12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembalinya Mimpi dan Puisi: Perjalanan Saya dan Sonia ke (dan dari) APWT di Chiang Mai, Thailand

Pranita Dewi by Pranita Dewi
December 9, 2024
in Tualang
Kembalinya Mimpi dan Puisi: Perjalanan Saya dan Sonia ke (dan dari) APWT di Chiang Mai, Thailand

Kadek Sonia Piscayanti (kiri) dan Pranita Dewi (kanan) di konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand | Foto: Dok. Pranita

JIKA keinginan yang kuat disebut mimpi, maka mimpi-mimpi saya di masa muda adalah seperti hantu gentayangan—berjalan panjang penuh belokan, sering kali tidak tahu harus ke mana. Ada mimpi yang saya impikan sejak belia tetapi tak pernah diraih. Ada mimpi yang saya tahu takkan pernah terwujud.

Ada pula mimpi yang saya kejar dengan segenap daya, hanya untuk dikubur oleh pergolakan hidup. Salah satu mimpi itu adalah puisi. Namun siapa sangka, dua dekade kemudian, justru puisi yang menjadi penopang saya untuk kembali percaya pada hidup.

Dulu, dunia bagi saya adalah puisi yang terhampar luas. Setiap daun yang jatuh, langit biru, hingga lapisan bumi di bawah kaki saya adalah puisi. Saya percaya bahwa apa pun yang saya lihat, rasakan, dan alami adalah puisi. Namun, seiring waktu, hidup merenggut kesempatan itu. Bukan karena apa-apa, tetapi karena saya terlalu malas untuk terus menulis.

Saya menyalahkan waktu yang berlalu begitu cepat sedangkan masih banyak pekerjaan yang harus saya tangani untuk sekadar memastikan bahwa saya cukup bisa melanjutkan hidup sebagai alasan untuk berhenti menulis.

Kadek Sonia Piscayanti (kiri) dan Pranita Dewi (kanan) di konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand | Foto: Dok. Pranita

Saat berusia 16 tahun, saya mencintai puisi dengan sepenuh hati. Puisi menjadi dunia saya di mana saya percaya bahwa puisi akan membawa saya mengembara ke tempat-tempat yang hanya ada dalam mimpi. Namun, kehidupan mengajarkan saya tentang rasa takut, hingga keberanian saya menulis pun menghilang.

Tetapi ketika mencoba melupakannya, puisi terus menghantui saya, seperti kutukan yang tak bisa saya hindari. Saya cukup sadar bahwa setiap pengalaman hidup sebenarnya adalah puisi, tetapi saya tak berani lagi menuliskannya. Saya tidak berani lagi.

Dua tahun terakhir, setelah melalui perceraian yang berat, saya memutuskan kembali kepada puisi—satu-satunya hal yang saya percayai. Saya mulai menulis lagi, mengikuti kelas menulis, dan menemukan kembali kebahagiaan yang lama hilang. Ada rasa lega ketika tulisan saya dimuat kembali, seperti dulu. Kini, saya yakin tidak akan berhenti lagi.

Puisi membawa saya pada peluang-peluang baru, termasuk undangan ke konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand. Undangan itu datang berkat rekomendasi sahabat lama saya, Kadek Sonia Piscayanti. Perjalanan ini bukan hanya tentang puisi, tetapi juga tentang persahabatan kami yang telah terjalin lebih dari dua dekade.

Pranita Dewi saat membaca puisi di konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand | Foto: Dok. Pranita

“10 kilo cukup, Nya! Serius! Kita pasti bisa bawa semuanya,” ujar saya dengan percaya diri sambil menjejalkan barang-barang tambahan ke koper yang sudah penuh sesak.

Sonia, yang selalu lebih hati-hati, menghela napas panjang. “Aku yakin kita harus perhitungkan ulang. Kalau kelebihan, bakal repot nanti.”

Saya hanya tertawa. “Santai saja! Kalau ada masalah, improvisasi aja,” jawab saya sambil memasukkan sepasang baju tambahan.

Masalah dimulai saat kami akan pulang ke Bali. Di loket check-in, wajah saya langsung pucat ketika petugas mengumumkan: batas bagasi hanya 7 kilogram. Berat koper saya? Hampir 11 kilo.

Pranita dan Sonia bersama para penulis dan penerjemah peserta Asia Pasific Writers and Translators | Foto: Dok. Pranita

“Aduh, Nya! Kok bisa begini?” Saya mencoba tersenyum untuk menutupi kegugupan.

Sonia menghela napas lebih panjang dari biasanya. “Karena kamu terus menambahkan barang dan mengabaikan batasan, Pranita. Aku udah bilang, jangan anggap enteng aturan.”

Saya mencoba mencari solusi khas saya. “Gampang, gampang! Aku pakai tiga lapis baju. Buku-buku ini aku sembunyikan di jaket.”

Sonia hanya menggeleng pelan. “Trik seperti itu nggak akan berhasil. Kita harus realistis. Beli bagasi tambahan saja.”

“Tapi mahal!” protes saya.

Pranita dan Sonia bersama para penulis dan penerjemah peserta Asia Pasific Writers and Translators | Foto: Dok. Pranita

“Justru karena mahal, makanya dari awal aku bilang jangan sampai kelebihan,” jawab Sonia dengan nada tetap tenang.

Akhirnya, saya terpaksa membeli bagasi tambahan di loket boarding. Saat petugas menyebutkan harganya, saya nyaris terjatuh. “Astaga! Harga segini bisa buat makan dua minggu di Bali!”

Sonia hanya tersenyum kecil, lalu menepuk bahu saya. “Pelajaran untukmu. Lain kali, dengarkan aku.”

Kami akhirnya duduk di pesawat, kelelahan tetapi lega. Sonia membuka buku, sementara saya segera tertidur.

“Setidaknya, kita pulang bawa banyak cerita,” gumam saya sebelum terlelap.

“Dan pelajaran,” tambah Sonia.

Sonia (kiri) saat menjadi pembicara di Asia Pasific Writers and Translators | Foto: Dok. Pranita

Perjalanan ini mengukuhkan satu hal: persahabatan adalah perpaduan antara kebijaksanaan dan kegilaan, dengan bumbu kejutan tak terduga lainnya. Bagaimanapun, hidup adalah tentang saling melengkapi, seperti dunia dan puisi yang ingin terus kami tulis bersama.

Eits, sebentar! Saya ingin mencoba menutup tulisan ini dengan kesimpulan tentang persahabatan kami: kombinasi antara yang bijaksana (Sonia) dan yang gila (saya). Tapi, pikiran saya sepertinya punya agenda lain—masih banyak yang mau saya ceritakan! Jadi, mari kita tambahkan beberapa momen lagi di tulisan ini.

Sonia itu definisi hidup dari perempuan yang super rapi, cerdas, dan perfeksionis level platinum. Saking terstrukturnya, pernah suatu kali kami duduk di meja makan, di depan kami terhampar hidangan khas Thailand yang menggoda. Makanan ini kami beli dari warung pinggir jalan yang mirip dengan warung lalapan di Indonesia.

Sonia, seperti biasa, sudah merencanakan segalanya dengan matang. Dia memilih menu dengan perhitungan seperti seorang ahli strategi perang. Ketika makanan tersaji, dia memandang meja dengan ekspresi serius. Lalu dia bertanya, “Aku masih berpikir, bagaimana cara kita memakan ini?”

Pranita Dewi saat membaca puisi di konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand | Foto: Dok. Pranita

Saya? Tentu tidak pakai mikir panjang. Saya langsung mengambil alat makan, mencapit lauk, dan memasukkannya ke mulut. “Begini caranya, Sonia,” jawab saya sambil mengunyah dengan bahagia.

Sonia tertawa terbahak-bahak sampai hampir terjungkal dari kursinya, dan saya ikut tertawa sambil melahap semua udang yang ada di piring. Udang itu, by the way, adalah favorit saya. Saat tinggal satu ekor udang tersisa, Sonia tiba-tiba berkata, “Boleh aku coba satu? Soalnya yang lain tinggal cangkang semua.”

Dengan polos saya menjawab, “Loh, aku pikir kamu nggak suka udang. Makanya aku habiskan.”

“Tidak suka, bukan berarti tidak mau coba!” balas Sonia sambil menatap udang terakhir seperti itu adalah tiket emas ke surga. Kami tertawa sampai perut sakit, di tengah jalan yang penuh lalu lalang orang asing yang bingung melihat dua perempuan konyol ini.

Malam lainnya, setelah hari panjang yang dipenuhi panel-panel diskusi di konferensi, kami pulang ke penginapan dengan kaki yang nyaris menyeret. Sesampainya di meja resepsionis, saya meminta kunci kamar. Resepsionis yang tampak ramah, tetapi mungkin agak bingung melihat wajah saya yang belepotan capek, bertanya:

“Who are you? What brings you here?”

Pranita dan Sonia bersama para penulis dan penerjemah peserta Asia Pasific Writers and Translators | Foto: Dok. Pranita

Tanpa berpikir panjang—karena ya, otak saya sudah hampir shutdown—saya menjawab, “I am No Body.”

Sonia yang berdiri di samping langsung menghela napas (khas Sonia) sebelum buru-buru menjelaskan kepada resepsionis bahwa kami sedang mengikuti konferensi. Ternyata, resepsionis bertanya karena dia menemukan bahwa pemesan kamar kami adalah seorang professor (yup, dengan gelar “Doctor”).

Dia hanya ingin memastikan bahwa orang di depannya adalah sang professor, tentu dugaannya salah. Saya bukanlah seorang professor, tetapi memang yang memesankan kamar kami adalah seorang professor.

Tentu, saya tahu arah pertanyaan itu. Tapi karena malas panjang-panjang, saya pikir jawaban “I am No Body” sudah cukup efisien.

Reaksi Sonia? Dia terbahak-bahak. Sepanjang perjalanan naik tangga ke kamar, dia terus tertawa. Bahkan dia harus bersandar ke dinding untuk menenangkan diri, saking ngakaknya. Sementara saya? Saya cuma bergumam sambil mengangkat bahu, “Kan memang benar, aku ini nobody.”

Pranita Dewi saat membaca puisi di konferensi Asia Pacific Writers and Translators (APWT) di Thailand | Foto: Dok. Pranita

Sonia menyahut di sela tawanya, “Kalau kamu nobody, berarti aku apa? Somebody?!”

Kami tertawa lagi. Tawa itu akhirnya membawa kami ke tempat tidur yang nyaman, diiringi pikiran bahwa hidup tidak pernah kekurangan momen absurd.

Lalu, bagaimana dengan pengalaman di APWT? Di sana, saya bertemu banyak kenalan baru, menyerap ide-ide segar yang kerapkali diselimuti atmosfer yang positif. Panel-panel diskusi yang intim memungkinkan interaksi langsung dengan para pembicara. Tidak ada penghakiman, hanya apresiasi. Saya dan Sonia akan menuliskan cerita khusus tentang ini nanti.

Yang jelas, saya akhirnya menyadari bahwa puisi adalah jati diri saya yang tak pernah benar-benar hilang. Pengalaman di APWT menjadi titik balik yang mempertegas keyakinan saya: puisi adalah rumah, dan akhirnya, saya pulang.[T]

Menjelajah Chiang Rai, Tertambat di Union of Hill Tribe Thailand
Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand
Jalan-Jalan Pagi di Desa Pai, Thailand: Gambaran Nyata Desa Wisata
Perjalanan ke Thailand: Menimbang Utara di Chiang Mai dan Utara di Bali
Tags: APWTAsia Pacific Writers and TranslatorsChiang MaiThailand
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Riwayat “Menak” Banten dan Asal-Usul Banten Versi Orang Baduy

Next Post

Mengenal Sawah dan Ekosistemnya melalui “Jelajah dan Belajar” di Subak Tegallinggah, Tabanan

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Penyair. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Mengenal Sawah dan Ekosistemnya melalui “Jelajah dan Belajar” di Subak Tegallinggah, Tabanan

Mengenal Sawah dan Ekosistemnya melalui “Jelajah dan Belajar” di Subak Tegallinggah, Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co