25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sujiwo Tejo, Kim Nam Joon, dan Najwa Shihab:  Siapa yang Didengar, Siapa yang Ditiru?

Stebby Julionatan by Stebby Julionatan
May 23, 2025
in Esai
Sujiwo Tejo, Kim Nam Joon, dan Najwa Shihab:  Siapa yang Didengar, Siapa yang Ditiru?

Foto-foto diambil dari berbagai sumber

DALAM dunia pendidikan, kemampuan berbicara bukan hanya tentang menyampaikan kata-kata, melainkan juga menyangkut kepercayaan diri, daya pikir kritis, dan keterampilan sosial. Siswa yang piawai berbicara cenderung tampil percaya diri di depan kelas, berani bertanya, serta mampu mempresentasikan gagasannya dengan jelas dan meyakinkan. Seperti yang diungkapkan oleh Tarigan (2008), kepercayaan diri ini tidak lahir secara instan, tetapi terbentuk melalui latihan konsisten dan lingkungan belajar yang mendukung.

Keterampilan berbicara juga melatih siswa berpikir secara logis dan kritis. Dalam diskusi atau presentasi contohnya, mau tidak mau para siswa dituntut untuk menyusun gagasan secara runtut, mengevaluasi informasi, dan merespons pendapat orang lain dengan argumen yang kuat. Kemampuan tersebut, menurut Lunsford dan Ruszkiewicz (2009), melibatkan proses berpikir yang mendalam dan reflektif. Lebih jauh lagi, jika kita berbicara dalam konteks sosial, sebagaimana dikemukakan Brown (2001), keterampilan berbicara rupanya menjadi sarana penting dalam menjalin relasi, menyampaikan empati, dan menavigasi dinamika komunikasi antarbudaya.

Berbekal ketiga pandangan utama tersebut –yakni kepercayaan diri, daya pikir kirtis, dan keterampilan sosial, saya mengajar materi pidato di SMA Asisi Jakarta dengan pendekatan yang tidak biasa. Pada tahun 2022, saya memperkenalkan kepada siswa kelas XI tiga gaya berpidato yang berbeda—formal, semi-formal, dan non-formal—melalui tiga tokoh yang sangat kontras: Kim Nam Joon dari BTS, Najwa Shihab, dan Sujiwo Tejo. Saya menayangkan video pidato ketiga toloh tersebut di kelas.

Mengapa saya perlu contoh? Mengapa saya merasa perlu memberi role model dengan menayangkan pidato ketiga tokoh di atas terlebih dahulu sebelum meminta para siswa siswa untuk berbicara di depan kelas dan membawakan pidatonya? Sebab saya rasa, mengajarkan pidato kepada siswa SMA tidak sesederhana meminta mereka maju ke depan kelas lalu berbicara. Sebab saya guru yang banyak mau, saya ingin para siswa saya tahu benar apa tujuan mereka berbicara, apa tujuan mereka berkomunikasi. Saya tidak ingin apa yang mereka sampaikan hanya angin lalu, tak berbobot, dan sia-sia. Saya ingin mereka benar-benar mengalami dan memahami kekuatan sebuah kata-kata (baca: pidato), baik dari sisi isi maupun gaya penyampaian.

Pilihan saya untuk  memutar pidato Kim Nam Joon (RM BTS) di PBB —yang penuh percaya diri, terstruktur, dan mengangkat isu identitas serta mimpi– bukan hanya karena kekuatan pesannya, tetapi karena di tahun tersebut BTS tengah menjadi idola bagi mayoritas siswa saya.

Berikutnya, saya memilih menayangkan pidato Najwa Shihab yang berjudul Indonesia Butuh Anak Muda adalah karena gaya semi-formal Najwa yang tegas dan bernas saya nilai sangat tepat untuk memperkenalkan pentingnya berpikir kritis dan tanggung jawab sosial bagi remaja seusia para siswa saya.

Dan terakhir, saya putarkan potongan pidato Sujiwo Tejo di TEDx yang membahas tentang persamaan matematika dan bahasa agar para siswa saya tahu ada jenis pidato yang tidak resmi (non-formal) namun kuat dan mengena. Penyampaian Sujiwo Tejo yang  blak-blakan, ngalor-ngidul, dan sesekali menyisipkan kata-kata seperti “jancok membuat situasi jadi di ruang kelas sesekali dipenuhi tawa para siswa.

Sujiwo Tejo Lebih Dipilih

Saat mempersiapkan materi tersebut, saya sempat mengira bahwa tokoh atau jenis pidato yang paling disukai oleh para siswa saya tentu Kim Nam Joon atau Najwa Shihab. Ya, di awal saya merasa gaya Sujiwo Tejo akan sulit dipahami siswa karena terlalu bebas dan tidk sistematis. Saya piker, cukuplah dengan Kim Nam Joon untuk menyampaikan tujuan yang ingin saya capai melalui pembelajaran pidato.

Tapi ternyata saya keliru.

Yang mengejutkan adalah hasil diskusi dan survei setelahnya. Dari keempat kelas yang saya ajar, mayoritas siswa justru paling menyukai gaya Sujiwo Tejo. Mereka mengatakan, “nggak ngebosenin, Pak,” atau “kayak ngobrol tapi dalem.” Bahkan ada yang mengutip ulang ucapannya saat diskusi santai. Mereka merasa gaya ini lebih “hidup” dan “nggak ngajar dari atas.”

Hal yang sama pun terjadi saat saya kembali mengajar di SMA Asisi Jakarta pada tahun 2024. Kali ini, saya mengajar kelas XII dengan materi yang serupa—yakni pidato—namun dalam kerangka kurikulum yang berbeda (dulu dengan Kurikulum 2013, sekarang saya menggunakan Kurikulum Merdeka). Ya, meski telah berselang dua tahun, gaya pidato Sujiwo Tejo rupanya masih menjadi favorit para siswa saya.

Saya merenung dan bertanya: Mengapa –meski telah berselang dua tahun dan telah mengalami pergantian kurikulum– gaya pidato Sujiwo Tejo yang cenderung tidak sistematis, penuh improvisasi, bahkan terkesan ngawur, justru begitu disukai?

Saat itulah saya teringat pada pemikiran Carl Rogers, seorang psikolog humanis, yang menyatakan bahwa komunikasi yang efektif tidak selalu tentang struktur atau logika yang kaku, tetapi tentang keaslian, empati, dan kehadiran penuh (Rogers, 1980). Dan itulah yang, menurut saya, dirasakan siswa  dari gaya Sujiwo Tejo: ada kejujuran, ada kedekatan emosional, ada “jiwa” di balik setiap kata yang ia ucapkan.

Terlebih lagi, karena Kurikulum Merdeka yang ditetapkan di SMA Asisi saat ini memang lebih luas bagi siswa untuk berkespresi secara otentik dan membangun makna secara personal. Kurikulum ini tak lagi mengharuskan siswa meniru struktur formal semata, tetapi mendorong mereka untuk menemukan suara mereka sendiri.

Maka dari itu, bagi saya, Sujiwo Tejo bukan sekadar pilihan gaya pidato alternatif, melainkan representasi dari pendekatan pedagogi yang lebih manusiawi, reflektif dan inklusif—yang cocok untuk generasi hari ini, dan mungkin juga untuk generasi setelahnya.

Ironi di Balik Panggung Kelas

Namun, meski Sujiwo menonjol dan paling disukai sebagai contoh, ironi justru muncul saat siswa diminta membuat dan membawakan pidato mereka sendiri. Hampir seluruh siswa (baik siswa Kurikulum 2013 maupun siswa Kurikulum Merdeka) memilih meniru pola Najwa Shihab yang tersusun rapi, punya alur, dan “aman untuk dinilai.” Saya pun bertanya dalam hati: jika mereka lebih menyukai gaya Sujiwo Tejo, mengapa yang mereka tiru justru gaya Najwa Shihab?

Untuk memahami fenomena ini, saya mencoba mendekatinya lewat dua kerangka teori: retorika klasik Aristoteles dan teori modal budaya dari Pierre Bourdieu.

Dalam retorika klasik, Aristoteles menyebut bahwa kekuatan pidato bertumpu pada tiga unsur utama: ethos (kredibilitas pembicara), pathos (kemampuan membangkitkan emosi), dan logos (logika dan struktur argumen). Menariknya, Sujiwo Tejo—meskipun dikenal sebagai dalang nyentrik, penulis eksentrik, dan tokoh budaya yang sering bicara “seenaknya”—justru memiliki ethos yang kuat di masyarakat; termasuk pula di mata para siswa saya. Ia dipercaya bukan karena gelarnya, melainkan karena kejujurannya. Mereka merasakan kehadiran seorang manusia yang otentik, yang bicara dari hati dan bukan dari podium kekuasaan. Inilah ethos yang tidak dibangun dari otoritas, tetapi dari keberanian menjadi diri sendiri. Authenticity speaks louder than prestige.

Di sisi lain, Najwa Shihab, sebagai jurnalis kritis dan aktivis literasi, jelas memiliki ethos yang tinggi. Ia hadir dengan reputasi yang sudah mapan, dengan bahasa yang lugas namun tetap anggun. Bagi para siswa saya, Najwa dikenal sebagai serigaIa yang ditakuti oleh para politikus dan pejabat public.

Dari segi pathos, Sujiwo Tejo kembali unggul: ia mampu membuat siswa tertawa, berpikir, bahkan terhenyak. Ada tawa yang mengendap menjadi renungan. Sementara itu, Najwa memang membangkitkan emosi, tetapi dalam bentuk yang lebih tenang, reflektif, dan terkadang berjarak. Namun, segalanya berubah ketika siswa harus berbicara untuk “dinilai”. Di sini akhirnya logos mengambil alih. Dalam hal logos—struktur, urutan argumen, dan koherensi— para siswa saya merasa lebih aman mengikuti jejak Najwa. Pidato yang tersusun rapi, dengan pembukaan yang jelas, isi yang runtut, dan penutup yang mengikat, terasa lebih “masuk akal” dan lebih mudah diikuti, terutama di dalam kerangka ujian.

Modal Budaya: Menyesuaikan Diri di Ladang Sosial

Pertanyaan mengapa siswa menyukai gaya Sujiwo namun meniru Najwa juga saya temukan lewat teori Modal Budaya, Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, gaya, pengetahuan, dan kebiasaan yang dianggap “bernilai” akan berbeda tergantung ladang sosial tempat seseorang berada. Dan di dalam dunia pendidikan, lebih spesifik lagi di dalam ruang kelas, rupanya apa yang dinilai tinggi bukanlah sekadar keberanian atau kejujuran, tetapi keteraturan.

Di ruang kelas, gaya Najwa Shihab mewakili modal budaya yang sah secara institusional—tertata, sopan, bisa diukur. Sedangkan gaya Sujiwo, meski disukai, tak punya tempat di ruang penilaian formal. Kata-katanya yang “liar” atau strukturnya yang tidak sistematis dianggap melanggar norma akademik. Maka, ketika harus dinilai, siswa kembali ke bentuk yang diakui: struktur, alur, dan ketegasan. Mereka menyukai Sujiwo, tapi memilih Najwa karena menyadari sistem yang menilai mereka lebih menghargai keteraturan daripada spontanitas.

Di titik inilah pemikiran Pierre Bourdieu dalam The Forms of Capital menjadi sangat relevan. Bourdieu menyatakan bahwa sistem pendidikan modern cenderung mengafirmasi bentuk-bentuk modal budaya yang telah dibakukan. Hal-hal seperti kemampuan menyusun teks akademik, berbicara runut serta logis, atau menggunakan bahasa formal akan lebih dihargai lebih tinggi daripada spontanitas, improvisasi, atau keberanian menyampaikan hal-hal yang tak lazim.

Maka wajar bila kebanyakan para siswa, saat berpidato ada kecenderungan bukan untuk menyampaikan gagasan tetapi untuk dinilai. Unuk mempreoleh nilai. Mereka pun cenderung memilih jalur yang lebih aman. Mereka tahu bahwa keunikan gaya Sujiwo –meskipun menginspirasi, tidak akan mendapat skor tinggi di rubrik penilaian guru. Maka, meski pun hati mereka memilhak pada keberanian Sujiwo Tejo, namun pilihan teknis mereka tetap jatuh pada ketelitian Najwa Shihab. Di sinilah letak ironi tersebut: keberanian mungkin disukai, tetapi keteraturanlah yang dihadiahi.

Menjembatani Dua Dunia: Gaya dan Rasa Milik

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa mengajar pidato bukan sekadar mengajarkan teknik berbicara, tetapi juga membantu siswa merasa memiliki suara mereka sendiri. Mereka mungkin menyukai gaya Sujiwo, namun belum tentu merasa cukup percaya diri untuk menirunya. Saya sadar bahwa sistem pendidikan dan penilaian formal masih beroperasi dalam keangka struktur dan standar tertentu. Rubrik penilaian pidato yang digunakan, betapapun saya mencoba melonggarkannya, tetap akan memuat aspek-aspek seperti struktur yang logis, keteraturan bahasa, dan kesesuaian isi.

Inilah dilema pedagogis yang saya hadapi: bagaimana mendorong keberanian berekspresi tanpa membuat siswa merasa “berisiko” karena keluar dari pakem? Bagaimana menceptakan ruang kelas yang tidak hanya menilai keterampilan formal, tetapi juga mengapresiasi keberanian untuk menjadi diri sendiri? Maka tugas saya –atau mungkin kita semua sebagai guru– adalah menciptakan ruang aman bagi mereka –para siswa– untuk mencoba, bermain, dan mengekspresikan diri tanpa takut salah.

Pengalaman ini membuat saya terus bertanya ulang: bagaimana menciptakan ruang kelas yang lebih membebaskan?  Saya berharap para siswa saya bukan hanya bisa membuat pidato yang “baik,” tapi juga mampu berbicara dengan jujur, dengan gaya mereka sendiri. Saya terus mengulang pertanyaan: Bagaimanakah mendesain pembelajaran pidato yang tidak hanya mengajarkan teknik, tapi juga membangkitkan keberanian dan kejujuran? Dan yang terpenting, bagaimana mengapresiasi keberagaman gaya dalam berbicara, tanpa terjebak dalam satu standar tunggal yang mengabaikan jiwa di balik kata?

Sujiwo Tejo mengajarkan saya bahwa kadang, kekuatan pidato tidak terletak pada keteraturannya, tapi pada keberaniannya untuk mengganggu keteraturan itu sendiri. Dan mungkin, itulah pelajaran paling penting yang bisa saya bawa ke ruang kelas. Sebab pidato yang mengena tidak selalu yang paling rapi atau runut, tetapi yang paling jujur dan berani.

Jakarta, 12 April 2024.

Referensi

  • Bourdieu, Pierre. (1986). The Forms of Capital. In J. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (pp. 241–258). Greenwood.
  • Brown, H. Douglas. (2001). Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy. New York: Longman.
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen: Sekolah Menengah Atas. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. https://kurikulum.kemdikbud.go.id/
  • Keraf, Gorys. (1980). Komposisi. Ende: Nusa Indah.
  • Lunsford, Andrea A., & Ruszkiewicz, John J. (2009). Everything’s an Argument. Bedford/St. Martin’s.
  • Rogers, C. R. (1980). A way of being. Houghton Mifflin.
  • Tarigan, Henry Guntur. (2008). Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Penulis: Stebby Julionatan
Editor: Adnyana Ole

Merawat Pendidikan Sastra di Tengah Gempuran Dunia Industri
Rempah Paling Cong!
Masih Menyisakan Bias dan Misteri | Ulasan Buku
Tags: Pendidikanpidato
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“ASMARALOKA”, Album Launch Showcase Arkana di Berutz Bar and Resto, Singaraja

Next Post

“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata

Stebby Julionatan

Stebby Julionatan

Tinggal di Probolinggo, Jawa Timur dan saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di Kajian Gender – Universitas Indonesia.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co