7 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komodifikasi Ornamen, Serangkaian Representasi Ulang | Pengantar Pameran Seni Rupa di Kulidan

Komang Adiartha by Komang Adiartha
May 26, 2023
in Ulas Rupa
Komodifikasi Ornamen, Serangkaian Representasi Ulang | Pengantar Pameran Seni Rupa di Kulidan

“Komodifikasi Ornamen”, di Kulidan Kitchen & Space, 21 Mei hingga 2 Juni 2023 | Foto: Ucok (Photografer Asik).

STREET ART, adalah seni visual yang dibuat di lokasi publik untuk visibilitas publik. Street art, sering dikaitkan dengan istilah “seni independen”, “pasca-grafiti”, “neo-grafiti”.

Mengamati dari lokasi street art dipresentasikan pada ruang-ruang publik, kita dapat mengamati street art dalam 3 bentuk, mural, grafiti dan taging.

Saat ini, kita melihat seni mural begitu digemari, dirayakan, terutama oleh anak-anak muda. Mural sebagai salah satu bagian dari street art, bermunculan menghiyasi jalanan kota, masuk ke dinding café atau restoran, juga dinding dari dinding kampus sampai sekolah taman kanak-kanak.

Karya-karya street art yang pada mulanya dipresentasikan di jalanan atau ruang publik, sebagai simbol dari perlawanan terhadap elitisme seni dan galeri, secara perlahan mulai mencair. baik dari segi teknik, tema, maupun tujuan.

Popuraitas street art yang semakin meningkat, berdampak pula pada perluasan ruang apresiasi. Para pegiat street art, saat ini, tidak hanya berkarya di jalanan atau ruang publik, tetapi telah merambah ke ruang-ruang semi publik dan ruang privat.

Nah, pameran yang bertajuk “Komodifikasi Ornamen”, di Kulidan Kitchen & Space, 21 Mei hingga 2 Juni 2023, berkolaborasi dengan pegiat street art, dengan merepresentasi ulang dari ukiran-ukiran ornament yang ada pada bangunan candi bentar, bale kulkul, dinding pura (tembok penyengker). Ukiran ornamen-ornamen yang ada, dipakai sebagai referensi imajinasi dalam penciptaan karya.

Secara garis besar ornamen dapat di bagi menjadi tiga.

Pertama : Pepatran yaitu bentuk ornamen yang terinspirasi atau stilasi dari bentuk flora (tumbuhan). Contoh bentuk ornamen, yang mengambil stilasi tumbuhan adalah bentuk ornamen Patra Cina, Patra Punggel, Patra Wayah, Patra Welanda, dan lain-lain.

Kedua, Ornamen dengan bentuk kekarangan, ini biasanya merupakan bentuk ornamen yang mengambil bentuk-bentuk muka suatu binatang. Sebagai contoh adalah: Karang Guak/Karang Paksi, merupakan ornamen yang mengambil bentuk kepala burung. Atau Karang Gajah, yang mengambil stilasi bentuk muka Gajah, karang Boma, dan lain-lain.

Sedangkan bentuk ornamen ketiga adalah keketusan. Keketusan adalah bentuk ornamen yang bersifat perulangan dan mengambil bentuk-bentuk atau motif geometrik, seperti Patra Mesir, Tali Air, Batun Timun (bentuk mas-masan) dan lain-lain.

“Komodifikasi Ornamen”, di Kulidan Kitchen & Space, 21 Mei hingga 2 Juni 2023 | Foto: Ucok (Photografer Asik)

Pameran ini, berupaya untuk melangkah lebih jauh dari ranah konservasi  menuju pengembangan, dengan melakukan eksplorasi terhadap bentuk, motif, warna, ataupun material yang baru. Tujuan dari upaya ini adalah agarornamen, dapat dinikmati oleh generasi kekinian dan ornamen dapat tetap lestari dan up to date.

Desa Adat dan Ornamen

Keberadaan desa adat di Bali sudah ada bahkan jauh sebelum Republik ini berdiri. Yang kita amati saat ini, Desa Adat merupakan salah satu bentuk pemerintahan tertinggi dan otonom. Desa adat memiliki struktur organisasi dengan pimpinan Bendesa Adat sebagai pemimpin tertinggi. Bendesa Adat, semacam presiden dalam sitem pemerintahan sekarang dan Saba Desa seperti MPR-nya desa adat.

Ketika kita menelisik desa adat, tentu aka ada krama/warga yang lebih sering disebut pawongan, wilayah atau palemahan dan parahyangan (sistem kepercayaan dan bangunan (arsitektur) Candi atau Pura).

Di setiap desa adat paling sedikit ada 3 Pura, Pura Desa tempat pemujaan Dewa Brahma, manefestasi tuhan sebagai pencipta, Pura Puseh, tempat pemujaan dewa Wisnu manefestasi Tuhan sebagai pemelihara dan Pura Dalem sebagai stana dewa Siwa, manefestasi Tuhan sebagai dewa pelebur.

Ketika kita mengamati Pura-Pura yang ada, khusnya tentang arsitekturnya, kita akan melihat banyak arsitektur yang memiliki ornamen yang khas, yang dapat juga dibaca dari tua atau mudanya, sebuah candi di buat salah satunya bisa diamati dari jenis dan bentuk ornamentasi yang menghiyasi bangunan sebuah Pura tersebut.

Proses Penelitian

Pameran yang bertajuk Komodifikasi Ornamen, merupakan kelanjutan dari proses penelitian awal yang dilakukan terhadap ornament Bali. Proses awal, dimulai dengan melakukan upaya pelestarian atau konservasi, melalui upaya dokumentasi dan workshop menggambar/mengukir ornamen, sesuai dengan bentuk aslinya, ataupun metoda pembuatan dan distribusi serta fungsinya dipertahankan seperti tradisi yang sudah ada sebelumnya.

Kemudian program pameran ini, ingin melangkah lebih jauh dengan melakukan pengembangan terhadap bentuk, motif, warna, ataupun material dengan sesuatu yang baru. Tujuan dari upaya ini adalah agar bagaimana ornament ini dapat tetap lestari. Digemari oleh anak-anak muda dan juga dapat diproduksi dan diapresiasi secara kekinian (kontemporer).

“Komodifikasi Ornamen”, di Kulidan Kitchen & Space, 21 Mei hingga 2 Juni 2023 | Foto: Ucok (Photografer Asik)

Pameran Komodifikasi Oameran ini, berupaya untuk melakukan proses pelestarian, produksi, konsumsi yang digali dari Ornamen. Upaya ini dilakukan dengan metode atau menterjemahkan makna Komodifikasi. komodifikasi sebagai sebuah metoda dimaknai sebagai, perubahan nilai dan fungsi dari suatu barang atau jasa menjadi komoditi (yang memikiki nilai ekonomi).

Karya Pansaka, yang Berjudul ornament. Dia mengkonstruksi ulang lagi dari ornamen yang ada di pura Dalem, Pura Dalem, Sebagai istana atau tempat pemujaan Dewa Siwa, tentu banyak ornament yang menggambil sosok tenggkorak. Bentuk tengkoraknya di konstruksi ulang lagi dengan membuat bentuk yang lebih lucu dan bersahabat.

Patra Welanda yang terukir memakai stilasi bungan mawar cina, direkonstruksi ulang lagi dengan membuat bunga-bunga stilasi baru. Yang membuat perpaduan gambar menjadi asik, karena disatukan dengan warna-warna pastel, warna-warna yang seolah mengantar kita kepadu padanan warna-warna di era pop art.

Karya SWOOF ONE, yang berjudul “Ready for the storm #” merupakan stilasi dari ornament-ornamen yang mengambil mahluk mitologi Naga. Dalam tradisi Hindu naga digambarkan ke dalam tiga manivestasi, Naga sebagai Ananta Boga dan Basuki, sebagai lambang kemakmuran dan Naga Tatsaka, sebagaai lambang, udara. Ke tiga unsur naga tersebut adalah simbolisasi dari Tanah, Air dan Udara.

EKA MARDIYS, judul karya DYNAMIC, ukuran  100cm x 100cm, media acrylic on canvas tahun 2023.  Gambar ini terinsfirasi dari ornamen macan, Eka Mardis menggali dari segi perkembngan kreatifititas, dimana imajinasi seorang seniman akan dapat mengintepretasi dari motif atau bentuk yang sudah ada.

Dalam bentuk ini, saya mengamati dia merekonstruksi ulang, dari segi bentuk macannya. Warna yang dipilih adalah warna-warna merah, Emas dan hitam. Warna-warna ini, kental dengan nuansa kegagahan dan keagungan warna tradisi Bali. Dengan penambahan kopi, sehingga menambah kesan warna menjadi sepia, antik dan klasik. Warna-warna ini, sebagai simbul kemapanan dan kemakmuran, juga menyiratkan peradaban tua.

The Burning Breathe of Memories, Acrylic on Kaping (Anyaman Rumput), 75×105 cm, 2023

Objek pada karya ini terkait dengan konteks pameran yaitu komodifikasi ornamen. Yang berbasis riset ornamen pura Dalem Guwang, Sukawati. Patung Garuda adalah ikon dari desa Guwang yang pada akhirnya di setiap hembus nafasnya menjalar memori-memori ornamen bagai saksi bisu di masyarakat, perubahan kondisi masyarakat agraris-industri pariwisata adalah beberapa periode jaman yang telah disaksikan pahatan bersejarah hasil karya warga Guwang. Hal tersebut menjadi dasar Ekasutha, membuat Garuda sebagai objek utama dalam karya ini.

Eksplorasi ini meliputi 3 hal, medium, teknik, dan issue. Yang mana secara medium karya ini memakai kaping (anyaman rumput kering) sebagai media dalam berkarya, secara teknik mengambil sigar warna kamasan sebagai teknik dalam berkarya, sedangkan issue yang dimuat adalah tentang kesejajaran hak seni kontemporer Indonesia dengan seni kontemporer dunia

The Glorious Wave, Acrylic on Kaping (Anyaman Rumput), 75 x 105 cm, 2023

Karya kedua, kepalanya gajah, dan gelas yang mana mengambarkan “wisdom” akan kejayaan tersebut. Gajah dalam mitologi adalah lambang dari kekuatan sekaligus kebijaksanaan itu sendiri yang mana ketika keduanya menyatu muncullah ide-ide kreatif yang senantiasa mengalir dan menjalar layaknya geluk liku ornamen yang mekar di setiap ujungnya

SLINAT. Ornamen Bali, Pepateraan dan Kekarangan banyak diadopsi dari alam seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang, itu berarti lingkungan saat tercipta ornamen itu masih sangat baik, sehingga menginspirasi. Ornamen sebagai media bersukur, media pengingat lingkungan, sebagai harapan supaya tumbuh-tumbuhanhan dan hewan-hewan tersebut tidak musnah. Ornamen sejatinya adalah media arsif dan koservasi.

Dalam karya ini saya menggambarkan “patra sebelum patra”, melihat patra bukan hanya sebagai ornamen tapi sebagai alam lingkungan. Ornamen yang tergambar atau terukir, merupakan representrasi  lingkungan saat ornament, diciptakan oleh si pencipta. Ada korelasi yang kuat antara alam lingkungan dan ornamen, ornamen bukanlah hanya penghias bangunan semata.

Dwymabim, judul karya Ornamiental, media acrylic on canvas, ukuran  100 x 80 cm, tahun  2023. Karya ini mengambil sosok perempuan perkasa. Dalam mitologi Hindu, Kekuatan dari para dewa-dewa ada pada dewinya. Dalam kontek kekinian, sejalan dengan emansifasi perempuan, kesetraan gender dan isu-isu feminism. Dalam ornament Bali, banyak menggambarkan mitologi tentang dewa dan dewi. Seperti Dewi Saraswati, Dewi Laksmi, Dewi Sri dan lain-lain. [T]

“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space
“Komensal” di Kulidan: Refleksi Kekaryaan Seni Rupa Unckle Joy dan Siji
Tags: Kulidan KitchenornamenPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis Rasa, Merawat Bahasa | Catatan Puisi-puisi Siswa SMPN 2 Sawan

Next Post

Bukit Cintamani Mmal: Minoritas Wacana dan Stigmatisasi di Dalamnya

Komang Adiartha

Komang Adiartha

Pengelola Kulidan Kitchen & Space

Related Posts

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails
Next Post
Bukit Cintamani Mmal: Minoritas Wacana dan Stigmatisasi di Dalamnya

Bukit Cintamani Mmal: Minoritas Wacana dan Stigmatisasi di Dalamnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya
Pameran

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co