23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Legenda Pemukiman Baduy Kompol

Asep Kurnia by Asep Kurnia
May 7, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

ETNIS Baduy adalah satu kesukuan yang sangat banyak menyimpan misteri karena ketertutupannya begitu lama. Secara sengaja mereka mengasingkan diri dari dunia luar untuk menghindari pengaruh negatif budaya modern yang mereka anggap akan merusak bahkan merugikan masa depan kesukuannya. Tugas dan kewajiban utama kesukuan mereka untuk selalu menjaga dan memelihara keharmonisan serta keseimbangan alam sesuai dengan pikukuh karuhun yang mereka yakini.

Dengan memperhatikan alur perjalanan sejarah kesukuan Baduy seperti di atas, maka sangat disadari kalau setiap penjelasan-penjelasan sekitar dan seputar etnis Baduy ini selalu berada dalam takaran kekuranglengkapan, baik dari segi data maupun informasi. Satu diantaranya adalah penjelasan tentang “ Pemukiman Suku Baduy”.

Dari beberapa penjelasan yang sudah beredar secara umum dan hampir senada bahwa pemukiman suku Baduy itu berada dan tersebar di dua wilayah, yaitu di wilayah Baduy Dalam dan di wilayah Baduy Luar. Informasi dan fakta ini memang benar adanya. Namun bila diselusuri secara lebih mendalam dengan kenyataan yang ada masih dipandang ada hal yang tertinggal, dengan kata lain masih kurang lengkap.

Mengapa demikian? Karena di beberapa penjelasan buku Baduy belum dilengkapi dengan penjelasan pemukiman Baduy yang lainnnya, yaitu pemukiman Baduy Kompol dan pemukiman khusus Kampung Cicakal Girang yang notabene kedua perkampungan tersebut merupakan perkampungan yang diakui dan termasuk pada pemukiman suku Baduy yang sangat legal.

Sementara pada buku tertentu menjelaskan bahwa perkampungan Cicakal Girang tidak termasuk pada kampung yang berada di dalam wilayah tanah ulayat Baduy. Padahal secara resmi menurut peta yang ada pada Perda No 32 tahun 2001 menunjukkan bahwa kampung Cicakal Girang termasuk dan diakui secara sah sebagai salah satu kampung yang berada di kawasan tanah ulayat Baduy, dan secara administratif tercatat juga sebagai kampung yang ada di Desa Kanekes yang merupakan desa tempat suku Baduy tinggal.

Oleh karenanya, penulis memandang bahwa kedua pemukiman Baduy itu sangat penting untuk segera dipublikasikan secara resmi melalui tulisan pendek ini dengan tujuan dan harapan untuk lebih memperjelas dan memperlengkap  informasi-informasi yang sudah ada, baik untuk masyarakat umum terlebih lagi bagi para pemerhati, pencari informasi dan peneliti kesukuan Baduy. Serta tidak kalah pentingnya adalah bagi para petinggi pemerintah sebagai pengambil keputusan agar tidak salah dalam memberikan dan menerapkan program-program unggulan pembangunan baik secara fisik maupun non fisik.

Siapakah dan di Manakah Baduy Kompol itu?

Kompol,  adalah sebutan nama dan wilayah yang didiami oleh sekelompok etnis Baduy yang berada di luar tanah ulayat Baduy, akan tetapi secara resmi tetap diakui sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesukuan Baduy. Secara administratif Kampung Kompol tersebut  berada di wilayah Pemerintahan Desa Sangkanwangi, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak.  Kelompk ini menempati ruang dan tempat di  RW 08 yang terbagi menjadi 5 RT yaitu RT 01 di Kompol 1, RT 02 di Kompol 2, RT 03 Kampung Cikareo, RT 04 di Kampung Cepak Buah dan RT 05 di kampung Cicengal. 

Luas wilayah pemukiman khusus untuk warga Baduy tersebut ± 25 hektare dengan jumlah penduduk 423 jiwa, jumlah KK  174 (data akhir tahun 2008). Tahun 2019 bertambah menjadi 672 jiwa dan 213 KK, dan di awal tahun 2025 bertambah sekitar 800 jiwa 251 KK. Jarak dari kampung Kaduketug sebagai pusat pemerintahan Desa Kanekes ke Kompol   ± 6 KM dan berada diposisi sebelah utara  tanah ulayat Baduy.

Menurut  pengakuan dan penjelasan dari tokoh adat Baduy,  tanah awal pemukiman Baduy Kompol adalah merupakan Bunderan Wilayah Adat  yang dibatasi atau dikelilingi oleh Cigunung, Cikolear, maju ke Kamancing, Cisimeut, Muara  lalu nyambung ke Tanah Dangka Cibengkung (Parung Kujang) yang kemudian dinamakan Dangka Garukgak.

Karena adanya perubahan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman, maka  pemukiman Baduy Kompol sekarang sudah terjadi pergeseran dan perubahan baik luas wilayah, pranata sosial, juga pemindahan wilayah secara adiministratif seperti penjelasan di atas. Pemukiman Baduy Kompol ini  sekarang tidak hanya dihuni oleh warga Baduy saja tapi telah dicampur dan tercampur oleh warga masyarakat luar Baduy yang berkeyakinan berbeda dengan mereka. Maka tidaklah heran dan wajar di pemukiman ini sedang terjadi “akulturasi budaya”.

Secara khusus warga Baduy yang diakui keberadaannya sebagai bagian dari kesukuan Baduy  adalah warga yang masih taat dan patuh melaksanakan segala Amanat Wiwitan Baduy, baik pola kehidupan sehari-hari, kegiatan dan upacara  adat  serta keyakinan agama Slam Sunda Wiwitan sesuai dengan “Kesepakatan dan Perjanjian“ antara pemuka adat ke-Puun-an Cikeusik dengan Nini Hujung Galuh sebagai leluhur awal Baduy Kompol yang meminta izin mendirikan atau hidup mandiri dengan cara memisahkan diri dari wilayah Cikeusik.

Keluar wilayah tanah adat, dengan catatan segala tatacara dan pola kehidupan tetap mengabdi dan menginduk pada adat istiadat dan budaya Baduy kepuunan Cikeusik. Keturunan Nini Hujung Galuh ini kini bermukim di lingkungan RT 01 yang disebut Kompol satu dan di RT 02 yang disebut Kompol dua.

Menurut cerita babad tanah leluhur Baduy tentang Baduy Kompol memang cukup panjang dan menarik karena merupakan cerita rakyat yang diakui kebenarannya dan ada faktanya.

Secara singkat Jaro Sami yang menjabat Jaro Tangtu Cibeo dan Ayah Mursid menjelaskan bahwa :

“Komunitas Baduy Kompol itu adalah keturunan asli dari seorang anak tokoh adat kepuunan Cikeusik yang bernama Nyi Hujung Galuh yang memiliki sifat dan prilaku yang berbeda dengan warga perempuan lainnya serta memiliki kelebihan-kelebihan.

Sepak terjangnya terkadang memusingkan, membingungkan dan membuat gaduh situasi karena prilakunya sering bertentangan dengan hukum adat, maka demi keselamatan kenyamanan situasi dan kondisi di ke-Puunan Cikeusik maka Nyi Hujung dipanggil dan ditanya oleh Pemuka Adat tentang keinginan dan harapannya.

Hasil dari pertemuan dan  musyawarah tersebut terungkap 3 hal penting yaitu Nyi Hujung merasa pikiran, keinginan dan perasaannya tidak sejalan dan tidak sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada ( adanya pertentangan Batin), Nyi Hujung dianggap memiliki kelebihan dan kemampuan untuk hidup mandiri dengan keyakinannya, demi kebaikan dan menghormati keinginan dan harapannya maka Tokoh Adat bersepakat dan memutuskan untuk  mengizinkan dan merestui Nyi Hujung Galuh untuk keluar dari Wilayah Hukum Adat Cikeusik ke wilayah di luar Baduy dengan  beberapa Syarat dan Perjanjian “.

Menurut Ayah Mursid beberapa kesepakatan dan perjanjian tersebut yang penting di antaranya adalah :

1.Nyi Hujung Galuh bersama pengikutnya direstui dan dizinkan keluar dari Komunitas Adat Baduy Dalam Kepuunan Cikeusik ke luar Baduy dengan syarat :

    • Tetap menjalankan syareat atau Tatanan Hukum Adat seperti warga Baduy Luar misalnya hidup sederhana, bentuk rumah Nyulah Nyanda, melakukan kegiatan dan upacara adat,  dan tetap taat patuh terhadap agama Slam Sunda Wiwitan.
    • Tempat bermukim harus di wilayah ke-Dangka-an yang diakui komunitas adat Baduy yaitu di Dangka Garukgak  ( Kompol sekarang ).
    •  Penertiban terhadap pelanggaran adat dan hukuman dilaksanakan atau diurus oleh Jaro Tujuh.
    • Kehidupan tidak bebas seperti masyarakat umum, harus tetap menghormati nilai-nilai adat istiadat Baduy.

    2.Khusus untuk pelaksanaan upacara adat Kawalu,  2 kali pelaksanaa menginduk ke Baduy Dalam Cikeusik sebagai leluhurnya yaitu pada bulan Kasa tanggal 17 dan bulan Karo tanggal 18, satu kali dilaksanakan sendiri yaitu pada bulan Katiga penanggalan Baduy.

    3. Pada acara Seba tahunan mereka pun diwajibkan untuk ikut serta baik perorangan maupun perwakilan.

    4. Untuk kasus-kasus atau kebutuhan-kebutuhan tertentu misalnya tentang pernikahan, proses pindah keluar–masuk ke kampung pemukiman Baduy Luar diserahkan pada kemupakatan.

      Ketika penulis tanya kapan kira-kira kejadian Nyi Hujung Galuh pindah ke  luar Cikeusik ? Ayah Mursid menjawab dengan singkat dan bijaksana : “ Tah dipalebah dieu kalemahana di Baduy teh, teu bisa ngabuktikeun catetan waktu anu pas sabab teu diwenangkeun aya budaya tulis. Ngan nu penting mah carita Kompol jeung kanyaataan katurunan Nyi Hujung Galuh bisa dibuktikeun ayana sasuai jeung kelompok masyarakat nu aya  di pamukiman kompol ayeuna  “.

      Artinya : Nah di sinilah satu kelemahan yang ada di Baduy, tidak bisa membuktikan catatan waktu yang tepat karena tidak diperbolehkan adanya budaya tulis. Cuma yang terpenting bahwa cerita tentang Baduy Kompol dengan kenyataan keturunan Nyi Hujung Galuh bisa dibuktikan keberadaanya sesuai dengan kelompok masyarakat yang ada di pemukiman Baduy Kompol sekarang. [T]

      Di tulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, 2025

      Penulis: Asep Kurnia
      Editor: Adnyana Ole

      • BACA esai-esai tentang BADUY
      • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
      Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?
      Dilema Suku Baduy [1]: Antara Kewajiban “Ngahuma” dan Keterbatasan Lahan
      Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy
      Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
      Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
      Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi
      Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
      ShareTweetSendShareSend
      Previous Post

      “Jalan Suara”, Musikalisasi Puisi Yayasan Kesenian Sadewa Bali dan Komunitas Disabilitas Tunanetra

      Next Post

      Kelulusan Tanpa Konvoi, Tanda Kedewasaan Generasi Muda Bali

      Asep Kurnia

      Asep Kurnia

      Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

      Related Posts

      Wajah Indonesia Bopeng

      by Petrus Imam Prawoto Jati
      August 23, 2026
      0
      Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

      SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

      Read moreDetails

      Renungan Meja Makan

      by Angga Wijaya
      August 22, 2026
      0
      Renungan Meja Makan

      DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

      Read moreDetails

      Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

      by I Ketut Suar Adnyana
      August 22, 2026
      0
      Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

      DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

      Read moreDetails

      Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

      by I Ketut Suar Adnyana
      August 21, 2026
      0
      Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

      BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

      Read moreDetails

      Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

      by I Wayan Yudana
      August 21, 2026
      0
      Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

      ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

      Read moreDetails

      Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

      by Tri Nugroho Adi
      August 21, 2026
      0
      Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

      ---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

      Read moreDetails

      JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

      by I Nyoman Gede Maha Putra
      August 21, 2026
      0
      JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

      SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

      Read moreDetails

      Lampu Merah dan Mental Menerabas

      by Angga Wijaya
      August 20, 2026
      0
      Lampu Merah dan Mental Menerabas

      SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

      Read moreDetails

      Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

      by Ahmad Sihabudin
      August 19, 2026
      0
      ’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

      "Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

      Read moreDetails

      Merawat Warisan Budaya Kolonial…

      by Pande Susan
      August 19, 2026
      0
      Merawat Warisan Budaya Kolonial…

      “Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

      Read moreDetails
      Next Post
      Kelulusan Tanpa Konvoi, Tanda Kedewasaan Generasi Muda Bali

      Kelulusan Tanpa Konvoi, Tanda Kedewasaan Generasi Muda Bali

      Please login to join discussion

      Ads

      POPULER

      • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

        Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

        22 shares
        Share 22 Tweet 0
      • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

        5 shares
        Share 5 Tweet 0
      • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

        43 shares
        Share 43 Tweet 0

      ARTIKEL TERKINI

      PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
      Pendidikan

      PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

      SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

      by Dede Putra Wiguna
      August 23, 2026
      Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
      Opini

      Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

      IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

      by I Ketut Suar Adnyana
      August 23, 2026
      Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
      Esai

      Wajah Indonesia Bopeng

      SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

      by Petrus Imam Prawoto Jati
      August 23, 2026
      Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
      Kritik Sastra

      Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

      ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

      by Bagja Wiranandhika Prawira
      August 23, 2026
      Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
      Panggung

      Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

      KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

      by Nyoman Budarsana
      August 23, 2026
      Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
      Kritik Sastra

      Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

      PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

      by Andre Syahreza
      August 22, 2026
      Renungan Meja Makan
      Esai

      Renungan Meja Makan

      DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

      by Angga Wijaya
      August 22, 2026
      Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
      Esai

      Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

      DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

      by I Ketut Suar Adnyana
      August 22, 2026
      Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
      Lingkungan

      Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

      PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

      by tatkala
      August 21, 2026
      Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
      Esai

      Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

      BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

      by I Ketut Suar Adnyana
      August 21, 2026
      Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
      Kritik Sastra

      Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

      SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

      by Andre Syahreza
      August 22, 2026
      Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
      Tualang

      Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

      SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

      by I Nyoman Tingkat
      August 21, 2026

      TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

      • Penulis
      • Tentang & Redaksi
      • Kirim Naskah
      • Pedoman Media Siber
      • Kebijakan Privasi
      • Desclaimer

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co

      Welcome Back!

      Login to your account below

      Forgotten Password?

      Retrieve your password

      Please enter your username or email address to reset your password.

      Log In
      No Result
      View All Result
      • Beranda
      • Feature
        • Khas
        • Tualang
        • Persona
        • Historia
        • Milenial
        • Kuliner
        • Pop
        • Gaya
        • Pameran
        • Panggung
      • Berita
        • Ekonomi
        • Pariwisata
        • Pemerintahan
        • Budaya
        • Hiburan
        • Politik
        • Hukum
        • Kesehatan
        • Olahraga
        • Pendidikan
        • Pertanian
        • Lingkungan
        • Liputan Khusus
      • Kritik & Opini
        • Esai
        • Opini
        • Ulas Buku
        • Ulas Film
        • Ulas Rupa
        • Ulas Pentas
        • Kritik Sastra
        • Kritik Seni
        • Bahasa
        • Ulas Musik
      • Fiksi
        • Cerpen
        • Puisi
        • Dongeng
      • English Column
        • Essay
        • Fiction
        • Poetry
        • Features
      • Penulis
      • Buku
        • Buku Mahima
        • Buku Tatkala

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co