25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penjor, Simbol Kemakmuran di Hari Kemenangan

IK Satria by IK Satria
April 19, 2025
in Esai
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

IK Satria

HARI Suci Galungan tiba, hari kemenangan Dharma melawan Adharma dalam keyakinan Agama Hindu yang dimunculkan dalam perilaku nyata dengan merayakan dengan penuh kegembiraan. Hari Suci ini datangnya 210 hari sekali. Berbagai rangkaian upacara kita gelar untuk membuktikan sradha dan bhakti kita kepada Tuhan yang Maha Esa. 

Dalam rangkaian Hari Suci Galungan kita melihat ada yang unik dan penuh dengan pemaknaan. Seperti misalnya diawali dengan sugihan jawa, sugihan bali, penyekeban, penyajahan, penampahan sampai pada Galungan. Dalam kegiatan Galungan banyak yang menjadi simbol perayaannya salah satunya adalah penjor.

Segala kemeriahan ini sebagai simbol bagaimana ritual yang dilakukan umat kita untuk melakukan pemujaan besar (Piodalan Jagat) menuju pada kemakmuran.

Dalam Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I –Ix, dinyatakan bahwa Penjor adalah simbul Gunung Agung. Segala pala bungkah, pala gantung dan sajen pada sanggar Penjor, melambangkan persembahan terhadap Bhatara di Gunung Agung (Bhatara Giri Putri).  Dengan adanya Gunung timbullah kemakmuran.

Dalam penjabaran keputusan ini teranglah bahwa penjor adalah sarana yang sangat penting dalam pelaksanaan hari suci Galungan. Pernyataan bahwa penjor sebagai simbul gunung agung, mungkin maksudnya adalah bahwa penjor sebagai salah satu sarana yang sangat penting sebagai sarana ritual untuk melakukan pemujaan kepada Para Dewa yang bersthana di Gunung Agung. Tentunya dengan berbagai sarana alam yang digunakan dalam pembuatannya.

Hal inilah yang menyebabkan bahwa isi dalam pembuatan penjor dalam rangka Galungan hendaknya mengikuti Keputusan kesatuan tafsir ini agar tidak terlalu melenceng dalam pembuatannya. Memang dewasa ini kita mengenal dua jenis penjor.

Pertama, Penjor Upakara. Penjor ini merupakan penjor yang digunakan untuk setiap pelaksanaan upacara. Hal ini bisa kita lihat apabila ada pelaksanaan upacara ngusaba di berbagai desa adat maka penjor yang mesti dibuat adalah penjor upakara yang memang berisi berbagai sarana penting dan wajib untuk kita gunakan sesuai dengan penghasilan tegalan dan kebun kita. Isi alam seperti pala bungkah, palawija, palagantung, palarambat dan berbagai tumbuhan lain sebagai simbol kemakmuran.

Kemakmuran diperlihatkan dengan segala hasil bumi yang kita hasilkan. Artinya apapun yang kita hasilkan di kebun kita, lalu itulah yang kita persembahkan dalam rangkaian penjor, hal ini akan memberikan nilai baik dan kepuasan tersendiri.

Kedua, penjor dekorasi. Penjor ini adalah penjor yang dibuat bukan untuk kebutuhan upacara, namun dibuat atas dasar unsur keindahan untuk menambah keindahan sebuah upacara seperti pada dekorasi pada umumnya. Biasanya untuk menimbulkan keindahannya, maka penjor ini diisi hiasan yang terbuat dari stereoform dan bahan plastik lainnya. Jika kita lihat perkembangan kini, maka penggunaan plastik dan alat-alat lainnya yang mengandung unsur plastik mesti dikurangi mengingat Perda Provinsi Bali yang menyatakan agar kita mengurangi timbunan sampah plastik.

Dalam artian penjor untuk pelaksanaan Galungan hendaknya dibuat sedemikian rupa dengan menggunakan alat-alat yang alami yaitu segala isi alam yang kita hasilkan. Seperti misalnya daerah yang banyak menghasilkan padi, maka padilah dipersembahkan dalam pembuatan penjor. Demikian halnya daerah penghasil jagung, buah-buahan, palawija dan sebagainya, hendaknya itulah yang digunakan dalam pembuatan penjor. Hal ini akan menambah khazanah penjor yang ada, dimana setiap daerah akan membuat penjor sesuai dengan penghasilan kebunnya masing-masing, dan inilah sebagai aplikasi Galungan sebagai Piodalan jagat.

Sebaiknya penjor Galungan dibuat dengan sederhana, ditengah negara kita sedang menerapkan efisiensi anggaran, jangan sampai menghasilkan pemikiran negatif, ditengah negara sedang berkebutuhan namun kita melakukan yadnya secara jorjoran, yang bahkan jauh dari makna sebenarnya. Penjor dibuat dengan menyiapkan berbagai bahan dari alam.

Dalam filosofis kemakmuran, maka kita mengenal Naga Basuki sebagai simbol kemakmuran. Bentuk penjor pun dibuat dengan filosofis ini, yaitu bagaikan naga, lengkap dengan berbagai bagian tubuhnya. Keseluruhan “tubuh naga” tersebut disusun dari bahan dan cara penyusunan sebagai berikut. Bambu, Bambu adalah bahan utama membuat penjor sebagai simbol badan naga dan juga sebagai symbol dari Dewa Brahma.

Lalu kita menggunakan janur muda dimana janur ini sebagai perlambang kulit naga. Selanjutnya adalah dedaunan. Dedaunan ini ibarat rambut naga dan menjadi simbol dari Dewa Sangkara. Selanjutnya adalah hasil bumi dimana tempat menaruh hasil bumi menjadi lambang perut naga (biasanya dibuat menyerupai endongan/tas dari jejahitan janur), lalu segala hasil bumi yang ada didalamnya melambangkan Dewa Wisnu.

Selanjutnya adalah menggunakan sampian penjor. Sampian penjor ibarat ekor naga dan menjadi lambang dari Parama Siwa. Kelengkapan lainnya adalah sanggah penjor,Sanggah penjor berupa hiasan di bawah pangkal penjor sebagai simbol kepala dan mulut naga yang dibuat dari anyaman bambu yang berbentuk setengah lingkaran atau disebut dengan Sanggah Ardha Candra.

Selanjutnya adalah menggunakan kain putih kuning, Kain ini sebagai wastra yang melambangkan Dewa Mahadewa dan Dewa Iswara.

Kalau kita rangkai semua alat itu kurang lebih sebagai berikut. Pertama-tama bentuk bambu yang sudah dipilih mempunyai ujung melengkung. Bambu yang melengkung menjulang tinggi ini, menjadi media dasar untuk menempatan semua sarana dan hiasan yang akan dipasang pada penjor.

Setelah rangka bambu disiapkan, selanjutnya lilitkan janur muda yang sudah diambil lidinya di semua bagian pada badan bambu. Pada pangkal badan bambu ditambahkan dedaunan, biasanya menggunakan daun kelapa. Daun kelapa untuk membuat hiasan di bagian atas penjor. Berbagai hasil hasil bumi tersebut akan ditempatkan pada ruangan yang berada di atas pangkal bambu. Jenis hasil bumi tersebut adalah bungkah (umbi-umbian), pala gantung (buah kelapa dan pisang), serta palawija (tebu, jagung, dan padi).

Pasang pula bunga, buah, atau hiasan lainnya di sepanjang penjor. Bisa menggunakan warna-warna cerah dan variasi hiasan untuk membuatnya semakin menarik. Lalu ada sampian yang berisi canang sari dan porosannya. Tempat menaruhnya di ujung lengkungan bambung dan digantung.

Selanjutnya sanggah juga dihias dengan ujung janur yang menyerupai janggut naga. Terakhir, kain putih kuning akan disematkan di kanan kiri penjor yang berisi hiasan bunga. Demikianlah sekiranya penjor yang kita gunakan sebagai pelengkap Hari Suci Galungan. Yadnya yang sederhana tetapi sarat makna. Rahajeng rahina suci galungan dengan penjor yang sederhana dan sarat makna. [T]

Penulis: IK Satria
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! — Ingat Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat
GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH
Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan
Tags: hari raya galunganhindupenjor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selamat Galungan, Selamat Makan Lawar! — Ingat Atur Gaya Makan Agar Tetap Sehat

Next Post

Harapan itu Bernama Jumbo!

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Harapan itu Bernama Jumbo!

Harapan itu Bernama Jumbo!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co