24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis Rasa, Merawat Bahasa | Catatan Puisi-puisi Siswa SMPN 2 Sawan

Komang Sujana by Komang Sujana
May 25, 2023
in Kritik Sastra
Menulis Rasa, Merawat Bahasa | Catatan Puisi-puisi Siswa SMPN 2 Sawan

Siswa SMPN 2 Sawan, Buleleng, sedang belajar menulis puisi | Foto: Komang Sujana

PUISI ITU adalah cerminan rasa dari penulisnya. Seperti perasaan sedih karena ditimpa bencana, rasa bahagia ketika indra kita menerima sesuatu yang indah, merdu, nikmat, halus, dan harum, juga bisa marah ketika yang kita sukai dan miliki dirusak orang lain. Begitu pun dengan puisi-puisi yang ditulis siswa SMP Negeri 2 Sawan. Isinya menggambarkan beragam rasa yang diungkap secara jujur sebagai respons terhadap lingkungan sekitar.

Puisi-puisi yang ditulis mengangkat tema yang beragam. Ada yang menulis tentang kritik sosial, suasana di sekolah, dan alam. Puisi yang bertemakan alam seperti puisi yang berjudul Matanai dan Pasisi. Hubungan antara puisi dan alam sangatlah erat. Penulis memetik keindahan alam yang kemudian atas tafsir rasanya dituangkan dalam bentuk susunan kata-kata yang puitis.

sinar matanai sané nyunarin guminé
nundunin jendéla kamar
mangunang suryakan kruyukan siapé
ngulapin paningalan tiangé

sinarné anget lan asri
kasarengin angin makesir-kesir
suiran kedisé matinggah nguci
ngranayang atiné liang lan bagia

sayan-sayan joh pajalané
sayan-sayan keneh tiangé meled dadi matan ai
apang sida nyunarin déwék padidi
apang sida nyunarin mémé lan bapa

(Dimuat di majalah Suara Saking Bali edisi LXXVI, Februari 2023)

Puisi Matanai karya Putu Novia Nugraheni di atas menceritakan tentang rasa takjubnya terhadap matahari sebagai penerang yang memberikan kehidupan kepada alam beserta isinya. Ia pun ingin seperti matahari, menjadi pribadi yang bersinar, minimal mampu menerangi diri sendiri dari segala bentuk kegelapan. Dan harapan yang lebih besar adalah bisa menjadi pribadi yang berguna bagi diri sendiri, orang tua, dan orang lain.

Isu-isu tentang kerusakan pantai dan laut telah sejak lama menjadi perhatian serius Pemerintah juga komunitas-komunitas pemerhati lingkungan. Begitu juga Komang Okta Damayanti.  Puisi Pasisi yang ditulisnya mengungkapkan keindahan Pantai Giri Emas yang berlokasi di Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Buleleng, sekaligus masalah yang dihadapinya, yaitu tidak lain tidak bukan adalah masalah sampah. Ia pun kembali mengingatkan kepada pembaca untuk tidak membuang sampah di sungai. Ajakan yang sepertinya sudah sering kita dengarkan tetapi sering kita lupakan dalam tindakan. Berikut kutipannya.

angin tis pasisi girimas
doosan ombak mapag ibias
segara asri
ngaé liang ati

sakéwala jani
akéh anaké ngaé daki
leluu ngaénang bencana
usak pasisiné

patutné iraga saling ngentenin
sareng-sareng nguratiang
nyaga palemahan uli pakarangan umah
sampunang ngutang luu ring telabah

Bencana banjir bandang yang sempat menimpa beberapa wilayah di Bali, seperti di Jembrana pada bulan Oktober tahun 2022 juga tidak luput dari perhatiannya. Manusia dengan sifat serakah dan saling mencari pembenaran diri menurutnya menjadi penyebab bencana. Sebagai ganjaran yang setimpal adalah kesengsaraan dan kematian. Okta menuliskannya dalam puisi yang berjudul Dija Ratu. Puisi ini pernah dimuat di majalah Suara Saking Bali edisi LXXIV Desember 2022. Berikut kutipan puisinya.

idup uli uat nadi
genah déwi saraswati
ngidupin anak uli ulu ka tebén
jani sayan surud membah

jengah rauh blabar
nganyudang tanah
nganyudang umah
ngecorang yéh barak
ten milih awak

sebet ical artané
ical kenyemané
nyén pelih?
jadma saling pisuh
inguh gering ngruruh

Oleh karena penulis masih duduk di bangku SMP, puisi-puisi yang ditulis tidak lepas dari aktivitas sehari-hari di sekolah. Seperti puisi Sekolah Tiange yang merupakan ungkapan rasa Desak Komang Melati Ningsih tentang keadaan sekolah yang asri, nyaman, dan menyenangkan sebagai tempatnya menimba ilmu dan karakter. Berbeda dengan puisi Tresna Putih Pelung yang ditulis Komang Okta Damayanti. Melalui puisi ia mengajak teman-temannya untuk lebih fokus melaksanakan kewajiban sebagai siswa yaitu belajar, bukan yang lain. Berikut kutipan puisi Sekolah Tiange.

ring dina semeng sané galang
anginé teduh lan tis
ngaénang titiang setata sumangat
sekolah bersih lan asri
punyan-punyan gadang madon samah
lan bunga mawarna-warni
ngaé bungah palemahan sekolah

ruang kelas ané bersih
ngaé tiang demen malajah
kasarengin guru-guru
ané sawai-wai nuntun titiang

di sekolah ené
tongos tiang ngalih kabisan
tongos tiang nabdabang masa depan

Berikut kutipan puisi Tresna Putih Pelung:

semara putih pelung
ngaé tangkah sakit
sing kuat ninggalin ia jak nak lén
uli pidan matané beseh?
ia teka nyemak kedék tiangé
badah
suud ngitungang demenan
uber ipiané
sing pedalem mémé jak bapa?
banggaang, liangang
yén sing panakné nyén buin?

(Dimuat di majalah Suara Saking Bali edisi LXXVI, Februari 2023)

Masalah klasik negara Indonesia adalah korupsi. Di negeri ini korupsi seakan tidak pernah mati. Respons siswa terhadap kasus korupsi dan penanganannya yang kadang tidak serius, tumpang tindih, tidak tuntas sampai keakar-akarnya tercermin pada puisi di bawah ini.

pipis nglebihin déwa
pipis ngai buduh mata
nunjel rasa olas
né mara térosis

jadma belog
yén kar suudang
abut akah
dong tiing akatih

mai iraga matiang merana
suryak polisi ngangkenin ibané déwa
ngamatiang saksi
nyén pelih bikul apa lipi

Puisi di atas berjudul Lipi Madasi  juga karya Komang Okta Damayanti. Puisi ini adalah kritik terhadap oknum penegak hukum, pejabat pemerintah, yang seharusnya menjadi ujung tombak penegakan keadilan, kebenaran, dan kejujuran justru terlibat kasus korupsi. Puisi ini adalah gambaran kaliyuga (zaman kekacauan) seperti yang disampaikan I Wayan Dibia peraih Rancage tahun 2023 melalui buku puisi Bali modern Kali Sengara. Banyak manusia yang berbicara seperti dewa tetapi tidak tanduknya seperti raksasa. Pura-pura baik tetapi licik.

Zaman globalisasi dengan perkembangan teknologi dan degradasi budaya sebagai pencirinya juga menjadi tema puisi siswa. Puisi Anak Cenik karya Luh Dewi Suparini mengungkapkan tentang kemajuan teknologi, seperti gawai yang bisa berdampak negatif kepada pengguna ketika tidak mampu menggunakannya secara bijak. Dewi menggambarkan bahwa gawai yang diibaratkan sebagai anak kecil telah menguasai manusia, bukan sebaliknya. Akibatnya banyak yang lupa diri hingga timbullah tindakan-tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

nyamané liu pesan
demeniné jak makejang
naut jadma makejang
limané tegula
otekné kabongbong
cara kedis makrangkéng
ba macelep kéweh pesu
makejang paling
apa ané pelih
ten rungu
ten ada ané éling

(Puisi Anak Cenik dimuat di majalah Suara Saking Bali edisi LXXVI, Februari 2023)

Satu puisi lagi yang ditulis oleh Komang Okta Damayanti berjudul Basa Bali. Puisi yang mengungkapkan keberadaan generasi muda Bali yang tidak lagi menyukai bahasa ibunya, bahasa Bali. Seperti yang diketahui bahwa bahasa Bali adalah bagian dari kebudayaan Bali yang adi luhung. Jika rasa bangga terhadap bahasa Bali semakin memudar bukan tidak mungkin apa yang pernah dikhawatirkan oleh Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus bahwa bahasa Bali akan mati bisa saja terjadi. Generasi muda diharapkan tetap mempelajari dan menggunakan bahasa Bali sehingga menjadi penutur aktif bahasa Bali. Berikut kutipan puisinya.

akéh nak bali engsap cecirén déwékné
mabasa tawah-tawah
makenyem pedih i mémé
matatu nanging ten magetih

truna-truni mayus malajah basa bali
énggal kal mati
ical basa bali
ical budaya bali

kaloktah kantos dura negara
patut bangga
patut lestariang
yéning ten iraga sira malih?

Puisi-puisi di atas mengandung amanat yang dapat berfungsi sebagai alat untuk memulihkan kesadaran. Sebagaimana dikatakan oleh kritikus sastra Arif Bagus Prasetyo dalam bukunya Saksi Kata. Menurutnya sastra dapat membangun jiwa dan menyembuhkan pikiran sehingga manusia tidak kalap dan membabi buta. Setelah membaca karya sastra, pembaca diharapkan jiwa dan pikirannya tercerahkan sehingga mampu merawat diri, menjaga bumi.

Selain untuk pembaca, siswa menulis puisi  tentu untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini puisi dengan amanat yang terkandung di dalamnya berguna sebagai alat untuk mendidik dirinya. Di sinilah letak keterkaitan sastra dan pendidikan. Dalam buku Sastra dan Pendidikan, Sapardi Djoko Damono mengatakan  sastra adalah benda budaya yang berisi nilai-nilai, tindak tanduk yang baik dan buruk. Dalam hal ini siswa diharapkan meneladani hal-hal baik sebagai acuan dalam berpikir, berbuat, dan bertingkah laku.

Berbicara tentang sastra dan pendidikan, beberapa puisi karya siswa yang saya kutip di atas merupakan bukti implementasi Merdeka Belajar dan Revitalisasi Bahasa Daerah di SMP Negeri 2 Sawan. Walaupun ini bukan sebagai pencapaian yang besar tetapi setidaknya siswa telah mampu mendapatkan ruang untuk mengekspresikan diri sesuai minat dan bakatnya sebagaimana esensi Merdeka Belajar itu sendiri. Sebagai upaya meningkatkan kemampuannya dalam memahami kosa kata bahasa Bali, siswa memanfaatkan kamus bahasa Bali berbasis android produk Balai Bahasa Provinsi Bali. Ini sebagai upaya kecil mewujudkan digitalisasi pendidikan yang juga bertalian erat dengan Merdeka Belajar.

Sementara itu, Revitalisasi Bahasa Daerah adalah kebijakan Pemerintah sebagai upaya pelestarian bahasa daerah. Sekolah sebagai tempat belajar bahasa daerah diharapkan mampu menumbuhkembangkan karakter siswa untuk mencintai bahasa ibunya, bangga menggunakan bahasa Bali baik lisan maupun tulisan. Menulis puisi berbahasa Bali salah satunya. Walaupun puisi-puisi mereka sederhana tetapi usahanya patut diapresiasi. Pada era serba digital seperti sekarang sangat patut disyukuri masih ada siswa yang mau dan serius belajar menulis puisi berbahasa Bali. Apalagi ada siswa yang menulis lebih dari satu puisi.

Berdasarkan data Kemdikbudristek tahun 2022, dari 718 bahasa daerah di Indonesia banyak yang kondisinya kritis dan terancam punah. Seperti bahasa-bahasa di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Kepunahan bahasa disebabkan penutur jatinya tidak lagi menggunakan bahasa daerah dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya. Bahasa Bali masih dikategorikan aman karena masih digunakan sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan sehari-hari orang Bali. Namun, siapa yang bisa memastikan bahasa Bali ajek sepanjang zaman?

Itulah sebabnya Revitalisasi Bahasa Daerah utamanya bahasa Bali tetap dilakukan melalui pendidikan. Sekolah adalah tempat siswa belajar bahasa, aksara, dan sastra Bali. Di sekolahlah mereka belajar membaca dan mendiskusikan wacana sastra dan nonsastra, menulis aksara Bali di lontar atau di komputer, menulis puisi dan cerita (satua).

Joko Pinurbo mengatakan sastra merupakan dunia, lahan, tempat bahasa dirawat dan dimekarkan sehingga memiliki nilai lebih. Puisi-puisi karya siswa di atas adalah salah satu bukti usaha generasi muda untuk merawat dan memekarkan bahasa Bali di tengah gempuran budaya serba instan. Karyanya sebagai cerminan rasa memang sederhana tetapi penuh arti. Semoga dengan ini bahasa Bali semakin ajek dan lestari. [T]

Catatan: Puisi-puisi siswa di atas adalah hasil dari pengimbasan yang saya lakukan kepada siswa kelas VIII B SMP Negeri 2 Sawan setelah mengikuti pelatihan Revitalisasi Bahasa Daerah yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Bali tanggal 26—30 Juni 2022 di Denpasar.

Semarapura Rumah Sejarah: Membaca Klungkung dalam Sajak
Lagu Rindu untuk Ibu: Membaca Sajak-sajak I Wayan Suartha
Hindu Menyelami Islam | Catatan Puisi-Puisi Islami Angga Wijaya
Tags: Puisisastra bali modernsastra pelajarsiswaSMPN 2 SawanSuara Saking Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

ORHIBA : Olah Raga, Spiritualitas dan Kesehatan

Next Post

Komodifikasi Ornamen, Serangkaian Representasi Ulang | Pengantar Pameran Seni Rupa di Kulidan

Komang Sujana

Komang Sujana

Guru SMP Negeri 2 Sawan. Suka menulis puisi Bali. Biasa jadi komentar dalam turnamen bola voli

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails
Next Post
Komodifikasi Ornamen, Serangkaian Representasi Ulang | Pengantar Pameran Seni Rupa di Kulidan

Komodifikasi Ornamen, Serangkaian Representasi Ulang | Pengantar Pameran Seni Rupa di Kulidan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co