2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan di Desa Tembok: Ketika Taksi Parkir di Rumah-rumah Warga

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
April 23, 2025
in Khas
Galungan di Desa Tembok: Ketika Taksi Parkir di Rumah-rumah Warga

Taksi parkir di Desa Tembok saat Hari Eaya Galungan

DALAM setiap roda yang berputar, ada cerita tentang perjalanan. Di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng-Bali, kisah itu hadir dalam bentuk mobil-mobil taksi yang mendadak parkir di banyak halaman rumah saat hari raya tiba. Kendaraan itu adalah saksi bisu dari perjuangan para perantau yang kembali ke desa, dan membawa kerinduan.

Desa Tembok adalah kampung halaman saya. Saya pulang kampung 23 April 2025 saat Hari Raya Galungan.

Matahari pagi menyapu lembut, angin yang sedikit kencang membuat suara ombak pinggir pantai terdengar jelas. Suasana itu memang menjadi ciri khas Desa Tembok, desa paling ujung di bagian timur Kabupaten Buleleng.

Saya jarang pulang ke desa. Tapi, kepulangan saya kali ini perlahan mulai terusik oleh pemandangan tak biasa. Di sepanjang jalan, saya melihat beberapa mobil mulai mengisi halaman hampir di setiap rumah warga di sana, sebagian besar dengan stiker XTX atau Ngurah Rai Taxi Bali di kaca belakangnya. Mobil-mobil itu terparkir rapi, seperti menyiratkan pesan sederhana, vahwa penghuninya pulang.

Dengan jumlah penduduk mencapai 7.819 jiwa dari 2.445 kepala keluarga (KK), Desa Tembok menyimpan fakta menarik, sebanyak 2.988 jiwa atau sekitar 38,21% dari total penduduk memilih merantau, sebagian besar menjadi sopir taksi atau kendaraan lain.

Berdasar informasi yang diperoleh, di Desa Tembok ada banyak warga menjadi sopir, kebanyak sopir taksi. Perkiraannya ada sekitar 400 hingga 500 orang. Mereka kebanyakan menjadi supir taksi, sebagian lain menjadi supir pariwisata, atau supir mobil boks barang.

Taksi parkir di tepi jalan di Desa Tembok saat Hari Raya Galungan | Foto: Arix

Desa Tembok mendadak ramai setiap kali rahinan seperti Galungan atau Kuningan tiba. Menjadi sebuah momen di kala para perantau yang bekerja sebagai supir taksi atau supir lainnya di Denpasar, Badung, dan kota besar lainnya di Bali, kembali ke kampung halaman. Fenomena ini telah menjadi bagian dari ritme kehidupan desa yang kini dikenal sebagai salah satu desa perantau.

Tradisi dan Jejak Merantau

Rasa penasaran muncul pada diri saya untuk bertanya ke beberapa orang di desa terkait fenomena ini. Salah satunya, Ketut Sarjana, seorang supir taksi yang telah bekerja selama lebih dari 28 tahun di Denpasar. Ia berbagi cerita di bawah rindangnya pohon mete di samping rumahnya.

“Setiap kali Galungan, saya selalu pulang. Ini bukan sekadar tradisi, tapi juga cara untuk mengingatkan diri sendiri dari mana saya berasal,” kata Ketut Sarjana sambil menyeruput kopi hitam.

Ketut Sarjana, seperti banyak penduduk Desa Tembok lainnya, memutuskan merantau untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Minimnya lapangan pekerjaan di desa memaksa sebagian besar warga untuk mencari penghasilan di luar.

“Awalnya sulit, tapi lama-lama saya menikmatinya. Menjadi supir taksi memberi saya kebebasan waktu, meskipun kerja keras,” kata Sarjana.

Sama seperti Ketut Sarjana, Ketut Agus Dharma , juga bekerja sebagai supir. Namun ia bukan supir taksi, melainkan supir antar-jemput turis di Denpasar.

Taksi parkir di halaman rumah di Desa Tembok saat Hari Raya Galungan | Foto: Arix

Agus Dharma mengatakan pekerjaan ini adalah pilihan terbaik untuk menunjang kebutuhan keluarga. “Saya merasa pekerjaan ini fleksibel. Saya bisa mengatur waktu untuk keluarga, meskipun harus tinggal jauh dari rumah,” ujarnya.

Ketika ditanya tentang kepulangannya ke Desa Tembok setiap Galungan dan Kuningan, ia menjawab sambil tersenyum, “Desa ini adalah rumah, tempat saya bisa istirahat dari hiruk-pikuk kota.”

Desa yang Sepi, Desa yang Hidup Kembali

Di hari-hari biasa, Desa Tembok bisa terasa seperti desa yang kehilangan sebagian jiwa mudanya. Banyak rumah hanya dihuni oleh orang tua dan anak-anak. Namun, saat Galungan dan Kuningan tiba, suasana berubah drastis. Riuh-rendah kembali memenuhi jalanan desa. Suara anak-anak yang bermain, hingga aroma khas masakan yang mengepul dari dapur rumah-rumah warga membawa kehidupan baru.

Perbekel (Kepala Desa) Tembok Dewa Ketut Willy Asmawan  mengamati fenomena ini dengan rasa haru. “Anak-anak di desa kami mungkin pergi jauh untuk bekerja, tapi setiap rahinan mereka selalu kembali. Itu yang membuat kami merasa desa ini tetap hidup,” katanya

Menjaga Tradisi di Tengah Modernitas

Di tengah modernitas yang perlahan merayap masuk ke kehidupan mereka, warga Desa Tembok tetap berusaha menjaga tradisi dan adat istiadat. Bagi para perantau, kepulangan setiap rahinan bukan hanya soal berjumpa keluarga, tapi juga menjaga koneksi spiritual dengan leluhur mereka.

Ketut Sarjana menjelaskan, “Setiap saya pulang, saya merasa lebih dekat dengan leluhur.  Seperti momen untuk memohon restu dan berkah sebelum kembali menghadapi kerasnya kehidupan di kota.”

Namun, tak semua kisah itu manis. Beberapa perantau mengaku kesulitan menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan tradisi. “Kadang-kadang sulit ya sulit juga untuk dapat libur, apalagi kalau turis sedang ramai,” ujar Agus Dharma. “Tapi saya selalu berusaha. Meski hanya sebentar, saya tetap pulang,” katanya.

Harapan untuk Desa Tembok

Fenomena para supir yang pulang kampung ini mengundang perhatian lebih luas terhadap Desa Tembok. Banyak yang berharap desa ini dapat berkembang sehingga anak-anak muda tidak perlu merantau untuk mencari pekerjaan.

“Saya berharap ada lebih banyak peluang kerja di sini, supaya anak-anak kita nanti tidak perlu pergi jauh,” kata Agus Dharma dengan nada penuh harap.

Sementara itu, Dewa Ketut Willy Asmawan, selaku Kepala Desa Tembok, mengakui bahwa fenomena ini adalah tantangan sekaligus potensi.

“Kami sedang berupaya mengembangkan desa wisata dan pelatihan keterampilan untuk generasi muda. Semoga ini bisa menjadi solusi agar mereka bisa berkarya tanpa meninggalkan desa,” kata . Dewa Willy.

Jika ditarik kembali, sekitar tahun 1980-an, Desa Tembok terkenal akan Jeruk keprok khas Tejakula. Kala itu, ada istilah “ngumbah lima aji bir” atau “membasuh tangan dengan bir”, karena saking banyaknya produksi jeruk. Tetapi akibat serangan penyakit CVPD (citrus vein phloem degeneration), jeruk ini mengalami kepunahan, yang secara tidak langsung membunuh hasil alam di desa Tembok itu sendiri.

Mobil warga perantau saat pulang kampung ke Desa Tembok | Foto: Arix

Sekarang, Desa Tembok berupaya untuk mengembalikan kejayaan jeruk keprok kembali. “Kurang lebih sudah sekitar 5000 bibit jeruk keprok sudah kami sebarkan untuk para pentani lokal di desa agar bisa dikembangkan dan menumbuhkan rasa percaya diri petani untuk bertani jeruk lagi,” kata Dewa Willy.

Ketika jeruk ini nanti mampu di kembangkan lagi dan berhasil, maka tidak menutup kemungkinan nanti di Desa Tembok akan muncul lapangan pekerjaan agar bisa menarik warga lokal untuk tidak pergi keluar desa.

“Kami tidak melarang orang di desa untuk merantau, tapi jika dipikirkan lagi, kenapa kita tidak berusaha untuk mengembangkan desa kita sendiri agar tidak sampai harus keluar desa untuk bekerja.” Kalimat itu yang saya ingat setelah mengobrol dengan Kepala Desa Tembok.

Pulang di Kala Senggang

Ketika sore tiba, suara ombak mulai terdengar melambat. Saat pulang, saya melihat orang-orang desa, dengan pakaian adat lengkap, bersiap untuk sembahyang bersama keluarga. Mungkin di mata mereka, sebagai keluarga para perantau, kepulangan bukan hanya sekadar tradisi, tapi juga ritual untuk menguatkan akar mereka di tanah kelahiran.

Seharian di Desa Tembok mengajarkan saya, sebagai salah satu anak perantau juga, bahwa, rumah bukan hanya tempat untuk kembali, tetapi juga sumber kekuatan yang memberi makna pada perjalanan hidup. Ada cerita, kenangan, dan doa yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur.

Sebagai perantau, ingatlah, sejauh apa pun langkah kaki membawa pergi, desa adalah tempat yang akan selalu menerima kita dengan tangan terbuka. Pulanglah, walau hanya sebentar. Sebab, desa adalah akar dari pohon kehidupan kita. [T]

Reporter/Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor; Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Menengok Desa Tembok

Malam Perayaan dan Pergelaran Budaya di Desa Tembok: Kolaborasi Dua Agama

Malam Perayaan dan Pergelaran Budaya di Desa Tembok: Kolaborasi Dua Agama

Mengadu Layang-layang di Langit Cerah Desa Tembok

Tags: baliDesa Tembokhari raya galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebersamaan di Desa Wanagiri dalam Aksi Sosial Multisektor Paras.IDN dalam PASSION Vol.2 Bali

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co