14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayang Style Bebadungan: Dramaturgi Awal dan Strategi Kesakralan

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
June 15, 2025
in Esai
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

I Gusti Made Darma Putra

SAYA akan melanjutkan tulisan sebelumnya tentang wayang kulit style Bebadungan sebuah gaya pedalangan khas dari Kabupaten Badung yang penuh warna, energi, dan kreativitas. Dalam khasanah seni pertunjukan Bali, style Bebadungan tidak hanya dikenal karena keunikan teknik dan dinamika lakonnya, tetapi juga karena kekuatan spiritual dan kesan dramatik yang menggetarkan sejak detik pertama pertunjukan dimulai.

Sejak awal pembukaan pagelaran, seluruh tindakan sang dalang telah dituntun oleh laku Dharma Pewayangan, yakni sikap batin dan kesadaran spiritual seorang dalang. Pada style Bebadungan, dalang tampil sangat ekspresif, bahkan teatrikal, namun tetap terkendali dalam kerangka sakral.

Salah satu momen pembuka yang khas dari style Bebadungan adalah ngedig kropak pang telu, yakni tiga kali hentakan tangan dalang kearah kropak bagian atas yang disertai dengan mantram. Dalam sesi ini, hentakan dilakukan dengan penuh hikmat, seolah membangunkan kekuatan magis yang tersembunyi dalam keropak serta seisinya. Ini adalah simbol amungkah jagat, yaitu membuka gerbang menuju alam pewayangan (Bhuana agung mwang saisinya) sebuah dunia simbolik dan spiritual yang akan dihidupkan melalui teknik naratif dan visual dalang yang begitu khas dan memikat.

Tabuh gender pemungkah pun kemudian bergema dengan skema khas yang menjadi penanda kuat dari iringan dalam style Bebadungan. Dalam gaya ini, alur dramatik musik dibentuk secara dinamis dan menggugah, memadukan hentakan nada yang berenergi dengan pengendalian ritmis yang terukur. Hal ini bukan hanya menciptakan suasana intens, tetapi juga menjadi pintu masuk ke dalam dunia sakral pewayangan yang dikemas dalam style Bebadungan.

Dalang dalam moment ini tidak serta merta menampilkan tokoh-tokoh utama, tetapi lebih dulu menghadirkan wayang pemurtian seperti Wisnu Murti dan Rudra Murti yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri kelir. Ini adalah bagian penting dari struktur penyajian Bebadungan sebuah strategi dramaturgis yang membangun rasa ingin tahu penonton sejak awal pertunjukan.

Di sinilah terlihat dengan jelas pola penyajian style Bebadungan membingkai momen pembuka sebagai ruang sakral yang penuh hikmat, namun tetap menyisipkan elemen kejutan melalui ritme dan penempatan simbolik. pola ini mencerminkan karakter Badung yang ekspresif, tetapi tetap menjaga rasa dan tatanan. Dalam wayang kulit style Bebadungan, kesakralan dan estetika tidak berjalan terpisah, melainkan menyatu dalam struktur dramatik yang kuat dan penuh roh.

IDENTITAS POLA CEPALA STYLE BEBADUNGAN YANG UNIK DAN TEGAS

Di antara seluruh style pedalangan Bali, style Bebadungan punya ciri khas ritmis yang sangat kuat, salah satunya melalui pola cepala. Bunyi yang muncul bukan sekadar efek suara, tapi bagian dari kode dramaturgi yang dimiliki oleh setiap dalang dari Badung. Dimulai dengan suara cepala yang menggelegar “ Tak …” dan dilanjutkan dengan pola “tak tak – tak – tak“ menjadi penanda awal di mulainya pertunjukan wayang dan identitas musikal kropak wayang style Bebadungan.

Pola cepala dalam style ini digunakan secara sangat aktif. Tak hanya sebagai penanda ritme, tetapi juga sebagai media ekspresi tubuh, pengantar transisi dramatik, hingga pelemasan tangan bagi dalang itu sendiri. Di sinilah style Bebadungan memperlihatkan keunggulan dalam sinkronisasi antara tubuh, suara, dan jiwa dalang, semacam bentuk meditasi kinetik sebelum memasuki lakon.

Selain itu, pola yang kuat dan distingtif ini juga berfungsi sebagai pemikat perhatian penonton. Bunyi yang menggelegar dari cepala di awal bisa menciptakan efek startling mengejutkan dan mengikat fokus. Style ini berakar dari semangat masyarakat Badung yang dikenal lugas, ekspresif, dan berani dalam eksplorasi bentuk seni.

IGEL KAYONAN: SIMBOL KOSMIK, SPIRIT KREATIF, DAN ENERGI PENCIPTAAN

Keropak dibuka dan suara gender mengalun, dalang memasuki bagian Igel Kayonan, yaitu tari wayang kayonan. Kayonan sendiri adalah wayang berbentuk pohon kosmik dalam filosofi Bali. Ia melambangkan pusat dari segala kehidupan, tempat bertemunya unsur purusha dan prakerti.

Dalam style Bebadungan, igel kayonan bukan sekadar hanya soal keharusan, tapi justru merupakan panggung eksplorasi artistik seorang dalang. Gerakannya yang berulang, kanan kiri, lalu berputar ke kanan dan kiri, menunjukkan perputaran energi kehidupan. Irama gamelan gender menyesuaikan dinamika gerak kayonan, dari keras, ke pelan, lalu kembali menguat, menciptakan irama gelombang yang menyimbolkan nafas semesta.

Pada bagian akhir tari kayonan ini digerakkan perlahan dari bawah ke tengah lalu ditancapkan di kelir, di situlah makna terdalamnya mengakar, keseimbangan telah ditanamkan, ruang spiritual pertunjukan telah disucikan, dan kreativitas akan tumbuh dari pusat tatanan kosmos itu sendiri. Seperti apa yang saya uraikan dalam tulisan di Tatkala.co (Wayang dan Elektron) sebelumnya, Saya juga menginterpretasikan momen ini sebagai simbol kehidupan, pertumbuhan, dan proses penciptaan. Setelah kayonan ditancapkan sebagai penanda dimulainya dunia pewayangan, hadirnya Wayang Acintya yang diletakkan di tengah kayonan menjadi lambang dari kesadaran agung sumber dari segala cipta. Kehadirannya tidak sekadar hiasan, tetapi juga merepresentasikan pusat spiritual yang menjadi poros dari seluruh semesta naratif.

Setelah itu, barulah satu per satu tokoh-tokoh wayang mulai dimunculkan, mereka yang akan memainkan peran dalam kisah yang dihadirkan oleh sang dalang. Tahapan ini dalam tradisi pedalangan dikenal sebagai beber wayang atau nyejer wayang, yakni proses menata dan memperkenalkan tokoh-tokoh yang akan mengisi jagat cerita.

Dalam konteks Wayang Kulit Style Bebadungan, tahap ini tidak hanya berfungsi sebagai pengenalan karakter, tetapi juga sebagai ritme awal yang menyelaraskan energi dan dramaturgi artistik menuju puncak pertunjukan.

BEBER WAYANG: MISTERI DAN IMAJINASI

Lalu tibalah pada bagian yang paling menarik yaitu beber wayang. Setelah kayonan ditancapkan, dalang tidak langsung memainkan tokoh utama. Ia justru menampilkan wayang dengan menempelkan bagian belakang wayang, ditempel ke kelir tanpa menampilkan wajahnya secara jelas. Hanya bayangan samar dan tubuhnya yang terlihat.

Inilah jurus ‘teater misteri’ ala dalang Bebadungan. Bayangan menjadi bahasa utama. Penonton dibuat penasaran, dibiarkan bertanya-tanya “Wayang nyen ento ?,, arjuna? Sutasoma ?“

Menurut Agung Aji Dalang, seniman pedalangan style Bebadungan dari Kuta, teknik ini adalah hasil dari kepekaan dalang terhadap rasa dan psikologi penonton. Dalam beber wayang, dalang menabur teka-teki, menyusun ketegangan, dan menciptakan kedalaman dramaturgi melalui hal yang sederhana namun penuh makna.

Beber wayang juga adalah cara dalang memperkenalkan tokoh secara simbolik, sebagai entitas yang akan berperan besar dalam cerita. Sebelum mereka tampil sebagai “aktor”, mereka dihadirkan dalam bentuk “ide”, siluet, dan potensi”. Ini menambah lapisan visual dan filosofis dari pementasan, menjadikannya bukan sekadar hiburan, tapi pengalaman teater total (total theatre).

Setelah tokoh utama diperkenalkan, barulah keropak dikosongkan, dan satu per satu wayang mulai dicabut untuk memasuki bagian pengembangan lakon.

Apa yang kita pelajari dari bagian-bagian awal ini?

Bahwa dalang Bebadungan adalah pwnata misteri, penyair visual, dan manipulator emosi. Mereka menguasai irama, ritus, dan rasa. Bahkan sebelum cerita dimulai, mereka sudah menciptakan narasi dalam bentuk doa, simbol, gerak, dan bayangan.

Dari hentakan cepala, tari wayang kayonan, hingga beber wayang, semua adalah bagian dari sistem pertunjukan yang disusun dengan sadar dan penuh kreativitas. Dan ini sudah ada sejak dulu, jauh sebelum istilah “dramaturgi”, “teater modern”, atau “visual storytelling” populer di dunia seni pertunjukan Barat.

Wayang Kulit Style Bebadungan menunjukkan bahwa kreativitas lokal adalah bentuk kecerdasan budaya. Dalang-dalang dari Kabupaten Badung adalah seniman yang tahu betul bagaimana menghidupkan cerita, bukan hanya dengan suara dan tangan tapi juga dengan keheningan, bayangan, dan rasa penasaran.

Kini, tugas kita bukan hanya menonton. Tapi menggemakan kembali style ini dengan semangat zaman, tanpa kehilangan rohnya.

Sebab seperti kayonan yang ditancapkan di tengah, keseimbangan antara tradisi dan inovasi adalah inti dari pertunjukan wayang yang akan terus hidup. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I GUSTI MADE DARMA PUTRA

  • BACA JUGA:
Wayang Kulit Style Bebadungan, Dari Gaya Hingga Gema
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya
“Pengalangkara” : Apakah Hanya Pembuka atau Penentu Nyawa Pertunjukan Wayang Bali?
Dalang Dalam Sekat Gaya dan Style: Kreativitas yang Terkungkung atau Tradisi yang Dimuliakan?
Tags: BadungDalangpedalanganwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teman Sepanjang Perjalanan | Cerpen Putu Gede Pradipta

Next Post

Banyak Alasan untuk Tidak Membaca Buku

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Banyak Alasan untuk Tidak Membaca Buku

Banyak Alasan untuk Tidak Membaca Buku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co