23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembalinya Mimpi dan Puisi: Perjalanan Saya dan Sonia ke (dan dari) APWT di Chiang Mai, Thailand

Pranita Dewi by Pranita Dewi
December 9, 2024
in Tualang
Kembalinya Mimpi dan Puisi: Perjalanan Saya dan Sonia ke (dan dari) APWT di Chiang Mai, Thailand

Kadek Sonia Piscayanti (kiri) dan Pranita Dewi (kanan) di konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand | Foto: Dok. Pranita

JIKA keinginan yang kuat disebut mimpi, maka mimpi-mimpi saya di masa muda adalah seperti hantu gentayangan—berjalan panjang penuh belokan, sering kali tidak tahu harus ke mana. Ada mimpi yang saya impikan sejak belia tetapi tak pernah diraih. Ada mimpi yang saya tahu takkan pernah terwujud.

Ada pula mimpi yang saya kejar dengan segenap daya, hanya untuk dikubur oleh pergolakan hidup. Salah satu mimpi itu adalah puisi. Namun siapa sangka, dua dekade kemudian, justru puisi yang menjadi penopang saya untuk kembali percaya pada hidup.

Dulu, dunia bagi saya adalah puisi yang terhampar luas. Setiap daun yang jatuh, langit biru, hingga lapisan bumi di bawah kaki saya adalah puisi. Saya percaya bahwa apa pun yang saya lihat, rasakan, dan alami adalah puisi. Namun, seiring waktu, hidup merenggut kesempatan itu. Bukan karena apa-apa, tetapi karena saya terlalu malas untuk terus menulis.

Saya menyalahkan waktu yang berlalu begitu cepat sedangkan masih banyak pekerjaan yang harus saya tangani untuk sekadar memastikan bahwa saya cukup bisa melanjutkan hidup sebagai alasan untuk berhenti menulis.

Kadek Sonia Piscayanti (kiri) dan Pranita Dewi (kanan) di konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand | Foto: Dok. Pranita

Saat berusia 16 tahun, saya mencintai puisi dengan sepenuh hati. Puisi menjadi dunia saya di mana saya percaya bahwa puisi akan membawa saya mengembara ke tempat-tempat yang hanya ada dalam mimpi. Namun, kehidupan mengajarkan saya tentang rasa takut, hingga keberanian saya menulis pun menghilang.

Tetapi ketika mencoba melupakannya, puisi terus menghantui saya, seperti kutukan yang tak bisa saya hindari. Saya cukup sadar bahwa setiap pengalaman hidup sebenarnya adalah puisi, tetapi saya tak berani lagi menuliskannya. Saya tidak berani lagi.

Dua tahun terakhir, setelah melalui perceraian yang berat, saya memutuskan kembali kepada puisi—satu-satunya hal yang saya percayai. Saya mulai menulis lagi, mengikuti kelas menulis, dan menemukan kembali kebahagiaan yang lama hilang. Ada rasa lega ketika tulisan saya dimuat kembali, seperti dulu. Kini, saya yakin tidak akan berhenti lagi.

Puisi membawa saya pada peluang-peluang baru, termasuk undangan ke konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand. Undangan itu datang berkat rekomendasi sahabat lama saya, Kadek Sonia Piscayanti. Perjalanan ini bukan hanya tentang puisi, tetapi juga tentang persahabatan kami yang telah terjalin lebih dari dua dekade.

Pranita Dewi saat membaca puisi di konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand | Foto: Dok. Pranita

“10 kilo cukup, Nya! Serius! Kita pasti bisa bawa semuanya,” ujar saya dengan percaya diri sambil menjejalkan barang-barang tambahan ke koper yang sudah penuh sesak.

Sonia, yang selalu lebih hati-hati, menghela napas panjang. “Aku yakin kita harus perhitungkan ulang. Kalau kelebihan, bakal repot nanti.”

Saya hanya tertawa. “Santai saja! Kalau ada masalah, improvisasi aja,” jawab saya sambil memasukkan sepasang baju tambahan.

Masalah dimulai saat kami akan pulang ke Bali. Di loket check-in, wajah saya langsung pucat ketika petugas mengumumkan: batas bagasi hanya 7 kilogram. Berat koper saya? Hampir 11 kilo.

Pranita dan Sonia bersama para penulis dan penerjemah peserta Asia Pasific Writers and Translators | Foto: Dok. Pranita

“Aduh, Nya! Kok bisa begini?” Saya mencoba tersenyum untuk menutupi kegugupan.

Sonia menghela napas lebih panjang dari biasanya. “Karena kamu terus menambahkan barang dan mengabaikan batasan, Pranita. Aku udah bilang, jangan anggap enteng aturan.”

Saya mencoba mencari solusi khas saya. “Gampang, gampang! Aku pakai tiga lapis baju. Buku-buku ini aku sembunyikan di jaket.”

Sonia hanya menggeleng pelan. “Trik seperti itu nggak akan berhasil. Kita harus realistis. Beli bagasi tambahan saja.”

“Tapi mahal!” protes saya.

Pranita dan Sonia bersama para penulis dan penerjemah peserta Asia Pasific Writers and Translators | Foto: Dok. Pranita

“Justru karena mahal, makanya dari awal aku bilang jangan sampai kelebihan,” jawab Sonia dengan nada tetap tenang.

Akhirnya, saya terpaksa membeli bagasi tambahan di loket boarding. Saat petugas menyebutkan harganya, saya nyaris terjatuh. “Astaga! Harga segini bisa buat makan dua minggu di Bali!”

Sonia hanya tersenyum kecil, lalu menepuk bahu saya. “Pelajaran untukmu. Lain kali, dengarkan aku.”

Kami akhirnya duduk di pesawat, kelelahan tetapi lega. Sonia membuka buku, sementara saya segera tertidur.

“Setidaknya, kita pulang bawa banyak cerita,” gumam saya sebelum terlelap.

“Dan pelajaran,” tambah Sonia.

Sonia (kiri) saat menjadi pembicara di Asia Pasific Writers and Translators | Foto: Dok. Pranita

Perjalanan ini mengukuhkan satu hal: persahabatan adalah perpaduan antara kebijaksanaan dan kegilaan, dengan bumbu kejutan tak terduga lainnya. Bagaimanapun, hidup adalah tentang saling melengkapi, seperti dunia dan puisi yang ingin terus kami tulis bersama.

Eits, sebentar! Saya ingin mencoba menutup tulisan ini dengan kesimpulan tentang persahabatan kami: kombinasi antara yang bijaksana (Sonia) dan yang gila (saya). Tapi, pikiran saya sepertinya punya agenda lain—masih banyak yang mau saya ceritakan! Jadi, mari kita tambahkan beberapa momen lagi di tulisan ini.

Sonia itu definisi hidup dari perempuan yang super rapi, cerdas, dan perfeksionis level platinum. Saking terstrukturnya, pernah suatu kali kami duduk di meja makan, di depan kami terhampar hidangan khas Thailand yang menggoda. Makanan ini kami beli dari warung pinggir jalan yang mirip dengan warung lalapan di Indonesia.

Sonia, seperti biasa, sudah merencanakan segalanya dengan matang. Dia memilih menu dengan perhitungan seperti seorang ahli strategi perang. Ketika makanan tersaji, dia memandang meja dengan ekspresi serius. Lalu dia bertanya, “Aku masih berpikir, bagaimana cara kita memakan ini?”

Pranita Dewi saat membaca puisi di konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand | Foto: Dok. Pranita

Saya? Tentu tidak pakai mikir panjang. Saya langsung mengambil alat makan, mencapit lauk, dan memasukkannya ke mulut. “Begini caranya, Sonia,” jawab saya sambil mengunyah dengan bahagia.

Sonia tertawa terbahak-bahak sampai hampir terjungkal dari kursinya, dan saya ikut tertawa sambil melahap semua udang yang ada di piring. Udang itu, by the way, adalah favorit saya. Saat tinggal satu ekor udang tersisa, Sonia tiba-tiba berkata, “Boleh aku coba satu? Soalnya yang lain tinggal cangkang semua.”

Dengan polos saya menjawab, “Loh, aku pikir kamu nggak suka udang. Makanya aku habiskan.”

“Tidak suka, bukan berarti tidak mau coba!” balas Sonia sambil menatap udang terakhir seperti itu adalah tiket emas ke surga. Kami tertawa sampai perut sakit, di tengah jalan yang penuh lalu lalang orang asing yang bingung melihat dua perempuan konyol ini.

Malam lainnya, setelah hari panjang yang dipenuhi panel-panel diskusi di konferensi, kami pulang ke penginapan dengan kaki yang nyaris menyeret. Sesampainya di meja resepsionis, saya meminta kunci kamar. Resepsionis yang tampak ramah, tetapi mungkin agak bingung melihat wajah saya yang belepotan capek, bertanya:

“Who are you? What brings you here?”

Pranita dan Sonia bersama para penulis dan penerjemah peserta Asia Pasific Writers and Translators | Foto: Dok. Pranita

Tanpa berpikir panjang—karena ya, otak saya sudah hampir shutdown—saya menjawab, “I am No Body.”

Sonia yang berdiri di samping langsung menghela napas (khas Sonia) sebelum buru-buru menjelaskan kepada resepsionis bahwa kami sedang mengikuti konferensi. Ternyata, resepsionis bertanya karena dia menemukan bahwa pemesan kamar kami adalah seorang professor (yup, dengan gelar “Doctor”).

Dia hanya ingin memastikan bahwa orang di depannya adalah sang professor, tentu dugaannya salah. Saya bukanlah seorang professor, tetapi memang yang memesankan kamar kami adalah seorang professor.

Tentu, saya tahu arah pertanyaan itu. Tapi karena malas panjang-panjang, saya pikir jawaban “I am No Body” sudah cukup efisien.

Reaksi Sonia? Dia terbahak-bahak. Sepanjang perjalanan naik tangga ke kamar, dia terus tertawa. Bahkan dia harus bersandar ke dinding untuk menenangkan diri, saking ngakaknya. Sementara saya? Saya cuma bergumam sambil mengangkat bahu, “Kan memang benar, aku ini nobody.”

Pranita Dewi saat membaca puisi di konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand | Foto: Dok. Pranita

Sonia menyahut di sela tawanya, “Kalau kamu nobody, berarti aku apa? Somebody?!”

Kami tertawa lagi. Tawa itu akhirnya membawa kami ke tempat tidur yang nyaman, diiringi pikiran bahwa hidup tidak pernah kekurangan momen absurd.

Lalu, bagaimana dengan pengalaman di APWT? Di sana, saya bertemu banyak kenalan baru, menyerap ide-ide segar yang kerapkali diselimuti atmosfer yang positif. Panel-panel diskusi yang intim memungkinkan interaksi langsung dengan para pembicara. Tidak ada penghakiman, hanya apresiasi. Saya dan Sonia akan menuliskan cerita khusus tentang ini nanti.

Yang jelas, saya akhirnya menyadari bahwa puisi adalah jati diri saya yang tak pernah benar-benar hilang. Pengalaman di APWT menjadi titik balik yang mempertegas keyakinan saya: puisi adalah rumah, dan akhirnya, saya pulang.[T]

Menjelajah Chiang Rai, Tertambat di Union of Hill Tribe Thailand
Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand
Jalan-Jalan Pagi di Desa Pai, Thailand: Gambaran Nyata Desa Wisata
Perjalanan ke Thailand: Menimbang Utara di Chiang Mai dan Utara di Bali
Tags: APWTAsia Pacific Writers and TranslatorsChiang MaiThailand
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Riwayat “Menak” Banten dan Asal-Usul Banten Versi Orang Baduy

Next Post

Mengenal Sawah dan Ekosistemnya melalui “Jelajah dan Belajar” di Subak Tegallinggah, Tabanan

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Penyair. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Mengenal Sawah dan Ekosistemnya melalui “Jelajah dan Belajar” di Subak Tegallinggah, Tabanan

Mengenal Sawah dan Ekosistemnya melalui “Jelajah dan Belajar” di Subak Tegallinggah, Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co