14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banyak Alasan untuk Tidak Membaca Buku

Wayan Paing by Wayan Paing
June 15, 2025
in Esai
Banyak Alasan untuk Tidak Membaca Buku

Foto ilustrasi: tatkala.co

KEGIATAN membaca buku atau dengan istilah lain yang lebih mentereng: kegiatan literasi, sepertinya mengalami pertumbuhan yang cukup sulit. Kalau di era tahun 90-an sampai 2000-an awal ketika buku masih merupakan barang mahal dan susah dijangkau, alasan untuk tidak membaca buku, ya tidak mempunyai kemampuan membeli buku. Alasan lainnya, perpustakaan jarang dan jauh, toko buku juga langka terutama di daerah-daerah pinggiran. Alasan yang sempurna untuk menjauhkan diri dari buku dan kegiatan membaca secara umum.

Pada kondisi tersebut, cita-cita luhur mulai bertumbuhan: kalau sudah kerja, sebagian penghasilan akan disisihkan untuk membeli buku. Sebuah cita-cita adi luhung dan terlihat amat menyilaukan menyilaukan mata. Kenyataannya, cita-cita tersebut direalisasikan dengan gemilang.

Banyak buku diadakan setelah menikmati buah kerja berupa penghasilan. Sebuah perpustakaan mini di pojok ruang tamu tampak mungil dan kurang memuaskan. Upaya selanjutnya adalah membuat sebuah ruangan khusus, layaknya kamar suci, yang isinya berbagai macam buku tentang segala pernik kehidupan. Mulai dari sejarah, psikologi, antropologi, adat, hukum, dan lingkungan tertata rapi dan tampak memuaskan mata.

Bahkan beberapa menjadi barang antik yang tidak boleh disentuh sembarangan. Sama rapinya dengan halaman-halaman buku yang sama sekali tidak tersentuh. Bahkan ketika sampah plastik menjadi perhatian khusus dengan berbagai aturannya, sampul pembungkus buku dari plastik belum dilepas setelah belasan tahun.

Alasannya simpel: sibuk mengais rejeki. Alasan ikonik lainnya: tidak ada yang sesuai dengan bidang kerja yang digeluti. Alasan remeh lainnya: tidak membawa faedah. Waduh!

Cerita-cerita langka beberapa orang yang berkeliling dari satu toko buku ke toko buku lainnya untuk membaca beberapa halaman buku yang tidak mampu dibelinya, kemudian dilanjutkan membacanya di toko buku lain, dan begitu seterusnya sampai satu buku tuntas di baca, seolah menjadi mitos yang sangat sulit dipercaya. Jangankan ada upaya membuktikan, dipercaya saja tidak. Bila ada upaya untuk mendengungkan cerita itu lagi, jawaban singkatnya sudah ada: lahir salah jaman. Duh!

Cerita kemudian berlanjut. Saat memasuki kehidupan rumah tangga, alasan mengurus anak, mempersiapkan kehidupan yang lebih layak buat penerus, dan tetek bengek lainnya seolah menjadi alasan yang empuk untuk menjauh dari kegiatan membaca buku.

Tentu kebiasaan yang akan menjadi sarang tiruan yang mudah bagi anak-anak kita di rumah. Buat apa baca buku, toh lingkungan keluarga tidak menunjukkan hal yang demikian. Mungkin itulah yang muncul dalam benak anak-anak di rumah. Sebuah situasi yang membuat kata-kata orang tua kepada anaknya untuk belajar apalagi membaca akan mental dengan mudahnya.

Parahnya, kondisi itu dibarengi dengan upaya untuk menyalahkan situasi. Anak-anak makin susah di atur, perkembangan jaman semakin sulit dibendung, perkembangan teknologi membuat segalanya mudah tanpa usaha, dan terakhir, pemerintah yang tidak bisa mengurus masa depan generasinya. Situasi parah yang berujung pasrah.

Saat jaman semakin mendekatkan kita dengan buku melalui digitalisasi, kenyataannya semakin miris. Persis pertalian keluarga. Saat kita merantau agak jauh, tidak jauh-jauh amat, saat pulang kampung, sesempat-sempatnya kita akan berkunjung ke rumah kakek nenek, paman, atau saudara jauh lainnya.

Saat sudah tinggal di kampung halaman, anggapan akan banyak waktu untuk berkunjung malah membuat intensitas kunjungan semakin jarang. Sama halnya dengan membaca buku, dengan digitalisasi, banyak buku mampu dijangkau dengan mudah. Akan tetapi, anggapan semuanya sudah ada dalam genggaman, kapan saja perlu akan selalu ada, malah membuat waktu terbuang dengan kegiatan lain yang tidak sesuai rencana: mengisi waktu luang dengan membaca buku yang sangat mudah didapat saat ini.

Situasi tampak semakin runyam ketika bantahan-bantahan mulai muncul. Bukankah saat ini semakin banyak orang menghabiskan waktunya untuk membaca, setiap hari dilalui dengan membaca. Serbuah berita media soaial yang semakin marak membuat kegiatan membaca sulit dihindarkan.

Cek saja media sosial, berapa berita yang dalam hitungan detik diteruskan terus menerus sampai viral, bukankah hal itu akan membuat orang semakin banyak menggunakan waktunya untuk membaca. Bahkan setiap orang berlomba-lomba menuliskan statusnya di media sosial untuk dibaca orang lain. Berapa air mata yang mengucur setiap saat, iya, setiap saat, hitungannya bukan lagi hari, tapi detik, ketika membaca status atau berita sedih mengharu biru.

Berapa orang yang kemudian sakit perut menertawakan hal-hal lucu yang berseliweran setiap detiknya, dan berapa orang yang kemudian terpancing amarah setelah membaca sebuah berita. Bantahan-bantahan itu menghunjam dengan telak kemudian terhenyak dengan satu tangkisan: betapa dalamnya kamu membaca sebelum mengunyah, menelan, dan meneruskan sebuah informasi di media sosial?

Ambil saja sebuah contoh kecil, ketika di suatu daerah (lokalan) tersiar kabar pernikahan yang signifikan usianya, misalkan.

Apakah akan terlintas dalam pikiran kita tentang novel Siti Nurbaya? Apakah timbul pertanyaan, si mempelai manula berupaya sedemikian rupa layaknya Datuk Maringgih untuk mendapatkan gadis impiannya?  Ataukah si gadis belia nantinya akan mati dan dikuburkan bersebelahan dengan pemuda impiannya? Jawabannya, sepertinya tidak.

Sebab kesimpulan akhir yang kemudian berpendar cukup singkat: begitulah cara memandang dan memanfaatkan uang di jaman sekarang. Keduanya beruntung! Yang tidak beruntung adalah pembanyanya yang berdecak iri (mungkin).

Lalu, kapan sebenarnya kegiatan membaca buku menjadi sebuah kebutuhan? Jawaban yang tampaknya mudah: tentu saja mahasiswa–mahasiswa yang akan menyelesaikan masa studinya. Setidaknya, beberapa semester akhir atau semester-semester tambahan setelah akhir, mereka akan dipaksa membaca agar tugas akhirnya tuntas dengan gemilang.

Semoga. Akan tetapi, walau sangat-sangat sedikit, ada juga yang mengakhiri masa kuliah di saat-saat paksaan membaca itu tiba. 

Ah! Ini adalah catatan untuk diri sendiri, yang lain mohon jangan merasa disentuh. [T]

Penulis: Wayan Paing
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Buku “Identitas Lintas Budaya: Jejak Jepang dalam Teks Sastrawan Bali” Memperkaya Perspektif Kajian Sastra di Bali
Empat Area Kajian Sastra Pariwisata Menurut Prof. Darma Putra
“Stigma Sastra Sayembara” Karya I Nyoman Darma Putra : Selalu Tiada Terduga Diksi dan Terminologinya
Lewat “Heterogenitas Sastra di Bali”, Darma Putra Raih Penghargaan Sastra Kemendikbudristek
Tags: Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayang Style Bebadungan: Dramaturgi Awal dan Strategi Kesakralan

Next Post

Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co