IA bukan Abraham Lincoln, tapi Abraham dari Lionbrew. Bedanya, yang ini tak memberi pidato, tapi sloki bir. Dan panggungnya bukan di Gedung Putih, melainkan stan kecil di tengah Ubud Food Festival (UFF) 2025—festival kuliner yang mengubah jantung Ubud menjadi pertemuan rasa dari seluruh dunia.
Abraham berdiri di balik meja kayu sederhana dengan kacamata hitam yang tak pernah ia lepas. Bertubuh gempal dan murah senyum, ia menyambut pengunjung satu per satu, menyodorkan tester berisi bir Lion Brewery ke dalam sloki.
“Ini dicoba dulu, ini namanya varian island lager, rasanya mirip seperti bir mainstream,” ujarnya, menyodorkan tester kepada siapa pun yang mampir. Dengan sikap terbuka dan ringan bercerita, Abraham tak sekadar menjual bir—ia menjadi jembatan antara sebotol craft beer dan kisah panjang di balik merek Lion Brewery.

Abraham menuangkan tester Lion Brewery ke dalam sloki | Foto: tatkala.co/Dede

Abraham dari Lion Brewery Indonesia | Foto: tatkala.co/Dede
Abraham menjelaskan, craft beer seperti Lion Brewery berbeda dari bir pada umumnya. Diproduksi dalam skala kecil, craft beer lebih menekankan kualitas, dan inovasi. Rasa-rasa yang ditawarkan pun lebih beragam, memberi ruang bagi konsumen untuk menjelajah karakter bir yang lebih kompleks.
Sudah lebih dari setahun Abraham bekerja di Lion Brewery, dan ini adalah tahun keduanya hadir di UFF. Ia bukan hanya penjaga stan, tapi sudah seperti duta kecil Lion Brewery yang sedang memperluas sayapnya di Indonesia, khususnya di Bali.
“Kebanyakan yang beli bule. Kalau orang lokal masih jarang yang tertarik sama craft beer,” ujar Abraham, seraya mencatat satu penjualan lagi—dua botol langsung dibawa pergi setelah tester ditenggak habis oleh seorang pengunjung.

Wisatawan asing membeli dua botol Lion Brewery | Foto: tatkala.co/Dede

Pengunjung mencoba tester Lion Brewery | Foto: tatkala.co/Dede
UFF tahun ini kembali menjadi magnet bagi pelaku industri makanan dan minuman dari seluruh dunia. Diadakan selama tiga hari di jantung Ubud, festival ini mempertemukan koki, petani, pegiat kuliner, hingga produsen lokal dan internasional. Lion Brewery menjadi salah satu peserta yang menambah semarak suasana dengan menghadirkan craft beer ke tengah festival yang didominasi kuliner Nusantara.
“Untuk tahun ini, per hari bisa laku satu krat—sekitar 30 botol. Ya, lumayanlah,” kata Abraham. Dengan harga Rp60.000 per botol, produk ini cukup menarik, terutama bagi wisatawan mancanegara yang sudah akrab dengan budaya craft beer.
Dari London ke Banyuning
Lion Brewery bukan pemain baru dalam dunia bir. Pertama kali muncul di London pada 1836, merek ini telah menempuh perjalanan panjang dan kini memperluas pasar ke berbagai negara termasuk Inggris, Indonesia, Singapura, Hong Kong, Kamboja, dan Dubai. Di Indonesia sendiri, bir ini diproduksi di Banyuning, Buleleng, Bali.
“Untuk pasar Indonesia, baru ada tiga varian. Di luar negeri pilihannya lebih banyak,” jelas Abraham.
Salah satu ciri khas Lion Brewery adalah penggunaan botol aluminium—kemasan yang ringan, cepat dingin, dan cocok untuk suasana tropis seperti pantai atau pesta kolam renang. Dengan kadar alkohol di bawah 5% ABV (Alcohol by Volume), bir ini aman dinikmati untuk sesi santai tanpa efek berlebihan.
Lion Brewery sendiri masuk pasar Indonesia sejak 2020, dan perlahan memperluas jangkauan ke lebih banyak pulau. Fokus mereka bukan hanya menjual produk, tapi juga membangun budaya minum bir yang berkualitas. Tetapi, pasar dalam negeri belum terlalu terbuka terhadap produk seperti ini. Meski tersedia di supermarket besar, Circle K, Pepito, serta bar dan beberapa restoran di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, Lombok, Gili, hingga Labuan Bajo, kebanyakan pembelinya masih wisatawan asing.


Abraham dari Lion Brewery Indonesia | Foto: tatkala.co/Dede
Kembali ke Ubud, di tengah hiruk-pikuk UFF 2025, Abraham tetap siaga di balik meja. Ia bukan hanya penjaga stan, tapi pencerita yang menghidupkan kembali sejarah panjang Lion Brewery—dari London hingga Banyuning, dari botol ke sloki, dari cerita ke rasa.
“Ayo silakan, mau coba dulu juga boleh,” sapanya ramah kepada setiap pengunjung yang melintas.
Di tangan Abraham, sebotol bir bukan sekadar minuman. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan budaya, menjalin cerita antar generasi, dan menyatukan selera yang berbeda. Dari Eropa yang dingin, mengalir ke tropisnya Bali, hingga sampai di tangan siapa saja yang berani membuka diri pada rasa baru—sebuah undangan untuk merayakan keberagaman dalam setiap tegukan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























