23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta : Tiga Penari Mencari Sang Aku | Pentaskan “Jelajah Sarira” di Antida Music Production, 21 Mei 2023

tatkala by tatkala
May 20, 2023
in Panggung
Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta : Tiga Penari Mencari Sang Aku | Pentaskan “Jelajah Sarira” di Antida Music Production, 21 Mei 2023

Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta | Foto: Istimewa

KRISNA SATYA, PARAMA KESAWA, DAN KEVIN MULIARTA. Sebagai penari, kurang apa mereka?

Nama tiga penari itu cukup menonjol di Bali, bahkan dikenal juga dengan baik dalam dunia tari di Indonesia. Tentu karena mereka begitu giat melakukan proses pencarian dan menemukan kosa gerak dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam proses kreatif mereka.

Krisna Satya, Parama Kesawa, dan Kevin Muliarta. Sebagai penari, kurang apa mereka?

Mereka sudah banyak menemukan hal-hal baru, mereka sudah banyak mempresentasikan penemuan-penemuan mereka di atas panggung. Namun, dengan rendah hati, tiga penari itu masih mengakui diri: bahwa mereka masih berada dalam proses menemukan diri, menemukan sang aku, sehingga mereka terus mencari, terus mencari, tak puas-puas.

Untuk itulah mereka bekerja sama dengan Antida Music Production untuk mempresentasikan pencarian-pencarian mereka. Tiga penari itu akan mempertunjukkan satu proses dari tema “Jelajah Sarira” — Mencari Sang Aku Melalui Tari”.

Masing-masing dari mereka akan menyajikan karya tari pada Minggu, 21 Mei 2023 di Antida Sound Garden Jl. Waribang 32 Kesiman  Denpasar, Bali. 

Jelajah Sarira pertama kali dicetuskan dalam acara Rembug Sastra Purnama Bhadrawada tahun 2017. Dari rembug sastra itu tumbuh niat besar dalam diri penari untuk menjelajahi diri. Karena sesungguhnya Jelajah Sarira bukan hanya dalam sastra, namun juga bisa diseriusi dalam bentuk tari sebagai media untuk melihat dan memaknai kembali sang aku.

“Tari dengan tubuh (Sarira) sebagai medium bagaikan ladang yang harus terus dieksplorasi untuk menemukan dan menumbuhkan gagasan baru untuk menambah khasanah kesenian Bali khususnya Tari,” kata Dayu Ani.

Dayu Ani adalah dosen seni pertunjukan ISI Denpasar yang menjadi inisiator sekaligus sebagai pendorong terselenggaranya pementasan ketiga penri itu.

Jelajah Sarira adalah cara untuk menyelami diri, baik secara fisik maupun gagasan. Jelajah Sarira akan dibaca oleh tiga penari sekaligus koreografer muda, Krisna Satya, Parama Kesawa dan Kevin Muliarta, dengan begitu sungguh-sungguh.

Masing-masing koreografer memformulasikan gagasannya dalam bentuk karya tari yanng mencari kebaharuan.

“Saya rasa, dengan mengangkat Jelajah Sarira akan memiliki ruang yang lebih luas. Sebelumnya mereka mengusung tema Bali Balihan, sehingga tidak akan memberikan ruang seluas-luasnya bagi ketiga koreografer kreatif ini,” kata Dayu Ani.

Dalam pentas ini, Krisna Satya mengangkat “Slow Living” sebuah garapan tari tunggal yang terinspirasi dari upacara adat Bali yaitu Ngider Bhuwana.

Tradisi Ngider Bhuwana ditatap sebagai konsep, yang kemudian dibaca ulang. Tradisi melancaran yang ada di desanya sebagai laku untuk mengenali dan memaknai kembali wilayah sekitar dan ruang personalnya, dengan cara berjalan selangkah demi selangkah.

“Ngider bhuwana saya maknai sebagai ritus pertemuan antar personal di tengah kehidupan yang serba digital dan cepat,” ucap Krisna dísela-sela persiapan pentas, Kamis 18 Mei 2023. 

Krisna Satya| Foto: Istimewa

Dalam kehidupan yang serba cepat itu, Krisna Satya kemudian menciptakan karya tari bertajuk Slow Living. Ia meminjam pada istilah gaya hidup lambat, yang berawal dari Slow Food Movemant yang dibuat oleh Carlo Petrini tahun 1986. “Slow Living ini akan mengajak penonton sebagai performer untuk mengenali tubuh melalui pernafasan, dan mendekatkan diri dengan mengenali ruang sekitarnya. Dengan waktu yang melambat, kita akan dapat merenung, untuk bisa berbuat kedepan,” ungkapnya.

Sementara Parama Kesawa menyajikan karya bertajuk “Body Notation yang terinspirasi dari polymeter yang merupakan salah satu konsep ketukan yang biasa digunakan dalam teori musik, terutama dalam mengaransemen lagu. Polymeter memiliki fungsi untuk menciptakan efek seolah-olah ketukan dalam sebuah lagu terdengar tidak sinkron, walaupun ritme yang bermain tersebut sinkron.

Proses dari Polymeter masih dalam tahap menganalisa perhitungan yang membangun efek jalinan nada.

 “Sejauh ini, jenis komposisi musik polymeter dalam dunia tari, hanya digunakan sebagai ambience. Koreografinya sering mengabaikan jalinan ketukan yang telah dibuat. Nah, lewat garapan ini saya berupaya mensinkronisasikan musik dan tari melalui notasi terperinci dalam konsep Polymeter menjadi ide karya eksperimental ini,” paparnya.

Eksperimen ini berjudul Body Notation. Ia menggunakan tubuh sebagai instrument dalam mewujudkan konsep Polymeter secara bertahap, mulai dari tangan, kaki, selanjutnya ke seluruh tubuh. Karya ini ditarikan oleh dua orang penari. Ketukan dari setiap penari memiliki hitungan yang berbeda sampai akhirnya bertemu dalam kelipatan yang sama dan mulai lagi dari hitungan awal.

“Instrument musiknya menggunakan alat musik strings yang akan mengalirkan nada ke dalam tubuh penari sesuai notasi yang dibuat. Setting pertunjukan mengarah kepada kontrapungtis musik dengan dukungan pencahayaan khusus sebagai ambience bar musik,” jelasnya.

Sedangkan Kevin Muliarta menyajikan ‘Melajah Kebatinan’. Karya ini terinspirasi dari era modern ini di Bali yang sempat viral tentang istilah “melajah kebatinan” atau sebutan untuk orang orang yang memiliki halusinasi tentang spiritual terlalu tinggi, sehingga mengakibatkan kebingungan bahkan kegilaan dalam hidupnya. Pada fase tersebut banyak hal di luar nalar di nomor satukan. “Hal ini merupakan ketidak seimbangan yang berpotensi menyesatkan,” ucapnya.

Untuk memastikan hal tersebut, sebagai penari Kevin sempat melakukan reset terhadap ajaran leluhur masyarakat Bali tentang situs-situs kuno dan etika orang dahulu dalam menjalani spiritual. Ia kemudian ingin meluruskan perihal dan fenomena yang menurutnya timpang pada era sekarang.

“Pengamatan saya terhadap apa yang terjadi saat ini dan apa yang saya dapatkan dari sumber” tentang etika peradaban leluhur jelas berbeda. Pada era ini tentu banyak orang yang kurang percaya, memilih jalan praktis dan tidak menerima paham ini karena dianggap paham baru,” sebutnya.

Kevin kemudian mengatakan, berdasarkan pengamatannya pergeseran nilai pemaknaan suatu keyakinan dalam berspiritual lebih condong ke arah kepentingan pada era sekarang, dan berdampak luas bagi orang-orang sangat percaya dengan hal-hal tersebut.

“Berdasarkan fenomena itu, saya kemudian menciptakan teater tari kontemporer mengenai perjalanan dan pencaharian jati diri terhadap etika-etika leluhur Bali mengenai bhuana alit, dan teks tan hana darma mangrwa yang menjadi kegelisahan penata terhadap penerapannya di era yang penuh dengan kepentingan,” katanya.

Ketiga seniman ini pun mengakui, “Jelajah Sarira” ini terselenggara atas pertemuannya bersama Dayu Ani selaku pemilik Bumi Bajra. Mereka kemudian terkoneksi dengan Anom Darsana yang merupakan pemilik Antida Music Production.

Melalui nasehat dari Dayu Ani, ketiga koregrafer muda ini memiliki keberanian untuk melakukan pentas tunggal untuk pertama kalinya atas nama proses kreatif untuk menambah khasanah kesenian di Bali khususnya. Maka itu, “Jelajah Sarira” semakin lengkap dengan kehadiran Anom Darsana dengan Antida Music Production sebagai fasilitator artistik, sehingga Jelajah Sarira memiliki ruang presentasi yang memukau.

Jelajah Sarira hadir sebagai ruang penjelajahan sang diri, ruang untuk menempa kemampuan tubuh untuk terus menyelami menggali gagasan sebagai tawaran terhadap kesenian Bali khususnya tari.

“Penjelajahan sang diri tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi sebagai wujud perenungan bersama, siapa, mengapa, dan bagaimanakah aku di masa mendatang? Jelajah Sarira hadir sebagai ruang penciptaan untuk terus membaca kebudayaan Bali yang beririsan dengan masa kini,” kata mereka sepakat. [T][Pan/*]

Ritus Tari Seblang di Olehsari : Menari Bersama Leluhur dan Merayakan Dialog Antarbudaya Bali-Blambangan
Skala dan Citra | Catatan Selepas Menonton Layar Mulatari: Arsitektur Tubuh
Narasi Dramatari Penyalonarangan “Kala Ludra” di Pura Dalem Desa Adat Ubud
Tags: Antida Music ProductionAntida SoundgardenDayu Anikesenian baliseni taritari balitari kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

Next Post

Sajak-sajak Angga Wijaya | Bulan Mati di Kota

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails
Next Post
Sajak-sajak Angga Wijaya | Bulan Mati di Kota

Sajak-sajak Angga Wijaya | Bulan Mati di Kota

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co