23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muasal

Hamzah by Hamzah
March 13, 2024
in Esai
Muasal

House of Squam Light, Gloucester (1923) oleh Edward Hopper

SAYA tidak pernah paham dengan sentimen ‘tanah air’. Bagi saya, idiom you can take the person out of their home, but you can’t take their home out of their person terdengar sangat…fantastis. Saya pribadi tidak rela disematkan identitas primordial—aneh rasanya untuk membanggakan yang terberi tanpa perlu meraih apa-apa. Muasal dan kebanggaannya saya pandang dengan begitu sinis. Toh, hidup saya seumur-umur berada di simpang jalan dan terminal.

Saya perantau, maka saya kudunya memahami para perantau. Sialnya, saya selalu menemukan sweet spot untuk betah dengan cepat jika diharuskan berpindah. Saya sudah lama tidak mengalami homesick atau rindu kampung halaman karena bagaimana pun, saya sudah lanjur menggali semayam bernama home sendiri. Saya toh paham, keadaanlah yang merentangkan jarak para perantau ini. Mencerabutnya dari zona nyaman hingga didera sawan bernama ‘kangen rumah’.

Agar adil, mari kita kulik terlebih dahulu, apa itu ‘rumah’ atau ‘kampung halaman’. Bahasa Inggris menyebutnya hometown, dengan ditabur sedikit patriotisme ia mekar menjadi homeland. Menalar homeland adalah penalaran berlapis makna dan terikat konteks yang luar biasa subyektif. Homeland menjadi konsep asali untuk mengenali dan mengenangi diri sendiri dalam wujudnya yang bermatra jamak. Merenungi homeland adalah merenungi keruangan yang tidak terbantahkan dalam menjelaskan apa dan siapa diri kita.

Bahasa Indonesia punya makna-makna alternatif atas apa yang dinalar sebagai homeland. Kita telah kenali makna awam homeland sebagai apa yang kita sebut ‘tanah air’. Bila mengulik penalaran keruangan, homeland tidak lain dan tidak bukan adalah ‘kampung halaman’. Dalam konteks geografi, homeland juga dapat berarti ‘nusa bangsa’. Semangat juang memaknainya lain lagi, homeland adalah ‘tanah tumpah darah’. Jika disejajarkan dengan sentimen identitas, kesejarahan (bahasa), dan gender, maka homeland dapat dipertukarkan dengan motherland, mengandung arti ‘ibu pertiwi’.[1]

Agung, ya? Sepertinya yang terberi menyematkan keagungan pada insan-insan yang lahir tanpa punya apa-apa. Maka, digenggamnya identitas erat-erat. Meletus konflik karenanya—karena ada dorongan untuk menegakkan panji atas siapa diri kita di dunia. Mula dari warna kulit hingga cara berpakaian, dari ruang-ruang bersifat natural hingga demarkasi tipu-tipu—selalu ada peluang untuk meneriakkan bahwa darah dan tumpahnya adalah demi ‘rumah’.[2]

Setiap peradaban adalah hikayat perjuangan kelas.[3] Peradaban—dan kelas masyarakat sebagai ‘perumahan’ adalah akibat dari konflik jatuh bangun antara si kecil dan si besar. Dalam bentuk paling purbanya, adalah ‘gesekan’ atau ‘penaklukan’ manusia atas alam. Selain arena sosial, karena wujud manusia yang fisik, ia juga menjadi arena spasial. ‘Kampung halaman’ tidak pernah terberi dengan tiba-tiba. Setiap panji, setiap bangsa, adalah hasil upaya para pendahulu. Apakah tegak dengan damai atau darah—itulah mengapa, sebagian maknanya menjadi ‘tanah tumpah darah’.

Datanglah masa-masa damai. Tanpa agresi, tidak ada alasan untuk mengangkat panji tinggi-tinggi. Tanah kampung menjadi klaustrofobik. Maka, manusia melanglang buana. Ia kemudian menemui hal lain dan yang-liyan. Ia ingin membaur, namun ia curiga dan dicurigai. Ia angkat panjinya yang menganggur jauh dari tlatah rumah. Ia kemudian disematkan padanya identitas asalinya.

Begitulah, ‘rumah’ kemudian menjadi suar. Agar yang-lain mendekati dirinya dengan prasangka baik-buruk dan mengukurnya. Agar yang-lain dapat berdiri menyalaminya dan menyelaminya. Agar yang-lain tidak gegas menjadi yang-liyan dan lekas berkawan.[4] Manusia tidak mampu melihat manusia sebagai satu karena tlatahnya yang dirasa menyempit di kepala.

Temuilah manusia itu rekannya dari rumah yang sama. Kebanggaan meluap, hendak bertanya apa kabar kampungnya. Di lidahnya mencecap, berkalang waktu dia jauh dari rumah, pun tak terkikis identitasnya sebagai warga rumahnya. Keberjarakan menjadi amplifikasi. Keberjarakan spasial menggandakan keakraban afektifnya; mendaulat diri sebagai warga rumahnya penuh waktu. Di kepalanya, realitas lain terbayangkan dan merumah karena pengalaman.[5]

Asyik meromantisir, manusia menggambar rumah dalam sebuah karikatur. Sebagian bahasa dan hikayat meletakkannya sebagai ibu, banyak lainnya—notabene karena kekasarannya—meletakkan sebagai ayah.[6] Hampar luas kemudian dilihat manusia tidak lebih dari bawah pusarnya sendiri. Narsisisme yang, hampir-hampir, meletakkan kampung halaman lebih dekat dengan nafsu dan nafas sendiri. Daya teluhnya kemudian mengukuhkan ‘tanah tumpah darah’ mengalir via jantung yang sama—menjadikan panji-panji kemudian semakin runcing dan hubungan manusia-manusia semakin runyam.

Sampai di sini, homeland menjadi sesuatu yang kisut. Lebih mudah menalarnya sebagai agonisme cangkang dan antagonisme benda asing yang memaksa masuk. Iritasi yang disebabkan benturan tersebut hanya akan lebih masuk akal dipahami dalam konteksnya yang ekonomi politik. Penjajahan dan opresi pertama-tama adalah soal sumberdaya—kemudian, (melalui) penguasaan atas satu atau lainnya.

Saya tidak sedang menyinggung mereka yang membela rumahnya dari serbuan penjajah. Saya juga benci mereka-mereka yang tetap memutuskan memakai sepatu mereka yang kotor ke ruang tamu tanpa dipersilakan dan malah berkalang kekerasan. Untuk urusan itu, unjuk panji adalah bukan kerja-kerja meliyankan melainkan bela diri. Toh manusia-manusia najis yang merangsek masuk sembarangan ini yang malah menganggap manusia lainnya liyan dan sampiran.

Dalam kekerasan, harapan mekar dibasuh perlawanan. Perlawanan kemudian diselimur sentimen identitas. Sentimen tersebut, kemudian dijalin dengan ingatan dan waktu. Susan Abulhawa membayangkan tentang masa lalu dan masa depan rumahnya di Palestina adalah wilayah dengan agama dan budaya jamak.[7] Latar metropolitan adalah imajinasi pamungkas tentang tanah berlanda konflik seperti Palestina. ‘Tanah tumpah darah’ menjelma belanga-belanga yang menampung mimpi-mimpi metropolitan para penyintasnya.

Bunga-bunga budaya yang mekar dalam perlintasan manusia adalah akibat kehendak yang luar biasa manusiawi. Dalam hiruk-pikuk dan perjalinannya, tanah air dan rumah menjelma dalam kepala orang-orang. Identitas bergeser karena ruang-ruang yang menyempit akibat semakin banyaknya manusia. Identitas kemudian menjadi sesuatu yang lapang dan carut-marut. Kampung halaman dalam kota, adalah kenangan dan lakon di mana sejarah bekerja terus-menerus untuk mencatat jadinya tlatah—tanpa pernah final kemenjadiannya.

Dalam jiwa-jiwa kelana, rumah kemudian adalah kemenjadian terus menerus, di dalam manusianya sebagaimana di atas tanah-tanahnya. Lazim dimaknai bahwa kampung halaman tidak melulu merujuk pada wilayah administratif. Sah belaka, bahwa kampung halaman adalah sudut dan kelokan jalan yang dikenali—membumikan diri dari kebanggaan panji-panji yang dimaknai sebatas awang dan kejumawaan.

Baiklah, saya mulai memahami sentimennya. Lahirlah kita sekalian. Lahirlah saya selembar daun dari pohon kampung halamannya. Pohon yang berkalang tahun meranggas, tumbuh, tersambar, tebang, terbakar, dan berlubang sarang. Lahirlah kita selembar daun, dan dengan tangkainya mengalir air dari cabang, batang, akar, kemudian parasit, jamur, tanah, dan kembali ke badan air. Saya sintas karenanya.

Saya kini paham tabiat tanah air, saya kini mengerti sifat kampung halaman—saya kini paham mengapa rumah bersemayam di jiwa-jiwa. [T]


[1] Urusan ini dijabarkan dengan cantik oleh Wikipedia sendiri https://en.wikipedia.org/wiki/Homeland

[2] Fukuyama, Francis (2018). “Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment”. Farrar, Straus and Giroux

[3] Marx, Karl dan Engels, Friedrich. 1818-1883. “The Communist Manifesto”. London

[4] Webber, Jonathan (2019). “Against type: what existentialist philosophy reveals about prejudices”. Aeon.

[5] Anderson, Benedict. (2016). “Imagined communities”. Verso Books.

[6] Luar biasa seram bagaimana patriarki begitu prevalent dalam konotasi soal ‘tanah air’ ini, James, Caroline (May 2015). “Identity Crisis: Motherland or Fatherland?”. Oxford Dictionaries. Oxford University Press. Tahukah kamu bahwa patriotisme bersepupu akar kata dengan father?

[7] Abulhawa, Susan (2014). “We Have Only Ourselves and People of Conscience to Effectuate Our Own Liberation”. Middle East Eye, Edisi Musim Panas 2014. Diterbitkan ulang oleh Literary Hub, May 16 2018.

BACA esai lain dari penulis HAMZAH

Kata Kembali Merumah di Singaraja
Batas Nalar : Catatan Sehabis Menonton “Our Sea is Always Hungry” – Leyla Stevens
Rumah Literasi Indonesia di Banyuwangi, Bukan Sekadar Membaca, Tapi Juga Berwisata
Tags: filosofirenunganRumahtanah air
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi dan Pandangan Dunia

Next Post

Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Hamzah

Hamzah

Lebih suka menyebut dirinya berlapis jamak seperti larik Walt Whitman. Laki-laki cis ini hidup nomaden sepanjang ingatannya. Kini semayam di Gianyar, Bali sebagai buruh nonprofit. Dapat dikunjungi di https://hamzah.id

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co