6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Batas Nalar : Catatan Sehabis Menonton “Our Sea is Always Hungry” – Leyla Stevens

Hamzah by Hamzah
August 28, 2023
in Esai
Batas Nalar : Catatan Sehabis Menonton “Our Sea is Always Hungry” – Leyla Stevens

Foto: CushCush Gallery (2023)

DIBESARKAN pada tradisi literasi yang sama ketatnya dengan didikan agama, telah sejak lama aku mengenyam kontradiksi. Batasku sebagai anak dan manusia yang ingin tahu makna keberadaannya di dunia, menjadikanku kenyang didera oleh nilai-nilai yang berbeda. Tidak lain, karena apa yang kutemukan di buku berbeda dengan lidah dan tangan orang tuaku, terutama Bapak. Aneh, padahal pustaka-pustaka itu siapa lagi yang sediakan selain Bapak. Salah satu nilai yang coba diwariskan Bapak namun sarat kontradiksi adalah moral dan ideologi yang bekerja di dalamnya.

Dalam pembelaan Bapak, 1965 adalah dosa daripada manusia komunis durjana. Retorika ini diulang oleh orang-orang di sekitarku saat itu, yang kebetulan sering menggenggam kitab suci.[1] Sekarang aku tahu, mengapa Bapak bisa bilang begitu. Terlepas dari Bapak yang menghabiskan dewasa mudanya dengan berjualan buku, Bapak rupanya turut menelan ketakutan yang lahir dari belajar beragama dengan tekun. Begitulah aku diwariskan olehnya kontradiksi.

Foto: CushCush Gallery (2023)

“Perjuangan manusia melawan kuasa adalah perjuangan ingatan melawan lupa,” sabda Milan Kundera dalam Kitab Lupa dan Gelak Tawa[2] ini mengingatkan kita bahwa sejarah yang ditulis oleh orang berdaya adalah sejarah yang berusaha menghapus ingatan-ingatan genap tentang kejadian. Agar kuasa dapat langgeng, kisah harus ditemurunkan secara harfiah melalui tahta.[3] Hanya satu kisah, dan tidak lain.

Maka, sepanjang usia dewasa muda, aku dihadapkan pada usaha membatalkan ingatan (unlearn) atas apa yang Bapak wariskan. Banyak respon dan tulisan telah digarap dan telah aku baca soal 1965. Our Sea is Always Hungry (Leyla Stevens, 2018) yang ditampilkan di Cush Cush Gallery, Agustus 2023, bukanlah pengecualian. Namun, aku tergugah untuk merenungkan kembali makna batas ketika dalam esai ini aku berniat membahasnya.

Leyla Stevens melalui karya audio-visualnya menampilkan berbagai b-roll footage dengan stilasi pasca produksi. Dibarengi dengan narasi dialog yang menyayat hati serta puitis, Our Sea is Always Hungry secara harfiah menggambarkan tarik menarik antar batas. Dibuka dengan gambar dan kisah soal garis laut yang memisahkan dua karang geologis, yang kemudian disebut oleh ilmuwan kolonial sebagai Garis Wallace, memberi batas soal apa yang tumbuh dan berkembang di antara dua karang tersebut. Karya ini dibuka dengan kisah yang tidak memusatkan manusia, kemudian ditarik pada kisah manusia serta traumanya yang turun temurun.[4]

Suara perempuan dalam narasi ingin menggugat bahwa kekerasan yang terjadi di tanah atas dua garis itu adalah lebih purba wujudnya. Ia menggugat kolonialisme sembari mengingatkan bahwa huru-hara ini bermula dari tujuh mayat di lubang, yang kemudian ditarik batas bahasannya oleh suara laki-laki bahwa ini semua bermula di 1963. Kemudian dialog itu mempertanyakan kembali batas-batas antara adab dan biadab, dengan kisah horor tentang bagaimana ‘para jagal’ selalu memutuskan mabuk tuak setelah menghabisi tersangka—seolah merayakan matinya orang-orang dengan parang dan tangannya sendiri. Salah satu—lalu mengenali dirinya sebagai seorang petani—berhasil lolos dari penjagalan, lalu memutuskan untuk menarik diri dari peradaban karenanya.

Foto: CushCush Gallery (2023)

Hari-hari si petani kemudian dibayangi oleh Wong Samar, sembari menyandang rasa bersalah karena sintas. Wong Samar sebagai wujud rasa bersalah ini kadang gaib kadang zahir, sementara si petani juga memutuskan untuk timbul tenggelam dalam tlatah peradaban. Ingatannya kemudian menjadi sesuatu yang tak atau kasat karenanya.

Agenda yang dibawa oleh Leyla Stevens dalam karya ini adalah gamblang lapisannya. Ingatan—atau bolehlah kita sebut sejarah—alternatif yang mengangkat tragedi sebagai bencana ke-manusia-an menghablur karena ditampilkan sebagai sebuah karya seni dalam sebuah perbincangan yang tabu dan luar biasa terhegemoni. Karya ini memetakan batas-batas akan banyak hal. Lebih penting lagi, karya ini kemudian menjelma material afektif—sederhananya, menjelma monumen di mana orang-orang dapat mencantolkan seluruh empati dan emosi karena wacananya.

Perbatasan, kata ilmuwan-ilmuwan mestiza[5], adalah ruang kemenjadian. Interioritas (kesadaran sebagai subyek) ‘aku’ bersinggungan dengan interioritas ‘kamu’. Persinggungan antara interioritas ini menjelma eksterioritas (kesadaran sebagai subyek-di-dunia, atau dasein dalam penalaran Martin Heidegger[6]) yang melahirkan swabudaya (self-culture)[7]. Eksterioritas ini terjadi pada keruangan fisik atau sosio-spasial yang performatif/berwujud laku, menjelma monumen atau laku—atau material afektif. Dalam karya ini, Our Sea is Always Hungry kemudian menjadi cantolan akan keruangan performatifnya dalam pameran seni.

Perlu dipahami bahwa batas adalah hasil nalar modern, yang melihat kedua kutub sebagai ekstrem yang saling bertumbukan. Modernisme yang sama, telah melahirkan kekerasan oleh negara dan akhir dari kolonialisme era lama. Maka, obat penawar berupa setelah/pasca-modernisme ini berangsur menawarkan cara pandang dunia dalam spektrum, sebagaimana layaknya bentuk bola bumi dan semesta-semesta ini.

Dalam kaitannya dengan ingatan, cara pandang baru mengenai batas ini menawarkan cara menggugat dengan melihat ingatan atau sejarah sebagai akibat yang terlampau personal. Secara visual, ia pun menghablur batas antara kekerasan dan dampaknya pada stilasi dwirona (duotone) di akhir footage. Trauma kemudian membicarakan segalanya, hingga pada dampak penalarannya yang dapat ditafsir magis atau psikosis di akhir kisah.

Samar-samar, aku adalah orang yang mungkin paling tidak mengenal ‘batas’. Bukan saja karena aku ‘kurang ajar’ dalam mata orang-orang tua—ibu menjulukiku sebagai Bima karenanya—namun juga karena aku tidak pernah tuntas mengenali ‘batas’. Aku ‘tinggal’ di delapan kota dalam 27 tahun hidup, sehingga tidak pernah benar-benar menyerap identitas sebagai orang Jakarta, atau Makassar, atau Ngawi, atau Jogja.

Kemudian, aku menawarkan diriku untuk melihatku sebagai warga seluruh alam dan dengan berani melampaui batas. Aku menalar kembali ingatan-ingatan yang kuperoleh dan kubatalkan. Melalui laparnya laut yang baka[8], Leyla Stevens menawarkan cermin kepadaku: untuk menyerahkan diriku pada spektrum dan terus hidup karena setiap kepala adalah monumen. Luka dan ketidak ajegan yang hablur adalah pondasinya. Barangkali.


[1] Kaitan antara fundamentalisme agama dan ketakutannya akan komunisme ini rupanya fenomena yang global belaka. Jika ingin tahu lebih lanjut, kamu bisa baca Bennett, Jeffrey S. “The Blue Army and the Red Scare: Politics, Religion, and Cold War Paranoia.” Politics, Religion & Ideology 16.2-3 (2015): 263-281.

[2] Kundera, Milan.1979. Kniha smíchu a zapomnění atau The Book of Laughter and Forgetting.

[3] Ini salah satu taktik Machiavellian yang tertuang dalam Il Principe (1532)

[4] Catatan kaki bagian ini sebaiknya dibaca setelah seluruh esai. Pada bagian ini, aku jadi bertanya: apakah anthropocentrism (keberpusatan manusia) juga menyangkut persoalan ingatan? Apakah ingatan dan kesejarahan adalah tabiat yang khusus manusiawi atau melampauinya? Bagaimana dengan ingatan yang tercerabut karena benturan dan politik ingatan, sehingga kemudian harus meletakkan ingatan tersebut melalui titimangsa di luar manusia—seperti dalam karya ini, laut dan pohon, misalnya?

[5] Anzaldúa, Gloria (1987), Borderlands/La Frontera: The New Mestiza. San Francisco: Spinsters/Aunt Lute. Atau kamu bisa baca salah satu tinjauannya—beserta perbincangan batas (border talk) di sini https://www.eurozine.com/border-talk-hybridity-and-performativity/

[6] Jika kamu punya waktu terlampau luang, kamu bisa membaca Sein und Zeit/Being and Time (1927) oleh Martin Heidegger. Jika punya sedikit banyak waktu luang, kamu bisa membaca Heidegger dan Mistik Keseharian (2016) oleh F. Budi Hardiman atau Heidegger: A Graphic Guide oleh Jeff Collins dan Howard Selina.

[7] Channing, William Ellery. Self-culture: An address introductory to the Franklin lectures, delivered at Boston, September, 1838. Vol. 9. No. 6. Dutton and Wentworth, printers, 1838.

[8] Our Sea is Always Hungry (Leyla Stevens, 2018) adalah karya single-channel video, stereo sound, berdurasi 13 menit 16 detik yang mengeksplorasi bahasa visual dokumenter dan fiksi. Penyelidikan soal 1965 yang membekas dan diklaim terlupakan di Bali menjadi tajuk karya berikut. Karya ini dipamerkan dalam Sang Gunung Menyerahkan Jejaknya ke Laut (CushCush Gallery, 2023). Catatan kaki ini diletakkan di akhir agar pembaca tidak ‘tercemari’ oleh ketokohan (author-ity) Leyla Stevens sebagai seniman, atau esai ini sebagai salah satu respon.

Tags: CushCush Galleryfilm pendekvideo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menelisik Ajaran Tentang Ujaran Dalam Sastra Klasik

Next Post

Bergunjing Kini Dianggap ‘Healing’

Hamzah

Hamzah

Lebih suka menyebut dirinya berlapis jamak seperti larik Walt Whitman. Laki-laki cis ini hidup nomaden sepanjang ingatannya. Kini semayam di Gianyar, Bali sebagai buruh nonprofit. Dapat dikunjungi di https://hamzah.id

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Bergunjing Kini Dianggap ‘Healing’

Bergunjing Kini Dianggap ‘Healing’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co