2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muasal

Hamzah by Hamzah
March 13, 2024
in Esai
Muasal

House of Squam Light, Gloucester (1923) oleh Edward Hopper

SAYA tidak pernah paham dengan sentimen ‘tanah air’. Bagi saya, idiom you can take the person out of their home, but you can’t take their home out of their person terdengar sangat…fantastis. Saya pribadi tidak rela disematkan identitas primordial—aneh rasanya untuk membanggakan yang terberi tanpa perlu meraih apa-apa. Muasal dan kebanggaannya saya pandang dengan begitu sinis. Toh, hidup saya seumur-umur berada di simpang jalan dan terminal.

Saya perantau, maka saya kudunya memahami para perantau. Sialnya, saya selalu menemukan sweet spot untuk betah dengan cepat jika diharuskan berpindah. Saya sudah lama tidak mengalami homesick atau rindu kampung halaman karena bagaimana pun, saya sudah lanjur menggali semayam bernama home sendiri. Saya toh paham, keadaanlah yang merentangkan jarak para perantau ini. Mencerabutnya dari zona nyaman hingga didera sawan bernama ‘kangen rumah’.

Agar adil, mari kita kulik terlebih dahulu, apa itu ‘rumah’ atau ‘kampung halaman’. Bahasa Inggris menyebutnya hometown, dengan ditabur sedikit patriotisme ia mekar menjadi homeland. Menalar homeland adalah penalaran berlapis makna dan terikat konteks yang luar biasa subyektif. Homeland menjadi konsep asali untuk mengenali dan mengenangi diri sendiri dalam wujudnya yang bermatra jamak. Merenungi homeland adalah merenungi keruangan yang tidak terbantahkan dalam menjelaskan apa dan siapa diri kita.

Bahasa Indonesia punya makna-makna alternatif atas apa yang dinalar sebagai homeland. Kita telah kenali makna awam homeland sebagai apa yang kita sebut ‘tanah air’. Bila mengulik penalaran keruangan, homeland tidak lain dan tidak bukan adalah ‘kampung halaman’. Dalam konteks geografi, homeland juga dapat berarti ‘nusa bangsa’. Semangat juang memaknainya lain lagi, homeland adalah ‘tanah tumpah darah’. Jika disejajarkan dengan sentimen identitas, kesejarahan (bahasa), dan gender, maka homeland dapat dipertukarkan dengan motherland, mengandung arti ‘ibu pertiwi’.[1]

Agung, ya? Sepertinya yang terberi menyematkan keagungan pada insan-insan yang lahir tanpa punya apa-apa. Maka, digenggamnya identitas erat-erat. Meletus konflik karenanya—karena ada dorongan untuk menegakkan panji atas siapa diri kita di dunia. Mula dari warna kulit hingga cara berpakaian, dari ruang-ruang bersifat natural hingga demarkasi tipu-tipu—selalu ada peluang untuk meneriakkan bahwa darah dan tumpahnya adalah demi ‘rumah’.[2]

Setiap peradaban adalah hikayat perjuangan kelas.[3] Peradaban—dan kelas masyarakat sebagai ‘perumahan’ adalah akibat dari konflik jatuh bangun antara si kecil dan si besar. Dalam bentuk paling purbanya, adalah ‘gesekan’ atau ‘penaklukan’ manusia atas alam. Selain arena sosial, karena wujud manusia yang fisik, ia juga menjadi arena spasial. ‘Kampung halaman’ tidak pernah terberi dengan tiba-tiba. Setiap panji, setiap bangsa, adalah hasil upaya para pendahulu. Apakah tegak dengan damai atau darah—itulah mengapa, sebagian maknanya menjadi ‘tanah tumpah darah’.

Datanglah masa-masa damai. Tanpa agresi, tidak ada alasan untuk mengangkat panji tinggi-tinggi. Tanah kampung menjadi klaustrofobik. Maka, manusia melanglang buana. Ia kemudian menemui hal lain dan yang-liyan. Ia ingin membaur, namun ia curiga dan dicurigai. Ia angkat panjinya yang menganggur jauh dari tlatah rumah. Ia kemudian disematkan padanya identitas asalinya.

Begitulah, ‘rumah’ kemudian menjadi suar. Agar yang-lain mendekati dirinya dengan prasangka baik-buruk dan mengukurnya. Agar yang-lain dapat berdiri menyalaminya dan menyelaminya. Agar yang-lain tidak gegas menjadi yang-liyan dan lekas berkawan.[4] Manusia tidak mampu melihat manusia sebagai satu karena tlatahnya yang dirasa menyempit di kepala.

Temuilah manusia itu rekannya dari rumah yang sama. Kebanggaan meluap, hendak bertanya apa kabar kampungnya. Di lidahnya mencecap, berkalang waktu dia jauh dari rumah, pun tak terkikis identitasnya sebagai warga rumahnya. Keberjarakan menjadi amplifikasi. Keberjarakan spasial menggandakan keakraban afektifnya; mendaulat diri sebagai warga rumahnya penuh waktu. Di kepalanya, realitas lain terbayangkan dan merumah karena pengalaman.[5]

Asyik meromantisir, manusia menggambar rumah dalam sebuah karikatur. Sebagian bahasa dan hikayat meletakkannya sebagai ibu, banyak lainnya—notabene karena kekasarannya—meletakkan sebagai ayah.[6] Hampar luas kemudian dilihat manusia tidak lebih dari bawah pusarnya sendiri. Narsisisme yang, hampir-hampir, meletakkan kampung halaman lebih dekat dengan nafsu dan nafas sendiri. Daya teluhnya kemudian mengukuhkan ‘tanah tumpah darah’ mengalir via jantung yang sama—menjadikan panji-panji kemudian semakin runcing dan hubungan manusia-manusia semakin runyam.

Sampai di sini, homeland menjadi sesuatu yang kisut. Lebih mudah menalarnya sebagai agonisme cangkang dan antagonisme benda asing yang memaksa masuk. Iritasi yang disebabkan benturan tersebut hanya akan lebih masuk akal dipahami dalam konteksnya yang ekonomi politik. Penjajahan dan opresi pertama-tama adalah soal sumberdaya—kemudian, (melalui) penguasaan atas satu atau lainnya.

Saya tidak sedang menyinggung mereka yang membela rumahnya dari serbuan penjajah. Saya juga benci mereka-mereka yang tetap memutuskan memakai sepatu mereka yang kotor ke ruang tamu tanpa dipersilakan dan malah berkalang kekerasan. Untuk urusan itu, unjuk panji adalah bukan kerja-kerja meliyankan melainkan bela diri. Toh manusia-manusia najis yang merangsek masuk sembarangan ini yang malah menganggap manusia lainnya liyan dan sampiran.

Dalam kekerasan, harapan mekar dibasuh perlawanan. Perlawanan kemudian diselimur sentimen identitas. Sentimen tersebut, kemudian dijalin dengan ingatan dan waktu. Susan Abulhawa membayangkan tentang masa lalu dan masa depan rumahnya di Palestina adalah wilayah dengan agama dan budaya jamak.[7] Latar metropolitan adalah imajinasi pamungkas tentang tanah berlanda konflik seperti Palestina. ‘Tanah tumpah darah’ menjelma belanga-belanga yang menampung mimpi-mimpi metropolitan para penyintasnya.

Bunga-bunga budaya yang mekar dalam perlintasan manusia adalah akibat kehendak yang luar biasa manusiawi. Dalam hiruk-pikuk dan perjalinannya, tanah air dan rumah menjelma dalam kepala orang-orang. Identitas bergeser karena ruang-ruang yang menyempit akibat semakin banyaknya manusia. Identitas kemudian menjadi sesuatu yang lapang dan carut-marut. Kampung halaman dalam kota, adalah kenangan dan lakon di mana sejarah bekerja terus-menerus untuk mencatat jadinya tlatah—tanpa pernah final kemenjadiannya.

Dalam jiwa-jiwa kelana, rumah kemudian adalah kemenjadian terus menerus, di dalam manusianya sebagaimana di atas tanah-tanahnya. Lazim dimaknai bahwa kampung halaman tidak melulu merujuk pada wilayah administratif. Sah belaka, bahwa kampung halaman adalah sudut dan kelokan jalan yang dikenali—membumikan diri dari kebanggaan panji-panji yang dimaknai sebatas awang dan kejumawaan.

Baiklah, saya mulai memahami sentimennya. Lahirlah kita sekalian. Lahirlah saya selembar daun dari pohon kampung halamannya. Pohon yang berkalang tahun meranggas, tumbuh, tersambar, tebang, terbakar, dan berlubang sarang. Lahirlah kita selembar daun, dan dengan tangkainya mengalir air dari cabang, batang, akar, kemudian parasit, jamur, tanah, dan kembali ke badan air. Saya sintas karenanya.

Saya kini paham tabiat tanah air, saya kini mengerti sifat kampung halaman—saya kini paham mengapa rumah bersemayam di jiwa-jiwa. [T]


[1] Urusan ini dijabarkan dengan cantik oleh Wikipedia sendiri https://en.wikipedia.org/wiki/Homeland

[2] Fukuyama, Francis (2018). “Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment”. Farrar, Straus and Giroux

[3] Marx, Karl dan Engels, Friedrich. 1818-1883. “The Communist Manifesto”. London

[4] Webber, Jonathan (2019). “Against type: what existentialist philosophy reveals about prejudices”. Aeon.

[5] Anderson, Benedict. (2016). “Imagined communities”. Verso Books.

[6] Luar biasa seram bagaimana patriarki begitu prevalent dalam konotasi soal ‘tanah air’ ini, James, Caroline (May 2015). “Identity Crisis: Motherland or Fatherland?”. Oxford Dictionaries. Oxford University Press. Tahukah kamu bahwa patriotisme bersepupu akar kata dengan father?

[7] Abulhawa, Susan (2014). “We Have Only Ourselves and People of Conscience to Effectuate Our Own Liberation”. Middle East Eye, Edisi Musim Panas 2014. Diterbitkan ulang oleh Literary Hub, May 16 2018.

BACA esai lain dari penulis HAMZAH

Kata Kembali Merumah di Singaraja
Batas Nalar : Catatan Sehabis Menonton “Our Sea is Always Hungry” – Leyla Stevens
Rumah Literasi Indonesia di Banyuwangi, Bukan Sekadar Membaca, Tapi Juga Berwisata
Tags: filosofirenunganRumahtanah air
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi dan Pandangan Dunia

Next Post

Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Hamzah

Hamzah

Lebih suka menyebut dirinya berlapis jamak seperti larik Walt Whitman. Laki-laki cis ini hidup nomaden sepanjang ingatannya. Kini semayam di Gianyar, Bali sebagai buruh nonprofit. Dapat dikunjungi di https://hamzah.id

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co