2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Selendang Sulaiman | Meditasi

Selendang Sulaiman by Selendang Sulaiman
August 4, 2024
in Puisi
Puisi-puisi Selendang Sulaiman | Meditasi

Selendang Sulaiman

Meditasi Hari Pertama

sudah kusempurnakan mandi besar
dan jubah hitam gairah yang lalu
lekas kulepas di pintu keheningan
lumut dan bakteri kusikat sampai kilat

kini kukenakan kulit bayiku lagi
pikiran yang baru tahu tangis dan tawa
hati yang jauh dari pilu dan haru
pada umur kelewat remaja dan tua

di sini, seperempat hidup pada almanak
menggumpal di atas dingin keramik
sambil menata nafas yang lama tercampak

dan di keheningan ini kusapu bersih
noda-noda masa lalu dan remah impian
yang menghisap energi bahagia dan hidupku

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Kedua

umpama jelajah alam di malam bulan terang
mencari arah lapang menuju kampung nurani
batu-batu sandung berbentuk layang-layang
dan kala jengking memetik bunga melati

kuikuti jejak kaki para pertapa
melewati bukit, lembah dan rimba
selepas kegelapan tertikam di pintu sukma
belati di tangan tetas api di mata serigala

pagar melati menyeruap wangi dan salam
pisang emas matang di pohon berbinar-binar
bersama irama jengkrik di semak-semak seruni

alir nafasku mengembun, kuku-kuku membening
seperti bayi tenang, silaku hening
meraba seluruh pori-pori, luar dalam.

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Ketiga

kunang-kunang terbit di hamparan padi
kakiku geli di pucuk-pucuk tunas ilalang
bukan, itu percik sinar lampu-lampu kota
jadi bainglala dipejam mata meditasiku

kedua lengan terentang-terkepak
terbang memandang cuaca
bagai burung gagak awasi mangsa
lalu hinggap di punggung meditasiku

bagai khidir, lentur tangan buka pintu
fantasi menggelar teater satu babak
dari masa silam yang koyak-moyak

meditasi badan kerontang tersentak
tapa bisu mengikis bahasa yang terserak
sebelum tiba gelap saat nafas diam di dada

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Keempat

seluruh organ tubuh berontak
sel-sel darah saling desak
sendi-sendi menetaskan nyeri
otot pegal ditekan linu

hasrat pergi memuncak
pikiran keluar ke mana-mana
perasaan halus dan kasar saling tindih
sukma mencair, tubuh padat terkunci

seluruh energi batin mengkristal
menghentikan waktu di duduk pikiran
menumpas segala ingin dan angan

angin halus menjaga nafas mulus
mengurai benang kusut berlumut
di sekujur atmosfir hidup.

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Kelima

kujur tubuh berlabuh di dermaga hening
kesiur angin-ombak lenyap di daun telinga
di belakang kelopak mata ada pelangi
menjadi jembatan masa lalu ke masa depan

hidup lahir di hulu bergerak ke hilir
mengisi ruang dan waktu di dasar dan tepi
aku terapung dan hanyut sepanjang nafas
pada denyut batu-batu memenuhi paru-paru

pikiran menjadi ikan mas koki lemah
bermimpi setiap tenang air diam bariak
berharap jadi lumba-lumba pintar perkasa

hujan emosi berduyun-duyun ke kawasanku
menggerogoti perasaan bisu bermata biru
dalam duduk meditasi panjangku.

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Keenam

kulepas wajah luka di tubuh lembut meditasi
sejengkal dari ubun-ubun sebuah pintu terbuka
kumasuki sebelum ruas cahaya memadam
lalu muncul ribuan jendela kaca de javu

separuh sukmaku mengambang
di atas bukit-bukit hijau puncak bogor
kuturuni tangga batu menuju lembah
mengikuti jejak kaki matahari

sukma diam di gerbang kayu kedua
perkampungan muncul dihuni duka cita
ratusan keranda terbang ke pemakaman

gubuk trauma reot di balik gerbang kayu
di seberang tangga batu yang keenam
dan di gerbang terakhir; hening memelukku

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Ketujuh

di perbatasan lubang hidung dan bibir
menepilah benih-benih angin segala penjuru
sekejeap tunas tumbuh dan berlabuh
ke ujung pangkal terdekat dan terjauh

segenggam nafas beroprasi di jantung
menyusuri arah denah urat nadi
seperti gulungan ombak tergumpal di ubun-ubun
lalu pecah ruah ke sekujur dilebur darah

alirnya deras berarus kencang
tak ada hulu bermula, tanpa hilir perjumpaan
tubuhku tak lagi berjarak dengan atmosfer

waktu meleleh di tenggorokan
kutelan bersama racun dahak kental
masa silam masa depan berhenti dalam dada

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Kedelapan

tak satu pun tertinggal dan terlepas
daun-daun peristiwa tumbuh dan gugur
di ranting-dahan pohon jati takdirku
di kebun ingatan tempat segalanya berdenyut

umpama sel-sel sperma dan zat tanah gambut
setiap yang berdenyut mengembang biak
memilih nasib dan jalur hidup kebebasan
dan aku mengakses seluruh denyut sendiri

jauh dari ujung belati panca indera
ribuan babak tragedi tercipta dalam otak
tanpa lampu, tak bersuara: senyap

jutaan bayang-bayang keangkuhan
mematung di antara langit dan bumi meditasi
terjamah, ia jelmaan impian yang terbunuh.

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Kesembilan

di ruang kesembilan meditasi vipassana
batang pohon nanas kering di pagi buta
semut dan walang sengit pergi ke lembah
laba-laba dan burung empret membuat sarang

aku kehilangan hasrat dan selera
tulang belakang ditumbuhi akar gantung
pandangan meninggi mencapai bukit
kabut tebal putih susut ke pori-pori

aku kehilangan batas dan jarak
menjelma atmosfir dan iklim sendiri
suara hanya gema di titik hening

ragaku terus menipis-tanpa kikis
masa dan gelombang bunyi terlipat
tersusun megah di pintu kepulangan

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Kesepuluh

menjelang purna diam yang mulia
di pusat meditasi vipassana dhamma java
aku mungkin meraih dhamma
lenyap segala bentuk sangkara

menjelma janin subur sang budha?
di rahim dunia yang fana
sebelum ritual khusyuk tobat paripurna
menyongsong sulur cahaya sukma

pecah dari wajah dewa matahari
atau dewi bulan dan samudera
sebagian menjadi reinkarnasiku

keheningan memenuhi aku
kesadaran menguasai perikemanusiaanku
pancaran hidup mengkristal di pusat cahaya

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Penutup Tapa Bisu

semua yang nyata berlalu, tapa bisu, pikiran biru
adakah yang lebih biru dari pekatnya rindu?

puncak-puncak bukit disanding gunung geulis
meniup langit, awan bunting lahir dalam rinduku.

sempurnalah meditasiku
sepuluh hari menunaikan tapa bisu

Jakarta-Bogor, 2014/2024

BACA puisi-puisi lainnya

Puisi-puisi Achmad Khoirul Fatoni | Catatan Biru
Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Seseorang Dalam Puisi
Puisi-puisi Zajima Zan | Di Sebuah Perpustakaan Kecil
Puisi-puisi Farras Pradana | Bukan Hukuman
Puisi-puisi Jang Sukmanbrata | Ketika Sajak Itu Jejak di Sungai
Puisi-puisi Mettarini | Seperti Mimpimu Memeluk Langit
Puisi-Puisi Rehan Naza | Peristiwa Singkat untuk Ingatan Panjang
Puisi-puisi Arif Billah | Sepanjang Pantai Aku Mengumpat
Puisi-puisi Rusdy Ulu | Keruh, Gelisah, Propaganda
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kandapat” dan Alasan Memuja Leluhur: Catatan dari Geguritan Japatuan

Next Post

Yan Dira, Menari Menjadi Panggilan Jiwa

Selendang Sulaiman

Selendang Sulaiman

Lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989 dan kini mukim di Jakarta. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa cetak dan elektronik serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi Puisi Tunggalnya: Hymne Asmaraloka (Digital: Betread, 2014); Omerta (Halaman Indonesia, 2018). Buku puisi keduanya segera terbit akhir tahun 2024. Bisa dijumpai di IG @selendangsulaiman dan YouTube Channel @selendangsulaimanofficial

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Yan Dira, Menari Menjadi Panggilan Jiwa

Yan Dira, Menari Menjadi Panggilan Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co