2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

APWT Heart Water Chiang Mai Thailand: Ketika Sastra Mempertautkan Penulis Penerjemah Kawasan Asia Pasifik

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 30, 2024
in Esai
APWT Heart Water Chiang Mai Thailand: Ketika Sastra Mempertautkan Penulis Penerjemah Kawasan Asia Pasifik

Saya (Kadek Sonia Piscayanti) (paling kiri) Presentasi di APWT tentang karya sastra baik berupa puisi, naskah teater dan film.

KETIKA undangan resmi datang dari Asia Pasific Writers dan Translators 2024, saya merasa bahagia. APWT adalah asosiasi penulis dan penerjemah se-Asia Pasifik dan saat ini merupakan salah satu jaringan penulis terbesar di Asia Pasifik.

APWT berdiri sejak tahun 2007 dan hingga kini telah mengadakan konferensi sebanyak 15 kali hingga 2024. Indonesia menjadi bagian penting dari APWT karena termasuk tempat berlangsungnya APWT pertama kalinya, yaitu di Ubud pada tahun 2007. 

Sejarah APWT dimulai dari dua pendirinya yaitu Nury Vittachi dan Jane Camens yang ingin menjembatani para penulis dan penerjemah khususnya menggunakan jejaring universitas di Kawasan Asia Pasifik. Tujuannya untuk berbagi gagasan seputar dunia menulis kreatif dan mempererat jejaring penulis dan penerjemahnya.

Pertemuan pertama APWT terjadi di Ubud, Bali, pada tahun 2007, dan karena itu,  Ubud adalah tempat bersejarah bagi APWT karena merupakan tempat pertemuan pertama.

Berikutnya APWT 2008 terlaksana di New Delhi India, 2010 di Hong Kong, China. Tahun 2011 di Perth Australia, 2012 dan 2013 di Thailand, 2014 di Singapore, 2015 di Phillipines, 2016 di Guangzhou China, 2017 di Singaraja, Bali. Selanjutnya di tahun 2018 di Gold Coast Australia, 2019 di Macau, China, 2022 di Bangalore India, dan 2023 di Ubud.

Tahun 2024 ini APWT digelar di Chiang Mai Thailand. Dengan tema Heart Water APWT membahas bagaimana air menjadi penghubung semua teritori Kawasan Asia Pasifik dan bagaimana hati mempertautkan kita. Memang tak berlebihan jika dikatakan bahwa kita bersatu karena air dan jiwa melalui sastra.

Direktur Eksekutif APWT Prof. Sally Breen mengatakan bahwa APWT adalah asosiasi penulis dan penerjemah se-Asia Pasifik yang lebih memprioritaskan pada kedalaman dan keterhubungan personal antar anggotanya sebagai sebuah keluarga besar yang saling mendukung dan saling merangkul.

Sebanyak kurang lebih 100 penulis berkumpul di Chiang Mai, saling berbagi, saling mendengar, saling bertukar gagasan, juga tentunya saling mendukung dan saling menguatkan.

Indonesia diundang melalui dua penulis yaitu saya sendiri (Kadek Sonia Piscayanti), dan Pranita Dewi. Kami dipilih karena karya-karya yang berbicara tentang identitas perempuan Bali dan komplesitas isu yang kami hadapi dan tuliskan melalui berbagai jenis karya sastra.

Saya sebagai penulis naskah teater, penulis puisi, cerpen, esai, juga produser film, dan pendiri festival sastra di Singaraja. Sementara Pranita Dewi adalah penulis puisi, esai, dan juga pembaca puisi. Mewakili Indonesia, kami mendapatkan dukungan pendanaan dari Dana Indonesiana.

Hari pertama, kami mengikuti jadwal yang padat yaitu Keynote Seminar dari Sunnisa Maning, panel paralel yang menampilkan banyak penulis dari kawasan Asia Pasifik di antaranya Mai Nardone, Joe Milan, Piia Mustamaki, Philip Cornwell Smith, Sara F Costa, Tony Waters, Robin Hemley dan masih banyak lagi.

Saya (kanan) bersama Anita Thomas (kiri) di APWT Chiang Mai | Foto: Dok. pribadi

Saya sendiri mendapat sesi sore yaitu di panel paralel dengan topik  Make it Move – Make it Flow dipandu oleh host Roland B Tolentino. Saat itu saya menjadi narasumber bersama Maude Veilleux dan Mitch Goodwin, namun Mitch hanya hadir melalui karya visualnya.

Di panel ini saya berbicara soal puisi, naskah drama, dan film sebagai perantara gagasan menuju ke publik yang luas namun segmented. Definisi panel Make it Move Make it Flow sangat terkait dengan hampir seluruh karya saya yang berisi ajakan bergerak dan mengalir, melakukan sebuah perubahan.

Esensi tema yang baik ini menjadi inti diskusi kami, yaitu perspektif kata-kata dalam konteks ruang dan rupa realita.

Diskusi berjalan baik dan lebih menitikberatkan pada bagaimana kemungkinan karya-karya kami selain dapat dinikmati lebih luas namun juga memberi dampak dan mengubah masyarakat menjadi lebih baik. Dalam konteks lebih spesifik, salah satunya melalui film, secara audio visual film dapat menggugah hati dengan kritis.

Malam harinya ada pembacaan karya, dimana Pranita Dewi diundang sebagai penyair yang membaca puisi. Sangat menarik melihat pembacaan puisi begitu dihayati dan diresapi dengan serius.

Hari kedua kami mendengar keynote dari Robin Hemley, yang bicara soal pendekatan personal dalam sastra yang mampu mengubah dunia. Intinya, jika kita mampu memandang sesuatu secara personal dan menggarapnya dengan perspektif segar, maka akan lahir karya yang berbeda.

Selepas itu kami melanjutkan menikmati panel-panel yang seru, salah satunya adalah panel soal bagaimana isu industri kreatif penulisan saat ini bagaimana ekosistem harus dimainkan. Panel ini menghadirkan Sally Breen, Brendan Fredericks, Vanessa Barrington, Catherine Cormier-Larose, Deva Eveland, Murielle Paviet-Fanolliet, Michael Clements.

Bersama penulis-penulis lain di APWT Chiang Mai | Foto: Dok. pribadi

Bersama penulis Philip Cornwell Smith (kiri) dan Sudeep Sen (kanan) di APWT Chiang Mai | Foto: Dok. pribadi

Malam harinya, di Kalm Village kami diundang makan malam bersama seluruh penulis yang sekaligus peserta APWT, kami disuguhi pertunjukan musik dan puisi.

Lalu 24 November, pagi hari pada sesi pembacaan puisi di Kalm Village saya membacakan puisi berjudul A Cursed Poet. Puisi ini bercerita tentang bagaimana puisi mempersatukan para penulis se-Asia Pasifik di Chiang Mai Thailand.

Puisi bekerja seperti karma, tak dapat dihindari, jika saatnya lahir puisi maka puisi akan lahir, dan saatnya bersua akan bersua dengan penyair lainnya.

Seolah puisi ini benar adanya, seluruh penyair yang hadir nampak larut dan benar-benar mengapresiasi kehadiran puisi.

Masih di 24 November, film yang saya produksi diputar. Film ini telah diputar di Singaraja Literary Festival, Agustus 2024, lalu diedit kembali khusus untuk diputar di APWT Chiang Mai.

Di tanggal 24 pula, kami melakukan seremoni perpisahan, karena telah usai mengikuti seluruh program APWT. Sungguh sastra telah membawa saya menemukan diri yang lebih kaya karena bertukar gagasan dan cerita menyebabkan pertumbuhan mental yang baik. Sebagai duta budaya dari Indonesia, kami sangat dihargai, dirayakan dan dihormati. Matur suksma. [T]

BACA artikel lain dari penulis KADEK SONIA PISCAYANTI

Kembalinya Mimpi dan Puisi: Perjalanan Saya dan Sonia ke (dan dari) APWT di Chiang Mai, Thailand
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024
Macau Bukan Hanya Kasino – Ada Tragedi, Komedi dan Hal Lain Tentang Manusia
Tags: APWTAsia FasifikAsia Pacific Writers and TranslatorsChiang MaipenerjemahpenulissastraThailand
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Susiawan dalam Pameran “Bridges of Light”: Pengalaman Transformatif yang Mendorong Dialog, Kreativitas, dan Refleksi

Next Post

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi --- [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co