30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pancasila Menghendaki Hadirnya Oposisi

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
June 29, 2024
in Esai
Suburnya Politik Dinasti di Pulau Dewata

Teddy C Putra

PANCASILA sebagai pedoman hidup rakyat Indonesia kembali dijadikan bumper dalam rangka memperkokoh kaki-kaki kekuasaan. Baru-baru ini, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyebutkan bahwa proses check and balance dalam pemerintahan akan lebih mudah dilakukan tanpa hadirnya oposisi, ia menyebutnya sebagai demokrasi gotong royong. Alih-alih memberi dampak konstruktif terhadap demokrasi, narasi ini justru menjadi indikasi mundurnya demokrasi di Indonesia.

Pancasila merupakan prinsip hidup yang digali oleh Ir. Soekarno, kemudian disampaikan pada sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam penjelasannya, Soekarno menyebutkan nilai-nilai Pancasila dapat diperas menjadi Tri Sila, yang terdiri dari sosio-nasionalisme, sosio demokrasi, dan ketuhanan. Dan masih bisa diperas lagi menjadi Eka Sila, yakni gotong royong. Tapi benarkah, nilai-nilai demokrasi gotong royong sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Bamsoet?

Antara Ideologis dan Demokrasi

Sebagai sebuah pedoman hidup, Pancasila jelas tidak boleh memiliki oposisi di republik ini. Pancasila harus menjadi satu-satunya ideologi atau prinsip bagi rakyat Indonesia dalam mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Rakyat harus melihat Pancasila sebagai ideologi yang harus selalu dipelajari dalam upaya untuk memahami lebih jauh nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Namun dalam konteks demokrasi, Pancasila justru memberi jaminan kepada rakyatnya untuk mengungkapkan pendapatnya—termasuk terhadap strategi pembangunan bangsa. Pertentangan ide menjadi salah satu kunci dalam melahirkan pelbagai inovasi-inovasi kebangsaan. Artinya, inovasi-inovasi tersebut hanya dapat hadir apabila terdapat kelompok oposisi di tengah dinamika politik kebangsaan di Indonesia. Tanpa oposisi, niscaya tidak akan ada partai politik yang memiliki keberanian menantang narasi penguasa.

Suara berbeda harus tetap hadir dalam proses bernegara, menjadi lebih powerfull apabila suara berbeda tersebut datang dari partai politik. Memberi ruang bagi kelompok oposisi sejatinya menjadi hal baik bagi penguasa. Mereka yang tidak bergabung ke dalam pemerintahan akan selalu siaga di setiap kesempatan untuk mengingatkan sekaligus melontarkan kritik apabila kekuasaan sedang tidak berada di jalurnya.

Meski idealnya demikian, upaya merangkul seluruh pihak demi meminimalisir partai politik yang berada di luar kekuasaan secara intens dilakukan oleh Prabowo pasca ditetapkan sebagai pemenang Pemilu 2024 oleh KPU RI. Upaya tersebut dilakukan dengan keyakinan bahwa tanpa adanya oposisi, pembangunan akan semakin mudah dilakukan. Alih-alih memudahkan pembangunan, upaya menegasikan kelompok oposisi di tengah dinamika kebangsaan nyatanya memberi ruang-ruang baru bagi praktek penyelewengan kekuasaan.

Narasi gotong royong memang memiliki citra positif di mata rakyat, namun dalam konteks ini, kekuasaan harus tetap dihadapkan dengan suara tandingan. Pola pemerintahan seperti ini kemudian akan melahirkan proses check and balance yang sehat dan berimbang. Menjaga keseimbangan dua kutub kekuatan politik menjadi penting. Terkumpulnya kekuatan politik dalam satu titik memberi ruang bagi lahirnya kebijakan-kebijakan kontroversial.

PDIP dan PKS Jadi Harapan

Upaya konsolidasi terus dilakukan oleh pihak pemenang, salah satunya merangkul pihak-pihak yang kalah untuk bergabung ke dalam kekuasaan. Nasdem dan PKB menjadi dua partai yang telah menunjukkan gesture dukungan kepada pemerintahan Prabowo di lima tahun mendatang. Berbeda dengan PDIP dan PKS, kedua partai ini belum menunjukkan sikap dan posisinya di pemerintahan Prabowo-Gibran.

Apabila PDIP dan PKS memutuskan menjadi oposisi pada pemerintahan Prabowo-Gibran, maka dapat dipastikan proses pengambilan keputusan akan semakin dinamis. Pemerintah akan lebih berhati-hati dalam merumuskan sebuah kebijakan. Prinsip kehati-hatian menjadi satu hal penting, apalagi kebijakan tersebut selanjutnya akan memberi dampak kepada kehidupan rakyat.

Hadirnya oposisi di tengah dinamika politik kebangsaan, memiliki arti bahwa dalam perjalanannya, rakyat tidak akan berjuang sendiri. Terlalu banyak dan berat isu yang harus diperjuangkan rakyat apabila seluruh partai politik bergabung ke dalam pemerintahan. Apabila isu-isu yang diperjuangkan rakyat tidak mendapat ruang atau tidak mendapat perhatian kekuasaan, besar kemungkinan situasi kebangsaan tidak akan kondusif. Bahkan keadaan chaos pun bukan menjadi satu hal yang mustahil.

Apabila PDIP dan PKS telah berkomitmen berada di seberang kekuasaan, maka dua partai politik tersebut akan menjadi kanal utama yang digunakan rakyat dalam rangka menyampaikan aspirasinya. Dan hal tersebut justru mendatangkan keuntungan bagi PDIP dan PKS—setidaknya keuntungan elektoral untuk perhelatan pemilu selanjutnya.

Koalisi gemoy Prabowo-Gibran dapat dilihat sebagai upaya mengkristalisasi kekuasaan, membiarkan kekuasaan beredar hanya di tangan-tangan segelintir elit. Di sisi lain, koalisi gemoy dipandang sebagai jalan utama bagi kelompok penguasa guna mengamankan pelbagai agenda-agenda politiknya.

Pada akhirnya, Pancasila sangatlah menghendaki hadirnya kelompok-kelompok oposisi di dalam dinamika politik Bangsa. Alih-alih memberi keuntungan bagi banyak pihak, kristalisasi kekuasaan justru hanya mendatangkan keuntungan bagi segelintir pihak. Berharap dapat meningkatkan kualitas demokrasi, nyatanya praktek-praktek tersebut justru mengantarkan demokrasi Indonesia pada situasi stagnan, bahkan lebih buruk lagi, yakni menuju kemunduran. [T]


aca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI

Berebut Rekomendasi Menuju Pilgub Bali: Bagaimana Peluang Koster-Giri?
Wayan Koster, Giri Prasta, dan Tebar Pesona Elit PDIP Bali Demi Rebut Rekomendasi
Membaca Masa Depan Koster
Percakapan di Ruang Tengah : Tentang Pendidikan Hindu di Bali
Tags: demokrasiesai politikoposisiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian

Next Post

Yang Tidak Biasa dari Sekeranjang Jeruk — Tentang Arak Jeruk Desa Awan, Kintamani

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tidak Biasa dari Sekeranjang Jeruk — Tentang Arak Jeruk Desa Awan, Kintamani

Yang Tidak Biasa dari Sekeranjang Jeruk -- Tentang Arak Jeruk Desa Awan, Kintamani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co