3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta : Tiga Penari Mencari Sang Aku | Pentaskan “Jelajah Sarira” di Antida Music Production, 21 Mei 2023

tatkala by tatkala
May 20, 2023
in Panggung
Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta : Tiga Penari Mencari Sang Aku | Pentaskan “Jelajah Sarira” di Antida Music Production, 21 Mei 2023

Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta | Foto: Istimewa

KRISNA SATYA, PARAMA KESAWA, DAN KEVIN MULIARTA. Sebagai penari, kurang apa mereka?

Nama tiga penari itu cukup menonjol di Bali, bahkan dikenal juga dengan baik dalam dunia tari di Indonesia. Tentu karena mereka begitu giat melakukan proses pencarian dan menemukan kosa gerak dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam proses kreatif mereka.

Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta. Sebagai penari, kurang apa mereka?

Mereka sudah banyak menemukan hal-hal baru, mereka sudah banyak mempresentasikan penemuan-penemuan mereka di atas panggung. Namun, dengan rendah hati, tiga penari itu masih mengakui diri: bahwa mereka masih berada dalam proses menemukan diri, menemukan sang aku, sehingga mereka terus mencari, terus mencari, tak puas-puas.

Untuk itulah mereka bekerja sama dengan Antida Music Production untuk mempresentasikan pencarian-pencarian mereka. Tiga penari itu akan mempertunjukkan satu proses dari tema “Jelajah Sarira” — Mencari Sang Aku Melalui Tari”.

Masing-masing dari mereka akan menyajikan karya tari pada Minggu, 21 Mei 2023 di Antida Sound Garden Jl. Waribang 32 Kesiman  Denpasar, Bali. 

Jelajah Sarira pertama kali dicetuskan dalam acara Rembug Sastra Purnama Bhadrawada tahun 2017. Dari rembug sastra itu tumbuh niat besar dalam diri penari untuk menjelajahi diri. Karena sesungguhnya Jelajah Sarira bukan hanya dalam sastra, namun juga bisa diseriusi dalam bentuk tari sebagai media untuk melihat dan memaknai kembali sang aku.

“Tari dengan tubuh (Sarira) sebagai medium bagaikan ladang yang harus terus dieksplorasi untuk menemukan dan menumbuhkan gagasan baru untuk menambah khasanah kesenian Bali khususnya Tari,” kata Dayu Ani.

Dayu Ani adalah dosen seni pertunjukan ISI Denpasar yang menjadi inisiator sekaligus sebagai pendorong terselenggaranya pementasan ketiga penri itu.

Jelajah Sarira adalah cara untuk menyelami diri, baik secara fisik maupun gagasan. Jelajah Sarira akan dibaca oleh tiga penari sekaligus koreografer muda, Krisna Satya, Parama Kesawa dan Kevin Muliarta, dengan begitu sungguh-sungguh.

Masing-masing koreografer memformulasikan gagasannya dalam bentuk karya tari yanng mencari kebaharuan.

“Saya rasa, dengan mengangkat Jelajah Sarira akan memiliki ruang yang lebih luas. Sebelumnya mereka mengusung tema Bali Balihan, sehingga tidak akan memberikan ruang seluas-luasnya bagi ketiga koreografer kreatif ini,” kata Dayu Ani.

Dalam pentas ini, Krisna Satya mengangkat “Slow Living” sebuah garapan tari tunggal yang terinspirasi dari upacara adat Bali yaitu Ngider Bhuwana.

Tradisi Ngider Bhuwana ditatap sebagai konsep, yang kemudian dibaca ulang. Tradisi melancaran yang ada di desanya sebagai laku untuk mengenali dan memaknai kembali wilayah sekitar dan ruang personalnya, dengan cara berjalan selangkah demi selangkah.

“Ngider bhuwana saya maknai sebagai ritus pertemuan antar personal di tengah kehidupan yang serba digital dan cepat,” ucap Krisna dísela-sela persiapan pentas, Kamis 18 Mei 2023. 

Krisna Satya| Foto: Istimewa

Dalam kehidupan yang serba cepat itu, Krisna Satya kemudian menciptakan karya tari bertajuk Slow Living. Ia meminjam pada istilah gaya hidup lambat, yang berawal dari Slow Food Movemant yang dibuat oleh Carlo Petrini tahun 1986. “Slow Living ini akan mengajak penonton sebagai performer untuk mengenali tubuh melalui pernafasan, dan mendekatkan diri dengan mengenali ruang sekitarnya. Dengan waktu yang melambat, kita akan dapat merenung, untuk bisa berbuat kedepan,” ungkapnya.

Sementara Parama Kesawa menyajikan karya bertajuk “Body Notation yang terinspirasi dari polymeter yang merupakan salah satu konsep ketukan yang biasa digunakan dalam teori musik, terutama dalam mengaransemen lagu. Polymeter memiliki fungsi untuk menciptakan efek seolah-olah ketukan dalam sebuah lagu terdengar tidak sinkron, walaupun ritme yang bermain tersebut sinkron.

Proses dari Polymeter masih dalam tahap menganalisa perhitungan yang membangun efek jalinan nada.

 “Sejauh ini, jenis komposisi musik polymeter dalam dunia tari, hanya digunakan sebagai ambience. Koreografinya sering mengabaikan jalinan ketukan yang telah dibuat. Nah, lewat garapan ini saya berupaya mensinkronisasikan musik dan tari melalui notasi terperinci dalam konsep Polymeter menjadi ide karya eksperimental ini,” paparnya.

Eksperimen ini berjudul Body Notation. Ia menggunakan tubuh sebagai instrument dalam mewujudkan konsep Polymeter secara bertahap, mulai dari tangan, kaki, selanjutnya ke seluruh tubuh. Karya ini ditarikan oleh dua orang penari. Ketukan dari setiap penari memiliki hitungan yang berbeda sampai akhirnya bertemu dalam kelipatan yang sama dan mulai lagi dari hitungan awal.

“Instrument musiknya menggunakan alat musik strings yang akan mengalirkan nada ke dalam tubuh penari sesuai notasi yang dibuat. Setting pertunjukan mengarah kepada kontrapungtis musik dengan dukungan pencahayaan khusus sebagai ambience bar musik,” jelasnya.

Sedangkan Kevin Muliarta menyajikan ‘Melajah Kebatinan’. Karya ini terinspirasi dari era modern ini di Bali yang sempat viral tentang istilah “melajah kebatinan” atau sebutan untuk orang orang yang memiliki halusinasi tentang spiritual terlalu tinggi, sehingga mengakibatkan kebingungan bahkan kegilaan dalam hidupnya. Pada fase tersebut banyak hal di luar nalar di nomor satukan. “Hal ini merupakan ketidak seimbangan yang berpotensi menyesatkan,” ucapnya.

Untuk memastikan hal tersebut, sebagai penari Kevin sempat melakukan reset terhadap ajaran leluhur masyarakat Bali tentang situs-situs kuno dan etika orang dahulu dalam menjalani spiritual. Ia kemudian ingin meluruskan perihal dan fenomena yang menurutnya timpang pada era sekarang.

“Pengamatan saya terhadap apa yang terjadi saat ini dan apa yang saya dapatkan dari sumber” tentang etika peradaban leluhur jelas berbeda. Pada era ini tentu banyak orang yang kurang percaya, memilih jalan praktis dan tidak menerima paham ini karena dianggap paham baru,” sebutnya.

Kevin kemudian mengatakan, berdasarkan pengamatannya pergeseran nilai pemaknaan suatu keyakinan dalam berspiritual lebih condong ke arah kepentingan pada era sekarang, dan berdampak luas bagi orang-orang sangat percaya dengan hal-hal tersebut.

“Berdasarkan fenomena itu, saya kemudian menciptakan teater tari kontemporer mengenai perjalanan dan pencaharian jati diri terhadap etika-etika leluhur Bali mengenai bhuana alit, dan teks tan hana darma mangrwa yang menjadi kegelisahan penata terhadap penerapannya di era yang penuh dengan kepentingan,” katanya.

Ketiga seniman ini pun mengakui, “Jelajah Sarira” ini terselenggara atas pertemuannya bersama Dayu Ani selaku pemilik Bumi Bajra. Mereka kemudian terkoneksi dengan Anom Darsana yang merupakan pemilik Antida Music Production.

Melalui nasehat dari Dayu Ani, ketiga koregrafer muda ini memiliki keberanian untuk melakukan pentas tunggal untuk pertama kalinya atas nama proses kreatif untuk menambah khasanah kesenian di Bali khususnya. Maka itu, “Jelajah Sarira” semakin lengkap dengan kehadiran Anom Darsana dengan Antida Music Production sebagai fasilitator artistik, sehingga Jelajah Sarira memiliki ruang presentasi yang memukau.

Jelajah Sarira hadir sebagai ruang penjelajahan sang diri, ruang untuk menempa kemampuan tubuh untuk terus menyelami menggali gagasan sebagai tawaran terhadap kesenian Bali khususnya tari.

“Penjelajahan sang diri tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi sebagai wujud perenungan bersama, siapa, mengapa, dan bagaimanakah aku di masa mendatang? Jelajah Sarira hadir sebagai ruang penciptaan untuk terus membaca kebudayaan Bali yang beririsan dengan masa kini,” kata mereka sepakat. [T][Pan/*]

Ritus Tari Seblang di Olehsari : Menari Bersama Leluhur dan Merayakan Dialog Antarbudaya Bali-Blambangan
Skala dan Citra | Catatan Selepas Menonton Layar Mulatari: Arsitektur Tubuh
Narasi Dramatari Penyalonarangan “Kala Ludra” di Pura Dalem Desa Adat Ubud
Tags: Antida Music ProductionAntida SoundgardenDayu Anikesenian baliseni taritari balitari kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

Next Post

Sajak-sajak Angga Wijaya | Bulan Mati di Kota

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Sajak-sajak Angga Wijaya | Bulan Mati di Kota

Sajak-sajak Angga Wijaya | Bulan Mati di Kota

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co