23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banyak Alasan untuk Tidak Membaca Buku

Wayan Paing by Wayan Paing
June 15, 2025
in Esai
Banyak Alasan untuk Tidak Membaca Buku

Foto ilustrasi: tatkala.co

KEGIATAN membaca buku atau dengan istilah lain yang lebih mentereng: kegiatan literasi, sepertinya mengalami pertumbuhan yang cukup sulit. Kalau di era tahun 90-an sampai 2000-an awal ketika buku masih merupakan barang mahal dan susah dijangkau, alasan untuk tidak membaca buku, ya tidak mempunyai kemampuan membeli buku. Alasan lainnya, perpustakaan jarang dan jauh, toko buku juga langka terutama di daerah-daerah pinggiran. Alasan yang sempurna untuk menjauhkan diri dari buku dan kegiatan membaca secara umum.

Pada kondisi tersebut, cita-cita luhur mulai bertumbuhan: kalau sudah kerja, sebagian penghasilan akan disisihkan untuk membeli buku. Sebuah cita-cita adi luhung dan terlihat amat menyilaukan menyilaukan mata. Kenyataannya, cita-cita tersebut direalisasikan dengan gemilang.

Banyak buku diadakan setelah menikmati buah kerja berupa penghasilan. Sebuah perpustakaan mini di pojok ruang tamu tampak mungil dan kurang memuaskan. Upaya selanjutnya adalah membuat sebuah ruangan khusus, layaknya kamar suci, yang isinya berbagai macam buku tentang segala pernik kehidupan. Mulai dari sejarah, psikologi, antropologi, adat, hukum, dan lingkungan tertata rapi dan tampak memuaskan mata.

Bahkan beberapa menjadi barang antik yang tidak boleh disentuh sembarangan. Sama rapinya dengan halaman-halaman buku yang sama sekali tidak tersentuh. Bahkan ketika sampah plastik menjadi perhatian khusus dengan berbagai aturannya, sampul pembungkus buku dari plastik belum dilepas setelah belasan tahun.

Alasannya simpel: sibuk mengais rejeki. Alasan ikonik lainnya: tidak ada yang sesuai dengan bidang kerja yang digeluti. Alasan remeh lainnya: tidak membawa faedah. Waduh!

Cerita-cerita langka beberapa orang yang berkeliling dari satu toko buku ke toko buku lainnya untuk membaca beberapa halaman buku yang tidak mampu dibelinya, kemudian dilanjutkan membacanya di toko buku lain, dan begitu seterusnya sampai satu buku tuntas di baca, seolah menjadi mitos yang sangat sulit dipercaya. Jangankan ada upaya membuktikan, dipercaya saja tidak. Bila ada upaya untuk mendengungkan cerita itu lagi, jawaban singkatnya sudah ada: lahir salah jaman. Duh!

Cerita kemudian berlanjut. Saat memasuki kehidupan rumah tangga, alasan mengurus anak, mempersiapkan kehidupan yang lebih layak buat penerus, dan tetek bengek lainnya seolah menjadi alasan yang empuk untuk menjauh dari kegiatan membaca buku.

Tentu kebiasaan yang akan menjadi sarang tiruan yang mudah bagi anak-anak kita di rumah. Buat apa baca buku, toh lingkungan keluarga tidak menunjukkan hal yang demikian. Mungkin itulah yang muncul dalam benak anak-anak di rumah. Sebuah situasi yang membuat kata-kata orang tua kepada anaknya untuk belajar apalagi membaca akan mental dengan mudahnya.

Parahnya, kondisi itu dibarengi dengan upaya untuk menyalahkan situasi. Anak-anak makin susah di atur, perkembangan jaman semakin sulit dibendung, perkembangan teknologi membuat segalanya mudah tanpa usaha, dan terakhir, pemerintah yang tidak bisa mengurus masa depan generasinya. Situasi parah yang berujung pasrah.

Saat jaman semakin mendekatkan kita dengan buku melalui digitalisasi, kenyataannya semakin miris. Persis pertalian keluarga. Saat kita merantau agak jauh, tidak jauh-jauh amat, saat pulang kampung, sesempat-sempatnya kita akan berkunjung ke rumah kakek nenek, paman, atau saudara jauh lainnya.

Saat sudah tinggal di kampung halaman, anggapan akan banyak waktu untuk berkunjung malah membuat intensitas kunjungan semakin jarang. Sama halnya dengan membaca buku, dengan digitalisasi, banyak buku mampu dijangkau dengan mudah. Akan tetapi, anggapan semuanya sudah ada dalam genggaman, kapan saja perlu akan selalu ada, malah membuat waktu terbuang dengan kegiatan lain yang tidak sesuai rencana: mengisi waktu luang dengan membaca buku yang sangat mudah didapat saat ini.

Situasi tampak semakin runyam ketika bantahan-bantahan mulai muncul. Bukankah saat ini semakin banyak orang menghabiskan waktunya untuk membaca, setiap hari dilalui dengan membaca. Serbuah berita media soaial yang semakin marak membuat kegiatan membaca sulit dihindarkan.

Cek saja media sosial, berapa berita yang dalam hitungan detik diteruskan terus menerus sampai viral, bukankah hal itu akan membuat orang semakin banyak menggunakan waktunya untuk membaca. Bahkan setiap orang berlomba-lomba menuliskan statusnya di media sosial untuk dibaca orang lain. Berapa air mata yang mengucur setiap saat, iya, setiap saat, hitungannya bukan lagi hari, tapi detik, ketika membaca status atau berita sedih mengharu biru.

Berapa orang yang kemudian sakit perut menertawakan hal-hal lucu yang berseliweran setiap detiknya, dan berapa orang yang kemudian terpancing amarah setelah membaca sebuah berita. Bantahan-bantahan itu menghunjam dengan telak kemudian terhenyak dengan satu tangkisan: betapa dalamnya kamu membaca sebelum mengunyah, menelan, dan meneruskan sebuah informasi di media sosial?

Ambil saja sebuah contoh kecil, ketika di suatu daerah (lokalan) tersiar kabar pernikahan yang signifikan usianya, misalkan.

Apakah akan terlintas dalam pikiran kita tentang novel Siti Nurbaya? Apakah timbul pertanyaan, si mempelai manula berupaya sedemikian rupa layaknya Datuk Maringgih untuk mendapatkan gadis impiannya?  Ataukah si gadis belia nantinya akan mati dan dikuburkan bersebelahan dengan pemuda impiannya? Jawabannya, sepertinya tidak.

Sebab kesimpulan akhir yang kemudian berpendar cukup singkat: begitulah cara memandang dan memanfaatkan uang di jaman sekarang. Keduanya beruntung! Yang tidak beruntung adalah pembanyanya yang berdecak iri (mungkin).

Lalu, kapan sebenarnya kegiatan membaca buku menjadi sebuah kebutuhan? Jawaban yang tampaknya mudah: tentu saja mahasiswa–mahasiswa yang akan menyelesaikan masa studinya. Setidaknya, beberapa semester akhir atau semester-semester tambahan setelah akhir, mereka akan dipaksa membaca agar tugas akhirnya tuntas dengan gemilang.

Semoga. Akan tetapi, walau sangat-sangat sedikit, ada juga yang mengakhiri masa kuliah di saat-saat paksaan membaca itu tiba. 

Ah! Ini adalah catatan untuk diri sendiri, yang lain mohon jangan merasa disentuh. [T]

Penulis: Wayan Paing
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Buku “Identitas Lintas Budaya: Jejak Jepang dalam Teks Sastrawan Bali” Memperkaya Perspektif Kajian Sastra di Bali
Empat Area Kajian Sastra Pariwisata Menurut Prof. Darma Putra
“Stigma Sastra Sayembara” Karya I Nyoman Darma Putra : Selalu Tiada Terduga Diksi dan Terminologinya
Lewat “Heterogenitas Sastra di Bali”, Darma Putra Raih Penghargaan Sastra Kemendikbudristek
Tags: Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayang Style Bebadungan: Dramaturgi Awal dan Strategi Kesakralan

Next Post

Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co