2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

I Wayan Artika by I Wayan Artika
June 15, 2025
in Esai
Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

Foto ilustrasi: tatkala.co

tin.ja,  kotoran atau hasil buangan yang dikeluarkan dari alat pencernaan ke luar tubuh melalui dubur, mengandung zat-zat makanan yang tidak dapat dicernakan dan zat-zat yang tidak berasal dari makanan, misalnya jaringan yang aus, mikroba yang mati; feses; kotoran i (KBBI)

SAYA akan memberikan judul tulisan ini tinja.  Tinja adalah entah kata dari bahasa mana karena dalam KBBI tidak disebut asal kata ini. Siapapun tahu apa artinya. Mohon maaf karena akan menulis tentang tinja dan bukan tentang topik-topik yang biasa saya tulis. Keinginan berbagi pengalaman di tengah ramainya program pengolahan sampah berbasis sumber yang menjadi program pemerintah di Bali dan program ini sebenarnya ada dalam kerangka besar permasalahan Bali yaitu sampah terutama sampah plastik.

Saya tinggal di desa dan tidak ada program pemerintah desa mengangkut sampah ke TPA  tapi membuang sampah sendiri di suatu tempat karena pada masa tahun-tahun 1970-an itu masih sangat sedikit plastik. Sebagian besar sampah yang dihasilkan di desa adalah sampah organik, sampah alam, sampah yang mudah sekali busuk dalam waktu yang singkat. Desa tidak tidak mengalami persoalan sampah.

Kota telah mengembangkan program lingkungan atau program kebersihan misalnya dengan adanya TPA. Sampah dari sumber dikumpulkan di satu bak beton, sebagai TPA perantara. Ada petugas kebersihan, truk sampah. Orang kota dilayani, tidak perlu buang sampah.  Sampah tersebut ditempatkan di depan rumahnya. Nanti akan ada yang mengambil.

Model pengelolaan sampah itu pda awalnya diyakini akan menyelesaikan masalah persampahan di kota. Sementara itu, model tersebut dibawa ke desa juga. Walaupun agak lambat, desa juga kena program ini, mengambil program model penanganan sampah yang ada di kota.  Masyarakat tentu tanpa pikir panjang menyambut.

Sebelum ada TPA dan sebelum ada plastik, tidak ada persoalan sampah. Model petugas sampah, truk, bak sampah perantara, dan TPA adalah cikal bakal problem sampah. Model pengelolaan sampah urban tersebut membuat warga kota atau pendudukan desa manja dan bergantung pada pihak pemerintah untuk menangani sampahnya sendiri.  Masyarakat menganggap sampah itu barang tidak berguna, harus dibuang, yang penting bukan di pekarangannya sendiri.  Sampah dibuang di manapun dengan cara apapun. Yang penting tidak di rumah sendiri. Tanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan tidak ada.

Program kebersihan dari kota atau di kota-kota dengan adanya pengangkutan, adanya TPA, ternyata membuat masyarakat manja dan masyarakat tidak lagi bertanggung jawab sama sekali dengan sampahnya. Sampah seolah menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Kebiasaan ini mengubah pandangan masyarakat Bali terhadap sampah dan sampah kadang-kadang tidak ditangani dengan baik dan bisa dibuang seenaknya entah di mana asal jangan di wilayahnya sendiri atau di lingkungannya sendiri. 

Karena itu, ketika mereka ke pura dan pura itu adalah bukan lingkungannya sehingga sampah yang mereka bawa dari makanan atau sesajen pun akan dibuang di lingkungan pura atau di sekitarnya. Tidak ada keinginan untuk membawa kembali sampah itu ke rumah dan untuk diolah di rumah masing-masing.

Pengolahan sampah yang berbasis TPA gagal dan menimbulkan banyak persoalan. Kini ada program pengolahan sampah berbasis sumber. Sebenarnya bukan hal baru. Pada masa lalu masyarakat Bali mengelola sampah sendiri, dengan penuh tanggung jawab menjaga lingkungannya bersih dan asri. Demikian pula untuk menangani sampah yang dihasilkan oleh setiap anggota keluarga: tinja.

Jangan lupa juga setiap individu penghasil sampah atau kotoran atau tinja. Tinja yang dihasilkan oleh setiap orang setiap hari dikelola dengan teknologi kakus, WC, atau toilet. Tidak ada yang bergantung bahwa tinja itu harus dibuang oleh dinas kebersihan ke suatu tempat. Pengelolaan tinja dengan kultur sanitasi dan interior arsitektur, dapat menjadi model pengelolaan sampah yang sudah terbukti sukses dan tidak menimbulkan persoalan lingkungan.

Pengelolaan tinja dilakukan sendiri berbasis keluarga. Setiap keluarga bertanggung jawab kepada tinjanya masing-masing dan bahkan itu aman dan tidak mengganggu lingkungan karena sudah ada standardisasinya, secara kesehatan, interior, dan arsitektur. Bercermin dari sini sebenarnya pemerintah bisa melihat sampah sebagai seperti tinja. Sehingga, program pengelolaan sampah tidak lagi harus ditangani pemerintah. Kembalikan kepada keluarga produsen sampah.

Mengapa persoalan sampah ini menjadi pelik karena kesalahan pemerintah memanjakan dan mengubah kebiasaan masyarakat terhadap sampah. Bukan kebiasaan hidup bersih dalam arti luas tetapi tetapi kebiasaan membuang sampah agar tidak di rumahnya. Sampah itu tidak berguna dan karena itu harus dibuang entah di mana dan dengan cara apapun. Sikap ini kemudian dikembangkan atau dibentuk oleh model penanganan sampah yang selama ini dilakukan di seluruh dunia.

Kembali kepada tinja di mana ini kontradiktif dengan sampah-sampah yang dibuang dan dibiarkan orang lain atau pemerintah mengambil. Tinja kelola dengan baik dan tidak ada persoalan.  Jika WC-nya atau tangki tinjanya sudah penuh tinggal memanggil jasa penguras WC. Biayanya tidak dibebankan kepada pemerintah tetapi keluarga bersangkutan.  

Nah model pengelolaan sampah tidak perlu muluk-muluk. Pengolahan sampah berbasis keluarga sebagaimana keluarga tersebut mengelola tinja mereka. Cuma di sini perlu diberi catatan, tinja memang berbeda teksturnya dan memungkinkan untuk disimpan langsung pada suatu tempat dan irit tempat.  Namun sampah mungkin sedikit berbeda.

Sebenarnya hanya perlu memotong atau mencincang menjadi ukuran lebih kecil sehingga lebih cepat busuk. Dalam hal ini sudah terlalu klise mengenal kategori sampah plastik dan sampah organik. Ada perbedaan antara sampah dan tinja. Tinja secara tekstur, sudah lebih mudah dikelola. Asitektur tinja itu sudah bagus, sudah jelas dan terstandar dengan adanya berbagai toilet, interior toilet,  bentuknya, jenisnya, dan dia menjadi bagian yang penting dari rumah. Tetapi, pengolahan sampah berbasis sumber atau berbasis keluarga masih belum ada arsitekturnya. Biopori sudah mengarah ke sana. Juga, teba modern.

Karena memang sampah itu beragam. Paling tidak ada dua. Sebenarnya hanya ada dua jenis; sampah yang mudah busuk dengan sendirinya dan sampah yang susah busuk. Besi adalah sampah yang mudah busuk tetapi akan busuk cepat kalau berkarat. Sebaliknya plastik ini tidak mudah busuk dan ada juga seperti gabus, streofom, tekstil, dan karet (ban). Dalam lahan yang terbatas tidak mampu mengolahnya. Memperlakukannya dengan baik, sampah-sampah yang tidak mudah busuk, dicuci dulu sebelum disimpan.

Sampah-sampah plastik itu dikemas. Setelah dikemas disimpan pada suatu tempat, sebelum dicarikan tempat untuk menjualnya, seperti rongsokan, rombengan, atau bank sampah. Dengan demikian sampah yang dihasilkan itu bersih dan mudah disimpan. Sebenarnya kalau murni sampah plastik, sangat irit tempat.

Cara menyimpan yang paling gampang adalah dipilah tentu saja, kemudian dia dimasukkan ke dalam kantong plastik yang besar dan plastik sangat irit tempat. Dia bisa tahan dalam waktu satu tahun, tidak apa-apa. Nah setelah cukup mungkin baru kita akan jual sehingga dengan demikian sampah itu tidak bercampur dan tidak kotor.

Jadi inilah yang dimaksud bahwa pengelolaan sampah berbasis keluarga atau sumber penghasil sampah. Bisa meniru cara menangani tinja. Pokoknya pemerintah tidak perlu terlalu pusing memikirkan TPA, pengangkutan dengan truk, dan lain-lain. Yang perlu pemerintah siapkan adalah tempat penampungan sampah plastik saja.

Pemerintah bisa membeli mesin press yang besar sehingga sampah plastik warga bisa dipress dan dipadatkan agar sedikit menghabiskan tempat ketika disimpan sebelum diolah atau didaur ulang. Pemerintah cukup mendirikan bank-bank sampah saja.  Pemerintah membeli sampah masyarakat kemudian sampah masyarakat itu disimpan untuk sementara, atau diolah dan pada ujungnya dicarikan lagi pemasarannya.

Dengan demikian, sampah yang dihasilkan oleh masyarakat bernilai ekonomi, walaupun tidak terlalu tinggi. Namun bukan nilai ekonominya yang tonjolkan tetapi nilai lingkungannya. Sampah itu terkelola bukan di satu tangan tetapi merata. Semua orang bertanggung jawab, semua orang mengelola sampahnya. Sekali lagi analoginya di setiap rumah ada WC, ada toilet.

Sekarang mungkin sudah ditemukan arsitektur pengelolaan sampah, misalnya biopori dan teba modern. Juga ada yang lebih lama dikenal, membuat kompos atau dengan perkembangan terbaru, membuat eco enzim.  Jadi dengan begitu sebenarnya tidak ribet. Persoalan sampah karena membiarkan satu pihak lain yang bertanggung jawab. Bukan karena pemerintah lemah. Nyatanya pemerintah gagal  karena menempuh metode yang salah. Memanjakan masyarakat. Tenaga kerja pemerintah sangat terbatas. Masyarakat ribuan. Cara terbaik mengolah sampah sekarang adalah seperti mengelola tinja.  [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Pelajaran Daur Ulang Sampah dari Rumah Plastik di Desa Petandakan
Sampah, Pembagian Tugas, dan Tata Kelola : Belajar dari Oshaki Jepang
Sampah adalah Musuh Keindahan Bali
Tags: daur ulang sampah plastikSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banyak Alasan untuk Tidak Membaca Buku

Next Post

Pesta Perilisan Buku “(Se-)Putar Musik” dari Beatriff: Ruang Produksi Pengetahuan yang Lebih Inklusif

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Perilisan Buku “(Se-)Putar Musik” dari Beatriff: Ruang Produksi Pengetahuan yang Lebih Inklusif

Pesta Perilisan Buku “(Se-)Putar Musik” dari Beatriff: Ruang Produksi Pengetahuan yang Lebih Inklusif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co