25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sujiwo Tejo, Kim Nam Joon, dan Najwa Shihab:  Siapa yang Didengar, Siapa yang Ditiru?

Stebby Julionatan by Stebby Julionatan
May 23, 2025
in Esai
Sujiwo Tejo, Kim Nam Joon, dan Najwa Shihab:  Siapa yang Didengar, Siapa yang Ditiru?

Foto-foto diambil dari berbagai sumber

DALAM dunia pendidikan, kemampuan berbicara bukan hanya tentang menyampaikan kata-kata, melainkan juga menyangkut kepercayaan diri, daya pikir kritis, dan keterampilan sosial. Siswa yang piawai berbicara cenderung tampil percaya diri di depan kelas, berani bertanya, serta mampu mempresentasikan gagasannya dengan jelas dan meyakinkan. Seperti yang diungkapkan oleh Tarigan (2008), kepercayaan diri ini tidak lahir secara instan, tetapi terbentuk melalui latihan konsisten dan lingkungan belajar yang mendukung.

Keterampilan berbicara juga melatih siswa berpikir secara logis dan kritis. Dalam diskusi atau presentasi contohnya, mau tidak mau para siswa dituntut untuk menyusun gagasan secara runtut, mengevaluasi informasi, dan merespons pendapat orang lain dengan argumen yang kuat. Kemampuan tersebut, menurut Lunsford dan Ruszkiewicz (2009), melibatkan proses berpikir yang mendalam dan reflektif. Lebih jauh lagi, jika kita berbicara dalam konteks sosial, sebagaimana dikemukakan Brown (2001), keterampilan berbicara rupanya menjadi sarana penting dalam menjalin relasi, menyampaikan empati, dan menavigasi dinamika komunikasi antarbudaya.

Berbekal ketiga pandangan utama tersebut –yakni kepercayaan diri, daya pikir kirtis, dan keterampilan sosial, saya mengajar materi pidato di SMA Asisi Jakarta dengan pendekatan yang tidak biasa. Pada tahun 2022, saya memperkenalkan kepada siswa kelas XI tiga gaya berpidato yang berbeda—formal, semi-formal, dan non-formal—melalui tiga tokoh yang sangat kontras: Kim Nam Joon dari BTS, Najwa Shihab, dan Sujiwo Tejo. Saya menayangkan video pidato ketiga toloh tersebut di kelas.

Mengapa saya perlu contoh? Mengapa saya merasa perlu memberi role model dengan menayangkan pidato ketiga tokoh di atas terlebih dahulu sebelum meminta para siswa siswa untuk berbicara di depan kelas dan membawakan pidatonya? Sebab saya rasa, mengajarkan pidato kepada siswa SMA tidak sesederhana meminta mereka maju ke depan kelas lalu berbicara. Sebab saya guru yang banyak mau, saya ingin para siswa saya tahu benar apa tujuan mereka berbicara, apa tujuan mereka berkomunikasi. Saya tidak ingin apa yang mereka sampaikan hanya angin lalu, tak berbobot, dan sia-sia. Saya ingin mereka benar-benar mengalami dan memahami kekuatan sebuah kata-kata (baca: pidato), baik dari sisi isi maupun gaya penyampaian.

Pilihan saya untuk  memutar pidato Kim Nam Joon (RM BTS) di PBB —yang penuh percaya diri, terstruktur, dan mengangkat isu identitas serta mimpi– bukan hanya karena kekuatan pesannya, tetapi karena di tahun tersebut BTS tengah menjadi idola bagi mayoritas siswa saya.

Berikutnya, saya memilih menayangkan pidato Najwa Shihab yang berjudul Indonesia Butuh Anak Muda adalah karena gaya semi-formal Najwa yang tegas dan bernas saya nilai sangat tepat untuk memperkenalkan pentingnya berpikir kritis dan tanggung jawab sosial bagi remaja seusia para siswa saya.

Dan terakhir, saya putarkan potongan pidato Sujiwo Tejo di TEDx yang membahas tentang persamaan matematika dan bahasa agar para siswa saya tahu ada jenis pidato yang tidak resmi (non-formal) namun kuat dan mengena. Penyampaian Sujiwo Tejo yang  blak-blakan, ngalor-ngidul, dan sesekali menyisipkan kata-kata seperti “jancok membuat situasi jadi di ruang kelas sesekali dipenuhi tawa para siswa.

Sujiwo Tejo Lebih Dipilih

Saat mempersiapkan materi tersebut, saya sempat mengira bahwa tokoh atau jenis pidato yang paling disukai oleh para siswa saya tentu Kim Nam Joon atau Najwa Shihab. Ya, di awal saya merasa gaya Sujiwo Tejo akan sulit dipahami siswa karena terlalu bebas dan tidk sistematis. Saya piker, cukuplah dengan Kim Nam Joon untuk menyampaikan tujuan yang ingin saya capai melalui pembelajaran pidato.

Tapi ternyata saya keliru.

Yang mengejutkan adalah hasil diskusi dan survei setelahnya. Dari keempat kelas yang saya ajar, mayoritas siswa justru paling menyukai gaya Sujiwo Tejo. Mereka mengatakan, “nggak ngebosenin, Pak,” atau “kayak ngobrol tapi dalem.” Bahkan ada yang mengutip ulang ucapannya saat diskusi santai. Mereka merasa gaya ini lebih “hidup” dan “nggak ngajar dari atas.”

Hal yang sama pun terjadi saat saya kembali mengajar di SMA Asisi Jakarta pada tahun 2024. Kali ini, saya mengajar kelas XII dengan materi yang serupa—yakni pidato—namun dalam kerangka kurikulum yang berbeda (dulu dengan Kurikulum 2013, sekarang saya menggunakan Kurikulum Merdeka). Ya, meski telah berselang dua tahun, gaya pidato Sujiwo Tejo rupanya masih menjadi favorit para siswa saya.

Saya merenung dan bertanya: Mengapa –meski telah berselang dua tahun dan telah mengalami pergantian kurikulum– gaya pidato Sujiwo Tejo yang cenderung tidak sistematis, penuh improvisasi, bahkan terkesan ngawur, justru begitu disukai?

Saat itulah saya teringat pada pemikiran Carl Rogers, seorang psikolog humanis, yang menyatakan bahwa komunikasi yang efektif tidak selalu tentang struktur atau logika yang kaku, tetapi tentang keaslian, empati, dan kehadiran penuh (Rogers, 1980). Dan itulah yang, menurut saya, dirasakan siswa  dari gaya Sujiwo Tejo: ada kejujuran, ada kedekatan emosional, ada “jiwa” di balik setiap kata yang ia ucapkan.

Terlebih lagi, karena Kurikulum Merdeka yang ditetapkan di SMA Asisi saat ini memang lebih luas bagi siswa untuk berkespresi secara otentik dan membangun makna secara personal. Kurikulum ini tak lagi mengharuskan siswa meniru struktur formal semata, tetapi mendorong mereka untuk menemukan suara mereka sendiri.

Maka dari itu, bagi saya, Sujiwo Tejo bukan sekadar pilihan gaya pidato alternatif, melainkan representasi dari pendekatan pedagogi yang lebih manusiawi, reflektif dan inklusif—yang cocok untuk generasi hari ini, dan mungkin juga untuk generasi setelahnya.

Ironi di Balik Panggung Kelas

Namun, meski Sujiwo menonjol dan paling disukai sebagai contoh, ironi justru muncul saat siswa diminta membuat dan membawakan pidato mereka sendiri. Hampir seluruh siswa (baik siswa Kurikulum 2013 maupun siswa Kurikulum Merdeka) memilih meniru pola Najwa Shihab yang tersusun rapi, punya alur, dan “aman untuk dinilai.” Saya pun bertanya dalam hati: jika mereka lebih menyukai gaya Sujiwo Tejo, mengapa yang mereka tiru justru gaya Najwa Shihab?

Untuk memahami fenomena ini, saya mencoba mendekatinya lewat dua kerangka teori: retorika klasik Aristoteles dan teori modal budaya dari Pierre Bourdieu.

Dalam retorika klasik, Aristoteles menyebut bahwa kekuatan pidato bertumpu pada tiga unsur utama: ethos (kredibilitas pembicara), pathos (kemampuan membangkitkan emosi), dan logos (logika dan struktur argumen). Menariknya, Sujiwo Tejo—meskipun dikenal sebagai dalang nyentrik, penulis eksentrik, dan tokoh budaya yang sering bicara “seenaknya”—justru memiliki ethos yang kuat di masyarakat; termasuk pula di mata para siswa saya. Ia dipercaya bukan karena gelarnya, melainkan karena kejujurannya. Mereka merasakan kehadiran seorang manusia yang otentik, yang bicara dari hati dan bukan dari podium kekuasaan. Inilah ethos yang tidak dibangun dari otoritas, tetapi dari keberanian menjadi diri sendiri. Authenticity speaks louder than prestige.

Di sisi lain, Najwa Shihab, sebagai jurnalis kritis dan aktivis literasi, jelas memiliki ethos yang tinggi. Ia hadir dengan reputasi yang sudah mapan, dengan bahasa yang lugas namun tetap anggun. Bagi para siswa saya, Najwa dikenal sebagai serigaIa yang ditakuti oleh para politikus dan pejabat public.

Dari segi pathos, Sujiwo Tejo kembali unggul: ia mampu membuat siswa tertawa, berpikir, bahkan terhenyak. Ada tawa yang mengendap menjadi renungan. Sementara itu, Najwa memang membangkitkan emosi, tetapi dalam bentuk yang lebih tenang, reflektif, dan terkadang berjarak. Namun, segalanya berubah ketika siswa harus berbicara untuk “dinilai”. Di sini akhirnya logos mengambil alih. Dalam hal logos—struktur, urutan argumen, dan koherensi— para siswa saya merasa lebih aman mengikuti jejak Najwa. Pidato yang tersusun rapi, dengan pembukaan yang jelas, isi yang runtut, dan penutup yang mengikat, terasa lebih “masuk akal” dan lebih mudah diikuti, terutama di dalam kerangka ujian.

Modal Budaya: Menyesuaikan Diri di Ladang Sosial

Pertanyaan mengapa siswa menyukai gaya Sujiwo namun meniru Najwa juga saya temukan lewat teori Modal Budaya, Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, gaya, pengetahuan, dan kebiasaan yang dianggap “bernilai” akan berbeda tergantung ladang sosial tempat seseorang berada. Dan di dalam dunia pendidikan, lebih spesifik lagi di dalam ruang kelas, rupanya apa yang dinilai tinggi bukanlah sekadar keberanian atau kejujuran, tetapi keteraturan.

Di ruang kelas, gaya Najwa Shihab mewakili modal budaya yang sah secara institusional—tertata, sopan, bisa diukur. Sedangkan gaya Sujiwo, meski disukai, tak punya tempat di ruang penilaian formal. Kata-katanya yang “liar” atau strukturnya yang tidak sistematis dianggap melanggar norma akademik. Maka, ketika harus dinilai, siswa kembali ke bentuk yang diakui: struktur, alur, dan ketegasan. Mereka menyukai Sujiwo, tapi memilih Najwa karena menyadari sistem yang menilai mereka lebih menghargai keteraturan daripada spontanitas.

Di titik inilah pemikiran Pierre Bourdieu dalam The Forms of Capital menjadi sangat relevan. Bourdieu menyatakan bahwa sistem pendidikan modern cenderung mengafirmasi bentuk-bentuk modal budaya yang telah dibakukan. Hal-hal seperti kemampuan menyusun teks akademik, berbicara runut serta logis, atau menggunakan bahasa formal akan lebih dihargai lebih tinggi daripada spontanitas, improvisasi, atau keberanian menyampaikan hal-hal yang tak lazim.

Maka wajar bila kebanyakan para siswa, saat berpidato ada kecenderungan bukan untuk menyampaikan gagasan tetapi untuk dinilai. Unuk mempreoleh nilai. Mereka pun cenderung memilih jalur yang lebih aman. Mereka tahu bahwa keunikan gaya Sujiwo –meskipun menginspirasi, tidak akan mendapat skor tinggi di rubrik penilaian guru. Maka, meski pun hati mereka memilhak pada keberanian Sujiwo Tejo, namun pilihan teknis mereka tetap jatuh pada ketelitian Najwa Shihab. Di sinilah letak ironi tersebut: keberanian mungkin disukai, tetapi keteraturanlah yang dihadiahi.

Menjembatani Dua Dunia: Gaya dan Rasa Milik

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa mengajar pidato bukan sekadar mengajarkan teknik berbicara, tetapi juga membantu siswa merasa memiliki suara mereka sendiri. Mereka mungkin menyukai gaya Sujiwo, namun belum tentu merasa cukup percaya diri untuk menirunya. Saya sadar bahwa sistem pendidikan dan penilaian formal masih beroperasi dalam keangka struktur dan standar tertentu. Rubrik penilaian pidato yang digunakan, betapapun saya mencoba melonggarkannya, tetap akan memuat aspek-aspek seperti struktur yang logis, keteraturan bahasa, dan kesesuaian isi.

Inilah dilema pedagogis yang saya hadapi: bagaimana mendorong keberanian berekspresi tanpa membuat siswa merasa “berisiko” karena keluar dari pakem? Bagaimana menceptakan ruang kelas yang tidak hanya menilai keterampilan formal, tetapi juga mengapresiasi keberanian untuk menjadi diri sendiri? Maka tugas saya –atau mungkin kita semua sebagai guru– adalah menciptakan ruang aman bagi mereka –para siswa– untuk mencoba, bermain, dan mengekspresikan diri tanpa takut salah.

Pengalaman ini membuat saya terus bertanya ulang: bagaimana menciptakan ruang kelas yang lebih membebaskan?  Saya berharap para siswa saya bukan hanya bisa membuat pidato yang “baik,” tapi juga mampu berbicara dengan jujur, dengan gaya mereka sendiri. Saya terus mengulang pertanyaan: Bagaimanakah mendesain pembelajaran pidato yang tidak hanya mengajarkan teknik, tapi juga membangkitkan keberanian dan kejujuran? Dan yang terpenting, bagaimana mengapresiasi keberagaman gaya dalam berbicara, tanpa terjebak dalam satu standar tunggal yang mengabaikan jiwa di balik kata?

Sujiwo Tejo mengajarkan saya bahwa kadang, kekuatan pidato tidak terletak pada keteraturannya, tapi pada keberaniannya untuk mengganggu keteraturan itu sendiri. Dan mungkin, itulah pelajaran paling penting yang bisa saya bawa ke ruang kelas. Sebab pidato yang mengena tidak selalu yang paling rapi atau runut, tetapi yang paling jujur dan berani.

Jakarta, 12 April 2024.

Referensi

  • Bourdieu, Pierre. (1986). The Forms of Capital. In J. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (pp. 241–258). Greenwood.
  • Brown, H. Douglas. (2001). Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy. New York: Longman.
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen: Sekolah Menengah Atas. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. https://kurikulum.kemdikbud.go.id/
  • Keraf, Gorys. (1980). Komposisi. Ende: Nusa Indah.
  • Lunsford, Andrea A., & Ruszkiewicz, John J. (2009). Everything’s an Argument. Bedford/St. Martin’s.
  • Rogers, C. R. (1980). A way of being. Houghton Mifflin.
  • Tarigan, Henry Guntur. (2008). Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Penulis: Stebby Julionatan
Editor: Adnyana Ole

Merawat Pendidikan Sastra di Tengah Gempuran Dunia Industri
Rempah Paling Cong!
Masih Menyisakan Bias dan Misteri | Ulasan Buku
Tags: Pendidikanpidato
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“ASMARALOKA”, Album Launch Showcase Arkana di Berutz Bar and Resto, Singaraja

Next Post

“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata

Stebby Julionatan

Stebby Julionatan

Tinggal di Probolinggo, Jawa Timur dan saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di Kajian Gender – Universitas Indonesia.

Related Posts

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co