SARANA dan prasarana kampus sering menjadi pertimbangan mahasiswa dalam memilih perguruan tinggi. Selain akreditasi perguruan tinggi yang unggul, mahasiswa juga mempertimbangkan faktor-faktor fisik kampus.
Biasanya mahasiswa akan melihat kemegahan bangunan kampus. Tempat parkir yang luas. Terdapat fasilitas untuk beribadah. Ada kantin, dekat dengan bank atau ATM, dekat pusat perbelanjaan, serta memiliki aksesiblitas yang baik.
Kampus di kota Purwokerto ini memiliki segalanya. Sarana dan prasarana sangat lengkap. Aksesibilitas juga sangat baik. Jalan-jalan di kampus mulus. Jalan yang menghubungkan ke masing-masing fakultas juga lebar dan kondisinya baik. Tak heran jika mahasiswa terasa betah dimanjakan oleh berbagai fasilitas.
Daya tarik kampus ini antara lain banyak pertigaan jalan di dalam kampus. Bila sedang masa-masa perkuliahan sering terjadi kemacetan di setiap pertigaan kampus. Namun bila malam hari akan tampak lengang, sehingga mahasiswa berkendara dengan kecepatan tinggi.
Di antara pertigaan jalan di kampus, ada satu pertigaan yang berbeda dengan lainnya. Letaknya di dekat fakultas peternakan. Banyak dosen dan mahasiswa yang melambatkan jalan ketika melewati pertigaan itu. Bahkan kadang orang-orang yang melintas pertigaan itu membunyikan klakson.
Pertigaan jalan menuju fakultas peternakan dianggap angker oleh warga kampus dan masyarakat sekitar. Menurut warga, sering muncul siluman harimau di pertigaan itu. Bukan harimau biasa, tetapi harimau gaib jelmaan makhluk halus. Biasanya siluman harimau muncul pada malam bulan purnama atau setiap tanggal 14 atau 15 kalender Jawa.
Bukan hanya satu, siluman harimau itu konon ada dua. Hal itu diungkapkan oleh sesepuh masyarakat di sekitar kampus. Yang pertama, siluman harimau belang yang dianggap berasal dari zaman kerajaan Majapahit, pengikut Raja Hayam Wuruk. Yang kedua siluman harimau putih dari zaman kerajaan Pajajaran, pengikut Prabu Siliwangi.
Tidak setiap malam siluman harimau itu muncul. Paling sering memang pada malam bulan purnama dan malam Jumat Kliwon. Mahasiswa atau dosen yang melihat siluman itu biasanya akan mendapat sial. Seorang mahasiswa pernah terjatuh dari sepeda motornya setelah melihat siluman harimau belang di ujung pertigaan jalan.
Siluman harimau itu sebenarnya tidak mengganggu orang-orang yang melewati pertigaan kampus. Apalagi tidak setiap orang yang lewat pertigaaan itu akan melihat dua siluman harimau. Hanya orang-orang tertentu saja yang kebetulan melihat. Namun entah kenapa, setiap orang yang melihatnya selalu saja celaka.
***
Kecelakaan demi kecelakaan terjadi di pertigaan jalan kampus. Padahal kondisi jalan lengang dan di malam hari. Ada saja kecelakaan. Pernah juga terjadi kecelakaan tunggal mobil yang menabrak pohon besar di seberang pertigaan. Menurut sang pengemudi, dia melihat dua harimau loreng dan putih sedang mengaum di pojok pertigaan. Dan tahu-tahu mobilnya menabrak pohon.
Bukan hanya kecelakaan. Kejadian yang misterius dan menyeramkan juga terjadi. Ayam, kambing, dan sapi di kandang fakultas peternakan mati mendadak. Hewan-hewan itu mati dengan leher berdarah, seperti ada bekas robekan gigi yang tajam. Namun anehnya daging hewan-hewan itu masih utuh. Banyak yang mengatakan hewan itu mati digigit siluman harimau. Siluman itu hanya menghisap darah hewan, tidak memakan dagingnya.
Cerita seram tentang siluman harimau di pertigaan kampus tidak serta-merta membuat semua dosen maupun mahasiswa percaya. Ada dosen yang tidak percaya jika kecelakaan yang terjadi di pertigaan kampus karena melihat siluman harimau.
“Mungkin karena malam hari, pengemudi mengantuk atau jalanan sepi, ngebut,” kata Widianto, dosen yang tidak mempercayai cerita siluman harimau.
Selain dosen, ada pula mahasiswa yang tidak percaya. Nafiz Kurniawan termasuk salah satu mahasiswa yang tidak percaya pada cerita itu.
“Mana mungkin siluman harimau bisa bikin celaka, hari ini kok percaya ama cerita mistis,” ujar Nafiz pada teman-temannya.
Keanehan dan kejadian misterius menimpa Widianto setelah ia tak percaya pada cerita siluman harimau di kampus. Malam hari, ketika Widianto hendak berangkat tidur, terdengar suara seperti harimau sedang mengaum. Awalnya ia mengira itu suara yang datang dari televisi atau ponsel anaknya yang belum tidur.
Widianto terkejut saat melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00. Hari sudah lewat tengah malam. Mana mungkin anaknya belum tidur. Widianto kembali perhatikan auman harimau. Bulu kuduknya berdiri. Ia segera bangunkan istrinya. Suara aum harimau itu semakin mendekat ke rumahnya. Widianto dan istrinya saling pandang. Keduanya ketakutan untuk melihat ke luar rumah.
Setengah jam kemudian suara harimau itu pun lenyap. Widianto dan istrinya berjalan perlahan menuju pintu depan rumah. Mereka ingin melihat apa yang terjadi. Betapa terkejut mereka. Teras rumah mereka dipenuhi bekas jejak kaki binatang.
“Seperti jejak kaki harimau..,” kata Widianto pada istrinya.
Mereka heran, mengapa ada binatang buas menyambangi rumah mereka. Widianto berpikir, apakah karena ia tak percaya pada cerita siluman harimau itu yang membuat binatang itu mendatangi rumahnya. Namun Widianto tak habis pikir. Bukankah jarak kampus tempatnya bekerja dengan rumahnya cukup jauh? Mengapa siluman itu datang? Apakah marah pada Widianto? Semua menjadi teka-teki.
Nafiz Kurniawan mengalami kejadian yang tidak kalah menyeramkan. Mahasiswa yang duduk di semester lima ini dikejutkan dengan suara harimau mengaum di depan kamar kostnya malam hari. Nafiz sedang mengerjakan tugas kuliah Periklanan. Nafiz mendengar sayup suara aum harimau. Ia pikir suara itu berasal dari televisi kamar kost di depannya.
Suara aum harimau itu semakin keras di depan kamar Nafiz Kurniawan. Setelah itu terdengar pintu kamarnya seperti dicakar binatang. Nafiz ketakutan. Ia tak berani menengok ke luar kamar. Ia justru duduk di sudut tempat tidurnya. Seperti suara cakar harimau, pikir Nafiz. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Mengapa ada harimau malam hari di depan kamarnya? Apakah ada yang memelihara harimau dan lepas dari kandangnya? Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Nafiz.
Setelah tak terdengar lagi suara cakaran di pintu kamarnya, Nafiz memberanikan diri keluar. Betul juga. Pintu kamarnya penuh dengan bekas cakaran kuku binatang. Nafiz melihat pintu kamar teman-temannya. Tidak ada bekas cakaran. Hanya kamarnya saja. Nafiz jadi berpikir, jangan-jangan karena ia tidak percaya adanya siluman harimau di pertigaan jalan kampus, sehingga siluman harimau itu mendatangi kamarnya.
***
Kabar tentang siluman harimau di pertigaan jalan kampus menyebar dengan cepat. Apalagi setiap malam bulan purnama sering terjadi kecelakaan di pertigaan itu. Kabar itu pun sampai ke telinga rektor. Rapat pimpinan perguruan tinggi segera diagendakan. Semua dekan fakultas diundang untuk rapat, mengingat pertigaan jalan itu dilalui oleh mahasiswa, dosen, dan pegawai dari semua fakultas.
Salah satu dekan fakultas yang menerima masukan dari pegawainya menyampaikan usulan kepada rektor. Dia mengusulkan agar dibuatkan patung harimau di sudut pertigaan jalan. Harapannya, siluman harimau itu secara simbolis berdiam di dalam patung itu dan tidak lagi menampakkan diri. Usulan itu diterima oleh rektor dan peserta rapat.
Awal-awal dibuatnya patung itu memang tidak ada kecelakaan di malam bulan purnama. Masyarakat yang lewat juga tidak melihat siluman harimau di pertigaan jalan. Namun itu hanya berjalan dua bulan. Pada malam bulan purnama berikutnya, siluman harimau itu kembali menampakkan diri, dan kembali terjadi kecelakaan kendaraan.
Rektor kembali mengadakan rapat. Kali ini yang diungan bukan hanya dekan, tetapi juga dosen dan pegawai yang paham tentang Kejawen. Muncul dua usulan yang menarik. Pertama, patung harimau di sudut pertigaan jalan kampus harus segera dibongkar. Patung itu justru menambah seram lingkungan kampus. Selain itu, patung itu seolah ingin memenjarakan siluman harimau. Padahal siluman harimau itu memerlukan tempat yang sejuk dan sepi dari kehidupan manusia.
Usulan kedua, siluman harimau itu dipindah ke tepian Sungai Serayu. Lingkungannya sepi dan sejuk, serta menyimpan aura mistis. Untuk memindahkan siluman harimau perlu menghadirkan dua paranormal dari Jawa Timur dan Jawa Barat, karena kedua siluman harimau itu berasal dari dua daerah tersebut.
Salah seorang dosen yang paham tentang Kejawen mengusulkan mengundang Ki Prawoto Sukmojati dari Mojokerto, Jawa Timur. Sedangkan yang dari Jawa Barat akan diundang Kang Anugerah Wiraguna, paranormal dari daerah Garut. Mereka berdua yang nantinya memindahkan siluman harimau itu.
Menjelang bulan purnama, kedua paranormal itu tiba di kota Purwokerto. Mereka bersiap melakukan ritual “boyongan” atau pindahan “rumah” bagi siluman harimau. Ki Prawoto Sukmojati membawa beberapa perlengkapan simbolik untuk ritual pindah rumah, yaitu tikar, air putih, lampu minyak, bunga di dalam kendi, kuali berisi beras dan rempah-rempah.
Ki Prawoto Sukmojati membaca mantra dalam bahasa Jawa sambil membakar kemenyan. Mantra untuk syarat pindah rumah. Kemudian ia memutarkan musik Jawa Gending Jengkar Kedaton. Gending ini biasa ditabuh dalam pewayangan sebagai simbol seorang tamu yang meninggalkan istana. Ki Prawoto Sukmojati menganggap siluman harimau belang adalah tamu dari kerajaan Majapahit yang akan menempati rumah baru di tepian Sungai Serayu.
Sedangkan Kang Anugerah Wiraguna membacakan mantra dalam bahasa Sunda sambil membakar dupa. Beberapa jenis bunga dalam bungkusan dikeluarkan. Sesaat kemudian ia memutar musik Sunda Kecapi Suling Candrawulan. Musik ini secara simbolik mengingatkan seseorang pada tanah leluhurnya. Maksud Kang Anugerah agar siluman harimau putih tetap ingat pada bumi Siliwangi dan tanah Pajajaran setelah pindah tempat nantinya.
Suasana mistis dan mencekam mewarnai ritual pemindahan siluman harimau dari pertigaan kampus ke tepian Sungai Serayu. Asap kemenyan dan dupa berpadu menimbulkan kesan mistis. Lagu gending Jawa dan kecapi suling Sunda menambah seram suasana. Beberapa dosen, pegawai, dan mahasiswa yang menyaksikan ritual itu pun hanyut dalam suasana mistis.
Ki Prawoto Sukmojati dan Kang Anugerah Wiraguna membuat gerakan tangan yang sama, seolah mereka sedang menggiring binatang. Sesekali mereka menghentakkan kaki ke tanah. Seketika terdengar suara seperti harimau mengaum. Keras sekali suara itu. Hanya beberapa orang saja yang mendengar suara auman itu. Namun tak ada satu pun yang melihat siluman harimau itu, kecuali Ki Prawoto Sukmojati dan Kang Anugerah Wiraguna.
Siluman harimau digiring oleh kedua paranormal dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Harimau belang dan harimau putih dimasukkan ke dalam kandang yang terbuat dari anyaman janur. Kedua siluman harimau itu kemudian dinaikkan ke atas gerobak sapi. Musik gamelan dan kecapi mengiringi keberangkatan siluman harimau ke tepi Sungai Serayu. Semua yang menyaksikan ritual itu merasa merinding.
Ritual pemindahan siluman harimau memang simbolik. Hanya orang-orang tertentu yang dapat langsung melihat bentuk dan rupa siluman harimau itu. Seperti apa pun bentuk dan rupa siluman harimau itu; dosen, pegawai, mahasiswa, dan masyarakat sekitar tidak begitu mau tahu. Bagi mereka, yang penting pertigaan jalan di kampus itu menjadi tenang dan aman.
Bulan purnama sudah menerangi kampus untuk kesekian kali. Tidak terdengar lagi cerita tentang penampakan siluman harimau di pertigaan jalan. Tidak terlihat lagi kecelakaan kendaraan di malam hari. Kampus tampak indah penuh pesona di tengah malam bulan purnama. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)


























