1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komodifikasi Ornamen, Serangkaian Representasi Ulang | Pengantar Pameran Seni Rupa di Kulidan

Komang Adiartha by Komang Adiartha
May 26, 2023
in Ulas Rupa
Komodifikasi Ornamen, Serangkaian Representasi Ulang | Pengantar Pameran Seni Rupa di Kulidan

“Komodifikasi Ornamen”, di Kulidan Kitchen & Space, 21 Mei hingga 2 Juni 2023 | Foto: Ucok (Photografer Asik).

STREET ART, adalah seni visual yang dibuat di lokasi publik untuk visibilitas publik. Street art, sering dikaitkan dengan istilah “seni independen”, “pasca-grafiti”, “neo-grafiti”.

Mengamati dari lokasi street art dipresentasikan pada ruang-ruang publik, kita dapat mengamati street art dalam 3 bentuk, mural, grafiti dan taging.

Saat ini, kita melihat seni mural begitu digemari, dirayakan, terutama oleh anak-anak muda. Mural sebagai salah satu bagian dari street art, bermunculan menghiyasi jalanan kota, masuk ke dinding café atau restoran, juga dinding dari dinding kampus sampai sekolah taman kanak-kanak.

Karya-karya street art yang pada mulanya dipresentasikan di jalanan atau ruang publik, sebagai simbol dari perlawanan terhadap elitisme seni dan galeri, secara perlahan mulai mencair. baik dari segi teknik, tema, maupun tujuan.

Popuraitas street art yang semakin meningkat, berdampak pula pada perluasan ruang apresiasi. Para pegiat street art, saat ini, tidak hanya berkarya di jalanan atau ruang publik, tetapi telah merambah ke ruang-ruang semi publik dan ruang privat.

Nah, pameran yang bertajuk “Komodifikasi Ornamen”, di Kulidan Kitchen & Space, 21 Mei hingga 2 Juni 2023, berkolaborasi dengan pegiat street art, dengan merepresentasi ulang dari ukiran-ukiran ornament yang ada pada bangunan candi bentar, bale kulkul, dinding pura (tembok penyengker). Ukiran ornamen-ornamen yang ada, dipakai sebagai referensi imajinasi dalam penciptaan karya.

Secara garis besar ornamen dapat di bagi menjadi tiga.

Pertama : Pepatran yaitu bentuk ornamen yang terinspirasi atau stilasi dari bentuk flora (tumbuhan). Contoh bentuk ornamen, yang mengambil stilasi tumbuhan adalah bentuk ornamen Patra Cina, Patra Punggel, Patra Wayah, Patra Welanda, dan lain-lain.

Kedua, Ornamen dengan bentuk kekarangan, ini biasanya merupakan bentuk ornamen yang mengambil bentuk-bentuk muka suatu binatang. Sebagai contoh adalah: Karang Guak/Karang Paksi, merupakan ornamen yang mengambil bentuk kepala burung. Atau Karang Gajah, yang mengambil stilasi bentuk muka Gajah, karang Boma, dan lain-lain.

Sedangkan bentuk ornamen ketiga adalah keketusan. Keketusan adalah bentuk ornamen yang bersifat perulangan dan mengambil bentuk-bentuk atau motif geometrik, seperti Patra Mesir, Tali Air, Batun Timun (bentuk mas-masan) dan lain-lain.

“Komodifikasi Ornamen”, di Kulidan Kitchen & Space, 21 Mei hingga 2 Juni 2023 | Foto: Ucok (Photografer Asik)

Pameran ini, berupaya untuk melangkah lebih jauh dari ranah konservasi  menuju pengembangan, dengan melakukan eksplorasi terhadap bentuk, motif, warna, ataupun material yang baru. Tujuan dari upaya ini adalah agarornamen, dapat dinikmati oleh generasi kekinian dan ornamen dapat tetap lestari dan up to date.

Desa Adat dan Ornamen

Keberadaan desa adat di Bali sudah ada bahkan jauh sebelum Republik ini berdiri. Yang kita amati saat ini, Desa Adat merupakan salah satu bentuk pemerintahan tertinggi dan otonom. Desa adat memiliki struktur organisasi dengan pimpinan Bendesa Adat sebagai pemimpin tertinggi. Bendesa Adat, semacam presiden dalam sitem pemerintahan sekarang dan Saba Desa seperti MPR-nya desa adat.

Ketika kita menelisik desa adat, tentu aka ada krama/warga yang lebih sering disebut pawongan, wilayah atau palemahan dan parahyangan (sistem kepercayaan dan bangunan (arsitektur) Candi atau Pura).

Di setiap desa adat paling sedikit ada 3 Pura, Pura Desa tempat pemujaan Dewa Brahma, manefestasi tuhan sebagai pencipta, Pura Puseh, tempat pemujaan dewa Wisnu manefestasi Tuhan sebagai pemelihara dan Pura Dalem sebagai stana dewa Siwa, manefestasi Tuhan sebagai dewa pelebur.

Ketika kita mengamati Pura-Pura yang ada, khusnya tentang arsitekturnya, kita akan melihat banyak arsitektur yang memiliki ornamen yang khas, yang dapat juga dibaca dari tua atau mudanya, sebuah candi di buat salah satunya bisa diamati dari jenis dan bentuk ornamentasi yang menghiyasi bangunan sebuah Pura tersebut.

Proses Penelitian

Pameran yang bertajuk Komodifikasi Ornamen, merupakan kelanjutan dari proses penelitian awal yang dilakukan terhadap ornament Bali. Proses awal, dimulai dengan melakukan upaya pelestarian atau konservasi, melalui upaya dokumentasi dan workshop menggambar/mengukir ornamen, sesuai dengan bentuk aslinya, ataupun metoda pembuatan dan distribusi serta fungsinya dipertahankan seperti tradisi yang sudah ada sebelumnya.

Kemudian program pameran ini, ingin melangkah lebih jauh dengan melakukan pengembangan terhadap bentuk, motif, warna, ataupun material dengan sesuatu yang baru. Tujuan dari upaya ini adalah agar bagaimana ornament ini dapat tetap lestari. Digemari oleh anak-anak muda dan juga dapat diproduksi dan diapresiasi secara kekinian (kontemporer).

“Komodifikasi Ornamen”, di Kulidan Kitchen & Space, 21 Mei hingga 2 Juni 2023 | Foto: Ucok (Photografer Asik)

Pameran Komodifikasi Oameran ini, berupaya untuk melakukan proses pelestarian, produksi, konsumsi yang digali dari Ornamen. Upaya ini dilakukan dengan metode atau menterjemahkan makna Komodifikasi. komodifikasi sebagai sebuah metoda dimaknai sebagai, perubahan nilai dan fungsi dari suatu barang atau jasa menjadi komoditi (yang memikiki nilai ekonomi).

Karya Pansaka, yang Berjudul ornament. Dia mengkonstruksi ulang lagi dari ornamen yang ada di pura Dalem, Pura Dalem, Sebagai istana atau tempat pemujaan Dewa Siwa, tentu banyak ornament yang menggambil sosok tenggkorak. Bentuk tengkoraknya di konstruksi ulang lagi dengan membuat bentuk yang lebih lucu dan bersahabat.

Patra Welanda yang terukir memakai stilasi bungan mawar cina, direkonstruksi ulang lagi dengan membuat bunga-bunga stilasi baru. Yang membuat perpaduan gambar menjadi asik, karena disatukan dengan warna-warna pastel, warna-warna yang seolah mengantar kita kepadu padanan warna-warna di era pop art.

Karya SWOOF ONE, yang berjudul “Ready for the storm #” merupakan stilasi dari ornament-ornamen yang mengambil mahluk mitologi Naga. Dalam tradisi Hindu naga digambarkan ke dalam tiga manivestasi, Naga sebagai Ananta Boga dan Basuki, sebagai lambang kemakmuran dan Naga Tatsaka, sebagaai lambang, udara. Ke tiga unsur naga tersebut adalah simbolisasi dari Tanah, Air dan Udara.

EKA MARDIYS, judul karya DYNAMIC, ukuran  100cm x 100cm, media acrylic on canvas tahun 2023.  Gambar ini terinsfirasi dari ornamen macan, Eka Mardis menggali dari segi perkembngan kreatifititas, dimana imajinasi seorang seniman akan dapat mengintepretasi dari motif atau bentuk yang sudah ada.

Dalam bentuk ini, saya mengamati dia merekonstruksi ulang, dari segi bentuk macannya. Warna yang dipilih adalah warna-warna merah, Emas dan hitam. Warna-warna ini, kental dengan nuansa kegagahan dan keagungan warna tradisi Bali. Dengan penambahan kopi, sehingga menambah kesan warna menjadi sepia, antik dan klasik. Warna-warna ini, sebagai simbul kemapanan dan kemakmuran, juga menyiratkan peradaban tua.

The Burning Breathe of Memories, Acrylic on Kaping (Anyaman Rumput), 75×105 cm, 2023

Objek pada karya ini terkait dengan konteks pameran yaitu komodifikasi ornamen. Yang berbasis riset ornamen pura Dalem Guwang, Sukawati. Patung Garuda adalah ikon dari desa Guwang yang pada akhirnya di setiap hembus nafasnya menjalar memori-memori ornamen bagai saksi bisu di masyarakat, perubahan kondisi masyarakat agraris-industri pariwisata adalah beberapa periode jaman yang telah disaksikan pahatan bersejarah hasil karya warga Guwang. Hal tersebut menjadi dasar Ekasutha, membuat Garuda sebagai objek utama dalam karya ini.

Eksplorasi ini meliputi 3 hal, medium, teknik, dan issue. Yang mana secara medium karya ini memakai kaping (anyaman rumput kering) sebagai media dalam berkarya, secara teknik mengambil sigar warna kamasan sebagai teknik dalam berkarya, sedangkan issue yang dimuat adalah tentang kesejajaran hak seni kontemporer Indonesia dengan seni kontemporer dunia

The Glorious Wave, Acrylic on Kaping (Anyaman Rumput), 75 x 105 cm, 2023

Karya kedua, kepalanya gajah, dan gelas yang mana mengambarkan “wisdom” akan kejayaan tersebut. Gajah dalam mitologi adalah lambang dari kekuatan sekaligus kebijaksanaan itu sendiri yang mana ketika keduanya menyatu muncullah ide-ide kreatif yang senantiasa mengalir dan menjalar layaknya geluk liku ornamen yang mekar di setiap ujungnya

SLINAT. Ornamen Bali, Pepateraan dan Kekarangan banyak diadopsi dari alam seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang, itu berarti lingkungan saat tercipta ornamen itu masih sangat baik, sehingga menginspirasi. Ornamen sebagai media bersukur, media pengingat lingkungan, sebagai harapan supaya tumbuh-tumbuhanhan dan hewan-hewan tersebut tidak musnah. Ornamen sejatinya adalah media arsif dan koservasi.

Dalam karya ini saya menggambarkan “patra sebelum patra”, melihat patra bukan hanya sebagai ornamen tapi sebagai alam lingkungan. Ornamen yang tergambar atau terukir, merupakan representrasi  lingkungan saat ornament, diciptakan oleh si pencipta. Ada korelasi yang kuat antara alam lingkungan dan ornamen, ornamen bukanlah hanya penghias bangunan semata.

Dwymabim, judul karya Ornamiental, media acrylic on canvas, ukuran  100 x 80 cm, tahun  2023. Karya ini mengambil sosok perempuan perkasa. Dalam mitologi Hindu, Kekuatan dari para dewa-dewa ada pada dewinya. Dalam kontek kekinian, sejalan dengan emansifasi perempuan, kesetraan gender dan isu-isu feminism. Dalam ornament Bali, banyak menggambarkan mitologi tentang dewa dan dewi. Seperti Dewi Saraswati, Dewi Laksmi, Dewi Sri dan lain-lain. [T]

“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space
“Komensal” di Kulidan: Refleksi Kekaryaan Seni Rupa Unckle Joy dan Siji
Tags: Kulidan KitchenornamenPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis Rasa, Merawat Bahasa | Catatan Puisi-puisi Siswa SMPN 2 Sawan

Next Post

Bukit Cintamani Mmal: Minoritas Wacana dan Stigmatisasi di Dalamnya

Komang Adiartha

Komang Adiartha

Pengelola Kulidan Kitchen & Space

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Bukit Cintamani Mmal: Minoritas Wacana dan Stigmatisasi di Dalamnya

Bukit Cintamani Mmal: Minoritas Wacana dan Stigmatisasi di Dalamnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co