26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puputan Badung: Sebuah Capaian Prestasi atau Sikap Frustrasi?

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
September 10, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

PERINGATAN Puputan Badung akan dilaksanakan lagi tahun ini, tepatnya tanggal 20 September 2023. Kita yang tidak mengalami perang habis-habisan itu tentu memiliki berbagai pandangan. Pikiran manusia modern yang terlalu rasional mungkin saja bertanya, apakah sikap Puputan Badung itu sebentuk prestasi atau frustrasi karena menghadapi tekanan Belanda?

Bagi kutub yang menyatakan sikap itu sebagai langkah frustrasi, barangkali didasarkan atas perbedaan senjata yang digunakan kedua belah pihak dalam berperang. Belanda memiliki senjata meriam, bedil, dan granat yang canggih, sementara masyarakat Bali masih dominan menggunakan senjata keris.

Harusnya, perbedaan senjata tersebut membuat masyarakat Denpasar mundur agar tak banyak korban jiwa yang gugur akibat perang. Di samping itu, faktanya tak semua kerajaan di Bali kompak memusuhi Belanda. Sebagian kerajaan lain di Bali justru menjadikan Kompeni sebagai sekutu dan koalisi. 

Di kutub masyarakat yang meyakini Puputan Badung sebagai langkah yang penuh prestasi biasanya tersemat nilai-nilai cinta tanah air, sikap kesatria, dan sikap yang totalitas dalam menghadapi masalah.

Kita tidak perlu berdebat soal itu, semangat zaman yang berbeda tentu akan melahirkan sikap yang berbeda. Yang ingin kita coba lihat adalah gambaran Ida Padanda Ngurah dalam Kidung Bhuwana Winasa mengenai tata cara seorang pemimpin dalam menghadapi tekanan masalah.

Berdasarkan pembacaan terhadap karya sastra yang juga diduga berjudul Rundah Pulina ini, kita mendapatkan suatu gambaran mengenai pemimpin Bali yang senantiasa “bersenjatakan sastra” dalam menghadapi berbagai tekanan. Dapat dikatakan bahwa sebelum mengambil sikap Puputan, sang raja telah melakukan sejumlah tahapan.

Ketika utusan Belanda di Batavia mendatangi Raja Denpasar seraya menagih ganti rugi atas perampokan Kapal Dagang Cina yang dituduh dilakukan warga Sanur, raja tidak mau menyerahkan begitu saja atas tuntutan itu.

Sang Pemimpin terlebih dahulu mengkonfirmasi kepada tokoh-tokoh masyarakat Sanur. Sikap ini adalah bagian dari ajaran Pratyaksa Pramana: yaitu memperoleh pengetahuan secara langsung dari pihak yang terlibat dalam suatu masalah agar segala sesuatunya menjadi jelas (mangda putus).

Setelah meyakini bahwa rakyat Sanur tidak melakukan penjarahan terhadap Kapal Sri Komala, barulah raja memutuskan untuk menolak tawaran itu. Beliau meyakini bahwa tuduhan atas rakyatnya tersebut sebagai salah satu bentuk cara mencari masalah yang tidak ksatria—yang dilakukan oleh orang Jawa (baca: Pasukan Belanda di Batavia).

Ida Padanda Ngurah dalam Kidung Bhuwana Winasa melalui tokoh Cokorda Denpasar menyatakan sikap orang Jawa itu dengan pernyataan pedas, “Terlampau busuk, tan ulahing satria!”

Penolakan terhadap tawaran utusan itu dapat diketahui dengan baik oleh Cokorda Denpasar, pasti membawa konsekuensi peperangan. Kemampuan memaknai tanda-tanda baik alam maupun tanda-tanda yang ditunjukkan oleh sesorang ini tampaknya merupakan pengejewantahan dari Anumana Pramana—kemampuan memaknai tanda, seperti menebak asap yang bersumber dari api.

Oleh sebab itulah pemimpin Denpasar segera menyampaikan berita ini kepada Raja Klungkung dan Raja Tabanan, dengan cara mengutus dua orang padanda bernama Pranda Ketut Jlantik dan Pranda Ketut Krutuk.

Dengan bantuan dua utusan itu, raja Tabanan segera datang ke kerajaan Badung untuk bertemu. Dalam pembicaraan yang serius antara raja Badung dengan raja Tabanan, terjadi dialog memaknai perang. Ida Padanda Ngurah tampak menitipkan makna perang bagi seorang ksatria dengan meminjam lidah tokoh Cokorda Denpasar dalam Pupuh Pangkur, I: 4-5.

Miwah Sira Paranata
Akaron lawan Tabanan mangkin
Liwar sukangkwa anulu
Yadyan katekaning baya
Suka nulus rasangkwa ya pareng anut

Prihalnyane peristiwa
Niti Sara rakweng aji

Sang sura menanging rananggana
Lwih wibawa danendra ya pinanggih
Susrama makara pinupul
Arabi ayuning ranyang
Lwih ta iku sang sura pejah ndatan surud

Lewih rasannyane amat
Agung swarga ya pinanggih

Dalam bahasa Indonesia:

Dan para kerabatku semua
Kini kita telah bersatu dengan Raja Tabanan
Amat senang hatiku menyaksikan
Walaupun akan datang marabahaya
Benar-benar gembira rasa hatiku sebab bersama ikut

Perihal kejadian ini
sudah termuat dalam ajaran Niti Sara (Niti Sastra)

Pahlawan yang menang dalam peperangan
Sangat mulia mendapatkan kekayaan
Pemberani disebut
Dapat memperistri wanita cantik
Seorang pahlawan tidak akan mundur sebelum gugur di medan laga

Itulah kenikmatan utama baginya
Ia akan memperoleh sorga yang utama

Dari kutipan di atas, dapat diketahui secara benderang bahwa ada kitab yang harus dijadikan pegangan wajib seorang pemimpin dalam menghadapi masalah, terlebih menghadapi peperangan. Ida Padanda Ngurah dalam fragmen cerita tersebut menyebutkan kitab Niti Sara, yang lebih populer dengan sebutan Niti Sastra sebagai pedoman.

Dalam pustaka tersebut dinyatakan pahlawan yang menang dalam peperangan, akan mendapatkan kemuliaan dan kekayaan serta istri yang cantik. Seorang perwira tidak akan mundur sebelum gugur di medan laga.

Setelah ditinjau dalam teks Niti Sara, kutipan tersebut memang tampaknya merujuk pada Kakawin Niti Sara. Dalam pustaka Niti Sara disebutkan Sang Sura pĕjahing rananggańa umusir ing Surapada iniring de parapsari “Seorang Pahlawan gugur di medan perang akan menempati sorga Wisnu didampingi oleh apsari”.

Beliau seolah ingin menyampaikan kepada kita yang hidup di hari ini, bagaimana tradisi Bali menjadikan sejumlah pustaka penting yang mesti dipegang oleh seorang pemimpin. Salah satunya adalah Niti Sastra, yang dalam tradisi Bali diyakini oleh Dang Hyang Nirarta. 

Setelah raja Badung bertemu dengan raja Tabanan untuk menjalin koalisi. Tahap persiapan yang dilakukan sebelum Perang Puputan adalah bertemu dengan para mantri dan pendeta kerajaan. Pada bagian itulah Ida Padanda Ngurah “menjelaskan ihwal” penyebab perang harus dilaksanakan.

Melalui ungkapan yang disampaikan Cokorda Denpasar, beliau menulis bahwa sebab puputan itu dilaksanakan adalah mempertahankan ajaran agama (angukuhi patut rasaning aji).

Setelah melakukan seluruh tahapan itu, apa yang diduga menjadi kenyataan. Pasukan Belanda menyerang mulai dari pesisir timur wilayah Denpasar. Sedikit-demi sedikit semua wilayah mulai diduduki oleh Belanda.

Rakyat Bali yang melakukan perlawanan seperti wilayah Intaran, Panjer, Sanglah, Padang Sambian, gugur dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Perang sengit terjadi. Belanda dengan senjata bedil (brahmasara), meriam (lela), granat (jrenat) membunuh banyak prajurit Bali.

Pada situasi genting itulah, Ida Padanda Ngurah menceritakan bahwa Cokorda Denpasar pada malam harinya memanggil para pendeta (Sang Dwija) untuk meminta nasihat dan ajaran. Mari kita coba simak, apa ajaran yang diminta oleh seorang raja dalam situasi genting kepada purohita kerajaan.

Ahum ahum singgih praya sri diksita
Mapa rakwa lingning aji

Suyasaning lirang
Suramrĕtha dhiramrĕta

Sunyamrĕtha ika malih
Ndi ya dinungkap
Wratmaranikanang luwih

Ala tala pwa yata suksma elmuka
Yata pwa ya inungsi
Sumahur sang dwija
Singgih pwa Sri Naranata
Sunyamreta ya inungsi
Den sunyeng cita
Anganusmarakena ring jati

Jatinika ya taya mara ktresnan
Ya taya rakwa pinanggih
Lila wreneng cita
Den kukuh aywa simpang
Angungsi mati ajurit
Apan kasunyan
Parama durlaba jati

Dalam bahasa Indonesia:

Oh oh Pandanda yang suci
Bagaimanakah ucapan dalam ajaran agama

tiga jalan mati yang baik
mati dengan kepahlawanan [suramrĕta], mati dengan keteguhan [dhiramrĕta]

wafat dengan yoga Samadhi [sunyamrĕtha]
Yang mana baiknya dilaksanakan
Sebagai jalan yang harus ditempuh?

Coba terangkanlah ilmu yang sulit ini
supaya dapat saya tuju
lalu menjawab Sang Resi:
“Ya Sri Baginda”
Sunyamreta-nya patut dituju
Supaya ikhlas dalam hati
dan ingat pada kebenaran

Dan lagi supaya tidak ada keterikatan dalam hati
Serta tiada lagi memikirkan kesenangan
Kemabukan dalam hati
supaya kuat tidak boleh berubah
Akan mencari mati dalam peperangan
sebab keikhlasan hati itu
Sangat sulit sekali

Dari kutipan yang agak panjang di atas, dapat diketahui bahwa dalam situasi sulit itu seorang raja senantiasa meminta pencerahan kepada pendeta kerajaan (Purohita Kerajaan). Di sanalah peranan purohita.

Ternyata seorang raja dalam situasi seperti itu, akhirnya berlabuh untuk meminta penjelasan tentang hakikat kematian kepada sang pendeta. Sang pendeta juga menyarankan agar raja melaksanakan pembakaran mayat kakaknya [amasmi sira kakaji] dan melakukan upacara potong gigi [dantiayuning lampah].

Sang raja pun menuruti semua nasihat dari sang purohita [sang nata lintang misinggih]. Beberapa hari setelah meminta nasihat itu, Raja Denpasar melakukan upacara pitra yadnya dan upacara potong gigi, diiringi oleh para permaisuri kerajaan sesuai saran sang pendeta.

Meminta ajaran dari orang suci adalah bagian dari ajaran Agama Pramana.  Ajaran ini adalah bagian dari upaya untuk memperoleh pengetahuan dengan cara memohon kepada orang-orang suci yang telah tuntas dalam ajaran sakala-niskala.

Teks Niti Sastra berpesan, sang sastrjnya wuwusniramrĕta sutusteng praja “seseorang yang berpengetahuan, nasihatnya bagaikan air suci keabadian yang menentramkan orang lain”.

Setelah semua nasihat tersebut dilakukan, perang masih terjadi di beberapa wilayah di Denpasar. Satu persatu perwira kerajaan dikalahkan. Akhirnya, Sang Raja turun ke medan peperangan. Dua senjata perang beliau yang bernama Jala Kadingding kehilangan tuahnya, hanya keris Singapragalah yang digunakan.

Ida Padanda Ngurah menceritakan gugurnya Cokorda Denpasar dengan sangat mengharukan. Dari uraian Ida Padanda Ngurah mengenai Perang Puputan Badung, dapat diketahui bahwa sejatinya perang itu telah dilakukan dengan landasan ajaran Tri Pramana yaitu Pratyaksa, Anumana, dan Agama Pramana.

Dengan jalan itulah, Samajnyana atau pengetahuan yang utuh dapat diraih. Melalui Samajnyana dan landasan sastra yang kuat, Perang Puputan dengan heroik dilakukan. Sekali lagi, Puputan Badung adalah perang yang dipersiapkan. Bukan dengan grasa-grusu. Ida Cokorda Denpasar melakukan perang habis-habisan itu dengan landasan pengetahuan yang benar (samajnyana).[T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Bayang-Bayang Belanda di Bali Abad XIX: Catatan dari Kidung Bhuwana Winasa dan Yadnyeng Ukir Karya Ida Padanda Ngurah
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana
Tags: baliperangPuputan Badungsejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa Inbound Unud Mengeksplor Kawasan Pura Besakih dengan Modul Kebhinekaan

Next Post

Bupati Lihadnyana Instruksikan Perumdam THB Lakukan Survei Kepuasan Masyarakat Dua Kali Setahun

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails
Next Post
Bupati Lihadnyana Instruksikan Perumdam THB Lakukan Survei Kepuasan Masyarakat Dua Kali Setahun

Bupati Lihadnyana Instruksikan Perumdam THB Lakukan Survei Kepuasan Masyarakat Dua Kali Setahun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co