23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayang Kulit Style Bebadungan, Dari Gaya Hingga Gema

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
June 7, 2025
in Esai
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

I Gusti Made Darma Putra

JIKA kita hendak menelusuri jejak wayang kulit style Bebadungan, maka langkah pertama yang perlu ditempuh bukanlah dengan menanyakan kapan pertama kali style ini dipentaskan? atau siapa pencetus utamanya? Sebab yang jauh lebih menggugah bukanlah penanda waktu ataupun tokoh tunggal, melainkan bagaimana perjalanan budaya di wilayah Kabupaten Badung secara kolektif mampu membentuk, mematangkan, dan akhirnya mengukuhkan style ini hingga berdiri sejajar bahkan turut memberi pengaruh nyata pada panggung pewayangan Bali secara keseluruhan.

Kabupaten Badung sendiri dikenal sebagai daerah yang kaya akan talenta seni, terutama dalam bidang Seni Pedalangan. Para Dalang di Badung memiliki keahlian yang beragam mulai dari tetikesan yang angigel, sesendon yang khas, hingga penguasaan rasa dan teknik ngantawacana yang mumpuni. Namun dalam tulisan ini, kita tidak sedang membahas kehebatan satu per satu dalangnya, melainkan hendak menelaah Style Bebadungan sebagai sebuah entitas kultural yang merepresentasikan identitas kedaerahan.

Pertama penting untuk membedakan antara style dan gaya. Style Bebadungan merujuk pada prinsip-prinsip estetika yang tumbuh dari akar budaya di Badung, ia adalah ekspresi kolektif, hasil dari dialektika ruang dan masyarakat. Sedangkan gaya dalam arti sempit lebih condong pada kepribadian masing-masing seniman dalang. Oleh karena itu, style Bebadungan adalah bingkai besar yang menjadi wadah ekspresi, sedangkan gaya adalah cara unik individu setiap dalang menghidupkannya di atas kelir.

Dengan pemahaman ini, kita akan mampu membaca wayang kulit style Bebadungan bukan sekadar sebagai wahana variasi bentuk, melainkan sebagai pancaran jiwa suatu wilayah yang telah melahirkan gaya pewayangan yang istimewa dan berkarakter kuat.

Nama “Bebadungan” sendiri menyimpan muatan geografis sekaligus identitas kultural. Ia lahir dari kata dasar “Badung” nama kabupaten yang memiliki denyut seni yang kuat serta berdampingan erat dengan kehidupan spiritual masyarakatnya. Dibingkai dengan awalan be- serta akhiran –a­n yang membentuk satu nomenklatur khas yaitu Bebadungan. Istilah ini tidak hanya menandai letak geografis semata, tetapi menjadi lambang jati diri yang kini dijunjung oleh dua entitas administratif Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, yang dahulu merupakan satu kesatuan wilayah.

Lebih dari sekadar sebuah penamaan, Wayang Kulit Style Bebadungan adalah prinsip estetik yang istimewa. Keistimewaannya tidak hanya terletak pada kekuatannya sebagai identitas lokal yang mengakar, tetapi juga pada kemampuannya membentuk karakter pewayangan yang khas, berdaya adaptasi tinggi terhadap penikmat, namun tetap berwatak dan bercorak.

Style ini lahir dari rahim masyarakat Badung yang terbuka terhadap dinamika zaman, tetapi tidak pernah melepaskan genggamannya pada nilai-nilai luhur budaya Bali. Di sinilah daya hidup Wayang Kulit Style Bebadungan, ia bukan sekadar prinsip pertunjukan, melainkan representasi dari semangat budaya yang lentur namun berprinsip.

Lakon Populer dalam Wayang Kulit Style Bebadungan

Wayang kulit style Bebadungan tidak hadir sebagai satu bentuk tunggal yang kaku, melainkan menjadi payung estetika bagi berbagai lakon dalam dunia pewayangan. Ia luwes, namun tetap berpijak pada karakternya yang khas. Dalam geliat panggung dan praktik kesehariannya, Wayang kulit style Bebadungan paling kentara dikenali melalui lakon Parwa atau dalam tradisi lokal kerap disebut sebagai pemarwan yang berakar kuat dari orbit epik Mahabharata.

Selain Parwa, Wayang kulit style Bebadungan ini juga mapan dalam membawakan kisah Ramayana, atau yang dalam istilah pewayangan Bali dikenal sebagai Pangramayanan. Kedua lakon ini menjadi ladang ekspresi yang subur bagi style Bebadungan untuk menampilkan kekuatan narasi, kedalaman nilai moral, dan spiritualitas, sekaligus mempertontonkan keahlian dramatik yang khas dalam balutan estetika pewayangan style Bebadungan.

Wayang Kulit style Bebadungan tidak hanya hidup dalam bentuk, namun juga bernapas dalam isi menjadi jembatan antara kisah luhur dan sensitivitas kultural masyarakat penikmat yang terus berproses dan berkembang dari masa ke masa.

Pemarwan dalam Style Bebadungan

Dalam praktik pementasan secara tradisi, Wayang Kulit Style Bebadungan dengan lakon Parwa senantiasa menghadirkan empat tungguh gender wayang sebagai instrumen iringan utama, lengkap dengan perangkat pernak-pernik panggung sebagaimana lazimnya dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali. Namun demikian, yang membedakanWayang Parwa Style Bebadungan dengan daerah lain bukan semata-mata terletak pada jumlah instrumen, kelengkapan panggung, atau pun struktur dramaturgisnya.

Secara umum, struktur alur pementasan tetap mengikuti pakem tradisi yang pada dasarnya sama, yang dimulai dengan tabuh petegak, dilanjutkan dengan tari kayonan, kemudian nyejer wayang, disusul dengan rangkaian dramatik seperti alas arum, paruman, pangkat, isen-isen, bapang delem, konflik atau siat, dan diakhiri dengan konklusi atau pesan moral.

Namun, kekhasan Wayang Kulit Style Bebadungan bukanlah sekadar variasi teknis, melainkan pancaran estetik yang menjadikannya begitu istimewa. Keistimewaan itu terletak pada beberapa elemen yang hadir dengan cita rasa yang khas dan menggugah, terutama dalam pola pengalang dan bebaturan yang menjadi ciri identitas tak terbantahkan.

Sebut saja bentuk pengalang ratu atau pengalang tualen/parekan melahirkan nuansa tersendiri yang sarat pesona. Terdapat pula gaya tutur “senuk samita” yang dilontarkan oleh tokoh prabhu dengan wibawa yang anggun serta sesendonan saat pangkat yang menciptakan atmosfer khas Bebadungan. Semua ini membentuk sebuah harmoni style yang bukan hanya membedakan, tetapi mengukuhkan posisi Style Bebadungan sebagai salah satu mahakarya pewayangan Bali yang patut dirayakan.

Melalui berbagai upaya yang konsisten Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan dan LISTIBIYA Kabupaten Badung, gema kekhasan Wayang Kulit Style Bebadungan terus diangkat sebagai warisan budaya yang tidak hanya layak dibanggakan, tetapi juga wajib dijaga dan dilestarikan. Program-program pelestarian, dokumentasi, hingga panggung-panggung pertunjukan menjadi bukti konkret bahwa style ini bukan sekadar warisan, melainkan denyut hidup budaya yang terus berlanjut.

Unsur-unsur khas seperti pengalang ratu, pengalang tualen, bebaturan, sedon, hinggagending angkat-angkatan menjadi elemen penting yang diwariskan dan dikembangkan. Gerakan ini telah menjadi pondasi kokoh bagi generasi seniman muda di Badung untuk melanjutkan, menggali lebih dalam, serta mengembangkan style Bebadungan dengan semangat zaman tanpa kehilangan akar tradisi.

Sang Legenda

Tokoh sentral yang tak bisa dilewatkan dalam membicarakan perkembangan dan pembakuan Wayang Kulit Style Bebadungan adalah (alm) Ida Bagus Ngurah Buduk, dalang kawakan dari Griya Buduk, Kabupaten Badung. Beliau bukan sekadar pelaku tradisi, melainkan poros estetika yang menjelma sebagai kiblat Wayang Kulit Style Bebadungan masa kini. Peran beliau dalam membumikan gaya ini tidak terlepas dari jejak pengabdiannya yang tercatat melalui dokumentasi audio, sebuah pencapaian yang tergolong langka pada masanya serta akses terhadap teknologi perekaman belum semudah hari ini.

Rekaman suara beliau kini menjadi referensi otoritatif yang acapkali dijadikan rujukan dalam pembelajaran seni pedalangan, baik secara informal maupun formal. Lembaga-lembaga pendidikan seni seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan jurusan pedalangan di Bali, hingga Program Studi Pedalangan di Institut Seni Indonesia Bali menjadikan gaya pembawaan beliau sebagai materi rujukan penting. Melalui dokumentasi tersebut, generasi muda dapat mengakses bentuk Wayang Kulit Style Bebadungan yang otentik, langsung dari sumber yang memiliki otoritas kultural.

Gaya pembawaan Dalang Ida Bagus Ngurah Buduk memang sangat khas. Selain menyajikan materi yang kontekstual dengan situasi sosial pada masanya, kekuatan utama beliau terletak pada warna suara yang memiliki vibra istimewa yang dalam, lembut, dan magis. Nuansa vokal inilah yang memperkaya dramatika pertunjukan dan memberikan sentuhan estetika tersendiri, menjadikannya inspirasi bagi para dalang masa kini dalam memperindah penampilan mereka.

Apa yang ditinggalkan oleh beliau bukan hanya jejak suara, melainkan spirit. Sebuah semangat yang terus menghidupi keberlangsungan Wayang Kulit Parwa Style Bebadungan, agar tidak sekadar dikenang sebagai warisan, tetapi terus bergerak sebagai gaya hidup budaya yang relevan, hidup, dan penuh jiwa.

Wayang Kulit Style Bebadungan bukan sekadar produk budaya daerah, tetapi sebuah entitas estetik yang hidup dan dinamis. Ia lahir dari percampuran antara tradisi yang kokoh dan inovasi yang halus, tumbuh dari denyut kehidupan masyarakat Badung yang sarat talenta seni, serta dibentuk oleh para maestro seperti Ida Bagus Ngurah Buduk yang memberikan fondasi sekaligus arah perkembangan gaya ini.

Penutup

Dalam lintasan sejarahnya, Wayang Kulit Style Bebadungan telah menunjukkan bahwa sebuah gaya bisa menjadi napas kolektif daerah, ia bukan hanya tentang teknik atau pakem, melainkan juga tentang rasa, karakter, dan kemampuan untuk menyampaikan zaman melalui simbol dan suara. Di sinilah letak keistimewaannya, ia tidak hanya bertahan, tapi juga menginspirasi, membentuk narasi baru di tubuh pewayangan Bali masa kini. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I GUSTI MADE DARMA PUTRA

  • BACA JUGA:
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya
“Pengalangkara” : Apakah Hanya Pembuka atau Penentu Nyawa Pertunjukan Wayang Bali?
Dalang Dalam Sekat Gaya dan Style: Kreativitas yang Terkungkung atau Tradisi yang Dimuliakan?
Integrasi Dharma Pawayangan dan Kreativitas Dalang: Manifestasi Seni Yang Sakral dan Mendalam
Tags: Badungwayangwayang Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Keberlanjutan dan Zero Waste dari Bali Sustainable Seafood dan Talasi di Ubud Food Festival 2025

Next Post

Sastrawan Harus Miskin: Panduan Praktis Menyalahkan Negara (dan Sedikit Menyindir Masyarakat)

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Sastrawan Harus Miskin: Panduan Praktis Menyalahkan Negara (dan Sedikit Menyindir Masyarakat)

Sastrawan Harus Miskin: Panduan Praktis Menyalahkan Negara (dan Sedikit Menyindir Masyarakat)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co