2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Berkisah : Apa yang Bisa Dibicarakan tentang Seni Rupa di Bali?

Made Chandra by Made Chandra
March 30, 2025
in Ulas Rupa
Bali Berkisah : Apa yang Bisa Dibicarakan tentang Seni Rupa di Bali?

Diskusi seni rupa dalam acara Bali Berkisah

APA jadinya jika sebuah event sastra diambil alih sementara oleh sekumpulan kecil para begundal seni rupa?

Tentu jika dibayangkan rasanya seakan-akan kita diajak untuk menaiki sebuah wahana roller coaster. Tensi yang naik turun menjadi hal yang cukup saya rasakan selama perbincangan yang dihelat di Gedung Graha Yowana Suci, Sabtu 22 Maret 2025 itu.

Hari itu menjadi hal yang cukup spesial bagi saya sendiri ketika diminta untuk mengisi satu forum diskusi bersama rekan-rekan senior lainnya. Dengan mengusung judul yang agaknya sedikit menantang, sebuah event dua tahunan bertajuk Bali Berkisah mengajak para penikmat sastra dan budaya untuk sejenak melihat dan mendengar tentang apa yang bisa kurator serta para perupa muda katakan tentang bagaimana seni di Bali hari ini dapat dibicarakan.

Sebuah topik yang saya rasa cukup abstrak untuk kemudian dibawa ke dalam perbincangan berdurasi 1 jam 30 menit ini, namun sangat sayang jika hal tersebut dilewatkan begitu saja.

Forum ini sendiri terbilang unik karena menghadirkan kombinasi narasumber yang terbilang baru dalam mengisi per-skena-an seni rupa Bali. Di antaranya tak lain seorang perupa yang kini namanya begitu sering kita jumpai dalam beberapa event seni rupa di jagad Bali, yaitu Kuncir Sathya Viku, dan turut hadir pula dua kurator muda Savitri Sastrawan dan Vincent Chandra. Tak ketinggalan saya sendiri, Made Chandra, menjadi salah satu bagian dari empat pembicara yang hadir dalam panel diskusi ini.

Dwi S Wibowo dan Kuncir Sathya Viku

Untuk melengkapi sesi perbincangan ini, hadir pula seorang penulis yang kerap bersinggungan dengan dunia sastra dan seni rupa, tak lain ialah Dwi S Wibowo, yang langsung ikut andil dalam memoderatori sebuah diskusi kecil yang sedikit tidaknya menjadi hal yang urgentuntuk saya dan 3 pembicara lainnya dalam membicarakan seni di Bali.

Dibuka oleh Dwi S Wibowo selaku moderator, perbincangan yang cukup cair Ini menyasar beberapa poin penting yang kemudian saya catat dalam satu memoar kecil yang terbagi dengan fokus pembahasan oleh masing-masing pembicara.

Diskusi ini dimulai oleh satu pantikan yang dilontarkan oleh Mas Dwi pada perupa Kuncir Satya Vikhu tentang apa yang mendesak untuk dibahas dalam perbincangan seni yang ada di Bali.

Sebagai seorang perupa yang getol menggeluti tradisi dalam ungkapan berkeseniannya, ia menyampaikan kegundahannya tentang kondisi Bali hari ini melalui humor-humor satir yang menjadi fokus dalam karya-karyanya.

“Kita selalu disibukkan dengan tradisi yang seakan tanpa henti, mulai dari perayaan upacara, tradisi membuat ogoh-ogoh, sampai pada semaraknya langit-langit Bali pada musim layangan nanti, ya kadang sampai kita lupa ada beberapa pihak yang mengangkangi kita yang sedang asik ini,” ujar Kuncir kepada kami soal apa yang ia rasakan dengan kondisi Bali hari ini.

Sebagai orang Bali tulen ternyata Kuncir memiliki pandangan yang cukup kritis pada prilaku orang Bali itu sendiri. Ia mengingatkan kita untuk lebih peka dalam menyikapi hal-hal yang sering kali terabaikan dalam pusaran laku tradisi yang seakan tanpa henti.

Di kala kesibukan masyarakat Bali hari ini mereka seakan tak sadar, ada banyak pihak yang mengambil kesempatan untuk mengambil celah dalam mengubah tatanan alam serta sosial yang kini diam-diam melanda sebagian besar wilayah yang ada di Bali.  

Vincent

Menyambung topik tersebut, kini giliran saya yang mencoba untuk mengutarakan pendapat dalam diskusi ini. Selaku perupa yang punya pandangan terkhusus menyoal tradisi, saya mencoba untuk menitik beratkan topik bahasan pada satu paradigma yang sering disematkan pada seni tradisi, dimana kita sendiri cenderung menyikapi tradisi sebagai sesuatu yang primordial, seakan tak layak untuk dilakoni dalam kehidupan modern hari ini.

Bagi saya sendiri anggapan yang terjadi soal seni tradisi ternyata tidaklah sesederhana itu, dimana tradisi ialah lapisan ilmu yang tentu sangat kontekstual dengan ruang dimana tradisi itu tumbuh, ia hanya perlu diselami dan disikapi sebagai mana setaranya ia dengan modernitas itu sendiri.

Lalu kurator serta penulis Savitri Sastrawan menyambung hal tersebut dengan pembahasan menyoal laku tradisi Ogoh-ogoh yang kini sedang marak dilakukan oleh para Kumpulan anak muda yang tersebar di seluruh Bali.

“Kita kerap kali menganggap remeh perayaan ogoh-ogoh sebagai aktivitas tradisi belaka, sehingga mengesampingkan aspek-aspek vital yang membentuk perkembangan ogoh-ogoh sampai saat ini, dari yang awalnya hanya sebagai patung yang diarak keliling desa, kini dihiasi berbagai macam variasi atas perkembangannya,” kata Savitri.

Seraya ia bercanda kepada kami, tentang begitu gawatnnya seni kontemporer  dengan seni partisipatorisnya, yang ternyata sudah terimplementasi secara  organik merasuk ke dalam setiap lini kehidupan sosial para pemuda di setiap banjar yang ada di Bali, hal yang agaknya cukup remeh untuk kita bayangkan sebelumnya.

Hal itu kemudian dielaborasi lebih lanjut oleh Vincent Chandra selaku kurator dan pekerja museum dalam melihat fenomena tersebut. Ia mengungkapkan bahwa “Upaya untuk membaca Bali adalah upaya untuk melihat tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan.”

Di mana kedua aspek tersebut, kata Vincent,  sesungguhnya tak berada dalam dikotomi oposisi biner. Kita bisa melihat perkembangan tradisi yang ada di Bali khususnya, selalu tak terlepas dari kondisi tarik menarik antara tradisi dan modernitas, sehingga sangat tak bijak untuk menempatkan tradisi sebagai sesuatu yang sudah lalu, usang, dan lapuk. Ia adalah sebuah ilmu yang punya kontekstualisasi paling muktahir dalam menjembatani relasi antar manusia, dan alam itu sendiri, sebuah kenyataan yang mungkin sebagaian dari kita tak pernah cukup berpikir tentang hal tersebut.

Peserta diskusi

Pada akhirnya setelah mengikuti perbincangan yang cukup sangat padat tersebut, saya terkejut menyadari waktu perbincangan yang telah berlangsung cukup lama, sampai-sampai panitia yang berjaga memberi tahu kami bahwa waktu diskusi telah habis.

Tak sangka pembahasan tentang apa yang bisa kami bicarakan tentang seni di Bali harus dibatasi oleh ringkasnya waktu, Namun setidaknya ini bisa menjadi pemantik untuk kita bisa melihat bahwa seni di Bali tak ubahnya jembatan untuk masuk lebih jauh dalam pergulatan sosial yang tengah terjadi di Bali, menyoal tradisi dan modernitas adalah hal yang tak bisa diselesaikan dalam satu perbincangan.

Saya sendiri sebagai penulis berharap diskursus ini harus terus berlanjut dalam memantik perbincangan-perbincangan selanjutnya, sehingga pembacaan atas konteks seni yang ada di Bali hari ini dapat diakses oleh lebih banyak kalangan di luar para pegiat seni itu sendiri. [T]  

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Ini Refleksi, Bukan Ramalan : Catatan Pentas Komunitas Aghumi di “Bali Berkisah 2025”
Bali Berkisah: Merayakan Sastra dan Budaya Bali dalam Ruang Perjumpaan Anak Muda
Di “Bali Berkisah”, Mendengar Proses Kreatif Henry Manampiring Menulis “Sajaksel” dan “50 to 20”
Dodit Artawan: Merayakan Bali dalam Hiruk Pikuk Kemacetan
Post Tradisi : Upaya untuk Meletakkan Bali dalam Pembacaan Seni Rupa Indonesia
Tags: Bali berkisahSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Menyalakan Colok di Penghujung Ramadan: Menerangi Arwah Leluhur dengan Doa-doa

Next Post

I ❤ Bali : Masyarakat Bali yang Merasa Asing di Tanahnya Sendiri

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
I ❤ Bali : Masyarakat Bali yang Merasa Asing di Tanahnya Sendiri

I ❤ Bali : Masyarakat Bali yang Merasa Asing di Tanahnya Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co