5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sujiwo Tejo, Kim Nam Joon, dan Najwa Shihab:  Siapa yang Didengar, Siapa yang Ditiru?

Stebby Julionatan by Stebby Julionatan
May 23, 2025
in Esai
Sujiwo Tejo, Kim Nam Joon, dan Najwa Shihab:  Siapa yang Didengar, Siapa yang Ditiru?

Foto-foto diambil dari berbagai sumber

DALAM dunia pendidikan, kemampuan berbicara bukan hanya tentang menyampaikan kata-kata, melainkan juga menyangkut kepercayaan diri, daya pikir kritis, dan keterampilan sosial. Siswa yang piawai berbicara cenderung tampil percaya diri di depan kelas, berani bertanya, serta mampu mempresentasikan gagasannya dengan jelas dan meyakinkan. Seperti yang diungkapkan oleh Tarigan (2008), kepercayaan diri ini tidak lahir secara instan, tetapi terbentuk melalui latihan konsisten dan lingkungan belajar yang mendukung.

Keterampilan berbicara juga melatih siswa berpikir secara logis dan kritis. Dalam diskusi atau presentasi contohnya, mau tidak mau para siswa dituntut untuk menyusun gagasan secara runtut, mengevaluasi informasi, dan merespons pendapat orang lain dengan argumen yang kuat. Kemampuan tersebut, menurut Lunsford dan Ruszkiewicz (2009), melibatkan proses berpikir yang mendalam dan reflektif. Lebih jauh lagi, jika kita berbicara dalam konteks sosial, sebagaimana dikemukakan Brown (2001), keterampilan berbicara rupanya menjadi sarana penting dalam menjalin relasi, menyampaikan empati, dan menavigasi dinamika komunikasi antarbudaya.

Berbekal ketiga pandangan utama tersebut –yakni kepercayaan diri, daya pikir kirtis, dan keterampilan sosial, saya mengajar materi pidato di SMA Asisi Jakarta dengan pendekatan yang tidak biasa. Pada tahun 2022, saya memperkenalkan kepada siswa kelas XI tiga gaya berpidato yang berbeda—formal, semi-formal, dan non-formal—melalui tiga tokoh yang sangat kontras: Kim Nam Joon dari BTS, Najwa Shihab, dan Sujiwo Tejo. Saya menayangkan video pidato ketiga toloh tersebut di kelas.

Mengapa saya perlu contoh? Mengapa saya merasa perlu memberi role model dengan menayangkan pidato ketiga tokoh di atas terlebih dahulu sebelum meminta para siswa siswa untuk berbicara di depan kelas dan membawakan pidatonya? Sebab saya rasa, mengajarkan pidato kepada siswa SMA tidak sesederhana meminta mereka maju ke depan kelas lalu berbicara. Sebab saya guru yang banyak mau, saya ingin para siswa saya tahu benar apa tujuan mereka berbicara, apa tujuan mereka berkomunikasi. Saya tidak ingin apa yang mereka sampaikan hanya angin lalu, tak berbobot, dan sia-sia. Saya ingin mereka benar-benar mengalami dan memahami kekuatan sebuah kata-kata (baca: pidato), baik dari sisi isi maupun gaya penyampaian.

Pilihan saya untuk  memutar pidato Kim Nam Joon (RM BTS) di PBB —yang penuh percaya diri, terstruktur, dan mengangkat isu identitas serta mimpi– bukan hanya karena kekuatan pesannya, tetapi karena di tahun tersebut BTS tengah menjadi idola bagi mayoritas siswa saya.

Berikutnya, saya memilih menayangkan pidato Najwa Shihab yang berjudul Indonesia Butuh Anak Muda adalah karena gaya semi-formal Najwa yang tegas dan bernas saya nilai sangat tepat untuk memperkenalkan pentingnya berpikir kritis dan tanggung jawab sosial bagi remaja seusia para siswa saya.

Dan terakhir, saya putarkan potongan pidato Sujiwo Tejo di TEDx yang membahas tentang persamaan matematika dan bahasa agar para siswa saya tahu ada jenis pidato yang tidak resmi (non-formal) namun kuat dan mengena. Penyampaian Sujiwo Tejo yang  blak-blakan, ngalor-ngidul, dan sesekali menyisipkan kata-kata seperti “jancok membuat situasi jadi di ruang kelas sesekali dipenuhi tawa para siswa.

Sujiwo Tejo Lebih Dipilih

Saat mempersiapkan materi tersebut, saya sempat mengira bahwa tokoh atau jenis pidato yang paling disukai oleh para siswa saya tentu Kim Nam Joon atau Najwa Shihab. Ya, di awal saya merasa gaya Sujiwo Tejo akan sulit dipahami siswa karena terlalu bebas dan tidk sistematis. Saya piker, cukuplah dengan Kim Nam Joon untuk menyampaikan tujuan yang ingin saya capai melalui pembelajaran pidato.

Tapi ternyata saya keliru.

Yang mengejutkan adalah hasil diskusi dan survei setelahnya. Dari keempat kelas yang saya ajar, mayoritas siswa justru paling menyukai gaya Sujiwo Tejo. Mereka mengatakan, “nggak ngebosenin, Pak,” atau “kayak ngobrol tapi dalem.” Bahkan ada yang mengutip ulang ucapannya saat diskusi santai. Mereka merasa gaya ini lebih “hidup” dan “nggak ngajar dari atas.”

Hal yang sama pun terjadi saat saya kembali mengajar di SMA Asisi Jakarta pada tahun 2024. Kali ini, saya mengajar kelas XII dengan materi yang serupa—yakni pidato—namun dalam kerangka kurikulum yang berbeda (dulu dengan Kurikulum 2013, sekarang saya menggunakan Kurikulum Merdeka). Ya, meski telah berselang dua tahun, gaya pidato Sujiwo Tejo rupanya masih menjadi favorit para siswa saya.

Saya merenung dan bertanya: Mengapa –meski telah berselang dua tahun dan telah mengalami pergantian kurikulum– gaya pidato Sujiwo Tejo yang cenderung tidak sistematis, penuh improvisasi, bahkan terkesan ngawur, justru begitu disukai?

Saat itulah saya teringat pada pemikiran Carl Rogers, seorang psikolog humanis, yang menyatakan bahwa komunikasi yang efektif tidak selalu tentang struktur atau logika yang kaku, tetapi tentang keaslian, empati, dan kehadiran penuh (Rogers, 1980). Dan itulah yang, menurut saya, dirasakan siswa  dari gaya Sujiwo Tejo: ada kejujuran, ada kedekatan emosional, ada “jiwa” di balik setiap kata yang ia ucapkan.

Terlebih lagi, karena Kurikulum Merdeka yang ditetapkan di SMA Asisi saat ini memang lebih luas bagi siswa untuk berkespresi secara otentik dan membangun makna secara personal. Kurikulum ini tak lagi mengharuskan siswa meniru struktur formal semata, tetapi mendorong mereka untuk menemukan suara mereka sendiri.

Maka dari itu, bagi saya, Sujiwo Tejo bukan sekadar pilihan gaya pidato alternatif, melainkan representasi dari pendekatan pedagogi yang lebih manusiawi, reflektif dan inklusif—yang cocok untuk generasi hari ini, dan mungkin juga untuk generasi setelahnya.

Ironi di Balik Panggung Kelas

Namun, meski Sujiwo menonjol dan paling disukai sebagai contoh, ironi justru muncul saat siswa diminta membuat dan membawakan pidato mereka sendiri. Hampir seluruh siswa (baik siswa Kurikulum 2013 maupun siswa Kurikulum Merdeka) memilih meniru pola Najwa Shihab yang tersusun rapi, punya alur, dan “aman untuk dinilai.” Saya pun bertanya dalam hati: jika mereka lebih menyukai gaya Sujiwo Tejo, mengapa yang mereka tiru justru gaya Najwa Shihab?

Untuk memahami fenomena ini, saya mencoba mendekatinya lewat dua kerangka teori: retorika klasik Aristoteles dan teori modal budaya dari Pierre Bourdieu.

Dalam retorika klasik, Aristoteles menyebut bahwa kekuatan pidato bertumpu pada tiga unsur utama: ethos (kredibilitas pembicara), pathos (kemampuan membangkitkan emosi), dan logos (logika dan struktur argumen). Menariknya, Sujiwo Tejo—meskipun dikenal sebagai dalang nyentrik, penulis eksentrik, dan tokoh budaya yang sering bicara “seenaknya”—justru memiliki ethos yang kuat di masyarakat; termasuk pula di mata para siswa saya. Ia dipercaya bukan karena gelarnya, melainkan karena kejujurannya. Mereka merasakan kehadiran seorang manusia yang otentik, yang bicara dari hati dan bukan dari podium kekuasaan. Inilah ethos yang tidak dibangun dari otoritas, tetapi dari keberanian menjadi diri sendiri. Authenticity speaks louder than prestige.

Di sisi lain, Najwa Shihab, sebagai jurnalis kritis dan aktivis literasi, jelas memiliki ethos yang tinggi. Ia hadir dengan reputasi yang sudah mapan, dengan bahasa yang lugas namun tetap anggun. Bagi para siswa saya, Najwa dikenal sebagai serigaIa yang ditakuti oleh para politikus dan pejabat public.

Dari segi pathos, Sujiwo Tejo kembali unggul: ia mampu membuat siswa tertawa, berpikir, bahkan terhenyak. Ada tawa yang mengendap menjadi renungan. Sementara itu, Najwa memang membangkitkan emosi, tetapi dalam bentuk yang lebih tenang, reflektif, dan terkadang berjarak. Namun, segalanya berubah ketika siswa harus berbicara untuk “dinilai”. Di sini akhirnya logos mengambil alih. Dalam hal logos—struktur, urutan argumen, dan koherensi— para siswa saya merasa lebih aman mengikuti jejak Najwa. Pidato yang tersusun rapi, dengan pembukaan yang jelas, isi yang runtut, dan penutup yang mengikat, terasa lebih “masuk akal” dan lebih mudah diikuti, terutama di dalam kerangka ujian.

Modal Budaya: Menyesuaikan Diri di Ladang Sosial

Pertanyaan mengapa siswa menyukai gaya Sujiwo namun meniru Najwa juga saya temukan lewat teori Modal Budaya, Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, gaya, pengetahuan, dan kebiasaan yang dianggap “bernilai” akan berbeda tergantung ladang sosial tempat seseorang berada. Dan di dalam dunia pendidikan, lebih spesifik lagi di dalam ruang kelas, rupanya apa yang dinilai tinggi bukanlah sekadar keberanian atau kejujuran, tetapi keteraturan.

Di ruang kelas, gaya Najwa Shihab mewakili modal budaya yang sah secara institusional—tertata, sopan, bisa diukur. Sedangkan gaya Sujiwo, meski disukai, tak punya tempat di ruang penilaian formal. Kata-katanya yang “liar” atau strukturnya yang tidak sistematis dianggap melanggar norma akademik. Maka, ketika harus dinilai, siswa kembali ke bentuk yang diakui: struktur, alur, dan ketegasan. Mereka menyukai Sujiwo, tapi memilih Najwa karena menyadari sistem yang menilai mereka lebih menghargai keteraturan daripada spontanitas.

Di titik inilah pemikiran Pierre Bourdieu dalam The Forms of Capital menjadi sangat relevan. Bourdieu menyatakan bahwa sistem pendidikan modern cenderung mengafirmasi bentuk-bentuk modal budaya yang telah dibakukan. Hal-hal seperti kemampuan menyusun teks akademik, berbicara runut serta logis, atau menggunakan bahasa formal akan lebih dihargai lebih tinggi daripada spontanitas, improvisasi, atau keberanian menyampaikan hal-hal yang tak lazim.

Maka wajar bila kebanyakan para siswa, saat berpidato ada kecenderungan bukan untuk menyampaikan gagasan tetapi untuk dinilai. Unuk mempreoleh nilai. Mereka pun cenderung memilih jalur yang lebih aman. Mereka tahu bahwa keunikan gaya Sujiwo –meskipun menginspirasi, tidak akan mendapat skor tinggi di rubrik penilaian guru. Maka, meski pun hati mereka memilhak pada keberanian Sujiwo Tejo, namun pilihan teknis mereka tetap jatuh pada ketelitian Najwa Shihab. Di sinilah letak ironi tersebut: keberanian mungkin disukai, tetapi keteraturanlah yang dihadiahi.

Menjembatani Dua Dunia: Gaya dan Rasa Milik

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa mengajar pidato bukan sekadar mengajarkan teknik berbicara, tetapi juga membantu siswa merasa memiliki suara mereka sendiri. Mereka mungkin menyukai gaya Sujiwo, namun belum tentu merasa cukup percaya diri untuk menirunya. Saya sadar bahwa sistem pendidikan dan penilaian formal masih beroperasi dalam keangka struktur dan standar tertentu. Rubrik penilaian pidato yang digunakan, betapapun saya mencoba melonggarkannya, tetap akan memuat aspek-aspek seperti struktur yang logis, keteraturan bahasa, dan kesesuaian isi.

Inilah dilema pedagogis yang saya hadapi: bagaimana mendorong keberanian berekspresi tanpa membuat siswa merasa “berisiko” karena keluar dari pakem? Bagaimana menceptakan ruang kelas yang tidak hanya menilai keterampilan formal, tetapi juga mengapresiasi keberanian untuk menjadi diri sendiri? Maka tugas saya –atau mungkin kita semua sebagai guru– adalah menciptakan ruang aman bagi mereka –para siswa– untuk mencoba, bermain, dan mengekspresikan diri tanpa takut salah.

Pengalaman ini membuat saya terus bertanya ulang: bagaimana menciptakan ruang kelas yang lebih membebaskan?  Saya berharap para siswa saya bukan hanya bisa membuat pidato yang “baik,” tapi juga mampu berbicara dengan jujur, dengan gaya mereka sendiri. Saya terus mengulang pertanyaan: Bagaimanakah mendesain pembelajaran pidato yang tidak hanya mengajarkan teknik, tapi juga membangkitkan keberanian dan kejujuran? Dan yang terpenting, bagaimana mengapresiasi keberagaman gaya dalam berbicara, tanpa terjebak dalam satu standar tunggal yang mengabaikan jiwa di balik kata?

Sujiwo Tejo mengajarkan saya bahwa kadang, kekuatan pidato tidak terletak pada keteraturannya, tapi pada keberaniannya untuk mengganggu keteraturan itu sendiri. Dan mungkin, itulah pelajaran paling penting yang bisa saya bawa ke ruang kelas. Sebab pidato yang mengena tidak selalu yang paling rapi atau runut, tetapi yang paling jujur dan berani.

Jakarta, 12 April 2024.

Referensi

  • Bourdieu, Pierre. (1986). The Forms of Capital. In J. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (pp. 241–258). Greenwood.
  • Brown, H. Douglas. (2001). Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy. New York: Longman.
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen: Sekolah Menengah Atas. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. https://kurikulum.kemdikbud.go.id/
  • Keraf, Gorys. (1980). Komposisi. Ende: Nusa Indah.
  • Lunsford, Andrea A., & Ruszkiewicz, John J. (2009). Everything’s an Argument. Bedford/St. Martin’s.
  • Rogers, C. R. (1980). A way of being. Houghton Mifflin.
  • Tarigan, Henry Guntur. (2008). Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Penulis: Stebby Julionatan
Editor: Adnyana Ole

Merawat Pendidikan Sastra di Tengah Gempuran Dunia Industri
Rempah Paling Cong!
Masih Menyisakan Bias dan Misteri | Ulasan Buku
Tags: Pendidikanpidato
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“ASMARALOKA”, Album Launch Showcase Arkana di Berutz Bar and Resto, Singaraja

Next Post

“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata

Stebby Julionatan

Stebby Julionatan

Tinggal di Probolinggo, Jawa Timur dan saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di Kajian Gender – Universitas Indonesia.

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co