24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MEDITASI [1] :  ORANG BALI MEMIKIRKAN PIKIRAN

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 21, 2025
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 21 Pebruari 2024

Ketika orang Bali memikirkan pikiran, khususnya orang yang “pikiran  dan pertimbangannya pendek” atau “cepat marah tanpa pikiran panjang”, dalam bahasa Bali disebut sebagai “basang bawak” (perut pendek).

“Basangne bawak” atau “mabasang bawak” adalah stempel pada orang yang daya pikirnya pendek, pertimbangnya tidak panjang (kadang tanpa pertimbangan), cepat bertindak hanya berdasarkan emosi, dan ekspresi yang keluar adalah dari paling rendah ‘ngambul’, ‘marah’, sampai tahapan ‘ngamuk’.

Basang = pikiran. Demikian seakan-akan dipadankan antara keneh (pikiran) dan basang (perut). Ini menjadi jelas ketika dipadankan antara ungkapan “basang bawak” dan “sing ngelah keneh”.

Inilah pedoman orang Bali memikirkan pikiran:

“Pikiran tidak beda dengan perut.”

Jadi, jika kita mendalami lebih jauh lagi, bahwa orang Bali secara tradisional sudah mengakui bahwa ‘pikiran’ adalah sama dengan alat pencernaan.

Pikiran sebagai alat pencernaan bekerja untuk mencerna apa yang masuk. Jika sesuatu yang sehat masuk, maka diproses menjadi asupan yang menyehatkan. Jika yang masuk tidak sehat, atau racun, maka yang diproses akan meracuni.

Begitulah: Makanan sehat kita makan, maka sehat tubuh kita. Informasi sehat bermanfaat kita masukan ke pikiran, maka sehat pikiran kita. Racun dan residu atau sesuatu yang tidak mengandung manfaat kita masukkan ke pikiran, maka pikiran kita keracunan. Ide dan pikiran pesimis kita masukkan ke pikiran kita, maka pikiran kita mencerna dan keracunan.

Orang Bali menyimpulkan pikiran adalah basang (alat pencernaan).

Apakah kita bisa mengontrol alat pencernaan kita?

Alat pencernaan bekerja ketika kita tidur. Alat pencernaan bekerja sekalipun tidak kita perintah. Ia bekerja alamiah dan bekerja sesuai sifat alamiahnya: Mencerna apa saja yang masuk. Tanpa pandang bulu.

“Batu untal, batu mesu.” Batu kita telan, batu keluar. Dan, jika mengkonsumsi batu atau material yang tidak menyehatkan, maka yang bersangkutan akan mengalami derita konstipasi atau sembelit.

Sembelit pikiran pun dikenal dalam bahasa Bali: “Kabebelan”.

Seseorang yang terbebani dan kesulitan mencerna dan sampai mengalami struk karena terbeban mencerna berbagai persoalan yang dimasukkan ke pikiran, disebut “kabebelan”. Terlalu banyak ‘“memasukkan ilmu gaib yang tidak-tidak” alias “aywawera”, menjadikan pikiran kehilangan kewarasannya, alias “buduh-buduhan”, ini juga karena sembelit pikiran.

Lebih jauh, orang Bali memahami manusia punya dua alat pencernaan: Pencernaan untuk mencerna makanan disebut sebagai ‘basang’, dan pencernaan untuk mencerna informasi disebut sebagai ‘keneh’ (pikiran).

Keduanya bekerja secara alamiah. Keduanya bekerja sekalipun kita tidur. Sekalipun kita tidak sadar atau sedang melalukan aktivitas lain, kedua pencernaan ini bekerja masing-masing secara terus menerus, auto-pilot.

Pikiran adalah alat pencernaan. Sekalipun menduduki bagian penting tapi ini baru sebagian kecil dari kemanusiaan kita. Menurut orang Bali, pikiran bukan segala-galanya,.

Pikiran adalah alat pencernaan yang harus dikelola dan diamati kerjanya.

Kita bukan semata-mata alat pencernaan kita, tapi ada yang jauh lebih luas yang menyusun kemanusian kita.

Belajar dari ungkapan “basang bawak” (perut pendek) ini, orang Bali belajar bahwa ada hal lain yang perlu mendapat perhatian:

1.⁠ ⁠Ada perut yang sedang mencerna, ada kesadaran yang menyadari perut sedang mencerna.

2.⁠ ⁠Ada pikiran yang sedang mencerna dan bereaksi terhadap apa yang dicernanya, ada kesadaran yang menyadari jika pikiran sedang mencerna dan bekerja (bahkan bergolak) memproses dan bereraksi terhadap data, informasi, masukan, ide-ide, dstnya.

Perut mencerna, ada yang menyadari. Pikiran mencerna, ada yang menyadari.

Siapa/apa yang penyadari perut sedang mencerna? Siapa/apa yang menyadari pikiran yang sedang memproses?

Apakah keduanya kesadaran yang sama?

Yang menyadari ini dalam ungkapan kadyatmikan (kebatinan) di Bali dijuluki “Rare Angon”.

Dia yang menyaksikan proses yang terjadi di perut, di pikiran, di hati, dan semua proses sarira kita.

Perut kita, pikiran kita, keduanya proses alamiah.

Dalam kadhyatmikan di Bali, pusat bekerjanya sarira yang bekerja secara alamiah itu, baik perut dan pikiran, serta putaran darah manusia, adalah ‘padma-hredaya’ yang secara anatomi disebutkan di pusat jantung.

Jadi, menurut ajaran leluhur Bali: Pikiran bukanlah pusat kemanusiaan kita.

Ajaran luhur Bali mengajari untuk menyadari totalitas sarira kita.

Tidak menjadi ajaran pokok dalam tradisi Bali kita harus berkonsentrasi terfokus pengendalian pikiran. Yang ada adalah ‘mineh-minehang dewek’, ‘ngasan-asaning awak’, ‘mulat sarira’.

 ‘Negdegang dewek’. Meredakan diri dengan cara apa? Dengan menyadari dan sebatas nyaksikan bahwa perut sedang mencerna dan salah makan, ya resiko ditanggung sakit perut. Jangan menyalahkan orang. Dengan menyadari dan sebatas menyaksikan bahwa pikiran menncerna isu-isu negatif yang berkembang, atau informasi sesat, maka pikiran kita jadi galau dan tersinggung atau murka. Jika pikiran galau setelah memasukkan berita duka atau kekacauan, ya jangan menyalahkan orang. Harus disadari bahwa SISO, GIGO, RIRO — Shit in, shit out. Garbage in, garbage out. Rubbish in, rubbish out.

Ajaran Rare Angon mengarahkan kesadaran untuk sebatas menyadari semua proses alamiah itu. Tidak memberikan komentar-komentar di pikiran. Menyadari tanpa komentar, adalah Rare Angon.

Dalam Kepemangkuan Rare Angon, disebutkan secara mendalam, bahwa yang bisa memimpin doa adalah bukan pikiran, tapi kesadaran yang tidak terganggu pikiran. Menyadari pikiran kita apa adanya. Menyadari pencernaan kita yang demikian alami lapar, kenyang, kembali kosong, dan lapar lagi, adalah latihan dasar memasuki kesadaran yang lebih mendalam dalam kemanusiaan kita.

Menyadari terus menerus tanpa berkometar terhadap kerja pikiran yang kadang ragu, kadang menggebu dan penuh semangat atau penuh nafsu, kembali merasa hampa dan sia-sia, kadang mudah tersinggung dan kemudian tersenyum bungah ketika dipuji dan diapresiasi baik; ini adalah latihan terus-menerus yang harus dilakukan untuk memasuki dan memahami kemanusiaan kita tidak terbatas pikiran kita semata. Ada kesadaran mendalam di dalam diri kita yang tidak tersentuh emosi dan kegalauan yang muncul akibat pikiran mencerna hal-hal yang tidak sehat.

Ketika orang Bali mengatakan “basangne bawak”, itu artinya orang Bali secara terbuka mengatakan bahwa kita harus memantau pikiran kita sebagai pencernaan dan paham apa yang dimasukkan ke dalam perut akan bereaksi. Di tahap ini orang Bali paham, pikiran bisa dan harus dipantau. Dengan apa? Dengan menyadari terus menerus, tanpa mengimbuhi dengan komentar. Menyadari semuanya tanpa berkomentar atau membatin mengucapkan sesuatu. Ketika berkomentar, yang terjadi bukan menyadari, tapi yang terjadi adalah pikiran mengomentari pikiran lain.

Ketika kita bisa menyadari semua proses sarira secara alamiah, tanpa komentar, tanpa kata-kata atau tanpa mengucapkan sepatah kata di pikiran, inilah meditasi tahap pertama, Rare Angon. [T]

Penulis: Sugi Lanus
Editor: Adnyana Ole

PARWATA BERPULANG — BALI KEHILANGAN TAKSU
SEBARIS DOA | Catatan Harian Sugi Lanus
MATI CARA HINDU (1)
𝗠𝗔𝗧𝗜 𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗛𝗜𝗡𝗗𝗨 (𝟮)
Tags: meditasiorang baliSugi Lanus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Next Post

Pura di Tengah Hiruk-Pikuk Hotel Kawasan ITDC Nusa Dua   

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pura di Tengah Hiruk-Pikuk Hotel Kawasan ITDC Nusa Dua   

Pura di Tengah Hiruk-Pikuk Hotel Kawasan ITDC Nusa Dua   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co