23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tangi: Ruang Baur Street Art Bali

Vincent Chandra by Vincent Chandra
April 30, 2025
in Panggung
Tangi: Ruang Baur Street Art Bali

Foto-foto oleh Ade Ahimsa

Bau khas cat semprot yang bertebaran saling padu dengan aroma biji kopi dan latte yang baru diseduh, menyambut kehadiran pengunjung dan para peserta diskusi Tangi Behind The Wall di beranda Berbagi Coffee, Denpasar, pukul 6 sore, 20 April 2025.

Menjelang waktu acara, peserta mulai berdatangan tak ada habisnya, kursi-kursi kosong kian penuh. Para seniman yang kehabisan cat kaleng pun berhenti beraksi, ikut berbaur berebut kursi kosong, mencari posisi paling nyaman, bersiap menjadi bagian dari peristiwa hangat yang akan mempertemukan para dedengkot militan–kelompok dan para seniman–penggerak street art1 di Bali dalam satu forum yang sama. Membendungnya animo peserta diskusi, bikin awan mendung saja enggan menabur butir-butir hujannya.

Pada momen inilah rangkaian awal dari edisi ketiga Tangi Street Art Festival 2025 dimulai.

Mengutip salah satu co-founder Tangi, Dwymabim, “Tangi Street Art Festival adalah gerakan kolektif yang dimulai bersama beberapa seniman Bali yang juga memiliki minat yang sama pada street art. Sejak debut Tangi pada tanggal 1 Mei 2023 lalu, kami berusaha untuk menampilkan perkembangan dunia street art di Bali yang kian berkembang pesat“. Bim menambahkan, bahwa inisiatif yang digagas olehnya, Yessiow, Zolalongor, dan Aldy Putra ini dicita-citakan untuk menjembatani pertemuan dan pertukaran budaya antara seniman lokal dan internasional, serta interaksi publik dan seniman, melalui ekspresi dan eksplorasi artistik yang personal untuk memeriahkan ruang perkotaan dan ruang-ruang publik lainnya dengan karya seni yang menggugah.

Yang Sebelum dan Sesudah Tangi

Berlangsung selama hampir dua setengah jam, peristiwa dialogis yang lebih banyak memperbincangkan potongan-potongan historigrafi dan perkembangan seni jalanan di Bali ini dipandu oleh Savitri Sastrawan, kurator dan anggota kolektif Gurat Institute. Dengan bahan obrolan diamunisi oleh para seniman penggerak street art di Bali yang tergabung dalam komunitas Bali yang Binal (Dewa Keta dan Wahyu), Rurung Gallery (Pansaka dan Unclejoy), Suksma Bali (Nugi Ketut dan Nedsone), dan SMoTS (Jessmoon).

Foto-foto oleh Ade Ahimsa

Keempat komunitas street art di Bali yang diundang sebagai narasumber dalam program Tangi Behind The Wall ini dianggap mewakili tiap generasi yang turut menumbuhkan ekosistem dan spirit seni jalanan di Bali. Tuduhan saya pada panitia Tangi, kelompok-kelompok ini tak hanya dihadirkan untuk meromantisir panjangnya pergerakan seni dengan karakteristik yang melekat pada ruang publik ini di Bali. Tetapi juga untuk menunjukkan bagaimana geliat-geliat yang ada dalam dunia seni jalanan di Bali sejak awal turut menularkan kreatifitas dan semangat bergerak secara kolektif kepada generasi-generasi berikutnya. Tangi, tentu adalah salah satu dari produk regenerasi tersebut.

Maka demi menyegarkan kembali ingatan kita terhadap gerakan-gerakan kelompok street art yang sudah dan masih berlangsung, atau sebelum dan sesudah kelahiran Tangi, sesi awal obrolan dibuka oleh Savitri dengan menyilahkan masing-masing seniman perwakilan kelompok menjelaskan soal modus operandi yang mereka anut.

Sebagai gerakan yang usianya paling lama, Bali yang Binal (BYB) melalui Dewa Keta dan Wahyu menjelaskan bahwa gerakan awal mereka didasari sebagai respon/kritik terhadap event seni rupa Bali Biennale yang digelar pada sekitar pertengahan tahun 2005 silam. Menganggap Bali Biennale fishy dan cenderung nepotis, BYB kemudian memilih hadir sebagai event tandingan yang kemudian lebih banyak memberi ruang kepada para perupa dan pegiat seni muda dari berbagai disiplin untuk berkesplorasi. Alhasil, edisi pertama mereka yang diselenggarakan di Gedung Kriya Art Centre, Denpasar, kala itu langsung mendapat ruang di hati kawula muda seni rupa Bali.

Foto-foto oleh Ade Ahimsa

Pada edisi berikutnya inisiatif BYB yang awalnya dikemas di ruang pamer konvensional kemudian berevolusi kembali pada akarnya, yaitu ruang publik dan jalanan. Bergerak secara konsisten lewat event mural, melukis baliho, dan pameran, kini gerakan dua tahunan yang dipayungi oleh Komunitas Pojok ini telah memasuki edisi ke-9 (2021). Mereka kini genap berusia 20 tahun.

Menyusul Bali Yang Binal, hadir Rurung Gallery yang aktif bergerak diantara tahun 2018 – 2020. Menolak disebut sebagai komunitas, Pansaka dan Unclejoy menjelaskan bahwa semangat utama Rurung ketika dibentuk yaitu untuk mewadahi talenta-talenta baru yang dalam periode itu banyak tidak terbaca dalam peta street art di Bali.

Ramainya event internasional street art di Bali kala itu yang hanya melibatkan segelintir seniman, memicu Pansaka dan Unclejoy membuat arus lain untuk mengaliri ruang-ruang urban dan desa di Bali dengan kreatifitas dan ekspresi yang lebih segar.

Foto-foto oleh Ade Ahimsa

Salah satu highlight kegiatan Rurung Gallery yaitu Street jamming di Pasar Kumbasari dan Gang-gang seputar Denpasar, Pameran kelompok di Lingkara Space, serta Mural Pasca Panen yang masing-masing melibatkan interaksi dan kegiatan edukasi seni bersama masyarakat di tempat mereka menggambar. Menghadapi pandemi Covid pada tahun 2020, Rurung Gallery yang masih menyimpan ambisi besar terhadap seni jalanan di Bali mau tak mau harus hiatus. Meski demikian anggota-anggota Rurung hingga kini masih aktif mewarnai tembok-tembok jalanan secara personal, seolah ingin terus memberi tanda bahwa Rurung Gallery #7 akan segera kembali.

Covid memang menjadi era dilematis, gairah berkolektif pun harus dikorbankan untuk berdamai dengan pembatasan sosial. Rurung dan banyak komunitas lainnya terpaksa hiatus sambil memantapkan langkah selanjutnya. Meski demikian, satu kelompok mural dan graffiti baru yang menamai diri mereka Suksma Bali lebih memilih untuk merayakan kondisi penuh ketidakpastian itu. Sebab dibentuk pada awal tahun 2020, momen pandemi kemudian secara tidak langsung menandai kemunculan Suksma Bali yang kala itu tengah rajin memompa jantung subkultur Bali.

Nugi dan Nedsone, salah dua advokator kelompok dan event ini menjelaskan bahwa sebagian besar anggota dari Suksma Bali tergabung kawan-kawan segenerasi yang telah aktif menggambar, mural dan graffiti bersama sejak periode 2010an. Kondisi kacau balau yang membatasi aktivitas dan mata pencaharian ini kemudian menjadi dorongan kuat bagi para anggota kelompok Suksma Bali untuk tetap rutin bertemu dan mengaktivasi acara menggambar bersama/ jamming mural dan bombing graffiti sambil diiringi musik, membuat layangan, hingga akhirnya berpameran bersama. Inilah cara mereka untuk “bersenang-senang dengan serius”. “Hari Raya Graffiti” di Bagia Art Space, “Lanjut” di Warung Ajik, “Galleri di Mall” di Fraksiepos, adalah beberapa diantara program yang sukses mereka inisiasi bersama dalam rentang tahun 2020 – 2022.

Sesi awal ini kemudian diakhiri kelompok SMoTS, diwakili oleh Jesmoon sebagai inisiator. SMoTS (akronim dari Small Movement On The Street) dalam diskusi ini merepresentasikan generasi termuda yang tumbuh dan turut membangun medan seni jalanan di Bali. Jes mengakui, bahwa awal ia mulai terjun pada dunia street art karena banyak terinspirasi oleh gerakan-gerakan street art yang ada sebelumnya. Ketika melihat event street art di eranya cenderung tidak seaktif tahun-tahun sebelumnya (meminjam istilah Nugi, “hemat daya”), Jes yang merasa membutuhkan ruang ekspresi serta eksitensi dengan spirit yang serupa kemudian memulai gerakan SMoTS ini dengan mengundang barisan talenta segenerasinya untuk melakukan jamming mural di tembok-tembok kota yang mereka temui.

“Ada satu prinsip yang saya yakini ketika memulai SMoTS ini, bahwa setiap hari dari gerakan kita adalah upaya untuk meraih 1% peningkatan (improvement), maka dengan tetap berkarya dan melatih diri kita akan menjadi beberapa kali lipat lebih baik dari saat kita memulai”, tegas Jes pada visinya. Digagas pada kuartil ketiga 2024, SMOTS sebagai event reguler dirancang berjalan sebanyak setidaknya 1 bulan sekali, serta berkomitmen untuk digelar rutin secara swadaya dengan modal utama yang berasal dari masing-masing seniman yang berpartisipasi dalam setiap acara.

Behind The Wall

Selain perjalanan kreatif mereka, aspek lain yang coba diulik oleh Savitri dari keempat kelompok ini yaitu soal tantangan-tantangan yang dihadapi oleh masing-masing kelompok. Sebut saja salah satunya cara mendanai inisiatif masing-masing yang notabene jika bicara pilihan medium berkarya street art tentu berkaitan erat dengan persoalan amunisi cat kaleng dan cat tembok yang harganya cenderung tak ekonomis, logistik para seniman, dan lain sebagainya.

Foto-foto oleh Ade Ahimsa

Merangkum tanggapan dari para kelompok, model yang paling umum diterapkan untuk mendanai inisiatif mereka yaitu kelola berbasis swadaya dan sponsorship. Semisal BYB yang sepenuhnya mengandalkan dana hasil program “Sawer Night” dengan mengadopsi format lelang karya, serta sponsorship dari jenama-jenama kreatif yang dirasa memiliki visi yang sama. Adapun sokongan dana dari sponsor ini pun sifatnya sukarela, sehingga tidak mendorong mereka untuk keluar dari kebiasaan berkarya. Namun tak jarang demi memudahkan pengadaan dan pengumpulan dana tersebut, mereka harus menyamar sebagai mahasiswa (Epic Fact 1). Di sisi lain, Rurung Gallery tak jarang pula mendapatkan sponsor berupa material cat tembok, yang tidak bisa dipakai alias expired (Epic Fact 2).

Tantangan lain yang umum mereka temui yaitu seputar resistensi dan negosiasi. Dua hal ini adalah keniscayaan bagi para pelaku seni jalanan. Resistensi bisa berasal dari mana saja, dari kalangan apapun. Baik disebabkan isu dan pesan yang diangkat dalam karya, anggapan street art sebagai bentuk vandalisme yang dibenamkan sejarah kepadanya, hingga kepentingan publik, maupun keisengan apresiator semata. Negosiasi pun bisa berangsur panjang dan rumit, tatkala pemilik tembok menolak memberi izin, atau kemudian izin diberikan dengan mengintervensi gambar yang akan dkerjakan, hingga pemungutan biaya yang dibebankan kepada seniman.

Boleh jadi, semua street artist tampaknya menyepakati bahwa kondisi inilah yang kemudian menjadi karakteristik dan mendefinisikan disiplin yang mereka jajaki. Segala gesekan, batasan, dan tantangan yang tak ada habisnya–kadang tragis, penuh komedi, dan bikin heran dalam proses mereka berkarya ini sesungguhnya menjadi ironi sekaligus kisah manis yang tak sekedar untuk dikenang tetapi juga bagian yang melekat dan membuat karya-karya mereka menjadi utuh, siap diapresiasi. Saya meyakini, bagaimanapun bentuk pembatasan ekspresi dan macam-macam penolakan yang ada terhadap apapun bentuk karya seni itu, pada akhirnya ia akan menemukan jalan untuk dapat bicara dengan lantang.

Foto-foto oleh Ade Ahimsa

Demikian peristiwa dialogis hangat yang menjalin spirit kelompok street art lintas generasi yang sudah lama tak terjadi ini–setidaknya setahu saya saat menulis catatan pendek ini–kemudian berlanjut dengan umpan lambung pertanyaan dari para peserta yang ditanggapi dengan serius dan sisipan ngehek oleh keempat kelompok narasumber dan para seniman lain yang hadir.

Program Tangi Behind The Wall ini kemudian ditutup dengan screening video dokumentasi mendalam yang merekam proses kreatif dari masing-masing kelompok street art. Mengembalikan momen haru biru dari setiap jengkal dedikasi, kebersamaan, dan keintiman kerja sama para seniman yang berkumpul dan berkarya di jalanan, di sudut-sudut perkotaan dan pedesaan Bali.

Tangi 2025: Tri Hita Karana

Di penghujung acara, co-founder Tangi, Yessiow menyita perhatian peserta dengan menumpahkan tema yang akan diangkat pada edisi ketiga Tangi Street Art Festival.

“Pada edisi 2025, Tangi mencoba mengangkat inspirasi dari filosofi Bali yaitu Tri Hita Karana, sebuah prinsip yang kita kenal menekankan harmoni antar tiga aspek penting kehidupan, diantaranya spiritualitas, kemanusiaan, dan alam. Tema ini sekaligus menjadi harapan kami agar dapat menjadi wadah bagi para seniman untuk menyelami keterhubungan antara yang Ilahi (Parahyangan) melalui perayaan spiritualitas dan ekspresi seni, komunitas (Pawongan) dengan mendorong kolaborasi serta persatuan melalui karya seni, serta alam (Palemahan) melalui upaya memperkuat keberlanjutan dan kesadaran lingkungan.”

Yessiow menambahkan tema ini nantinya akan direspon oleh barisan street artist (Bali, Nasional, dan Internasional) keatas tembok-tembok seputar area Desa Guwang, Bali, mulai tanggal 11-17 May mendatang. Barisan seniman yang dijaring oleh tim Tangi melalui jalur undangan ini diantaranya Slinat, Awshit, Ayu Muniarti, Stereoflow, Sicovecas, Joren Joshua, Baki Baki, Luogo Comune, dan Joan Aguiló.

Selain mural jamming, Tangi 2025 akan diaktivasi dengan berbagai program pamungkas diantaranya live painting di Tegal Temu Space Batubulan, kids program, mural tour, graffiti jamming, art market, music, perfomance, documentary screening, art talk dan pameran kelompok di Kulidan Kitchen & Space, Guwang, Bali. Informasi selengkapnya bisa dipantau pada laman resmi dan sosial media Tangi Street Art Festival.

Saatnya bangun dari ranjang sumukmu, dan jadi bagian dari Tangi Street Art Festival 2025. [T]

Gunung Kawi, 27 April 2025

1 Istilah street art dan seni jalanan yang bolak-balik dipertukarkan dalam tulisan ini merujuk pada definisi yang sama. Definisi street art atau seni jalanan menurut Diksi Rupa yang disusun oleh Mikke Susanto yaitu sebagai bentuk ekspresi visual yang lahir dan tumbuh di ruang publik. Karya-karya yang termasuk dalam ranah ini tidak diciptakan untuk dipajang secara eksklusif di galeri atau ruang pamer formal, melainkan muncul secara spontan di lingkungan perkotaan—misalnya pada dinding, trotoar, dan infrastruktur kota lainnya.

Penulis: Vincent Chandra
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bali Berkisah : Apa yang Bisa Dibicarakan tentang Seni Rupa di Bali?
“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space
Catatan Pendek Sekali: Pameran Tunggal Naela Ali, The Beauty of The Mundane
Catatan Sehabis Ngambar “Here Lying the Kapitan”
Tags: Seni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bimo Seno dan Dolog Gelar Pertandingan Tenis Lapangan di Denpasar

Next Post

Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails
Next Post
Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung

Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co