4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menuju PKB, Gong Kebyar Anglocita Suara “Sparring Partner” dengan Dwi Mekar — Keduanya Top

Son Lomri by Son Lomri
April 7, 2025
in Panggung
Menuju PKB, Gong Kebyar Anglocita Suara “Sparring Partner” dengan Dwi Mekar — Keduanya Top

Penampilan dari Sanggar Seni Anglocita Suara | Foto: tatkala.co/Rusdy

PANGGUNG Singa Ambara Raja di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung karno, Singaraja, benar-benar dipenuhi suara gamelan, pada pembukaan Malam Apresiasi Seni (MAS) serangkaian HUT ke-421 Kota Singaraja, Sabtu 5 April 2025. Setelah oratorium (semacam dramatari) yang megah, beraksilah dua sekaa gong kebyar top di Buleleng.

Dua sekaa gong kebyar itu adalah Sanggar Seni Anglocita Suara yang bermarkas di Banjar Penarungan Buleleng, dan Padepokan Seni Dwi Mekar yang mukim di Jalan Komodo Singaraja. Dua sekaa itu tampil berhadap-hadapan di atas panggung. Mereka mebarung.

Bagi Sanggar Seni Anglocita Suara, tampilnya mereka di atas panggung bersama sekaa dari Dwi Mekar tak lebih sebagai ajang sparring partner alias ajang latih tanding. Dan Dwi Mekar, sebagai sanggar atau padepokan seni yang cukup tua di Buleleng, memang lawan latih tanding yang sangat layak bagi Anglocita Suara.   

Penampilan dua sekaa memang dinanti-nanti oleh penonton. Begitu oratorium selesai digelar, para penabuh dari Padepokan Seni Dwi Mekar datang dari kolong Singa Ambara Raja yang ikonik itu, dengan kostum warna putih, dan mereka duduk di sisi utara panggung.

Sementara penabuh dari Sanggar Anglocita, datang dengan kostum berwarna hitam, dan mereka duduk di arah selatan panggung.

Penampilan penabuh dari Padepokan Seni Dwi Mekar | Foto: tatkala.co/Rusdy

Begitu penabuh Dwi Mekar memainkan Tabuh Kreasi Dharmanggala yang diciptakan I Made Subandi, penonton langsung bersorak. Tabuh yang berdenyar, rancak dan penuh gairah itu menciptakan suasana hangat pada malam yang cerah itu.  

Sanggar Anglocita Suara memberi suasana yang lebih adem, santai, namun tetap menyebarkan energi, ketika membawakan tabuh lelambatan Tabuh Nem Giri Guru.

Penampilan dari Sanggar Seni Anglocita Suara | Foto: tatkala.co/Rusdy

Tabuh Nem Giri Guru yang diciptakan Putu Aldi Philberta Harta Celuk merupakan tabuh yang akan mereka bawakan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) di Taman Budaya Provinsi Bali, Juni-Juli 2025 mendatang. Jadi, permainan para penabuh itu sepertinya memang dianggap sebagai pemanasan sebelum ke PKB.

Yang Muda dan Yang Matang

Ada dua hal yang bisa dicatat dari penampilan kedua sekaa gong kebyar yang tampil mebarung di atas panggung Singa Ambara Raja, di RTH Taman Bung Karno, Singaraja, itu. Yakni, muda dan matang.

Penabuh dari Padepokan Dwi Mekar rata-rata menunjukkan kematangan dalam memainkan gamelan. Mereka tampak sangat percaya diri karena sebagian besar dari penabuh-penabuh itu memang sudah berpengalaman.

Sementara Sanggar Seni Anglocita Suara memperlihatkan gerak energik penabuh-penabuh muda. Dibanding para penabuh dari Dwi Mekar, penabuh Anglocita Suara tentu saja belum punya pengalaman yang matang. Namun mereka adalah masa depan penabuh dan pemegang masa depan karawitan Buleleng.

Penampilan penabuh dari Padepokan Seni Dwi Mekar | Foto: tatkala.co/Rusdy

Penampilan dari Sanggar Seni Anglocita Suara | Foto: tatkala.co/Rusdy

Penonton memberi sorak dan puja-puji untuk kedua sekaa gong yang sama-sama berada di areal Kota Singaraja itu. Orang-orang berteriak memberi semangat untuk keduanya sejak penabuh itu memasuki tempat masing-masing, bahkan hingga mereka uduk pun, teriakan-teriakan penuh semangat masih terdengar.

Padepokan Dwi Mekar Singaraja membawakan Tabuh Kreasi Dharmanggala yang menceritakan kebijakan sesosok seorang pemimpin yang mampu menerapkan delapan teori kepemimpinan atau yang sering disebut “Asta Bratha”.

Dharmanggala itu sendiri berasal dari kata “Dharma” yang artinya kebajikan, dan Manggala” berarti pemimpin.

“Menurut saya keren banget penampilannya, sangat bagus dan penuh enerjik.” kata Ratih, asal Sukasada, duduk menonton bersama keluarga.

Ratih datang bersama keluarga, ada ibu dan bapak, serta dua adiknya. Mereka mengaku selalu datang ketika ada acara gong mebarung di Taman Bung Karno. Katanya, nyaris tidak pernah absen.

Kemudian di sisi selatang panggung, Anglocita Suara masuk dengan suara tabuh lemlambatan yang energik.

Tabuh Nem Giri Guru yang dibawakan oleh Sanggar Seni Anglocita menceritakan tentang Bhuana Agung dan Bhuana Alit, sebuah konsep keseimbangan dan keharmonisan yang ada di Bali.

Giri berarti gunung. Guru berarti pendidik. Konsep “Giri Guru” ini merefleksikan sebuah keseimbangan dan keharmonisan yang nyata bagi kehidupan Hindu di Bali, memuliakan giri dan guru adalah tugas dan kewajiban semua insan untuk mencapai Jagat Kerthi.

Ratih, menunjukkan jari, saat menonton gong kebar mebarung di RTH Taman Bung Karno Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy

Sanggar Seni Anglocita melalui permainan musiknya itu mencoba menginterpretasikan giri adalah titik tertinggi yang dimiliki Buleleng dalam segi pengkaryaan seni, khususnya karawitan dan tari. Dengan prestasi itu guru sebagai simbol acuan serta pedoman untuk melakukan perkembangan, pembelajaran, dan media pendidikan untuk generasi berikutnya.

Karya ini menawarkan esensi sebuah kemuliaaan terhadap karya-karya terdahulu dalam kesederhanaan, dan bagaimana cara memandang hal yang sama agar terlihat berbeda untuk sebuah keseimbangan dan keharmonisan.

Tarian dalam Gong Mebarung

Selain membawakan masing-masing tetabuhan, Padepokan Seni Dwi Mekar dan Anglocita Suara menampilkan tari kreasi. Dwi Mekar menampilkan tari  Ki Baru Semang, dan Anglocita Suara membawakan Tari Kreasi Bebarisan Megat Sot.

Tari Ki Baru Semang diawali dengan tujuh penari perempuan berbaju merah dengan keris di panggulnya masuk. Mereka menari dengan gerakan penuh energi.

Penataan atau perlengkapan pada panggung dalam tarian kreasi Ki Baru Semang ini cukup lengkap. Bagaimana mereka menari, juga sekaligus melakukan dramatisasi melalui properti yang mereka bawa. Semuanya terpadu dengan apik.

Tari Ki Baru Semang dari Padepokan Seni Dwi Mekar | Foto: tatkala.co/Rusdy

Tarian ini menceritakan keajaiban sebuah keris yang bernama Ki Baru Semang, sebuah keris yang memberikan perubahan yang sangat besar untuk masyarakat Buleleng. Keris Ki Baru Semang yang dimiliki oleh Raja Buleleng Anglurah Panji Sakti dicerminkan dalam tatanan gerak sederhana, namun tetap pada esensi karakter tari di Buleleng.

Demikian juga Tari Megat Sot yang dibawakan Anglocita Suara. Enam pria dengan kostum putih dan selendang, dan keris di belakang terselip.

Tarian Kreasi Megat Sot bercerita tentang mutus parama atma sangkaning marcapada, manunggal nuju sunya loka Sang Sane Paraning Dumadi.

Tarian ini terinsipirasi dari sebuah ritual yadnya di Bali, salah satunya adalah pitra yadnya atau pengorbanan tulus ikhlas kepada pitra atau Hyang Guru, dimana di sini yang dimaksudkan adalah orang tua, saudara yang telah meninggal dunia dan upacara melalui upacara ngaben.

Tari bebarisan Megat Sot dari Sanggar Anglocita Suara | Foto: tatkala.co/Son

Dalam prosesi itu terdapat proses pemutus atma dan badan kasar manusia pada dunia yang disebut megat sot. Prosesi ini dimaksudkan agar seseorang yang meninggal dunia itu terputus dari unsur keduniawian. Dalam tarian ini, penata tari ingin merefleksikan ke dalam visual tari bebarisan, yang menyimbolkan bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, semua akan pergi dan terputus dari sifat-sifat duniawi, baik itu tahta, harta, kasta.

Hanya karma yang bisa mengembalikan semua itu agar sebuah siklus kehidupan manusia atau punarbawa bisa terjadi.

“Bagus dan sangat berkesan. Untuk penampilan sebelumnya, tidak kalah bagus juga,” kata Ketut Epi Juliarta, bapak Ratih, yang dengan begitu antusias menonton setiap penampilan dari dua grup kesenian yang memang sudah terkenal di Buleleng itu.

“Iya, keren semua,” timpal Ratih di penghujung acara gong mebarung malam pertama itu.

Sanggar Anglocita Suara ke Pesta Kesenian Bali

Pada saat tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) nanti, Sanggar Seni Anglocita Suara membawakan tiga materi pemantasan yang telah ditetapkan oleh tim kurator Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, yakni tabuh lelambatan tabuh nem, tari kreasi kekebyaran, dan fragmentari.

Menurut pengelola  Sanggar Seni Anglocita Suara, Putu Aldi Philberta Harta Celuk, ketiga materi itu telah hampir rampung diselesaikan dengan proses latihan sejak Januari 2025. “Tabuh lelambatan itu bahkan sudah kami mainkan dalam acara HUT Kota Singaraja saat mebarung bersama Dwi Mekar,” kata Aldi.

Berbagai kesulitan, kata Aldi, tentu ditemukan selama proses latihan berlangsung, dari kondisi sekaa atau penabuh yang beberapa sudah bekerja di Denpasar,  sedang kuliah, sedang menyelesaikan skripsi, serta terbentur oleh jam sekolah. Begitu pula kesulitan yang lain seperti jam latihan yang singkat dari jam 8 malam hingga jam 10 malam.

Tari bebarisan Megat Sot dari Sanggar Anglocita Suara | Foto: tatkala.co/Son

“Tapi semua kesulitan atau hambatan itu tidak menyurutkan tekad untuk tetap berproses agar nanti penampilan duta dari kabupaten Buleleng khususnya Gong Kebyar Dewasa di panggung Ardha Candra di Taman Budaya tidak mengecewakan,” kata Aldi.

Aldi berterima kasih karena Sanggar Seni Anglocita Suara juga telah banyak dibantu oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng dari segi persiapan menjelang PKB ini. Salah satunya diberi kepercayaan untuk tampil pada ajang uji coba dengan konsep mebarung berdampingan dengan Padepokan Seni Dwi Mekar pada perayaan HUT Kota Singaraja di Taman Bung Karno.

“Momen ini adalah ajang percobaan dan latihan mental, yang sangat bagus dan baik untuk persiapan pada ajang PKB nanti,” ujar Aldi. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja
Deyana, Devita dan Novita: Kartini-kartini Muda Kebanggaan Buleleng Dalam Pelestarian Gong Kebyar Bali Utara
Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja
Tags: bulelengHUT Kota SingarajaPesta Kesenian Baliseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Toska Belajar Seru Bersama Mahasiswa Filipina   

Next Post

Jurnalis Bukan Sekadar Tukang Lapor Berita: Mengenang Jurnalis dan Fotografer Wayan Sumatika

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

by Komang Sujana
June 3, 2026
0
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

Read moreDetails

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

Read moreDetails

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
0
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

Read moreDetails

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
0
Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

Read moreDetails
Next Post
Jurnalis Bukan Sekadar Tukang Lapor Berita: Mengenang Jurnalis dan Fotografer Wayan Sumatika

Jurnalis Bukan Sekadar Tukang Lapor Berita: Mengenang Jurnalis dan Fotografer Wayan Sumatika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co