6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Leluhur | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
October 7, 2023
in Cerpen
Leluhur | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

KAMI menyebutnya leluhur, sesuatu yang ada dan menempel pada diri, pada raga dan mungkin juga jiwa. Yang kadang muncul menjadi bisikan lembut di dada, belaian sayang yang membayang. Atau memantul dan berbicara lewat bibir yang tersenyum di dalam cermin. Ya,, kami, aku dan dia menyebutnya leluhur, sesuatu yang dekat, sangat dekat, tetapi kadang tak terjangkau bahkan oleh kecerdasan pikiran.

Aku dan dia, memandang, memahami dan  menanggapi leluhur secara berbeda, bahkan nyaris bertolak belakang. Aku,  seperti namaku, Pertiwi, Bumi yang mematri semua yang di dalam, statis, diam tak kemana-mana, memahami, dan memandang leluhur sebagai manusia-manusia nyata dengan segala aturan tradisi tetek bengeknya yang membelengu, dan mengganggu.

Dia, namanya Dian, Agni,, seperti api terlempar dan menggelepar di luar lingkaran, menggapai-gapai kedalaman, mencari akar untuk bahan bakar, memandang dan memahami leluhur sebagai spirit yang selalu membantu dan menguatkan.

Maka, jadilah kami dua sosok berbeda yang bertolak belakang, tetapi disatukan dalam konteks “leluhur”.

Hentah siapa yang benar dan siapa yang salah menjadi tak penting lagi. Yang menarik adalah sesuatu yang kami  sepakati yang kami sebut leluhur yang wajib dan mesti dihormati.

Bagi Dian rasa hormat dan kewajiban itu ditunjukkan dengan mengikuti semua semua arahan leluhur, karena selalu benar, dan memang merupakan kebenaran itu sendiri.

“Aku dibuang, dipisahkan dari ayah, ibu, saudara-saudara dan lingkunganku. Nenek yang mengajak, menjaga, memelihara dan mendidikku. Nenek menjadi perantara kasih sayang leluhur-leluhurku. Bahkan saat nenek sudah meninggalpun, kasih sayangnya yang hadir dalam batinku, menyelamatkanku dari tiga kematian. Aku dihidupkan dari nafas kasih nenek dan leluhurku. Maka kujalani hidupku untuknya, untuk leluhurku!” Mata Dian berkaca-kaca, ada kenangan indah masa silam yang melintas-lintas dalam geraknya yang tanpa batas.

Aku terpana, merasa berbeda dan sangat berbeda.

Aku menghormati leluhur, karena kuanggap lebih tua. Ibu mengajariku untuk menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda dan menghargai sesama.

Jadi rasa hormatku pada leluhur, lebih pada rasa hormatku pada nasehat ibu, yang kuyakini benar dan kebenaran itu sendiri.

Pada ibu, rasa hormatku tak kutunjukkan dengan mengikuti semua perkataannya, untuk yang kuanggap krusial aku sering membantah ibu, justru karena rasa hormatku padanya.

Ketika ibu sakit, beliau melarangku memijat kakinya, karena menganggap aku anaknya memiliki derajat yang lebih tinggi darinya.

“Lebih tinggi dari mana, sudah jelas aku lahir dari rahimnya, jangankan memijat kaki, kepalakupun  akan aku serahkan dengan senang hati agar bisa berada di bawah telapak kakinya!” Pendapatku itu tidak saja melawan permintaannya, tapi juga membuat keluarga lain tidak suka.

Membuat orang yang lebih tua tidak suka, marah bahkan benci, bukan berarti aku tak menghormati, tetapi rasa hormatku diletakkan pada keyakinan yang  kuanggap benar.

“Kamu tahu kenapa sampai sekarang kamu belum mendapatkan pasangan, itu karena aku pasang tembok yang sangat tinggi untuk mengurungmu.., ” kata sebuah suara di dalam dadaku. Ya, aku tahu itu suara bagian dari diriku, dalam darah, DNA leluhurku.

Aku terkekeh, bersilat lidah dengan yang ada di dalam diriku.

“Ya, tidak apa-apa, berarti pasanganku nanti adalah orang hebat, peloncat tinggi yang bisa meloncati tembok tinggi yang kalian buat.”

“Sejak dari dalam kandungan,  dari kecil kau kujaga, selalu kujaga, agar kau bisa melahirkan keturunan, yang mewarisi keagungan dan keluhuran leluhur kita!” Suara itu tegas dan jelas, sedikit marah.

Aku terkekeh.

“Ya, silahkan saja, kalau mau lahir dari aku silahkan saja, mau suamiku siapa kek ya lahir, lahir sajalah, mau orang asing atau siapa saja.”

Suara di dadaku kurasakan makin marah. Kemudian dia memberikan gambaran suami yang dijodohkan untukku. Seorang lelaki muda dan tampan, masih saudara yang juga teman SMA ku. Tentu saja aku makin terkekeh, yang membuatnya makin marah.

“Oke, oke, gini aja, aku hanya akan menikah dengan orang yang kucintai dan mencintai aku. Jadi kalau kau ingin aku menikah dengannya, tolong buat aku mencintainya dan dia mencintai aku, ” kataku akhirnya.

Suara di dadaku makin marah, mengumpat-umpat dan mengancam-mengancam, mengatakan apa saja yang sudah dilakukan untukku selama ini, yang dianggapnya percuma karena aku tak mau mengikuti perintahnya.

Setelah itu sungguh kurasakan sangat tidak nyaman. Seminggu aku merasakan jiwaku tak berada di dalam ragaku, hidupku serasa kosong. Tapi saat seperti itu, pikiran-pikiran nakalku tentang kematian berlompatan. Kalau seandainya aku mati, aku ingin teman-temanku sedikit tahu tentang cerita kematianku. Maka ku telpon teman-teman dekatku, kunikmati berbagai jawaban yang mereka berikan.

“Aduh, jangan seperti itu, jangan melawan leluhur, minta maaflah, ” kata seorang teman yang dikenal sangat ahli dalam adat dan budaya Bali.

“Wah Kingkong lu lawan,” kata teman satunya yang terkenal santai.

“Wah gitu ya, hati-hati,” kata teman sedikit cuek

Berbagai jawaban teman-teman mampu sedikit meredakan debar di dadaku,sekaligus memberiku  pemahaman yang lebih dalam tentang teman-temanku.

Ketika kemudian adikku meninggal, aku masih berusaha melupakan perdebatan dengan yang kuanggap leluhur itu, dan berkeyakinan bahwa persoalan hidup dan mati ada dalam kemahakuasaan Tuhan, juga jodoh dan cinta.

Jalanku menghormati leluhur adalah jalan pembangkangan dan pemberontakan terhadap apa yang kunilai keliru. Kupahami kini, leluhur atau, siapapun, atau apapun itu yang hadir sebagai penghalang, penghambat, pengganggu bahkan pengancam, hadir semata untuk menguji keyakinan kita, pada Tuhan, pada kebenaran yang satu, yang sebenar-benarnya.

Leluhur menjadi salah satu jalan menuju hakekat. Hentah jalan darat, laut maupun udara.

Di udara bagi Dian, diri adalah ketelanjangan yang memerlukan baju-baju duaniawi dari leluhur untuk perlindungan dan rasa aman.

Sampai bisa menemukan baju-baju keyakinan pada Tuhan untuk menjadi benar-benar telanjang dan menyatu dengan semesta. Menjadi semesta.

Di Bali, tubuh kita seperti pohon pisang, yang hatinya diselubungi berlapis-lapis pelepah, yang menjadi pelindung inti. Lapis-lapis yang menjadi batang pohon pisang itu seperti lapis-lapis keluarga, leluhur, lingkungan, adat dan tradisi yang menutupi kesejatian yang kita cari.  Hanya dengan melepas kelopak pisang satu-satu, melewati perih luka dan koyakan, akan mendapatkan inti. [T]

  • BACA cerpen lain
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Fête De La Musique | Cerpen Santos Philipus
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Reza Ramadhan | Amelia

Next Post

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co