12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

I Wayan Artika by I Wayan Artika
June 15, 2025
in Esai
Mengelola Sampah Berbasis Sumber, Seperti Mengelola Tinja

Foto ilustrasi: tatkala.co

tin.ja,  kotoran atau hasil buangan yang dikeluarkan dari alat pencernaan ke luar tubuh melalui dubur, mengandung zat-zat makanan yang tidak dapat dicernakan dan zat-zat yang tidak berasal dari makanan, misalnya jaringan yang aus, mikroba yang mati; feses; kotoran i (KBBI)

SAYA akan memberikan judul tulisan ini tinja.  Tinja adalah entah kata dari bahasa mana karena dalam KBBI tidak disebut asal kata ini. Siapapun tahu apa artinya. Mohon maaf karena akan menulis tentang tinja dan bukan tentang topik-topik yang biasa saya tulis. Keinginan berbagi pengalaman di tengah ramainya program pengolahan sampah berbasis sumber yang menjadi program pemerintah di Bali dan program ini sebenarnya ada dalam kerangka besar permasalahan Bali yaitu sampah terutama sampah plastik.

Saya tinggal di desa dan tidak ada program pemerintah desa mengangkut sampah ke TPA  tapi membuang sampah sendiri di suatu tempat karena pada masa tahun-tahun 1970-an itu masih sangat sedikit plastik. Sebagian besar sampah yang dihasilkan di desa adalah sampah organik, sampah alam, sampah yang mudah sekali busuk dalam waktu yang singkat. Desa tidak tidak mengalami persoalan sampah.

Kota telah mengembangkan program lingkungan atau program kebersihan misalnya dengan adanya TPA. Sampah dari sumber dikumpulkan di satu bak beton, sebagai TPA perantara. Ada petugas kebersihan, truk sampah. Orang kota dilayani, tidak perlu buang sampah.  Sampah tersebut ditempatkan di depan rumahnya. Nanti akan ada yang mengambil.

Model pengelolaan sampah itu pda awalnya diyakini akan menyelesaikan masalah persampahan di kota. Sementara itu, model tersebut dibawa ke desa juga. Walaupun agak lambat, desa juga kena program ini, mengambil program model penanganan sampah yang ada di kota.  Masyarakat tentu tanpa pikir panjang menyambut.

Sebelum ada TPA dan sebelum ada plastik, tidak ada persoalan sampah. Model petugas sampah, truk, bak sampah perantara, dan TPA adalah cikal bakal problem sampah. Model pengelolaan sampah urban tersebut membuat warga kota atau pendudukan desa manja dan bergantung pada pihak pemerintah untuk menangani sampahnya sendiri.  Masyarakat menganggap sampah itu barang tidak berguna, harus dibuang, yang penting bukan di pekarangannya sendiri.  Sampah dibuang di manapun dengan cara apapun. Yang penting tidak di rumah sendiri. Tanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan tidak ada.

Program kebersihan dari kota atau di kota-kota dengan adanya pengangkutan, adanya TPA, ternyata membuat masyarakat manja dan masyarakat tidak lagi bertanggung jawab sama sekali dengan sampahnya. Sampah seolah menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Kebiasaan ini mengubah pandangan masyarakat Bali terhadap sampah dan sampah kadang-kadang tidak ditangani dengan baik dan bisa dibuang seenaknya entah di mana asal jangan di wilayahnya sendiri atau di lingkungannya sendiri. 

Karena itu, ketika mereka ke pura dan pura itu adalah bukan lingkungannya sehingga sampah yang mereka bawa dari makanan atau sesajen pun akan dibuang di lingkungan pura atau di sekitarnya. Tidak ada keinginan untuk membawa kembali sampah itu ke rumah dan untuk diolah di rumah masing-masing.

Pengolahan sampah yang berbasis TPA gagal dan menimbulkan banyak persoalan. Kini ada program pengolahan sampah berbasis sumber. Sebenarnya bukan hal baru. Pada masa lalu masyarakat Bali mengelola sampah sendiri, dengan penuh tanggung jawab menjaga lingkungannya bersih dan asri. Demikian pula untuk menangani sampah yang dihasilkan oleh setiap anggota keluarga: tinja.

Jangan lupa juga setiap individu penghasil sampah atau kotoran atau tinja. Tinja yang dihasilkan oleh setiap orang setiap hari dikelola dengan teknologi kakus, WC, atau toilet. Tidak ada yang bergantung bahwa tinja itu harus dibuang oleh dinas kebersihan ke suatu tempat. Pengelolaan tinja dengan kultur sanitasi dan interior arsitektur, dapat menjadi model pengelolaan sampah yang sudah terbukti sukses dan tidak menimbulkan persoalan lingkungan.

Pengelolaan tinja dilakukan sendiri berbasis keluarga. Setiap keluarga bertanggung jawab kepada tinjanya masing-masing dan bahkan itu aman dan tidak mengganggu lingkungan karena sudah ada standardisasinya, secara kesehatan, interior, dan arsitektur. Bercermin dari sini sebenarnya pemerintah bisa melihat sampah sebagai seperti tinja. Sehingga, program pengelolaan sampah tidak lagi harus ditangani pemerintah. Kembalikan kepada keluarga produsen sampah.

Mengapa persoalan sampah ini menjadi pelik karena kesalahan pemerintah memanjakan dan mengubah kebiasaan masyarakat terhadap sampah. Bukan kebiasaan hidup bersih dalam arti luas tetapi tetapi kebiasaan membuang sampah agar tidak di rumahnya. Sampah itu tidak berguna dan karena itu harus dibuang entah di mana dan dengan cara apapun. Sikap ini kemudian dikembangkan atau dibentuk oleh model penanganan sampah yang selama ini dilakukan di seluruh dunia.

Kembali kepada tinja di mana ini kontradiktif dengan sampah-sampah yang dibuang dan dibiarkan orang lain atau pemerintah mengambil. Tinja kelola dengan baik dan tidak ada persoalan.  Jika WC-nya atau tangki tinjanya sudah penuh tinggal memanggil jasa penguras WC. Biayanya tidak dibebankan kepada pemerintah tetapi keluarga bersangkutan.  

Nah model pengelolaan sampah tidak perlu muluk-muluk. Pengolahan sampah berbasis keluarga sebagaimana keluarga tersebut mengelola tinja mereka. Cuma di sini perlu diberi catatan, tinja memang berbeda teksturnya dan memungkinkan untuk disimpan langsung pada suatu tempat dan irit tempat.  Namun sampah mungkin sedikit berbeda.

Sebenarnya hanya perlu memotong atau mencincang menjadi ukuran lebih kecil sehingga lebih cepat busuk. Dalam hal ini sudah terlalu klise mengenal kategori sampah plastik dan sampah organik. Ada perbedaan antara sampah dan tinja. Tinja secara tekstur, sudah lebih mudah dikelola. Asitektur tinja itu sudah bagus, sudah jelas dan terstandar dengan adanya berbagai toilet, interior toilet,  bentuknya, jenisnya, dan dia menjadi bagian yang penting dari rumah. Tetapi, pengolahan sampah berbasis sumber atau berbasis keluarga masih belum ada arsitekturnya. Biopori sudah mengarah ke sana. Juga, teba modern.

Karena memang sampah itu beragam. Paling tidak ada dua. Sebenarnya hanya ada dua jenis; sampah yang mudah busuk dengan sendirinya dan sampah yang susah busuk. Besi adalah sampah yang mudah busuk tetapi akan busuk cepat kalau berkarat. Sebaliknya plastik ini tidak mudah busuk dan ada juga seperti gabus, streofom, tekstil, dan karet (ban). Dalam lahan yang terbatas tidak mampu mengolahnya. Memperlakukannya dengan baik, sampah-sampah yang tidak mudah busuk, dicuci dulu sebelum disimpan.

Sampah-sampah plastik itu dikemas. Setelah dikemas disimpan pada suatu tempat, sebelum dicarikan tempat untuk menjualnya, seperti rongsokan, rombengan, atau bank sampah. Dengan demikian sampah yang dihasilkan itu bersih dan mudah disimpan. Sebenarnya kalau murni sampah plastik, sangat irit tempat.

Cara menyimpan yang paling gampang adalah dipilah tentu saja, kemudian dia dimasukkan ke dalam kantong plastik yang besar dan plastik sangat irit tempat. Dia bisa tahan dalam waktu satu tahun, tidak apa-apa. Nah setelah cukup mungkin baru kita akan jual sehingga dengan demikian sampah itu tidak bercampur dan tidak kotor.

Jadi inilah yang dimaksud bahwa pengelolaan sampah berbasis keluarga atau sumber penghasil sampah. Bisa meniru cara menangani tinja. Pokoknya pemerintah tidak perlu terlalu pusing memikirkan TPA, pengangkutan dengan truk, dan lain-lain. Yang perlu pemerintah siapkan adalah tempat penampungan sampah plastik saja.

Pemerintah bisa membeli mesin press yang besar sehingga sampah plastik warga bisa dipress dan dipadatkan agar sedikit menghabiskan tempat ketika disimpan sebelum diolah atau didaur ulang. Pemerintah cukup mendirikan bank-bank sampah saja.  Pemerintah membeli sampah masyarakat kemudian sampah masyarakat itu disimpan untuk sementara, atau diolah dan pada ujungnya dicarikan lagi pemasarannya.

Dengan demikian, sampah yang dihasilkan oleh masyarakat bernilai ekonomi, walaupun tidak terlalu tinggi. Namun bukan nilai ekonominya yang tonjolkan tetapi nilai lingkungannya. Sampah itu terkelola bukan di satu tangan tetapi merata. Semua orang bertanggung jawab, semua orang mengelola sampahnya. Sekali lagi analoginya di setiap rumah ada WC, ada toilet.

Sekarang mungkin sudah ditemukan arsitektur pengelolaan sampah, misalnya biopori dan teba modern. Juga ada yang lebih lama dikenal, membuat kompos atau dengan perkembangan terbaru, membuat eco enzim.  Jadi dengan begitu sebenarnya tidak ribet. Persoalan sampah karena membiarkan satu pihak lain yang bertanggung jawab. Bukan karena pemerintah lemah. Nyatanya pemerintah gagal  karena menempuh metode yang salah. Memanjakan masyarakat. Tenaga kerja pemerintah sangat terbatas. Masyarakat ribuan. Cara terbaik mengolah sampah sekarang adalah seperti mengelola tinja.  [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Pelajaran Daur Ulang Sampah dari Rumah Plastik di Desa Petandakan
Sampah, Pembagian Tugas, dan Tata Kelola : Belajar dari Oshaki Jepang
Sampah adalah Musuh Keindahan Bali
Tags: daur ulang sampah plastikSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banyak Alasan untuk Tidak Membaca Buku

Next Post

Pesta Perilisan Buku “(Se-)Putar Musik” dari Beatriff: Ruang Produksi Pengetahuan yang Lebih Inklusif

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Pesta Perilisan Buku “(Se-)Putar Musik” dari Beatriff: Ruang Produksi Pengetahuan yang Lebih Inklusif

Pesta Perilisan Buku “(Se-)Putar Musik” dari Beatriff: Ruang Produksi Pengetahuan yang Lebih Inklusif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co