27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita dan Rasa Ruang yang Hilang

I Gede Sarjana Putra by I Gede Sarjana Putra
January 12, 2025
in Esai
Kita dan Rasa Ruang yang Hilang

Foto ilustrasi dari penulis

KETIKA alam diposisikan sebagai wilayah taklukan, maka saat itu hubungan manusia dengan alam menjadi canggung, berjarak. Sebaliknya, manusia yang hidup dalam suasana agraris selalu dekat dengan alam, hidup dan menghidupi. Dalam istilah Jawa Kuno disebutkan, “Aku (alam)  ada sebelum engkau dan aku ada sampai engkau tiada.

Dibanding dengan negara-negara Eropa dan Amerika, penduduk Asia memiliki kedekatan, pengetahuan alam dan kesadaran mitologis. Hal ini dimungkinkan karena kondisi alam dan musim yang berbeda. Manusia Asia (agraris) dengan keberlimpahannya membentuk budaya dan perjuangan bersekutu dengan alam. Manusia mendekat dengan alam, karena adanya rasa saling ketergantungan dan terpenting untuk mewariskan ke anak-cucu.

Dalam antropologi disebutkan, manusia adalah makhluk sosial yang tumbuh subur dalam komunitas bersama alam. Namun dalam perjalanannya, atas keserakahan manusia dipenuhi dengan kesombongan dan kebodohan. Kesombongan ini membuatnya melakukan hal-hal tercela dan bodoh yang merugikan dirinya sendiri. Manusia kini terus menerus mewariskan kerusakan pada alam yang nyata. Pada awalnya, manusia dengan cita-cita konservatif yang sesungguhnya kapitalistik berwacana mewujudkan martabat, kerendahan hati dan kebijaksanaan terhadap alam. Faktanya kita bisa lihat sendiri. Justru yang terjadi, penghinaan dan pengkhianatan terhadap kodrati alam. Contoh nyata tentang hal ini adalah gagasan dibuatnya Kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB).

Jauh sebelumnya, pasca meletus Gunung Agung Tahun 1963, jutaan meter kubik pasir terhampar di DAS Sungai Unda. Mulai tahun 1969 (pembangunan Bandara dan kawasan BTDC) lahan ini diekploitasi habis-habisan. Tidak kurang 6 juta meter kubik pasir kerikil batu diangkut ke kota-kota yang terbangun. Sampai pada Tahun 2010-an kondisi ini masih terjadi dan akhirnya Pemerintah menghentikan paksa segala bentuk penambangan Galian C. Dimana kondisi hamparan sudah berada di bawah permukaan laut. Secara ekonomis memberikan dampak yang luar biasa, namun dampak yang ditinggalkan juga luar biasa. Kini, atas dasar pembangunan kebudayaan, lahan tersebut kembali diurug. Persoalannya, bukit-bukit di sekitar kawasan Galian C menjadi korban dan compang-camping.

Cerita lainnya lagi pada Kawasan Canggu – Tanah Lot. Lalu lalang manusia semakin tinggi. Faktanya, secara nyata kemacetan lalulintas terjadi atas keterdesakan rasa ruang. Ruang-ruang yang sebelumnya jinak, ideal bagi masyarakat yang bermukim di sana, kini mulai terdesak habis-habisan. Yang bahkan untuk melaksanakan kegiatan ritual, upacara keagamaan, kini harus berhadapan dengan keterdesakan rasa ruang itu. Ketersesakan rasa ruang ini di awali oleh kapitalistik (gelimang dollar) yang terus digaungkan atas nama PAD. Tak dinyana, gelimang dolar itu juga menyiksa dan menyakitkan.

Rasa ruang yang dulunya sejuk, indah dan bersahabat dengan penduduk wilayah sepanjang Canggu – Tanah Lot kini mulai terpinggirkan. Ekploitasi terhadap alam yang tidak terkendali ini, kini mewariskan keterdesakan atas ruang hunian yang tidak mampu dibeli dengan gelimang dolar. Kalimat yang sering terdengar adalah, “Jangan lewat sana, macet.” Yang kini, seorang Direktur Utama yang tinggal di kawasan sepanjang jalan tersebut harus menurunkan egonya dari naik mobil mewah ke sepeda motor, demi waktu yang terbuang. Rasa ruang ini hilang, karena daya tampung antara manusia dengan alam sudah tidak memadai. Yang kemudian dari hunian (hotel-villa) membuat rasa ruang mini, seolah-olah bersahabat dengan alam. Namun begitu ke luar dari huniannya, mereka kembali tersiksa. Bahwa rasa ruang dalam hunian sesungguhnya palsu, sesaat.

Kembali ke akar komunalisasi manusia, kini seakan di asingkan dengan alam. Akar krisis ekologi (pemahaman) kita keliru; terutama karena berkaitan dengan penafsirannya dalam bencana ekologi kita. Manusia, dalam kesombongannya yang telanjang-angkuh, dan nafsu untuk mengendalikan segalanya, berpaling kepada ciptaan dan merusak kuasa alam yang diamanatkan.

Tendensiusnya, lalu dibuat seolah-olah dekat dengan alam dengan mencuri istilah lama, berhubungan dengan alam dengan upakara-ritual. Hubungan dengan alam diganti menjadi paduan suara pujian, seremonial di laut, gunung dan danau. Namun alam tidak segera pulih. Gandhi pernah berkata, “Memperbaiki kerusakan bukan dengan duduk di depan altar suci, namun mengambil cangkul, melubangi, menanam dan merawat.”

Tanpa disadari, secara sengaja tindakan telah merendahkan hati kita di hadapan kosmos. Keindahan  diciptakan dengan mengorbankan keindahan lain adalah kesia-siaan. Alam sendiri sesungguhnya manusia untuk menjalin hubungan dengannya, bukan untuk terpisah. Bersama alam kita diajak mendengarkan dan mengamati keajaiban sehingga kerumitan terpecahkan bersama alam. Pun, satwa liar karena penuh tarian dan nyanyiannya sangat menyenangkan.

Sederhananya, hidup di alam membutuhkan keterikatan, akar budaya dan ketertiban, hanya saja semua dihancurkan oleh dunia konsumsi dan pergerakan modern kita. Berhadapan (menyatu) dengan alam Itu membutuhkan disiplin, etos kerja, dan kerja sama dengan tanah yang menyediakan kehidupan. Alam bukan saja menyediakan sumber pangan, namun yang terpenting adalah nafas yang sehat. Kini kita merampas kuasa alam, sehingga nafas kita ikut tersesak. Alam membantu menumbuhkan semangat kekeluargaan dan komunitas, karena tidak ada seorang pun yang dapat bertahan hidup sendiri tanpa keluarga atau tetangganya tanpa menghadirkan alam. Pendiri Amerika, Thomas Jefferson mewacanakan manusia dengan , melatih manusia kemandirian, kebajikan, dan prestasi komunal.

Gerakan-gerakan pemuliaan lingkungan mengklaim dirinya sebagai pembela kekayaan alam, nampaknya belum berhasil (gagal) meyakinkan penguasa. Manusia (kekuasaan) sendiri selalu hadir mendominasi dan berusaha memuaskan ego manusia yang sombong dan akhirnya terpuruk. Sekali pun, jawabannya adalah mendekatkan diri dengan Kuasa Alam dengan berbagai ritualnya, namun tanpa didahului dengan kesadaran dan pengekangan libido dominandi  sesuatu yang agung, indah yang kita wariskan menjadi benda yang rapuh. Tentu anak cucu kita hanya akan mewarisi ceritanya saja, tanpa bisa kembali ke awal di masa-masa keindahan itu. Pada akhirnya, kenikmatan atas karunia Tuhan pada Bumi menjadi kering, hanya ada rasa sesal tidak berkesudahan. [T]

Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Kode Gurita di Pantai Berawa
Canggu, Masa Depan Bali
Canggu dan Hal-hal yang Patut Direnungkan
Tags: balilingkunganPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Minuman Apa Sebaiknya Diminum Setelah Olahraga?

Next Post

Band “3 GURU”, Band Pendidik dari Bali Utara: Lahir dari Keresahan dan Hobi yang Sama

I Gede Sarjana Putra

I Gede Sarjana Putra

penulis dan jurnalis

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Band “3 GURU”, Band Pendidik dari Bali Utara: Lahir dari Keresahan dan Hobi yang Sama

Band “3 GURU”, Band Pendidik dari Bali Utara: Lahir dari Keresahan dan Hobi yang Sama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co