9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pancasila Menghendaki Hadirnya Oposisi

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
June 29, 2024
in Esai
Suburnya Politik Dinasti di Pulau Dewata

Teddy C Putra

PANCASILA sebagai pedoman hidup rakyat Indonesia kembali dijadikan bumper dalam rangka memperkokoh kaki-kaki kekuasaan. Baru-baru ini, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyebutkan bahwa proses check and balance dalam pemerintahan akan lebih mudah dilakukan tanpa hadirnya oposisi, ia menyebutnya sebagai demokrasi gotong royong. Alih-alih memberi dampak konstruktif terhadap demokrasi, narasi ini justru menjadi indikasi mundurnya demokrasi di Indonesia.

Pancasila merupakan prinsip hidup yang digali oleh Ir. Soekarno, kemudian disampaikan pada sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam penjelasannya, Soekarno menyebutkan nilai-nilai Pancasila dapat diperas menjadi Tri Sila, yang terdiri dari sosio-nasionalisme, sosio demokrasi, dan ketuhanan. Dan masih bisa diperas lagi menjadi Eka Sila, yakni gotong royong. Tapi benarkah, nilai-nilai demokrasi gotong royong sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Bamsoet?

Antara Ideologis dan Demokrasi

Sebagai sebuah pedoman hidup, Pancasila jelas tidak boleh memiliki oposisi di republik ini. Pancasila harus menjadi satu-satunya ideologi atau prinsip bagi rakyat Indonesia dalam mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Rakyat harus melihat Pancasila sebagai ideologi yang harus selalu dipelajari dalam upaya untuk memahami lebih jauh nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Namun dalam konteks demokrasi, Pancasila justru memberi jaminan kepada rakyatnya untuk mengungkapkan pendapatnya—termasuk terhadap strategi pembangunan bangsa. Pertentangan ide menjadi salah satu kunci dalam melahirkan pelbagai inovasi-inovasi kebangsaan. Artinya, inovasi-inovasi tersebut hanya dapat hadir apabila terdapat kelompok oposisi di tengah dinamika politik kebangsaan di Indonesia. Tanpa oposisi, niscaya tidak akan ada partai politik yang memiliki keberanian menantang narasi penguasa.

Suara berbeda harus tetap hadir dalam proses bernegara, menjadi lebih powerfull apabila suara berbeda tersebut datang dari partai politik. Memberi ruang bagi kelompok oposisi sejatinya menjadi hal baik bagi penguasa. Mereka yang tidak bergabung ke dalam pemerintahan akan selalu siaga di setiap kesempatan untuk mengingatkan sekaligus melontarkan kritik apabila kekuasaan sedang tidak berada di jalurnya.

Meski idealnya demikian, upaya merangkul seluruh pihak demi meminimalisir partai politik yang berada di luar kekuasaan secara intens dilakukan oleh Prabowo pasca ditetapkan sebagai pemenang Pemilu 2024 oleh KPU RI. Upaya tersebut dilakukan dengan keyakinan bahwa tanpa adanya oposisi, pembangunan akan semakin mudah dilakukan. Alih-alih memudahkan pembangunan, upaya menegasikan kelompok oposisi di tengah dinamika kebangsaan nyatanya memberi ruang-ruang baru bagi praktek penyelewengan kekuasaan.

Narasi gotong royong memang memiliki citra positif di mata rakyat, namun dalam konteks ini, kekuasaan harus tetap dihadapkan dengan suara tandingan. Pola pemerintahan seperti ini kemudian akan melahirkan proses check and balance yang sehat dan berimbang. Menjaga keseimbangan dua kutub kekuatan politik menjadi penting. Terkumpulnya kekuatan politik dalam satu titik memberi ruang bagi lahirnya kebijakan-kebijakan kontroversial.

PDIP dan PKS Jadi Harapan

Upaya konsolidasi terus dilakukan oleh pihak pemenang, salah satunya merangkul pihak-pihak yang kalah untuk bergabung ke dalam kekuasaan. Nasdem dan PKB menjadi dua partai yang telah menunjukkan gesture dukungan kepada pemerintahan Prabowo di lima tahun mendatang. Berbeda dengan PDIP dan PKS, kedua partai ini belum menunjukkan sikap dan posisinya di pemerintahan Prabowo-Gibran.

Apabila PDIP dan PKS memutuskan menjadi oposisi pada pemerintahan Prabowo-Gibran, maka dapat dipastikan proses pengambilan keputusan akan semakin dinamis. Pemerintah akan lebih berhati-hati dalam merumuskan sebuah kebijakan. Prinsip kehati-hatian menjadi satu hal penting, apalagi kebijakan tersebut selanjutnya akan memberi dampak kepada kehidupan rakyat.

Hadirnya oposisi di tengah dinamika politik kebangsaan, memiliki arti bahwa dalam perjalanannya, rakyat tidak akan berjuang sendiri. Terlalu banyak dan berat isu yang harus diperjuangkan rakyat apabila seluruh partai politik bergabung ke dalam pemerintahan. Apabila isu-isu yang diperjuangkan rakyat tidak mendapat ruang atau tidak mendapat perhatian kekuasaan, besar kemungkinan situasi kebangsaan tidak akan kondusif. Bahkan keadaan chaos pun bukan menjadi satu hal yang mustahil.

Apabila PDIP dan PKS telah berkomitmen berada di seberang kekuasaan, maka dua partai politik tersebut akan menjadi kanal utama yang digunakan rakyat dalam rangka menyampaikan aspirasinya. Dan hal tersebut justru mendatangkan keuntungan bagi PDIP dan PKS—setidaknya keuntungan elektoral untuk perhelatan pemilu selanjutnya.

Koalisi gemoy Prabowo-Gibran dapat dilihat sebagai upaya mengkristalisasi kekuasaan, membiarkan kekuasaan beredar hanya di tangan-tangan segelintir elit. Di sisi lain, koalisi gemoy dipandang sebagai jalan utama bagi kelompok penguasa guna mengamankan pelbagai agenda-agenda politiknya.

Pada akhirnya, Pancasila sangatlah menghendaki hadirnya kelompok-kelompok oposisi di dalam dinamika politik Bangsa. Alih-alih memberi keuntungan bagi banyak pihak, kristalisasi kekuasaan justru hanya mendatangkan keuntungan bagi segelintir pihak. Berharap dapat meningkatkan kualitas demokrasi, nyatanya praktek-praktek tersebut justru mengantarkan demokrasi Indonesia pada situasi stagnan, bahkan lebih buruk lagi, yakni menuju kemunduran. [T]


aca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI

Berebut Rekomendasi Menuju Pilgub Bali: Bagaimana Peluang Koster-Giri?
Wayan Koster, Giri Prasta, dan Tebar Pesona Elit PDIP Bali Demi Rebut Rekomendasi
Membaca Masa Depan Koster
Percakapan di Ruang Tengah : Tentang Pendidikan Hindu di Bali
Tags: demokrasiesai politikoposisiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian

Next Post

Yang Tidak Biasa dari Sekeranjang Jeruk — Tentang Arak Jeruk Desa Awan, Kintamani

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tidak Biasa dari Sekeranjang Jeruk — Tentang Arak Jeruk Desa Awan, Kintamani

Yang Tidak Biasa dari Sekeranjang Jeruk -- Tentang Arak Jeruk Desa Awan, Kintamani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co