4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penjor, Simbol Kemakmuran di Hari Kemenangan

IK Satria by IK Satria
April 19, 2025
in Esai
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

IK Satria

HARI Suci Galungan tiba, hari kemenangan Dharma melawan Adharma dalam keyakinan Agama Hindu yang dimunculkan dalam perilaku nyata dengan merayakan dengan penuh kegembiraan. Hari Suci ini datangnya 210 hari sekali. Berbagai rangkaian upacara kita gelar untuk membuktikan sradha dan bhakti kita kepada Tuhan yang Maha Esa. 

Dalam rangkaian Hari Suci Galungan kita melihat ada yang unik dan penuh dengan pemaknaan. Seperti misalnya diawali dengan sugihan jawa, sugihan bali, penyekeban, penyajahan, penampahan sampai pada Galungan. Dalam kegiatan Galungan banyak yang menjadi simbol perayaannya salah satunya adalah penjor.

Segala kemeriahan ini sebagai simbol bagaimana ritual yang dilakukan umat kita untuk melakukan pemujaan besar (Piodalan Jagat) menuju pada kemakmuran.

Dalam Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I –Ix, dinyatakan bahwa Penjor adalah simbul Gunung Agung. Segala pala bungkah, pala gantung dan sajen pada sanggar Penjor, melambangkan persembahan terhadap Bhatara di Gunung Agung (Bhatara Giri Putri).  Dengan adanya Gunung timbullah kemakmuran.

Dalam penjabaran keputusan ini teranglah bahwa penjor adalah sarana yang sangat penting dalam pelaksanaan hari suci Galungan. Pernyataan bahwa penjor sebagai simbul gunung agung, mungkin maksudnya adalah bahwa penjor sebagai salah satu sarana yang sangat penting sebagai sarana ritual untuk melakukan pemujaan kepada Para Dewa yang bersthana di Gunung Agung. Tentunya dengan berbagai sarana alam yang digunakan dalam pembuatannya.

Hal inilah yang menyebabkan bahwa isi dalam pembuatan penjor dalam rangka Galungan hendaknya mengikuti Keputusan kesatuan tafsir ini agar tidak terlalu melenceng dalam pembuatannya. Memang dewasa ini kita mengenal dua jenis penjor.

Pertama, Penjor Upakara. Penjor ini merupakan penjor yang digunakan untuk setiap pelaksanaan upacara. Hal ini bisa kita lihat apabila ada pelaksanaan upacara ngusaba di berbagai desa adat maka penjor yang mesti dibuat adalah penjor upakara yang memang berisi berbagai sarana penting dan wajib untuk kita gunakan sesuai dengan penghasilan tegalan dan kebun kita. Isi alam seperti pala bungkah, palawija, palagantung, palarambat dan berbagai tumbuhan lain sebagai simbol kemakmuran.

Kemakmuran diperlihatkan dengan segala hasil bumi yang kita hasilkan. Artinya apapun yang kita hasilkan di kebun kita, lalu itulah yang kita persembahkan dalam rangkaian penjor, hal ini akan memberikan nilai baik dan kepuasan tersendiri.

Kedua, penjor dekorasi. Penjor ini adalah penjor yang dibuat bukan untuk kebutuhan upacara, namun dibuat atas dasar unsur keindahan untuk menambah keindahan sebuah upacara seperti pada dekorasi pada umumnya. Biasanya untuk menimbulkan keindahannya, maka penjor ini diisi hiasan yang terbuat dari stereoform dan bahan plastik lainnya. Jika kita lihat perkembangan kini, maka penggunaan plastik dan alat-alat lainnya yang mengandung unsur plastik mesti dikurangi mengingat Perda Provinsi Bali yang menyatakan agar kita mengurangi timbunan sampah plastik.

Dalam artian penjor untuk pelaksanaan Galungan hendaknya dibuat sedemikian rupa dengan menggunakan alat-alat yang alami yaitu segala isi alam yang kita hasilkan. Seperti misalnya daerah yang banyak menghasilkan padi, maka padilah dipersembahkan dalam pembuatan penjor. Demikian halnya daerah penghasil jagung, buah-buahan, palawija dan sebagainya, hendaknya itulah yang digunakan dalam pembuatan penjor. Hal ini akan menambah khazanah penjor yang ada, dimana setiap daerah akan membuat penjor sesuai dengan penghasilan kebunnya masing-masing, dan inilah sebagai aplikasi Galungan sebagai Piodalan jagat.

Sebaiknya penjor Galungan dibuat dengan sederhana, ditengah negara kita sedang menerapkan efisiensi anggaran, jangan sampai menghasilkan pemikiran negatif, ditengah negara sedang berkebutuhan namun kita melakukan yadnya secara jorjoran, yang bahkan jauh dari makna sebenarnya. Penjor dibuat dengan menyiapkan berbagai bahan dari alam.

Dalam filosofis kemakmuran, maka kita mengenal Naga Basuki sebagai simbol kemakmuran. Bentuk penjor pun dibuat dengan filosofis ini, yaitu bagaikan naga, lengkap dengan berbagai bagian tubuhnya. Keseluruhan “tubuh naga” tersebut disusun dari bahan dan cara penyusunan sebagai berikut. Bambu, Bambu adalah bahan utama membuat penjor sebagai simbol badan naga dan juga sebagai symbol dari Dewa Brahma.

Lalu kita menggunakan janur muda dimana janur ini sebagai perlambang kulit naga. Selanjutnya adalah dedaunan. Dedaunan ini ibarat rambut naga dan menjadi simbol dari Dewa Sangkara. Selanjutnya adalah hasil bumi dimana tempat menaruh hasil bumi menjadi lambang perut naga (biasanya dibuat menyerupai endongan/tas dari jejahitan janur), lalu segala hasil bumi yang ada didalamnya melambangkan Dewa Wisnu.

Selanjutnya adalah menggunakan sampian penjor. Sampian penjor ibarat ekor naga dan menjadi lambang dari Parama Siwa. Kelengkapan lainnya adalah sanggah penjor,Sanggah penjor berupa hiasan di bawah pangkal penjor sebagai simbol kepala dan mulut naga yang dibuat dari anyaman bambu yang berbentuk setengah lingkaran atau disebut dengan Sanggah Ardha Candra.

Selanjutnya adalah menggunakan kain putih kuning, Kain ini sebagai wastra yang melambangkan Dewa Mahadewa dan Dewa Iswara.

Kalau kita rangkai semua alat itu kurang lebih sebagai berikut. Pertama-tama bentuk bambu yang sudah dipilih mempunyai ujung melengkung. Bambu yang melengkung menjulang tinggi ini, menjadi media dasar untuk menempatan semua sarana dan hiasan yang akan dipasang pada penjor.

Setelah rangka bambu disiapkan, selanjutnya lilitkan janur muda yang sudah diambil lidinya di semua bagian pada badan bambu. Pada pangkal badan bambu ditambahkan dedaunan, biasanya menggunakan daun kelapa. Daun kelapa untuk membuat hiasan di bagian atas penjor. Berbagai hasil hasil bumi tersebut akan ditempatkan pada ruangan yang berada di atas pangkal bambu. Jenis hasil bumi tersebut adalah bungkah (umbi-umbian), pala gantung (buah kelapa dan pisang), serta palawija (tebu, jagung, dan padi).

Pasang pula bunga, buah, atau hiasan lainnya di sepanjang penjor. Bisa menggunakan warna-warna cerah dan variasi hiasan untuk membuatnya semakin menarik. Lalu ada sampian yang berisi canang sari dan porosannya. Tempat menaruhnya di ujung lengkungan bambung dan digantung.

Selanjutnya sanggah juga dihias dengan ujung janur yang menyerupai janggut naga. Terakhir, kain putih kuning akan disematkan di kanan kiri penjor yang berisi hiasan bunga. Demikianlah sekiranya penjor yang kita gunakan sebagai pelengkap Hari Suci Galungan. Yadnya yang sederhana tetapi sarat makna. Rahajeng rahina suci galungan dengan penjor yang sederhana dan sarat makna. [T]

Penulis: IK Satria
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! — Ingat Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat
GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH
Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan
Tags: hari raya galunganhindupenjor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! — Ingat Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat

Next Post

Harapan itu Bernama Jumbo!

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Harapan itu Bernama Jumbo!

Harapan itu Bernama Jumbo!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co