12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta : Tiga Penari Mencari Sang Aku | Pentaskan “Jelajah Sarira” di Antida Music Production, 21 Mei 2023

tatkala by tatkala
May 20, 2023
in Panggung
Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta : Tiga Penari Mencari Sang Aku | Pentaskan “Jelajah Sarira” di Antida Music Production, 21 Mei 2023

Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta | Foto: Istimewa

KRISNA SATYA, PARAMA KESAWA, DAN KEVIN MULIARTA. Sebagai penari, kurang apa mereka?

Nama tiga penari itu cukup menonjol di Bali, bahkan dikenal juga dengan baik dalam dunia tari di Indonesia. Tentu karena mereka begitu giat melakukan proses pencarian dan menemukan kosa gerak dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam proses kreatif mereka.

Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta. Sebagai penari, kurang apa mereka?

Mereka sudah banyak menemukan hal-hal baru, mereka sudah banyak mempresentasikan penemuan-penemuan mereka di atas panggung. Namun, dengan rendah hati, tiga penari itu masih mengakui diri: bahwa mereka masih berada dalam proses menemukan diri, menemukan sang aku, sehingga mereka terus mencari, terus mencari, tak puas-puas.

Untuk itulah mereka bekerja sama dengan Antida Music Production untuk mempresentasikan pencarian-pencarian mereka. Tiga penari itu akan mempertunjukkan satu proses dari tema “Jelajah Sarira” — Mencari Sang Aku Melalui Tari”.

Masing-masing dari mereka akan menyajikan karya tari pada Minggu, 21 Mei 2023 di Antida Sound Garden Jl. Waribang 32 Kesiman  Denpasar, Bali. 

Jelajah Sarira pertama kali dicetuskan dalam acara Rembug Sastra Purnama Bhadrawada tahun 2017. Dari rembug sastra itu tumbuh niat besar dalam diri penari untuk menjelajahi diri. Karena sesungguhnya Jelajah Sarira bukan hanya dalam sastra, namun juga bisa diseriusi dalam bentuk tari sebagai media untuk melihat dan memaknai kembali sang aku.

“Tari dengan tubuh (Sarira) sebagai medium bagaikan ladang yang harus terus dieksplorasi untuk menemukan dan menumbuhkan gagasan baru untuk menambah khasanah kesenian Bali khususnya Tari,” kata Dayu Ani.

Dayu Ani adalah dosen seni pertunjukan ISI Denpasar yang menjadi inisiator sekaligus sebagai pendorong terselenggaranya pementasan ketiga penri itu.

Jelajah Sarira adalah cara untuk menyelami diri, baik secara fisik maupun gagasan. Jelajah Sarira akan dibaca oleh tiga penari sekaligus koreografer muda, Krisna Satya, Parama Kesawa dan Kevin Muliarta, dengan begitu sungguh-sungguh.

Masing-masing koreografer memformulasikan gagasannya dalam bentuk karya tari yanng mencari kebaharuan.

“Saya rasa, dengan mengangkat Jelajah Sarira akan memiliki ruang yang lebih luas. Sebelumnya mereka mengusung tema Bali Balihan, sehingga tidak akan memberikan ruang seluas-luasnya bagi ketiga koreografer kreatif ini,” kata Dayu Ani.

Dalam pentas ini, Krisna Satya mengangkat “Slow Living” sebuah garapan tari tunggal yang terinspirasi dari upacara adat Bali yaitu Ngider Bhuwana.

Tradisi Ngider Bhuwana ditatap sebagai konsep, yang kemudian dibaca ulang. Tradisi melancaran yang ada di desanya sebagai laku untuk mengenali dan memaknai kembali wilayah sekitar dan ruang personalnya, dengan cara berjalan selangkah demi selangkah.

“Ngider bhuwana saya maknai sebagai ritus pertemuan antar personal di tengah kehidupan yang serba digital dan cepat,” ucap Krisna dísela-sela persiapan pentas, Kamis 18 Mei 2023. 

Krisna Satya| Foto: Istimewa

Dalam kehidupan yang serba cepat itu, Krisna Satya kemudian menciptakan karya tari bertajuk Slow Living. Ia meminjam pada istilah gaya hidup lambat, yang berawal dari Slow Food Movemant yang dibuat oleh Carlo Petrini tahun 1986. “Slow Living ini akan mengajak penonton sebagai performer untuk mengenali tubuh melalui pernafasan, dan mendekatkan diri dengan mengenali ruang sekitarnya. Dengan waktu yang melambat, kita akan dapat merenung, untuk bisa berbuat kedepan,” ungkapnya.

Sementara Parama Kesawa menyajikan karya bertajuk “Body Notation yang terinspirasi dari polymeter yang merupakan salah satu konsep ketukan yang biasa digunakan dalam teori musik, terutama dalam mengaransemen lagu. Polymeter memiliki fungsi untuk menciptakan efek seolah-olah ketukan dalam sebuah lagu terdengar tidak sinkron, walaupun ritme yang bermain tersebut sinkron.

Proses dari Polymeter masih dalam tahap menganalisa perhitungan yang membangun efek jalinan nada.

 “Sejauh ini, jenis komposisi musik polymeter dalam dunia tari, hanya digunakan sebagai ambience. Koreografinya sering mengabaikan jalinan ketukan yang telah dibuat. Nah, lewat garapan ini saya berupaya mensinkronisasikan musik dan tari melalui notasi terperinci dalam konsep Polymeter menjadi ide karya eksperimental ini,” paparnya.

Eksperimen ini berjudul Body Notation. Ia menggunakan tubuh sebagai instrument dalam mewujudkan konsep Polymeter secara bertahap, mulai dari tangan, kaki, selanjutnya ke seluruh tubuh. Karya ini ditarikan oleh dua orang penari. Ketukan dari setiap penari memiliki hitungan yang berbeda sampai akhirnya bertemu dalam kelipatan yang sama dan mulai lagi dari hitungan awal.

“Instrument musiknya menggunakan alat musik strings yang akan mengalirkan nada ke dalam tubuh penari sesuai notasi yang dibuat. Setting pertunjukan mengarah kepada kontrapungtis musik dengan dukungan pencahayaan khusus sebagai ambience bar musik,” jelasnya.

Sedangkan Kevin Muliarta menyajikan ‘Melajah Kebatinan’. Karya ini terinspirasi dari era modern ini di Bali yang sempat viral tentang istilah “melajah kebatinan” atau sebutan untuk orang orang yang memiliki halusinasi tentang spiritual terlalu tinggi, sehingga mengakibatkan kebingungan bahkan kegilaan dalam hidupnya. Pada fase tersebut banyak hal di luar nalar di nomor satukan. “Hal ini merupakan ketidak seimbangan yang berpotensi menyesatkan,” ucapnya.

Untuk memastikan hal tersebut, sebagai penari Kevin sempat melakukan reset terhadap ajaran leluhur masyarakat Bali tentang situs-situs kuno dan etika orang dahulu dalam menjalani spiritual. Ia kemudian ingin meluruskan perihal dan fenomena yang menurutnya timpang pada era sekarang.

“Pengamatan saya terhadap apa yang terjadi saat ini dan apa yang saya dapatkan dari sumber” tentang etika peradaban leluhur jelas berbeda. Pada era ini tentu banyak orang yang kurang percaya, memilih jalan praktis dan tidak menerima paham ini karena dianggap paham baru,” sebutnya.

Kevin kemudian mengatakan, berdasarkan pengamatannya pergeseran nilai pemaknaan suatu keyakinan dalam berspiritual lebih condong ke arah kepentingan pada era sekarang, dan berdampak luas bagi orang-orang sangat percaya dengan hal-hal tersebut.

“Berdasarkan fenomena itu, saya kemudian menciptakan teater tari kontemporer mengenai perjalanan dan pencaharian jati diri terhadap etika-etika leluhur Bali mengenai bhuana alit, dan teks tan hana darma mangrwa yang menjadi kegelisahan penata terhadap penerapannya di era yang penuh dengan kepentingan,” katanya.

Ketiga seniman ini pun mengakui, “Jelajah Sarira” ini terselenggara atas pertemuannya bersama Dayu Ani selaku pemilik Bumi Bajra. Mereka kemudian terkoneksi dengan Anom Darsana yang merupakan pemilik Antida Music Production.

Melalui nasehat dari Dayu Ani, ketiga koregrafer muda ini memiliki keberanian untuk melakukan pentas tunggal untuk pertama kalinya atas nama proses kreatif untuk menambah khasanah kesenian di Bali khususnya. Maka itu, “Jelajah Sarira” semakin lengkap dengan kehadiran Anom Darsana dengan Antida Music Production sebagai fasilitator artistik, sehingga Jelajah Sarira memiliki ruang presentasi yang memukau.

Jelajah Sarira hadir sebagai ruang penjelajahan sang diri, ruang untuk menempa kemampuan tubuh untuk terus menyelami menggali gagasan sebagai tawaran terhadap kesenian Bali khususnya tari.

“Penjelajahan sang diri tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi sebagai wujud perenungan bersama, siapa, mengapa, dan bagaimanakah aku di masa mendatang? Jelajah Sarira hadir sebagai ruang penciptaan untuk terus membaca kebudayaan Bali yang beririsan dengan masa kini,” kata mereka sepakat. [T][Pan/*]

Ritus Tari Seblang di Olehsari : Menari Bersama Leluhur dan Merayakan Dialog Antarbudaya Bali-Blambangan
Skala dan Citra | Catatan Selepas Menonton Layar Mulatari: Arsitektur Tubuh
Narasi Dramatari Penyalonarangan “Kala Ludra” di Pura Dalem Desa Adat Ubud
Tags: Antida Music ProductionAntida SoundgardenDayu Anikesenian baliseni taritari balitari kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

Next Post

Sajak-sajak Angga Wijaya | Bulan Mati di Kota

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails
Next Post
Sajak-sajak Angga Wijaya | Bulan Mati di Kota

Sajak-sajak Angga Wijaya | Bulan Mati di Kota

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co