudah digambarkan A. Idrus dalam prosa Surabaya (1947) berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Bemo-bemo parkir di Terminal Manukan setelah seharian bekerja | Foto: tatkala.co/Jaswan
Namun demikian, saat malam jatuh di Surabaya Barat, semesta seperti tetap tak mau istirahat. Jalanan tak pernah sepi. Neon-neon menolak padam. Tempat nongkrong—yang elit maupun pinggiran—masih saja sesak dan ramai, menggoda siapa saja untuk menghabiskan gaji bulanan; menjebak orang-orang ke dalam lingkaran konsumsi yang tak berujung, tanpa waktu untuk merenungkan makna hidup yang lebih dalam. Jadilah orang-orang yang tinggal di Surabaya Barat masuk dalam ruang banalitas kota metropolitan: pengalaman sehari-hari yang terasa biasa, monoton, atau kurang berkesan di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampung pinggiran kota yang terpapar virus urban.
Ah, apakah saya juga akan jatuh ke lubang yang sama? Entahlah. Saya tak berharap demikian, pun tak mencoba melawannya dengan keras kepala. Saya membelah malam, pulang ke tempat tinggal saya di Pakal, dengan perasaan yang entah.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























