5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita dan Rasa Ruang yang Hilang

I Gede Sarjana Putra by I Gede Sarjana Putra
January 12, 2025
in Esai
Kita dan Rasa Ruang yang Hilang

Foto ilustrasi dari penulis

KETIKA alam diposisikan sebagai wilayah taklukan, maka saat itu hubungan manusia dengan alam menjadi canggung, berjarak. Sebaliknya, manusia yang hidup dalam suasana agraris selalu dekat dengan alam, hidup dan menghidupi. Dalam istilah Jawa Kuno disebutkan, “Aku (alam)  ada sebelum engkau dan aku ada sampai engkau tiada.

Dibanding dengan negara-negara Eropa dan Amerika, penduduk Asia memiliki kedekatan, pengetahuan alam dan kesadaran mitologis. Hal ini dimungkinkan karena kondisi alam dan musim yang berbeda. Manusia Asia (agraris) dengan keberlimpahannya membentuk budaya dan perjuangan bersekutu dengan alam. Manusia mendekat dengan alam, karena adanya rasa saling ketergantungan dan terpenting untuk mewariskan ke anak-cucu.

Dalam antropologi disebutkan, manusia adalah makhluk sosial yang tumbuh subur dalam komunitas bersama alam. Namun dalam perjalanannya, atas keserakahan manusia dipenuhi dengan kesombongan dan kebodohan. Kesombongan ini membuatnya melakukan hal-hal tercela dan bodoh yang merugikan dirinya sendiri. Manusia kini terus menerus mewariskan kerusakan pada alam yang nyata. Pada awalnya, manusia dengan cita-cita konservatif yang sesungguhnya kapitalistik berwacana mewujudkan martabat, kerendahan hati dan kebijaksanaan terhadap alam. Faktanya kita bisa lihat sendiri. Justru yang terjadi, penghinaan dan pengkhianatan terhadap kodrati alam. Contoh nyata tentang hal ini adalah gagasan dibuatnya Kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB).

Jauh sebelumnya, pasca meletus Gunung Agung Tahun 1963, jutaan meter kubik pasir terhampar di DAS Sungai Unda. Mulai tahun 1969 (pembangunan Bandara dan kawasan BTDC) lahan ini diekploitasi habis-habisan. Tidak kurang 6 juta meter kubik pasir kerikil batu diangkut ke kota-kota yang terbangun. Sampai pada Tahun 2010-an kondisi ini masih terjadi dan akhirnya Pemerintah menghentikan paksa segala bentuk penambangan Galian C. Dimana kondisi hamparan sudah berada di bawah permukaan laut. Secara ekonomis memberikan dampak yang luar biasa, namun dampak yang ditinggalkan juga luar biasa. Kini, atas dasar pembangunan kebudayaan, lahan tersebut kembali diurug. Persoalannya, bukit-bukit di sekitar kawasan Galian C menjadi korban dan compang-camping.

Cerita lainnya lagi pada Kawasan Canggu – Tanah Lot. Lalu lalang manusia semakin tinggi. Faktanya, secara nyata kemacetan lalulintas terjadi atas keterdesakan rasa ruang. Ruang-ruang yang sebelumnya jinak, ideal bagi masyarakat yang bermukim di sana, kini mulai terdesak habis-habisan. Yang bahkan untuk melaksanakan kegiatan ritual, upacara keagamaan, kini harus berhadapan dengan keterdesakan rasa ruang itu. Ketersesakan rasa ruang ini di awali oleh kapitalistik (gelimang dollar) yang terus digaungkan atas nama PAD. Tak dinyana, gelimang dolar itu juga menyiksa dan menyakitkan.

Rasa ruang yang dulunya sejuk, indah dan bersahabat dengan penduduk wilayah sepanjang Canggu – Tanah Lot kini mulai terpinggirkan. Ekploitasi terhadap alam yang tidak terkendali ini, kini mewariskan keterdesakan atas ruang hunian yang tidak mampu dibeli dengan gelimang dolar. Kalimat yang sering terdengar adalah, “Jangan lewat sana, macet.” Yang kini, seorang Direktur Utama yang tinggal di kawasan sepanjang jalan tersebut harus menurunkan egonya dari naik mobil mewah ke sepeda motor, demi waktu yang terbuang. Rasa ruang ini hilang, karena daya tampung antara manusia dengan alam sudah tidak memadai. Yang kemudian dari hunian (hotel-villa) membuat rasa ruang mini, seolah-olah bersahabat dengan alam. Namun begitu ke luar dari huniannya, mereka kembali tersiksa. Bahwa rasa ruang dalam hunian sesungguhnya palsu, sesaat.

Kembali ke akar komunalisasi manusia, kini seakan di asingkan dengan alam. Akar krisis ekologi (pemahaman) kita keliru; terutama karena berkaitan dengan penafsirannya dalam bencana ekologi kita. Manusia, dalam kesombongannya yang telanjang-angkuh, dan nafsu untuk mengendalikan segalanya, berpaling kepada ciptaan dan merusak kuasa alam yang diamanatkan.

Tendensiusnya, lalu dibuat seolah-olah dekat dengan alam dengan mencuri istilah lama, berhubungan dengan alam dengan upakara-ritual. Hubungan dengan alam diganti menjadi paduan suara pujian, seremonial di laut, gunung dan danau. Namun alam tidak segera pulih. Gandhi pernah berkata, “Memperbaiki kerusakan bukan dengan duduk di depan altar suci, namun mengambil cangkul, melubangi, menanam dan merawat.”

Tanpa disadari, secara sengaja tindakan telah merendahkan hati kita di hadapan kosmos. Keindahan  diciptakan dengan mengorbankan keindahan lain adalah kesia-siaan. Alam sendiri sesungguhnya manusia untuk menjalin hubungan dengannya, bukan untuk terpisah. Bersama alam kita diajak mendengarkan dan mengamati keajaiban sehingga kerumitan terpecahkan bersama alam. Pun, satwa liar karena penuh tarian dan nyanyiannya sangat menyenangkan.

Sederhananya, hidup di alam membutuhkan keterikatan, akar budaya dan ketertiban, hanya saja semua dihancurkan oleh dunia konsumsi dan pergerakan modern kita. Berhadapan (menyatu) dengan alam Itu membutuhkan disiplin, etos kerja, dan kerja sama dengan tanah yang menyediakan kehidupan. Alam bukan saja menyediakan sumber pangan, namun yang terpenting adalah nafas yang sehat. Kini kita merampas kuasa alam, sehingga nafas kita ikut tersesak. Alam membantu menumbuhkan semangat kekeluargaan dan komunitas, karena tidak ada seorang pun yang dapat bertahan hidup sendiri tanpa keluarga atau tetangganya tanpa menghadirkan alam. Pendiri Amerika, Thomas Jefferson mewacanakan manusia dengan , melatih manusia kemandirian, kebajikan, dan prestasi komunal.

Gerakan-gerakan pemuliaan lingkungan mengklaim dirinya sebagai pembela kekayaan alam, nampaknya belum berhasil (gagal) meyakinkan penguasa. Manusia (kekuasaan) sendiri selalu hadir mendominasi dan berusaha memuaskan ego manusia yang sombong dan akhirnya terpuruk. Sekali pun, jawabannya adalah mendekatkan diri dengan Kuasa Alam dengan berbagai ritualnya, namun tanpa didahului dengan kesadaran dan pengekangan libido dominandi  sesuatu yang agung, indah yang kita wariskan menjadi benda yang rapuh. Tentu anak cucu kita hanya akan mewarisi ceritanya saja, tanpa bisa kembali ke awal di masa-masa keindahan itu. Pada akhirnya, kenikmatan atas karunia Tuhan pada Bumi menjadi kering, hanya ada rasa sesal tidak berkesudahan. [T]

Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Kode Gurita di Pantai Berawa
Canggu, Masa Depan Bali
Canggu dan Hal-hal yang Patut Direnungkan
Tags: balilingkunganPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Minuman Apa Sebaiknya Diminum Setelah Olahraga?

Next Post

Band “3 GURU”, Band Pendidik dari Bali Utara: Lahir dari Keresahan dan Hobi yang Sama

I Gede Sarjana Putra

I Gede Sarjana Putra

penulis dan jurnalis

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Band “3 GURU”, Band Pendidik dari Bali Utara: Lahir dari Keresahan dan Hobi yang Sama

Band “3 GURU”, Band Pendidik dari Bali Utara: Lahir dari Keresahan dan Hobi yang Sama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co