2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Pendidikan Sastra di Tengah Gempuran Dunia Industri

Stebby Julionatan by Stebby Julionatan
April 24, 2025
in Khas
Merawat Pendidikan Sastra di Tengah Gempuran Dunia Industri

Ayu Utami memberi materi kepada peserta kegiatan Peta Sastra Kebangsaan di SMA Asisi, 19 Maret 2025 | Foto: Ist

PADA 2020, dosen IKIP Gunung Sitoli Riana, menyoroti rendahnya perhatian sekolah terhadap pendidikan sastra. Ia mengungkap bahwa sastra sering dianggap tidak penting dan tidak memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Hal tersebut terjadi karena masyarakat sedang bergerak menuju orientasi industri, di mana sains, teknologi, dan kebutuhan jasmani dianggap lebih utama dan mendesak.

Minimnya minat masyarakat terhadap kegiatan sastra —dan kebudayaan secara umum—menjadi salah satu tanda dari kecenderungan ini. Sastra dinilai hanya memberikan manfaat secara batiniah dan non-material, sehingga sering kali diposisikan sebagai sesuatu yang tidak mendesak dan bisa ditunda.

Riana menyebut bahwa kondisi tersebut juga tercermin dalam dunia pendidikan. Perhatian siswa dan pihak sekolah terhadap mata pelajaran yang berkaitan dengan sains dan teknologi jauh lebih besar dibandingkan pelajaran yang bersifat humaniora. Ketimpangan ini tampak nyata dalam kurangnya sarana seperti laboratorium bahasa, sanggar seni, buku-buku sastra, dan fasilitas pendukung lainnya dalam proses pembelajaran sastra.

Penekanan terhadap arah pendidikan yang lebih condong pada penguasaan teknologi juga terlihat dalam pernyataan Wamendiksaintek RI, Stella Christie, dalam diskusi panel bertema “Mempercepat Transformasi Ekonomi Nasional: Strategi Pengembangan Hilirisasi Industri, Ketahanan Pangan, dan SDM Unggul” pada awal Januari 2025. Ia menegaskan bahwa mahasiswa dengan pola pikir riset (research mindset) dapat menjadi kunci lahirnya teknologi dan industri baru, serta mampu menjawab kebutuhan dunia kerja. Dalam pandangan Stella, penguatan hilirisasi riset harus ditopang oleh proses huluisasi—penyiapan SDM unggul yang sejak dini diarahkan pada penguasaan sains dan inovasi.

Gagasan yang menurut saya semakin mencerminkan kuatnya arus pragmatis dalam dunia pendidikan, yang menempatkan kemajuan teknologi sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Arah pemikiran Stella tersebut secara tidak langsung menegaskan kembali posisi sastra dan bidang humaniora sebagai hal yang tidak mendesak, dan bahkan dianggap kurang relevan dalam strategi pembangunan nasional Indonesia saat ini.

Ketika perhatian terhadap sains dan teknologi semakin mendominasi —sebab sejalan dengan arah kebijakan pembangunan ekonomi nasional— pelajaran sastra dan aktivitas literasi justru semakin terpinggirkan. Dalam kondisi tersebut memperjuangkan ruang bagi sastra di tengah ekosistem pendidikan yang semakin pragmatis menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Di tengah dinamika kebijakan pendidikan dan desakan kebutuhan ekonomi yang kian mendesak, kegiatan Peta Sastra Kebangsaan yang kembali saya dan Ayu Utami helat di SMA Asisi Jakarta pada Maret 2025 terasa seperti upaya kecil untuk tetap merawat sisi batiniah dari pendidikan —sebuah ruang yang memberi tempat bagi empati, imajinasi, dan kemanusiaan. Sastra, yang mungkin tidak selalu tampak mendesak, justru semakin terasa penting untuk dipelihara.

Stebby Julionatan (saya/penulis) dalam pembukaan kegiatan Peta Sastra Kebangsaan di SMA Asisi, 19 Maret 2025 | Foto: Ist

Ya, meski sama dengan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan kali ini terasa jauh lebih menantang. Tekanan yang saya hadapi bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan pergeseran orientasi pendidikan yang telah dipaparkan sebelumnya. Peta Sastra Kebangsaan yang saya maksudkan di atas adalah metode membaca pemikiran bangsa melalui sastra dengan menggunakan 11+1 kata kunci (baca: Membaca Peta Sastra: Menghentikan Kekerasan oleh Anak, 2024).

Dinamika dalam Dunia Pengajaran Sastra

Pada tahun ini, setelah saya mengalami sendiri perbedaan mengajarkan hal yang sama, yaitu sastra, di SMA dan di perguruan tinggi,  saya semakin memahami kegelisahan para guru (baca: guru Bahasa dan Sastra Indonesia). Salah seorang guru asal Banten, Apip Kurniadin, yang pernah mengikuti pelatihan Peta Sastra Kebangsaan di Salihara pada 2024 pernah menyampaikan pada saya bahwa kurikulum saat ini menempatkan mereka dalam dilema, yakni antara memenuhi tuntutan akademik atau mengajarkan sastra sebagai bagian dari ideologi mereka (baca: identitas bangsa).

Dari apa yang Apip utarakan, saya berefleksi bahwa sebenarnya keberhasilan saya membawa sastra ke ruang kelas di SMA Asisi Jakarta adalah bentuk privilege. Ya, di tempat tersebut, saya diberi izin oleh kepala sekolah di tempat saya mengajar untuk melakukan inovasi dalam kurikulum. Kepala sekolah saya pun tidak membatasi atau menyensor materi-materi yang saya berikan kepada siswa, pun demikian dengan tanggapan dari para orang tua wali murid selama ini. Kepala SMA Asisi Jakarta, Heru Malyono, dan beberapa wali murid yang saya kenal justru senang ketika anak mereka diperkenalkan terhadap sastra dan memberi saya ruang yang lebih luas untuk berkreasi.

Ayu Utami bersama peserta kegiatan Peta Sastra Kebangsaan di SMA Asisi, 19 Maret 2025 | Foto: Ist

Namun, tentu saya memahami bahwa kondisi sebagaimana yang saya sampaikan di atas, tidak dialami oleh semua sekolah. Dari kegiatan sosialisasi Peta Sastra Kebangsaan yang dihelat Salihara dan diperuntukkan pada guru pada 2024 lalu, saya pun mendengar cerita bahwa bebarapa rekan guru dilarang mengajarkan novel-novel tertentu atau dipaksa mengikuti kurikulum secara kaku. Misalnya, sekolah mereka menyensor secara mandiri novel Eka Kurniawan dan Ayu Utami. Mereka takut membahas karya yang dianggap sensitive. Mereka “takut” memperkenalkan Cantik Itu Luka atau Saman kepada siswa karena reaksi orang tua wali murid yang jauh berbeda dengan yang saya dapatkan. Ya, saya menyadari, di banyak tempat, sastra masih harus berhadapan dengan sensor dan batasan yang ketat.

Kondisi Ekonomi dan Literasi di Sekolah

Dari perjumpaan saya dengan dua belas rekan guru dari berbagai penjuru Indonesia pada 27-28 April 2024, saya semakin sadar bahwa salah satu tantangan terbesar dalam merawat pendidikan sastra di sekolah adalah faktor ekonomi. Saya merasa beruntung karena SMA Asisi Jakarta, tempat saya mengajar, berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Asisi yang memiliki dukungan cukup memadai —termasuk akses berlangganan ke platform buku digital seperti Gramedia Digital. Namun, saya juga tahu bahwa kemewahan seperti ini bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh semua sekolah.

Dalam pertemuan dengan perwakilan 12 guru sastra dari seluruh Indonesia tersebut, muncul berbagai kisah yang mencerminkan kesenjangan ini. Banyak guru, terutama yang mengajar di luar Jawa, menghadapi kondisi yang jauh lebih menantang. Giyai Rika, seorang guru dari Papua, misalnya, mengaku kesulitan mengakses buku-buku sastra, baik dalam bentuk cetak maupun digital. Bukan hanya buku sastra nasional, tetapi juga karya-karya lokal yang bisa merepresentasikan pengalaman dan isu khas daerah mereka pun nyaris tidak tersedia.

Ayu Utami memberi materi kepada peserta kegiatan Peta Sastra Kebangsaan di SMA Asisi, 19 Maret 2025 | Foto: Ist

Situasi ini tentu memperparah absennya pendekatan literasi yang berbasis lokalitas. Ketika membicarakan sastra sebagai cermin kehidupan dan identitas kultural, bagaimana mungkin siswa diajak memahami ketimpangan sosial di sekitarnya jika tidak ada karya yang menarasikannya? Di beberapa sekolah, bahkan untuk memperkenalkan wacana kebangsaan melalui sastra pun terasa mustahil—karena bahan bacaan itu sendiri tidak ada. Maka dari itu, perhatian terhadap akses, distribusi buku, dan penyediaan fasilitas literasi yang merata menjadi persoalan mendesak dalam pembicaraan tentang pendidikan sastra hari ini.

Perubahan Kurikulum dan Meredupnya Minat Baca

Salah satu tantangan yang paling saya rasakan belakangan ini adalah dampak nyata dari transisi Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka. Di atas kertas, kurikulum ini menjanjikan kebebasan yang lebih luas bagi guru dan siswa untuk mengeksplorasi minat dan potensi mereka. Namun kenyataan di lapangan tidak selalu seideal konsepnya. Alih-alih menjadi ruang merdeka untuk memperkaya literasi, mata pelajaran Bahasa Indonesia Lanjutan yang seharusnya membuka pintu eksplorasi sastra dan pemikiran kritis justru dipandang sebagai beban tambahan. Banyak siswa menghindarinya bukan karena sulit, tetapi karena tidak lagi merasakan relevansi atau daya tariknya.

Peserta kegiatan Peta Sastra Kebangsaan di SMA Asisi, 19 Maret 2025 | Foto: Ist

Pengalaman ini sejalan dengan cerita para guru yang saya temui dalam kegiatan sosialisasi Peta Sastra Kebangsaan dan sesi diskusi bersama para guru di Salihara. Ketika buku-buku tidak tersedia, karya-karya lokal absen, dan kebebasan mengajar dibatasi oleh kekhawatiran akan reaksi wali murid atau regulasi internal sekolah, maka perubahan kurikulum saja tidak cukup. Bahkan, di SMA Asisi yang relatif memiliki kelonggaran dan dukungan, saya melihat sendiri bahwa jumlah siswa yang menikmati membaca karya sastra di luar kewajiban akademik semakin berkurang. Membaca tidak lagi menjadi kegiatan yang membangkitkan rasa ingin tahu, melainkan hanya rutinitas untuk memenuhi nilai.

Refleksi ini menguatkan kekhawatiran saya: jika sistem pendidikan tidak dibarengi dengan dukungan ekosistem literasi yang memadai —baik dari segi akses, pendekatan pengajaran, maupun kebijakan yang berpihak— maka minat baca akan terus merosot. Apa jadinya masa depan literasi bangsa jika buku-buku tidak hadir, jika sastra tidak diberi ruang, dan jika membaca tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan kultural yang mendalam?

Tetap Menghidupkan Sastra dengan 3 Kata Kunci

Dengan tiga persoalan yang telah saya paparkan sebelumnya—kurangnya dukungan struktural, ketimpangan akses terhadap literatur, dan meredupnya minat baca akibat perubahan kurikulum—muncul pertanyaan mendasar: bagaimana kita bisa terus merawat pendidikan sastra di tengah kondisi seperti ini?

Ayu Utami, dalam pelatihan Peta Sastra Kebangsaan di Salihara, pernah menawarkan pendekatan “11+1 Kata Kunci” sebagai metode terbuka yang bisa disesuaikan dengan konteks. Pendekatan ini tidak kaku, dan justru memberi ruang bagi pengajar untuk beradaptasi. Tahun ini, dalam pelaksanaan proyek Peta Sastra Kebangsaan yang saya lakukan di SMA Asisi Jakarta (Maret–Mei 2025), saya mencoba menggunakan hanya tiga kata kunci utama. Waktu yang terbatas bukan alasan untuk menyerah. Dari pengalaman saya mengajar di berbagai tempat—baik di SMA maupun perguruan tinggi—saya belajar bahwa keberanian untuk mengadaptasi dan memodifikasi metode sangat penting untuk menjaga agar nyala sastra tidak padam.

Peserta kegiatan Peta Sastra Kebangsaan di SMA Asisi, 19 Maret 2025 | Foto: Ist

Ayu Utami dan Stebby Julionatan (saya/penulis) berfoto dalam kegiatan Peta Sastra Kebangsaan di SMA Asisi, 19 Maret 2025 | Foto: Ist

Berfoto bersama peserta dalam kegiatan Peta Sastra Kebangsaan di SMA Asisi, 19 Maret 2025 | Foto: Ist

Saya percaya, pengajaran sastra tidak bisa menunggu kondisi ideal. Ketika akses terbatas, ketika kebijakan berubah dengan cepat, bahkan ketika buku-buku disensor atau tak tersedia, kita tetap bisa membangun ruang dialog yang hidup lewat sastra. Kreativitas, keteguhan hati, dan dukungan komunitas menjadi modal utama. Di SMA Asisi, saya bersyukur memiliki kepala sekolah dan wali murid yang mendukung. Tapi saya sadar, banyak rekan saya di daerah lain yang harus berjuang sendirian.

Justru karena itu, saya merasa semakin yakin bahwa sastra harus terus diajarkan. Apalagi, sehari setelah pembukaan proyek Peta Sastra Kebangsaan tahun ini, DPR mengetuk palu untuk mengesahkan revisi UU TNI yang baru. Sebagai pengajar, saya bertanya dalam hati—apakah ini bukan bentuk ancaman bagi kebebasan berpikir dan berekspresi? Apakah kita akan kembali pada masa ketika suara kritis dibungkam secara sistematis? Di tengah ketidakpastian arah bangsa, saya melihat sastra bukan hanya sebagai bahan ajar, tetapi juga sebagai ruang perlawanan kultural.

Ya, Peta Sastra Kebangsaan yang semula diperkenalkan oleh Ayu Utami, bagi saya bukan sekadar proyek literasi tahunan, tetapi sebuah upaya mempertahankan ruang kebebasan di sekolah, di benak para siswa, dan di tengah arus besar yang mengikis nilai-nilai humaniora. Sastra bukan untuk sekadar dibaca—ia untuk direnungkan, diperdebatkan, dan dijadikan alat untuk memahami dunia yang rumit ini. Jika kita masih percaya pada masa depan yang berpihak pada kebebasan berpikir dan kepekaan nurani, maka merawat pendidikan sastra bukanlah pilihan, tetapi kewajiban. [T]

Jakarta, 9 April 2025

Penulis: Stebby Julionatan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Bali Berkisah: Merayakan Sastra dan Budaya Bali dalam Ruang Perjumpaan Anak Muda
APWT Heart Water Chiang Mai Thailand: Ketika Sastra Mempertautkan Penulis Penerjemah Kawasan Asia Pasifik
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024
Tags: Ayu UtamiPendidikanpendidikan sastrasastraStebby Julionatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa

Next Post

Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

Stebby Julionatan

Stebby Julionatan

Tinggal di Probolinggo, Jawa Timur dan saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di Kajian Gender – Universitas Indonesia.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co