16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelulusan Tanpa Konvoi, Tanda Kedewasaan Generasi Muda Bali

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
May 7, 2025
in Esai
Kelulusan Tanpa Konvoi, Tanda Kedewasaan Generasi Muda Bali

Jembatan Tukad Bangkung yang biasanya dijadikan tempat tujuan siswa untuk konvoi kelulusan

SETIAP tahun, hari pengumuman kelulusan siswa SMA/SMK di Provinsi Bali biasanya menjadi momentum yang penuh warna. Ada wajah-wajah riang gembira, pelukan persahabatan, hingga luapan ekspresi yang mewarnai hari istimewa tersebut. Di antara berbagai bentuk ekspresi itu, beberapa siswa meluapkan kegembiraan dengan kegiatan positif seperti sembahyang bersama di sekolah atau di tempat suci, atau merayakan kelulusan secara sederhana dengan teman-teman dan guru dalam pengawasan yang terkontrol.

Namun, tak bisa dipungkiri pula, ada fenomena lain yang selalu mencuri perhatian publik: konvoi kelulusan. Pawai siswa dengan kendaraan bermotor—dihiasi atribut warna-warni, pakaian penuh coretan, rambut dicat mencolok, bahkan kendaraan yang dimodifikasi ekstrem—telah menjadi gambaran yang nyaris rutin. Mirisnya, hal ini bukan hanya menimbulkan kemacetan dan keresahan pengguna jalan lain, tetapi juga kerap mengabaikan keselamatan. Bahkan beberapa tahun terakhir, konvoi semacam ini memakan korban, mulai dari kecelakaan ringan hingga merenggut nyawa.

Yang paling menyedihkan, euforia sesaat ini kadang menutup mata siswa akan pentingnya masa depan yang tengah menanti di depan mata. Mereka merayakan kelulusan seolah segala perjuangan telah usai, padahal sejatinya, jalan panjang kehidupan baru akan dimulai.

Konvoi ini bukan hanya soal keramaian, melainkan sering kali berubah menjadi parade tanpa arah, penuh semangat yang meledak-ledak. Pakaian dicoret-coret, rambut dan wajah dicat warna-warni, motor dimodifikasi secara ekstrem tanpa kelengkapan keselamatan, bahkan sampai mengganggu lalu lintas dan membahayakan pengguna jalan lainnya. Lebih jauh lagi, setiap tahun selalu ada laporan kecelakaan lalu lintas, dan tragisnya, beberapa sampai merenggut nyawa. Kelulusan yang seharusnya menjadi momen bahagia justru berubah menjadi duka mendalam.

Salah satu tempat yang kerap menjadi tujuan arak-arakan siswa adalah Jembatan Tukad Bangkung di Pelaga, Badung. Tempat ini dikenal bukan hanya karena keindahan dan kesejukannya. Akan tetapi juga karena reputasinya akhir-akhir ini yang angker akibat sering terjadi kasus bunuh diri. Ah, bagi anak muda justru itu akhirnya mungkin dianggap lebih menarik.

Suasana Jembatan Tukad Bangkung | Foto: Dok penulis

Pada momen kelulusan di tahun-tahun sebelumnya, ratusan siswa berkumpul di Jembatan Bangkung. Mereka melakukan selebrasi tanpa pengawasan yang memadai. Aparat keamanan pun kewalahan, karena jumlah siswa jauh melampaui personel yang bertugas. Akibatnya, kegiatan di sana hanya diawasi sebatas ketertiban umum.

Namun, pemandangan itu tidak terjadi pada Senin, 5 Mei 2025, hari pengumuman kelulusan siswa SMA/SMK tahun ini. Tukad Bangkung tampak sunyi membisu. Tak terlihat adanya siswa berkerumun atau melintas dengan baju penuh coretan. Jalanan tetap lengang, dan suasana tetap damai. Apa yang sebenarnya terjadi?

Data dari Bali Express memperkuat fakta ini. Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, IKN Boy Jayawibawa, menyampaikan bahwa sebanyak 60.110 siswa SMA/SMK di Bali menerima pengumuman kelulusan pada hari tersebut. Artinya, tidak sedikit potensi euforia massal yang bisa saja terjadi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Para siswa tetap tertib, sebagian memilih mengikuti acara perpisahan di sekolahnya masing-masing dengan damai dan tertata.

Sebagai contoh, SMKN 3 Singaraja sukses melaksanakan acara perpisahan dengan khidmat dan penuh makna. Acara ini tak hanya diisi dengan hiburan dan pelepasan siswa, tetapi juga jabat erat tangan siswa kepada guru, pesan moral kepala sekolah, dan refleksi spiritual bersama. Ini menunjukkan bahwa momen kelulusan bisa dikemas dengan elegan, tanpa kehilangan makna syukur dan kebersamaan serta dengan biaya murah.

Pelepasan Siswa Kelas XII | Foto: Dok. SMKN 3 Singaraja

Tentu banyak faktor yang memengaruhi perubahan ini. Yang paling menonjol adalah kesadaran kolektif siswa. Siswa mulai memahami bahwa kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal perjuangan sesungguhnya. Mereka sadar bahwa dunia kerja, pendidikan lanjutan, kewirausahaan, dan realita hidup jauh lebih menantang daripada sekadar selebrasi sesaat. Mereka sadar, kecerobohan hari ini bisa berakibat fatal di hari esok.

Selain itu, peran para guru, orang tua, dan tokoh masyarakat juga sangat signifikan. Imbauan agar tidak melakukan konvoi, tidak hanya dilontarkan satu dua hari menjelang pengumuman, tetapi dilakukan secara konsisten dan terus-menerus. Bahkan, pemerintah melalui Dinas Pendidikan telah mengeluarkan surat edaran resmi yang melarang aktivitas konvoi dan perayaan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.

Yang tidak kalah penting adalah peran aparat kepolisian. Beberapa hari sebelum hingga hari H pengumuman kelulusan, anggota kepolisian melalui Babin Kamtibmas dan jajaran Polsek secara aktif hadir di sekolah-sekolah. Mereka tidak sekadar berjaga, tetapi juga melakukan edukasi langsung kepada para siswa, guru, dan warga sekolah. Melalui pendekatan yang humanis dan dialogis, mereka mengajak siswa untuk merayakan kelulusan dengan cara yang santun, selamat, dan bermakna. Kehadiran aparat ini menjadi langkah preventif penting yang lahir dari pembelajaran atas insiden-insiden yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Pembinaan Staf Polsek Petang | Foto: Dok. SMKN 1 Petang

Generasi siswa tahun 2025 ini menunjukkan tanda kedewasaan sosial. Mereka memilih tidak larut dalam euforia yang membahayakan, melainkan memaknainya dengan lebih reflektif dan bertanggung jawab. Mereka tak ingin kegembiraan sesaat berubah menjadi malapetaka. Ini adalah pertanda baik, bahwa pendidikan nilai, moral, dan empati telah menemukan tempatnya di hati para siswa Bali.

Siswa yang lulus di tahun 2025 ini tampaknya memahami bahwa dunia kerja, dunia kuliah, dan dunia usaha yang akan mereka hadapi jauh lebih menantang daripada sekadar merayakan kelulusan. Mereka tidak ingin kebahagiaan yang semestinya menjadi milik semua justru ternoda oleh peristiwa yang tak diinginkan. Oleh karenanya mereka memilih jalan sederhana dan lebih menunjukkan kontemplasi diri yang luar biasa.

Apa yang terjadi tahun ini adalah sinyal baik. Masyarakat patut memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada para siswa, orang tua, guru, dan semua pihak yang ikut menjaga momen kelulusan ini tetap bermartabat. Ini juga sekaligus menjadi contoh bagi angkatan-angkatan berikutnya bahwa merayakan pencapaian tidak harus dengan cara-cara yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Kelulusan tanpa konvoi bukan berarti kehilangan makna. Justru, ini pertanda kedewasaan. Perayaan bisa tetap ada, tetapi dengan cara yang lebih santun, aman, dan menginspirasi. Karena sesungguhnya, kemenangan yang sejati adalah saat kita mampu menahan diri, berpikir jauh ke depan, dan memilih langkah yang bijak.

Kelulusan kali ini menjadi catatan berharga bahwa perubahan itu mungkin. Bahwa generasi muda kita mampu membuktikan diri sebagai agen perubahan—bukan dengan teriakan di jalanan, tetapi dengan pilihan bijak yang diam, namun bergema kuat. Di tanah Bali yang menjunjung nilai tata krama, harmoni, dan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana), kelulusan yang diisi dengan kesadaran dan ketenangan adalah cermin dari karakter sejati generasi muda Bali. Mereka tidak lagi terjebak dalam euforia sesaat, melainkan mulai memahami bahwa masa depan dibangun dengan ketenangan pikiran dan kesiapan mental. Semoga ini bukan sekadar tren sesaat, tetapi awal dari tradisi baru kelulusan yang lebih beradab dan bermartabat.

Terlebih lagi, masyarakat Bali baru saja melampaui perayaan Hari Suci Galungan dan Kuningan—momen spiritual yang mengajarkan kemenangan dharma melawan adharma. Nilai-nilai itu tampaknya masih meresap dalam sanubari para siswa yang baru saja dinyatakan lulus. Semangat Galungan bukan semata dirayakan dalam upacara, tetapi juga tercermin dalam laku dan pilihan mereka: memilih keselamatan, ketertiban, dan kesadaran sebagai bentuk nyata dari kedewasaan spiritual.

Tentu semua pihak berharap, tradisi kelulusan yang lebih beradab dan bermakna ini terus terjaga, seiring dengan tumbuhnya generasi Bali yang bukan hanya cerdas, tetapi juga welas asih dan waspada terhadap nilai-nilai lokal yang diwariskan para leluhur. Sebab, sejatinya pendidikan bukan hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia yang sadar diri dan sadar ruang. Dengan kelulusan tanpa konvoi, Jembatan Tukad Bangkung tetap indah berseri. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I WAYAN YUDANA

Belajar dari SMK Fest:  Ruang Kontemplatif untuk Merefleksikan Arah Pendidikan Vokasi di Bali
SMKN 1 Petang: Dari Lahan Sekolah, Mencetak Generasi Muda Cinta Pertanian
Padupadan Pariwisata dan Pertanian di SMKN 1 Petang: Membangun Masa Depan Berkelanjutan
Mengelola Pertanian di Sela Riuh Pariwisata — Catatan Perjuangan dari SMKN 1 Petang
Mengintegrasikan Pertanian dan Pariwisata, Kurikulum Agrowisata Berkelanjutan untuk Masa Depan
Tags: generasi mudaPendidikansiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Legenda Pemukiman Baduy Kompol

Next Post

HINDU MEMBACA KALIMAT SYAHADAT

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
HINDU MEMBACA KALIMAT SYAHADAT

HINDU MEMBACA KALIMAT SYAHADAT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co