12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

APWT Heart Water Chiang Mai Thailand: Ketika Sastra Mempertautkan Penulis Penerjemah Kawasan Asia Pasifik

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 30, 2024
in Esai
APWT Heart Water Chiang Mai Thailand: Ketika Sastra Mempertautkan Penulis Penerjemah Kawasan Asia Pasifik

Saya (Kadek Sonia Piscayanti) (paling kiri) Presentasi di APWT tentang karya sastra baik berupa puisi, naskah teater dan film.

KETIKA undangan resmi datang dari Asia Pasific Writers dan Translators 2024, saya merasa bahagia. APWT adalah asosiasi penulis dan penerjemah se-Asia Pasifik dan saat ini merupakan salah satu jaringan penulis terbesar di Asia Pasifik.

APWT berdiri sejak tahun 2007 dan hingga kini telah mengadakan konferensi sebanyak 15 kali hingga 2024. Indonesia menjadi bagian penting dari APWT karena termasuk tempat berlangsungnya APWT pertama kalinya, yaitu di Ubud pada tahun 2007. 

Sejarah APWT dimulai dari dua pendirinya yaitu Nury Vittachi dan Jane Camens yang ingin menjembatani para penulis dan penerjemah khususnya menggunakan jejaring universitas di Kawasan Asia Pasifik. Tujuannya untuk berbagi gagasan seputar dunia menulis kreatif dan mempererat jejaring penulis dan penerjemahnya.

Pertemuan pertama APWT terjadi di Ubud, Bali, pada tahun 2007, dan karena itu,  Ubud adalah tempat bersejarah bagi APWT karena merupakan tempat pertemuan pertama.

Berikutnya APWT 2008 terlaksana di New Delhi India, 2010 di Hong Kong, China. Tahun 2011 di Perth Australia, 2012 dan 2013 di Thailand, 2014 di Singapore, 2015 di Phillipines, 2016 di Guangzhou China, 2017 di Singaraja, Bali. Selanjutnya di tahun 2018 di Gold Coast Australia, 2019 di Macau, China, 2022 di Bangalore India, dan 2023 di Ubud.

Tahun 2024 ini APWT digelar di Chiang Mai Thailand. Dengan tema Heart Water APWT membahas bagaimana air menjadi penghubung semua teritori Kawasan Asia Pasifik dan bagaimana hati mempertautkan kita. Memang tak berlebihan jika dikatakan bahwa kita bersatu karena air dan jiwa melalui sastra.

Direktur Eksekutif APWT Prof. Sally Breen mengatakan bahwa APWT adalah asosiasi penulis dan penerjemah se-Asia Pasifik yang lebih memprioritaskan pada kedalaman dan keterhubungan personal antar anggotanya sebagai sebuah keluarga besar yang saling mendukung dan saling merangkul.

Sebanyak kurang lebih 100 penulis berkumpul di Chiang Mai, saling berbagi, saling mendengar, saling bertukar gagasan, juga tentunya saling mendukung dan saling menguatkan.

Indonesia diundang melalui dua penulis yaitu saya sendiri (Kadek Sonia Piscayanti), dan Pranita Dewi. Kami dipilih karena karya-karya yang berbicara tentang identitas perempuan Bali dan komplesitas isu yang kami hadapi dan tuliskan melalui berbagai jenis karya sastra.

Saya sebagai penulis naskah teater, penulis puisi, cerpen, esai, juga produser film, dan pendiri festival sastra di Singaraja. Sementara Pranita Dewi adalah penulis puisi, esai, dan juga pembaca puisi. Mewakili Indonesia, kami mendapatkan dukungan pendanaan dari Dana Indonesiana.

Hari pertama, kami mengikuti jadwal yang padat yaitu Keynote Seminar dari Sunnisa Maning, panel paralel yang menampilkan banyak penulis dari kawasan Asia Pasifik di antaranya Mai Nardone, Joe Milan, Piia Mustamaki, Philip Cornwell Smith, Sara F Costa, Tony Waters, Robin Hemley dan masih banyak lagi.

Saya (kanan) bersama Anita Thomas (kiri) di APWT Chiang Mai | Foto: Dok. pribadi

Saya sendiri mendapat sesi sore yaitu di panel paralel dengan topik  Make it Move – Make it Flow dipandu oleh host Roland B Tolentino. Saat itu saya menjadi narasumber bersama Maude Veilleux dan Mitch Goodwin, namun Mitch hanya hadir melalui karya visualnya.

Di panel ini saya berbicara soal puisi, naskah drama, dan film sebagai perantara gagasan menuju ke publik yang luas namun segmented. Definisi panel Make it Move Make it Flow sangat terkait dengan hampir seluruh karya saya yang berisi ajakan bergerak dan mengalir, melakukan sebuah perubahan.

Esensi tema yang baik ini menjadi inti diskusi kami, yaitu perspektif kata-kata dalam konteks ruang dan rupa realita.

Diskusi berjalan baik dan lebih menitikberatkan pada bagaimana kemungkinan karya-karya kami selain dapat dinikmati lebih luas namun juga memberi dampak dan mengubah masyarakat menjadi lebih baik. Dalam konteks lebih spesifik, salah satunya melalui film, secara audio visual film dapat menggugah hati dengan kritis.

Malam harinya ada pembacaan karya, dimana Pranita Dewi diundang sebagai penyair yang membaca puisi. Sangat menarik melihat pembacaan puisi begitu dihayati dan diresapi dengan serius.

Hari kedua kami mendengar keynote dari Robin Hemley, yang bicara soal pendekatan personal dalam sastra yang mampu mengubah dunia. Intinya, jika kita mampu memandang sesuatu secara personal dan menggarapnya dengan perspektif segar, maka akan lahir karya yang berbeda.

Selepas itu kami melanjutkan menikmati panel-panel yang seru, salah satunya adalah panel soal bagaimana isu industri kreatif penulisan saat ini bagaimana ekosistem harus dimainkan. Panel ini menghadirkan Sally Breen, Brendan Fredericks, Vanessa Barrington, Catherine Cormier-Larose, Deva Eveland, Murielle Paviet-Fanolliet, Michael Clements.

Bersama penulis-penulis lain di APWT Chiang Mai | Foto: Dok. pribadi

Bersama penulis Philip Cornwell Smith (kiri) dan Sudeep Sen (kanan) di APWT Chiang Mai | Foto: Dok. pribadi

Malam harinya, di Kalm Village kami diundang makan malam bersama seluruh penulis yang sekaligus peserta APWT, kami disuguhi pertunjukan musik dan puisi.

Lalu 24 November, pagi hari pada sesi pembacaan puisi di Kalm Village saya membacakan puisi berjudul A Cursed Poet. Puisi ini bercerita tentang bagaimana puisi mempersatukan para penulis se-Asia Pasifik di Chiang Mai Thailand.

Puisi bekerja seperti karma, tak dapat dihindari, jika saatnya lahir puisi maka puisi akan lahir, dan saatnya bersua akan bersua dengan penyair lainnya.

Seolah puisi ini benar adanya, seluruh penyair yang hadir nampak larut dan benar-benar mengapresiasi kehadiran puisi.

Masih di 24 November, film yang saya produksi diputar. Film ini telah diputar di Singaraja Literary Festival, Agustus 2024, lalu diedit kembali khusus untuk diputar di APWT Chiang Mai.

Di tanggal 24 pula, kami melakukan seremoni perpisahan, karena telah usai mengikuti seluruh program APWT. Sungguh sastra telah membawa saya menemukan diri yang lebih kaya karena bertukar gagasan dan cerita menyebabkan pertumbuhan mental yang baik. Sebagai duta budaya dari Indonesia, kami sangat dihargai, dirayakan dan dihormati. Matur suksma. [T]

BACA artikel lain dari penulis KADEK SONIA PISCAYANTI

Kembalinya Mimpi dan Puisi: Perjalanan Saya dan Sonia ke (dan dari) APWT di Chiang Mai, Thailand
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024
Macau Bukan Hanya Kasino – Ada Tragedi, Komedi dan Hal Lain Tentang Manusia
Tags: APWTAsia FasifikAsia Pacific Writers and TranslatorsChiang MaipenerjemahpenulissastraThailand
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Susiawan dalam Pameran “Bridges of Light”: Pengalaman Transformatif yang Mendorong Dialog, Kreativitas, dan Refleksi

Next Post

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi --- [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co