13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Terjal Menuju Gelar Sarjana dan Aturan Baru Syarat Kelulusan Mahasiswa Akhir di Perguruan Tinggi

Jaswanto by Jaswanto
September 6, 2023
in Liputan Khusus
Jalan Terjal Menuju Gelar Sarjana dan Aturan Baru Syarat Kelulusan Mahasiswa Akhir di Perguruan Tinggi

Prosesi wisuda Undiksha | Foto: Dok. Jaswanto

DI KAMAR kontrakannya yang sepi dan pengap, Awan—tentu bukan nama asli—tertunduk lesu setelah mengetahui proposal skripsinya ditolak oleh dosen pembimbing dan pengujinya saat ujian proposal, Jumat (31/3/2023) yang lalu. Ia tak menyangka, penelitian yang susah payah dikerjakannya selama berminggu-minggu itu ternyata dinilai tak layak untuk dilanjutkan.

Pada saat itu ia hanya bisa pasrah. Mahasiswa angkatan 2019 itu tak bisa berkata apa-apa. Tenggorokannya tercekat, semacam ada benda yang menyumbatnya sehingga membuat dadanya terasa sesak. Pelupuk matanya tiba-tiba terasa panas.

“Katanya variabelnya bermasalah. Jenis penelitiannya juga disuruh ganti, dari kuantitatif ke kualitatif,” ujarnya, kepada tatkala.co, Senin (4/9/2023) sore.

Padahal, ia melanjutkan, pada awalnya pembimbing akademik-nya (PA) sudah menerima (meng-acc) proposal penelitiannya tanpa mempersoalkan apapun. Tetapi, entah kenapa, pada saat ujian proposal, alih-alih membela dan menguatkan, PA-nya justru setuju dengan penguji yang menolak proposal penelitiannya.

“Kenapa nggak dari awal aja ditolak? Atau setidaknya sudah dikasih tahu sejak awal bahwa variabel penelitian saya bermasalah,” keluhnya.

Akibat dari penolakan tersebut, mahasiswa yang berasal dari Lombok Barat, NTB, itu terpaksa harus mengulangi membuat proposal penelitiannya dari awal. Padahal, seandainya proposal penelitiannya diterima sejak itu, ia yakin bisa sidang bulan Agustus. “Kalau saya sidang di bulan Agustus, saya nggak bayar UKT lagi sekarang,” sesalnya.

Hingga pada bulan Juli 2023, ia melakukan ujian proposal ulang. “Alhamdulillah, saat itu langsung diterima—walau dengan revisi,” ungkapnya.

Saat ini, Awan sudah menginjak semester 9. Dan saat ditanya apa kendala selama mengerjakan skripsi, ia mengatakan, “Rasa malas sama dosennya aja, si. Dari dosen, misalnya. Saya naruh revisian hari ini, dua minggu lagi baru bisa saya ambil. Dan itu sebenarnya sangat menghambat. Tapi saya mengerti, pekerjaan dosen sepertinya memang banyak.”

Meski begitu, mahasiswa Fakultas Ekonomi di salah satu perguruan tinggi negeri di Singaraja itu tak mau mempersoalkannya. Ia sadar betul, yang harus dilakukannya saat ini hanyalah menuruti apa yang disarankan dan dianjurkan dosen pembimbing dan pengujinya. Ia tidak mau menambah persoalan. Yang penting baginya saat ini adalah fokus menyelesaikan revisian dan menyelesaikan bab selanjutnya.

Tentu, ia bukan satu-satunya mahasiswa yang mengalami kondisi demikian. Meski berbeda persoalan, Agung Ardiansyah juga sempat nyaris mengalami depresi saat ia mengetahui kenyataan bahwa pihak universitas mengusulkannya untuk pindah kampus—karena ia sudah menginjak semester 14 dan belum menyelesaikan tugas akhir. “Seketika itu saya lemes,” katanya, kepada tatkala.co, Selasa (5/9/2023) sore.

Mahasiswa perantauan dari Kota Sampit, Kalimantan Tengah, itu mengaku memilih menghabiskan semesternya karena ia sibuk menutup biaya hidup selama di Singaraja. Agung memutuskan untuk bekerja dan menghidupi dirinya sendiri sejak orang tuanya tidak lagi “mampu” membiayainya. Maka sejak saat itulah, perlahan-lahan ia lupa dengan tugas akhirnya. Padahal, katanya, semua mata kuliahnnya sudah habis sejak semester tujuh.

“Dulu itu, kalau saya mau, semester delapan sebenarnya sudah bisa mengerjakan skripsi, tapi karena saya sibuk bekerja, jadinya sampai terbengkalai,” imbuhnya.

Meski demikian, Agung tidak menyalahkan siapa-siapa. Dengan sadar ia mengatakan bahwa itu murni kelalaiannya sendiri.

Selain karena masalah finansial—masalah sejuta umat mahasiswa di Indonesia—Agung memilih menunda kelulusannya juga karena sejak menginjak semester delapan ia merasa telah salah memilih jurusan.

“Nggak tahu, ya. Semakin ke sini saya merasa salah jurusan. Dilematisnya, mau pindah jurusan sudah semester tua—sudah telat,” ujarnya, sembari tertawa.

Tetapi, terlepas dari kesibukannya bekerja dan perasaan salah jurusan, sebenarnya Agung pernah mengajukan proposal penelitian kepada pembimbing akademik (PA) di prodinya. Namun, proposal itu ditolak dengan alasan data yang digunakan nanti sulit didapatkan.

Menjadi mahasiswa semester 14 membuat Agung merasa agak kesepian. Kawan-kawan seangkatannya makin lama makin sedikit di kampus. Bahkan, pertengahan 2022, salah seorang sahabat karibnya telah diwisuda. Sementara ia lebih memilih mendiamkan judul skripsinya.

Agung sudah menjalani kehidupan mahasiswa selama tujuh tahun. Beberapa anggota keluarga dan kenalannya memang minta dia cepat lulus, tapi ia merasa tak ada yang harus dikejar. Ia belum tahu akan ke mana setelah lulus. Lahir jadi anak bungsu, menurut Agung, jadi salah penyebab sifat procrastinator-nya terpelihara subur.

Ia jadi lebih sering sendiri di kos, jadi jarang ke kampus. Pergaulannya menyempit. Kampus jadi semakin sunyi karena hampir semua kawan seangkatannya sudah lulus. Ia malas bergaul dengan juniornya di kampus bila tidak terpaksa.

Pada masa itu, seolah semua masalah menimpanya. Di tengah pikirannya yang cemas, bingung, kalut, ia malah sempat-sempatnya kena tipu. Motor satu-satunya yang ia punya di Singaraja—yang selama ini telah menjadi bagian hidupnya—dijual tapi tak dibayar oleh si makelar. Kasus ini sempat ia persoalkan, tapi karena Agung mengenal baik keluarga pelaku, akhirnya ia mengikhlaskannya saja.

“Pengen menyerah si pada waktu itu. Tapi, berkat dukungan dari banyak teman, senior, akhirnya saya bangkit. Sebab, selama masih hidup, saya tidak akan menyerah. Sebelum sampai pada titik penghabisan, jangan sampai patah semangat!” serunya.

Meskipun jalur yang dilaluinya berliku—bahkan sempat mau di DO—pada akhirnya Agung berhasil menyelesaikan tugas akhir dengan sebaik-baiknya. Saat ini ia tinggal menunggu jadwal wisuda.

Aturan Baru

Skripsi merupakan syarat kelulusan mahasiswa di perguruan tinggi yang menjadi momok “menakutkan” bagi mereka yang sudah menginjak semester akhir. Tak jarang mahasiswa di DO, depresi, bahkan sampai bunuh diri karena skripsi.

Mengenai hal tersebut, pada 2019 Tirto pernah menerbitkan sebuah indepth berjudul Skripsi, Depresi, dan Bunuh Diri: “Everybody Hurts”. Artikel yang ditulis oleh Aulia Adam itu melaporkan hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa akhir yang mengalami depresi karena skripsinya tak kunjung selesai.

Tak hanya itu, Aulia juga menyampaikan beberapa penelitian terkait, seperti riset Benny Prawira Siauw, seorang ahli kajian bunuh diri (suicidolog) sekaligus kepala Koordinator Into the Light; dan riset Karl Peltzer, Supa Pengpid, dan Siyan Yi.

Dalam risetnya, dari 284 responden mahasiswa di Jakarta dengan rentang umur 18-24 tahun, Benny menemukan 34,5 persen mahasiswa mempunyai pikiran suicidal thought—perasaan, pikiran, dan keinginan untuk bunuh diri sebagai satu-satunya cara mengatasi masalah dalam hidup—dalam satu tahun terakhir. Angka itu melebihi persentase mahasiswa di Yogyakarta.

Sedangkan hasil riset Karl Peltzer, Supa Pengpid, dan Siyan Yi, mengungkapkan bahwa pemikiran suicidal kerap berkaitan dengan pengalaman pelecehan seksual saat masih kecil, gejala depresi, terlibat perkelahian fisik, masalah akademis, dan masalah sosial-lingkungan.

Masih dari sumber yang sama, menurut Benny, tren depresi di kalangan muda—rentang usia mahasiswa—sudah terbaca di banyak negara.

Kepala Koordinator Into the Light—komunitas pemerhati pencegahan bunuh diri yang terbentuk pada 2013—ini mencontohkan Inggris, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia sebagai negara dengan angka bunuh diri yang tinggi.

Setidaknya ada 95 mahasiswa di kampus Inggris yang memilih bunuh diri sepanjang 2016-2017. Di Jepang, ada 250 anak dan remaja yang tewas sepanjang rentang tahun yang sama.

Di Indonesia, sejak Mei 2016 sampai Desember 2018 saja, riset Tirto dari beragam pemberitaan online mencatat ada 20 kasus bunuh diri mahasiswa. Sebagian besar diduga karena tugas dan skripsi.

Penelitian yang sama pernah dikerjakan oleh Karl Peltzer, Supa Pengpid, dan Siyan Yi pada 2017 yang dirilis Journal of Psychiarty. Survei ini dilakukan pada 4.675 mahasiswa S1 dari Kamboja, Malaysia, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Indonesia, dengan rentang umur responden 18-23 tahun.

Sebanyak 231 respondennya adalah mahasiswa Yogyakarta. Hasilnya, 6,9 persen mahasiswa Yogyakarta punya pemikiran bunuh diri, salah satu terkecil di kawasan ASEAN.

Namun, aturan baru mengenai syarat kelulusan mahasiswa di perguruan tinggi resmi dicetuskan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim melalui kanal YouTube Kemendikbudristek, Selasa (29/8/2023).

Melalui unggahan tersebut, Nadiem menyampaikan bahwa persyaratan kelulusan mahasiswa di perguruan tinggi bagi jenjang S1 dan D4 kini tidak lagi diharuskan menyusun skripsi. Menurutnya, penyesuaian ini akan memudahkan perguruan tinggi menjadi lebih fleksibel dalam menyesuaikan pembelajaran secara relevan dengan dunia luar kampus.

Ketentuan mengenai syarat kelulusan tersebut tertuang dalam Permendikbudristek Nomor 53 tahun 2023 tentang penjaminan mutu pendidikan tinggi. Adanya perubahan syarat ini akan sangat membantu mahasiswa dan perguruan tinggi dalam merancang proses bentuk pembelajaran dan keilmuan yang sudah diampu selama di  perguruan tinggi menjadi tidak kaku.

Isu tentang skripsi atau tugas akhir perkuliahan telah menjadi bola panas di kalangan insan kampus dan masyarakat awam. Sebagian dosen dan mahasiswa di Indonesia setuju skripsi tidak lagi menjadi syarat wajib lulus.

Menurut I Putu Ardiyasa, S.Sn, M.Sn, Kaprodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, apa yang disampaikan oleh Mendikbudristek—tentang skripsi tidak lagi wajib sebagai syarat kelulusan mahasiswa akhir di perguruan tinggi—harus  dilihat dari dua sudut pandang atau dua sisi.

“Kalau kita pandang dari sisi efektivitas sebuah ilmu pengetahuan yang nantinya akan segera dimanfaatkan di masyarakat, saya sangat setuju skripsi tidak diwajibkan. Malah lebih bagus kalau ada mahasiswa yang bisa membuat produk atau riset pengembangan—Research & Development (R&D)—yang hasilnya nanti digunakan masyarakat. Itu malah lebih besar nilainya,” tegas akademisi sekaligus seniman dalang itu, kepada tatkala.co, Selasa (5/9/2023) sore.

Dosen muda lulusan ISI Yogyakarta itu menambahkan, hanya saja, di balik semua itu tentu ada harga yang harus dibayar. Pihak universitas harus benar-benar serius dalam mendukung dan memfasilitasi model penelitian pengembangan yang dilakukan mahasiswa dengan menyediakan laboratorium atau sebuah inkubator sekaligus SDM-nya. “Itu PR buat kampus,” ujarnya, tegas.

Sementara itu, imbuh Ardi, jika dilihat dari sudut pandang penguasaan metode penelitian atau masalah epistemologi, skripsi menjadi penting bagi mahasiswa. Sebab, melalui skripsi, mahasiswa dapat mengerti—dan paham—dan bisa melakukan proses penelitian dengan baik.

“Dalam artian, mahasiswa akan tahu aturan-aturan penelitian dan penulisan ilmiah. Ini penting bagi mahasiswa yang nantinya memiliki keinginan untuk menjadi seorang peneliti,” terangnya.

Tak hanya akan mengerti proses penelitian saja, menurut Ardi, skripsi juga dapat membuat mahasiswa mengerti hubungan antara teori-teori yang telah dipelajari di kelas dengan kehidupan sehari-hari. “Jadi, tinggal dari mana kita memandangnya. Toh, keputusan itu juga ada di tangan kampus,” pungkasnya.

Sedangkan, salah seorang akademisi Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, saat diminta untuk menanggapi hal yang sama, sampai artikel ini diterbitkan, belum juga ada jawaban.

Di pihak lain, saat dimintai pendapat mengenai skripsi tidak diwajibkan,  Agung Ardiansyah, mahasiswa Fakultas Ekonomi, Undiksha, menuturkan bahwa sebenarnya itu tidak masalah. Toh, masih banyak pilihan lain yang bisa dikerjakan mahasiswa.

“Sebetulnya tidak ada yang lebih susah atau lebih gampang. Jika itu semua digarap secara serius, konsisten, dan tidak melupakan tujuan awal kita kuliah, saya rasa itu tidak ada masalah,” terangnya.

Namun, Agung menambahkan, skripsi itu administrasinya terlalu ribet. “Tapi, biar bagaimanapun, menurut saya, administrasi itu hadir untuk melatih mahasiswa dalam menaati aturan,” jelasnya.[T]  

Baca juga artikel terkait LIPUTAN KHUSUS atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Tags: kampusmahasiswaSarjanauniversitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fungsi Komunikasi dalam Tradisi

Next Post

Mahasiswa Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan “Ngejot” Untuk Lansia di Desa Sekitar Kampus

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan “Ngejot” Untuk Lansia di Desa Sekitar Kampus

Mahasiswa Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan “Ngejot” Untuk Lansia di Desa Sekitar Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co