2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banyak Alasan untuk Tidak Membaca Buku

Wayan Paing by Wayan Paing
June 15, 2025
in Esai
Banyak Alasan untuk Tidak Membaca Buku

Foto ilustrasi: tatkala.co

KEGIATAN membaca buku atau dengan istilah lain yang lebih mentereng: kegiatan literasi, sepertinya mengalami pertumbuhan yang cukup sulit. Kalau di era tahun 90-an sampai 2000-an awal ketika buku masih merupakan barang mahal dan susah dijangkau, alasan untuk tidak membaca buku, ya tidak mempunyai kemampuan membeli buku. Alasan lainnya, perpustakaan jarang dan jauh, toko buku juga langka terutama di daerah-daerah pinggiran. Alasan yang sempurna untuk menjauhkan diri dari buku dan kegiatan membaca secara umum.

Pada kondisi tersebut, cita-cita luhur mulai bertumbuhan: kalau sudah kerja, sebagian penghasilan akan disisihkan untuk membeli buku. Sebuah cita-cita adi luhung dan terlihat amat menyilaukan menyilaukan mata. Kenyataannya, cita-cita tersebut direalisasikan dengan gemilang.

Banyak buku diadakan setelah menikmati buah kerja berupa penghasilan. Sebuah perpustakaan mini di pojok ruang tamu tampak mungil dan kurang memuaskan. Upaya selanjutnya adalah membuat sebuah ruangan khusus, layaknya kamar suci, yang isinya berbagai macam buku tentang segala pernik kehidupan. Mulai dari sejarah, psikologi, antropologi, adat, hukum, dan lingkungan tertata rapi dan tampak memuaskan mata.

Bahkan beberapa menjadi barang antik yang tidak boleh disentuh sembarangan. Sama rapinya dengan halaman-halaman buku yang sama sekali tidak tersentuh. Bahkan ketika sampah plastik menjadi perhatian khusus dengan berbagai aturannya, sampul pembungkus buku dari plastik belum dilepas setelah belasan tahun.

Alasannya simpel: sibuk mengais rejeki. Alasan ikonik lainnya: tidak ada yang sesuai dengan bidang kerja yang digeluti. Alasan remeh lainnya: tidak membawa faedah. Waduh!

Cerita-cerita langka beberapa orang yang berkeliling dari satu toko buku ke toko buku lainnya untuk membaca beberapa halaman buku yang tidak mampu dibelinya, kemudian dilanjutkan membacanya di toko buku lain, dan begitu seterusnya sampai satu buku tuntas di baca, seolah menjadi mitos yang sangat sulit dipercaya. Jangankan ada upaya membuktikan, dipercaya saja tidak. Bila ada upaya untuk mendengungkan cerita itu lagi, jawaban singkatnya sudah ada: lahir salah jaman. Duh!

Cerita kemudian berlanjut. Saat memasuki kehidupan rumah tangga, alasan mengurus anak, mempersiapkan kehidupan yang lebih layak buat penerus, dan tetek bengek lainnya seolah menjadi alasan yang empuk untuk menjauh dari kegiatan membaca buku.

Tentu kebiasaan yang akan menjadi sarang tiruan yang mudah bagi anak-anak kita di rumah. Buat apa baca buku, toh lingkungan keluarga tidak menunjukkan hal yang demikian. Mungkin itulah yang muncul dalam benak anak-anak di rumah. Sebuah situasi yang membuat kata-kata orang tua kepada anaknya untuk belajar apalagi membaca akan mental dengan mudahnya.

Parahnya, kondisi itu dibarengi dengan upaya untuk menyalahkan situasi. Anak-anak makin susah di atur, perkembangan jaman semakin sulit dibendung, perkembangan teknologi membuat segalanya mudah tanpa usaha, dan terakhir, pemerintah yang tidak bisa mengurus masa depan generasinya. Situasi parah yang berujung pasrah.

Saat jaman semakin mendekatkan kita dengan buku melalui digitalisasi, kenyataannya semakin miris. Persis pertalian keluarga. Saat kita merantau agak jauh, tidak jauh-jauh amat, saat pulang kampung, sesempat-sempatnya kita akan berkunjung ke rumah kakek nenek, paman, atau saudara jauh lainnya.

Saat sudah tinggal di kampung halaman, anggapan akan banyak waktu untuk berkunjung malah membuat intensitas kunjungan semakin jarang. Sama halnya dengan membaca buku, dengan digitalisasi, banyak buku mampu dijangkau dengan mudah. Akan tetapi, anggapan semuanya sudah ada dalam genggaman, kapan saja perlu akan selalu ada, malah membuat waktu terbuang dengan kegiatan lain yang tidak sesuai rencana: mengisi waktu luang dengan membaca buku yang sangat mudah didapat saat ini.

Situasi tampak semakin runyam ketika bantahan-bantahan mulai muncul. Bukankah saat ini semakin banyak orang menghabiskan waktunya untuk membaca, setiap hari dilalui dengan membaca. Serbuah berita media soaial yang semakin marak membuat kegiatan membaca sulit dihindarkan.

Cek saja media sosial, berapa berita yang dalam hitungan detik diteruskan terus menerus sampai viral, bukankah hal itu akan membuat orang semakin banyak menggunakan waktunya untuk membaca. Bahkan setiap orang berlomba-lomba menuliskan statusnya di media sosial untuk dibaca orang lain. Berapa air mata yang mengucur setiap saat, iya, setiap saat, hitungannya bukan lagi hari, tapi detik, ketika membaca status atau berita sedih mengharu biru.

Berapa orang yang kemudian sakit perut menertawakan hal-hal lucu yang berseliweran setiap detiknya, dan berapa orang yang kemudian terpancing amarah setelah membaca sebuah berita. Bantahan-bantahan itu menghunjam dengan telak kemudian terhenyak dengan satu tangkisan: betapa dalamnya kamu membaca sebelum mengunyah, menelan, dan meneruskan sebuah informasi di media sosial?

Ambil saja sebuah contoh kecil, ketika di suatu daerah (lokalan) tersiar kabar pernikahan yang signifikan usianya, misalkan.

Apakah akan terlintas dalam pikiran kita tentang novel Siti Nurbaya? Apakah timbul pertanyaan, si mempelai manula berupaya sedemikian rupa layaknya Datuk Maringgih untuk mendapatkan gadis impiannya?  Ataukah si gadis belia nantinya akan mati dan dikuburkan bersebelahan dengan pemuda impiannya? Jawabannya, sepertinya tidak.

Sebab kesimpulan akhir yang kemudian berpendar cukup singkat: begitulah cara memandang dan memanfaatkan uang di jaman sekarang. Keduanya beruntung! Yang tidak beruntung adalah pembanyanya yang berdecak iri (mungkin).

Lalu, kapan sebenarnya kegiatan membaca buku menjadi sebuah kebutuhan? Jawaban yang tampaknya mudah: tentu saja mahasiswa–mahasiswa yang akan menyelesaikan masa studinya. Setidaknya, beberapa semester akhir atau semester-semester tambahan setelah akhir, mereka akan dipaksa membaca agar tugas akhirnya tuntas dengan gemilang.

Semoga. Akan tetapi, walau sangat-sangat sedikit, ada juga yang mengakhiri masa kuliah di saat-saat paksaan membaca itu tiba. 

Ah! Ini adalah catatan untuk diri sendiri, yang lain mohon jangan merasa disentuh. [T]

Penulis: Wayan Paing
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Buku “Identitas Lintas Budaya: Jejak Jepang dalam Teks Sastrawan Bali” Memperkaya Perspektif Kajian Sastra di Bali
Empat Area Kajian Sastra Pariwisata Menurut Prof. Darma Putra
“Stigma Sastra Sayembara” Karya I Nyoman Darma Putra : Selalu Tiada Terduga Diksi dan Terminologinya
Lewat “Heterogenitas Sastra di Bali”, Darma Putra Raih Penghargaan Sastra Kemendikbudristek
Tags: Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayang Style Bebadungan: Dramaturgi Awal dan Strategi Kesakralan

Next Post

Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co