3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puputan Badung: Sebuah Capaian Prestasi atau Sikap Frustrasi?

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
September 10, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

PERINGATAN Puputan Badung akan dilaksanakan lagi tahun ini, tepatnya tanggal 20 September 2023. Kita yang tidak mengalami perang habis-habisan itu tentu memiliki berbagai pandangan. Pikiran manusia modern yang terlalu rasional mungkin saja bertanya, apakah sikap Puputan Badung itu sebentuk prestasi atau frustrasi karena menghadapi tekanan Belanda?

Bagi kutub yang menyatakan sikap itu sebagai langkah frustrasi, barangkali didasarkan atas perbedaan senjata yang digunakan kedua belah pihak dalam berperang. Belanda memiliki senjata meriam, bedil, dan granat yang canggih, sementara masyarakat Bali masih dominan menggunakan senjata keris.

Harusnya, perbedaan senjata tersebut membuat masyarakat Denpasar mundur agar tak banyak korban jiwa yang gugur akibat perang. Di samping itu, faktanya tak semua kerajaan di Bali kompak memusuhi Belanda. Sebagian kerajaan lain di Bali justru menjadikan Kompeni sebagai sekutu dan koalisi. 

Di kutub masyarakat yang meyakini Puputan Badung sebagai langkah yang penuh prestasi biasanya tersemat nilai-nilai cinta tanah air, sikap kesatria, dan sikap yang totalitas dalam menghadapi masalah.

Kita tidak perlu berdebat soal itu, semangat zaman yang berbeda tentu akan melahirkan sikap yang berbeda. Yang ingin kita coba lihat adalah gambaran Ida Padanda Ngurah dalam Kidung Bhuwana Winasa mengenai tata cara seorang pemimpin dalam menghadapi tekanan masalah.

Berdasarkan pembacaan terhadap karya sastra yang juga diduga berjudul Rundah Pulina ini, kita mendapatkan suatu gambaran mengenai pemimpin Bali yang senantiasa “bersenjatakan sastra” dalam menghadapi berbagai tekanan. Dapat dikatakan bahwa sebelum mengambil sikap Puputan, sang raja telah melakukan sejumlah tahapan.

Ketika utusan Belanda di Batavia mendatangi Raja Denpasar seraya menagih ganti rugi atas perampokan Kapal Dagang Cina yang dituduh dilakukan warga Sanur, raja tidak mau menyerahkan begitu saja atas tuntutan itu.

Sang Pemimpin terlebih dahulu mengkonfirmasi kepada tokoh-tokoh masyarakat Sanur. Sikap ini adalah bagian dari ajaran Pratyaksa Pramana: yaitu memperoleh pengetahuan secara langsung dari pihak yang terlibat dalam suatu masalah agar segala sesuatunya menjadi jelas (mangda putus).

Setelah meyakini bahwa rakyat Sanur tidak melakukan penjarahan terhadap Kapal Sri Komala, barulah raja memutuskan untuk menolak tawaran itu. Beliau meyakini bahwa tuduhan atas rakyatnya tersebut sebagai salah satu bentuk cara mencari masalah yang tidak ksatria—yang dilakukan oleh orang Jawa (baca: Pasukan Belanda di Batavia).

Ida Padanda Ngurah dalam Kidung Bhuwana Winasa melalui tokoh Cokorda Denpasar menyatakan sikap orang Jawa itu dengan pernyataan pedas, “Terlampau busuk, tan ulahing satria!”

Penolakan terhadap tawaran utusan itu dapat diketahui dengan baik oleh Cokorda Denpasar, pasti membawa konsekuensi peperangan. Kemampuan memaknai tanda-tanda baik alam maupun tanda-tanda yang ditunjukkan oleh sesorang ini tampaknya merupakan pengejewantahan dari Anumana Pramana—kemampuan memaknai tanda, seperti menebak asap yang bersumber dari api.

Oleh sebab itulah pemimpin Denpasar segera menyampaikan berita ini kepada Raja Klungkung dan Raja Tabanan, dengan cara mengutus dua orang padanda bernama Pranda Ketut Jlantik dan Pranda Ketut Krutuk.

Dengan bantuan dua utusan itu, raja Tabanan segera datang ke kerajaan Badung untuk bertemu. Dalam pembicaraan yang serius antara raja Badung dengan raja Tabanan, terjadi dialog memaknai perang. Ida Padanda Ngurah tampak menitipkan makna perang bagi seorang ksatria dengan meminjam lidah tokoh Cokorda Denpasar dalam Pupuh Pangkur, I: 4-5.

Miwah Sira Paranata
Akaron lawan Tabanan mangkin
Liwar sukangkwa anulu
Yadyan katekaning baya
Suka nulus rasangkwa ya pareng anut

Prihalnyane peristiwa
Niti Sara rakweng aji

Sang sura menanging rananggana
Lwih wibawa danendra ya pinanggih
Susrama makara pinupul
Arabi ayuning ranyang
Lwih ta iku sang sura pejah ndatan surud

Lewih rasannyane amat
Agung swarga ya pinanggih

Dalam bahasa Indonesia:

Dan para kerabatku semua
Kini kita telah bersatu dengan Raja Tabanan
Amat senang hatiku menyaksikan
Walaupun akan datang marabahaya
Benar-benar gembira rasa hatiku sebab bersama ikut

Perihal kejadian ini
sudah termuat dalam ajaran Niti Sara (Niti Sastra)

Pahlawan yang menang dalam peperangan
Sangat mulia mendapatkan kekayaan
Pemberani disebut
Dapat memperistri wanita cantik
Seorang pahlawan tidak akan mundur sebelum gugur di medan laga

Itulah kenikmatan utama baginya
Ia akan memperoleh sorga yang utama

Dari kutipan di atas, dapat diketahui secara benderang bahwa ada kitab yang harus dijadikan pegangan wajib seorang pemimpin dalam menghadapi masalah, terlebih menghadapi peperangan. Ida Padanda Ngurah dalam fragmen cerita tersebut menyebutkan kitab Niti Sara, yang lebih populer dengan sebutan Niti Sastra sebagai pedoman.

Dalam pustaka tersebut dinyatakan pahlawan yang menang dalam peperangan, akan mendapatkan kemuliaan dan kekayaan serta istri yang cantik. Seorang perwira tidak akan mundur sebelum gugur di medan laga.

Setelah ditinjau dalam teks Niti Sara, kutipan tersebut memang tampaknya merujuk pada Kakawin Niti Sara. Dalam pustaka Niti Sara disebutkan Sang Sura pĕjahing rananggańa umusir ing Surapada iniring de parapsari “Seorang Pahlawan gugur di medan perang akan menempati sorga Wisnu didampingi oleh apsari”.

Beliau seolah ingin menyampaikan kepada kita yang hidup di hari ini, bagaimana tradisi Bali menjadikan sejumlah pustaka penting yang mesti dipegang oleh seorang pemimpin. Salah satunya adalah Niti Sastra, yang dalam tradisi Bali diyakini oleh Dang Hyang Nirarta. 

Setelah raja Badung bertemu dengan raja Tabanan untuk menjalin koalisi. Tahap persiapan yang dilakukan sebelum Perang Puputan adalah bertemu dengan para mantri dan pendeta kerajaan. Pada bagian itulah Ida Padanda Ngurah “menjelaskan ihwal” penyebab perang harus dilaksanakan.

Melalui ungkapan yang disampaikan Cokorda Denpasar, beliau menulis bahwa sebab puputan itu dilaksanakan adalah mempertahankan ajaran agama (angukuhi patut rasaning aji).

Setelah melakukan seluruh tahapan itu, apa yang diduga menjadi kenyataan. Pasukan Belanda menyerang mulai dari pesisir timur wilayah Denpasar. Sedikit-demi sedikit semua wilayah mulai diduduki oleh Belanda.

Rakyat Bali yang melakukan perlawanan seperti wilayah Intaran, Panjer, Sanglah, Padang Sambian, gugur dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Perang sengit terjadi. Belanda dengan senjata bedil (brahmasara), meriam (lela), granat (jrenat) membunuh banyak prajurit Bali.

Pada situasi genting itulah, Ida Padanda Ngurah menceritakan bahwa Cokorda Denpasar pada malam harinya memanggil para pendeta (Sang Dwija) untuk meminta nasihat dan ajaran. Mari kita coba simak, apa ajaran yang diminta oleh seorang raja dalam situasi genting kepada purohita kerajaan.

Ahum ahum singgih praya sri diksita
Mapa rakwa lingning aji

Suyasaning lirang
Suramrĕtha dhiramrĕta

Sunyamrĕtha ika malih
Ndi ya dinungkap
Wratmaranikanang luwih

Ala tala pwa yata suksma elmuka
Yata pwa ya inungsi
Sumahur sang dwija
Singgih pwa Sri Naranata
Sunyamreta ya inungsi
Den sunyeng cita
Anganusmarakena ring jati

Jatinika ya taya mara ktresnan
Ya taya rakwa pinanggih
Lila wreneng cita
Den kukuh aywa simpang
Angungsi mati ajurit
Apan kasunyan
Parama durlaba jati

Dalam bahasa Indonesia:

Oh oh Pandanda yang suci
Bagaimanakah ucapan dalam ajaran agama

tiga jalan mati yang baik
mati dengan kepahlawanan [suramrĕta], mati dengan keteguhan [dhiramrĕta]

wafat dengan yoga Samadhi [sunyamrĕtha]
Yang mana baiknya dilaksanakan
Sebagai jalan yang harus ditempuh?

Coba terangkanlah ilmu yang sulit ini
supaya dapat saya tuju
lalu menjawab Sang Resi:
“Ya Sri Baginda”
Sunyamreta-nya patut dituju
Supaya ikhlas dalam hati
dan ingat pada kebenaran

Dan lagi supaya tidak ada keterikatan dalam hati
Serta tiada lagi memikirkan kesenangan
Kemabukan dalam hati
supaya kuat tidak boleh berubah
Akan mencari mati dalam peperangan
sebab keikhlasan hati itu
Sangat sulit sekali

Dari kutipan yang agak panjang di atas, dapat diketahui bahwa dalam situasi sulit itu seorang raja senantiasa meminta pencerahan kepada pendeta kerajaan (Purohita Kerajaan). Di sanalah peranan purohita.

Ternyata seorang raja dalam situasi seperti itu, akhirnya berlabuh untuk meminta penjelasan tentang hakikat kematian kepada sang pendeta. Sang pendeta juga menyarankan agar raja melaksanakan pembakaran mayat kakaknya [amasmi sira kakaji] dan melakukan upacara potong gigi [dantiayuning lampah].

Sang raja pun menuruti semua nasihat dari sang purohita [sang nata lintang misinggih]. Beberapa hari setelah meminta nasihat itu, Raja Denpasar melakukan upacara pitra yadnya dan upacara potong gigi, diiringi oleh para permaisuri kerajaan sesuai saran sang pendeta.

Meminta ajaran dari orang suci adalah bagian dari ajaran Agama Pramana.  Ajaran ini adalah bagian dari upaya untuk memperoleh pengetahuan dengan cara memohon kepada orang-orang suci yang telah tuntas dalam ajaran sakala-niskala.

Teks Niti Sastra berpesan, sang sastrjnya wuwusniramrĕta sutusteng praja “seseorang yang berpengetahuan, nasihatnya bagaikan air suci keabadian yang menentramkan orang lain”.

Setelah semua nasihat tersebut dilakukan, perang masih terjadi di beberapa wilayah di Denpasar. Satu persatu perwira kerajaan dikalahkan. Akhirnya, Sang Raja turun ke medan peperangan. Dua senjata perang beliau yang bernama Jala Kadingding kehilangan tuahnya, hanya keris Singapragalah yang digunakan.

Ida Padanda Ngurah menceritakan gugurnya Cokorda Denpasar dengan sangat mengharukan. Dari uraian Ida Padanda Ngurah mengenai Perang Puputan Badung, dapat diketahui bahwa sejatinya perang itu telah dilakukan dengan landasan ajaran Tri Pramana yaitu Pratyaksa, Anumana, dan Agama Pramana.

Dengan jalan itulah, Samajnyana atau pengetahuan yang utuh dapat diraih. Melalui Samajnyana dan landasan sastra yang kuat, Perang Puputan dengan heroik dilakukan. Sekali lagi, Puputan Badung adalah perang yang dipersiapkan. Bukan dengan grasa-grusu. Ida Cokorda Denpasar melakukan perang habis-habisan itu dengan landasan pengetahuan yang benar (samajnyana).[T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Bayang-Bayang Belanda di Bali Abad XIX: Catatan dari Kidung Bhuwana Winasa dan Yadnyeng Ukir Karya Ida Padanda Ngurah
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana
Tags: baliperangPuputan Badungsejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa Inbound Unud Mengeksplor Kawasan Pura Besakih dengan Modul Kebhinekaan

Next Post

Bupati Lihadnyana Instruksikan Perumdam THB Lakukan Survei Kepuasan Masyarakat Dua Kali Setahun

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Lihadnyana Instruksikan Perumdam THB Lakukan Survei Kepuasan Masyarakat Dua Kali Setahun

Bupati Lihadnyana Instruksikan Perumdam THB Lakukan Survei Kepuasan Masyarakat Dua Kali Setahun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co