23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sesuatu yang Saya Rindukan di Kampung Halaman

Dewa Ayu Yuliarini by Dewa Ayu Yuliarini
May 11, 2023
in Esai
Sesuatu yang Saya Rindukan di Kampung Halaman

Ilustrasi tatkala.co | Dewa Ayu Yuliarini

HARI ITU, sehabis pulang magang, saya mengendarai sepeda motor dengan kecepatan lebih dari biasanya. Telpon genggam saya sudah berdering berkali-kali, panggilan masuk dari adik dan ayah terus tertera di notifikasi.

Dasar, selalu tidak pernah sabaran ketika akan pulang kampung, begitulah pikir saya, sambil terus menambah kecepatan sepeda motor saya.

Benar saja, setibanya di rumah, ayah dan adik saya sudah siap berangkat, tinggal saya yang belum memersiapkan pakaian dan perlengkapan lain untuk pulang kampung.

Dengan tergesa-gesa, akhirnya saya hanya memasukkan satu set pakaian sembahyang, tanpa membawa baju ganti selain baju yang saya gunakan saat itu.

Saya memutuskan untuk melewati rutinitas seperti makan, mandi, atau step-step skincare dan body care lainnya. Ya, saya bergegas, sebelum ayah marah-marah karena menunggu lama. Itu hanya akan mempengaruhi mood saya di perjalanan (maklum saya orangnya sedikit baperan).

Benar, hari itu kami sedang beranjak dari kota kelahiran saya, menuju kota kelahiran ayah (orang-orang menyebutnya pulang kampung).

Kampung halaman ayah lumayan jauh, jarak tempuhnya sekitar 2 jam dengan kecepatan penuh, dan 2 jam 30 menit, jika kecepatan sedang. Dan itu selalu sukses membuat saya merasa lumayan bosan. Belum lagi ayah bukan tipe orang yang bisa diajak berhenti sejenak di Indomaret atau Alfamart, misal sekadar singgah membeli cemilan.

Sepanjang perjalanan menuju kampung halaman, adik saya fokus mengendarai motor, karena tidak ada teman ngobrol, pikiran saya jauh melayang mengingat perjalanan saya waktu kanak-kanak ketika pulang kampung.

Dulu bemo menjadi alternatif agar bisa sekadar pulang, atau naik motor berlima (ayah yang mengendarai, saya duduk di depan, ibu, dan kedua saudara saya di belakang). Tapi sekarang jauh berbeda, setelah dewasa, kami lebih sering pulang bertiga, atau hanya ayah sendiri.

***

Lahir dan hidup di kota lain, membuat saya tidak terlalu mengenal atau akrab dengan saudara-saudara saya di kampung halaman, ditambah saya yang seorang introvert ini, cenderung susah untuk bersosialisasi. Terkadang itu menjadi alasan saya malas diajak pulang kampung. Hehehe.

Meskipun saya malas bukan berarti saya tidak mau pulang kampung, bagaimana pun kampung halaman selalu menjadi hal yang saya rindukan.

Beberapa ingatan masa kecil saya tertinggal di sini, tentang masa kecil saya yang dulu sering berantem dengan saudara sepupu, diajak berkeliling kerumah kerabat ayah, serta bentuk bangunan di kampung halaman (karena berbeda bentuk bangunan di kota kelahiran saya, dan ayah saya) tidak luput dari kerinduan saya.

Rumah di kampung halaman memang sudah di renovasi jadi lebih modern, namun kerinduan bangunan lama bisa saya obati ketika berkunjung ke salah satu niang yang masih hidup sampai sekarang.

Dapur menjadi salah satu bangunan yang mengobati kerinduan saya. Ketika memasuki dapur Niang, hati saya menghangat. Atau tempat tidur yang sedikit usang itu, yang menambah kesan lampau. Atau tungku kompor yang masih menggunakan kayu bakar, lantai yang belum di keramik, uhh… sungguh saya ingin berlama-lama ada di dapur Niang—hanya sekadar untuk mengingat kenangan bersama Niang (Niang dari ayah) dulu.

Di dapur, Niang dulu senang sekali menceritakan kehidupan ayah semasa kecil, Niang juga menceritakan tentang Kakiang, dan menceritakan tentang leluhur yang numadi ke saya dan kedua saudara saya. Hmm… menuliskannya di sini membuat saya tambah merindukan Niang.

Berbicara tentang dapur, tidak menarik rasanya jika tidak membicarakan makanan, sayangnya tidak ada makanan khas yang saya ingat yang dimasak oleh niang saya.

Namun, ada satu makanan (dibelikan paman saya dulu) yang masih saya ingat sampai sekarang: bubur dengan bumbu gula bali.

Saya rindu dengan makanan itu, walaupun saya tidak terlalu menyukainya. Mulut saya yang terbiasa mengecap bubur dengan bumbu tempe, ayam sisit, urab, tentu tidak dapat begitu saja bisa menerima dengan baik bubur bumbu manis tersebut.

Beranjak dari kisah dapur, pikiran saya kembali melayang ketika dulu berniat membantu membuat canang, bukannya membantu, justru saya merusak canang yang di buat niang (maklum, waktu itu saya masih kecil, dan tidak terlalu pandai menggunakan semat) Hehe.

***

Dan, pulang setahun sekali, atau bahkan dua-tiga tahun sekali, membuat pertanyaan basa-basi tidak asing di pendengaran saya, seperti misal, “Kapan pulang? Sama siapa? Jam berapa berangkat? Sudah biasa menjadi topik obrolan. Sayangnya saya bukan tipe orang yang pintar basa-basi, sehingga jawaban dari pertanyaan basi-basi selalu saya dengan singkat.

Tunggu, ini bukan karena saya sombong, atau tidak mau belajar bersosialisasi di lingkungan kelahiran ayah, hanya saja perbedaan bahasa yang digunakan membuat saya sedikit kesusahan.

Kota kelahiran saya terkenal dengan penggunaan bahasa kasarnya agar lebih akrab, sementara kota kelahiran ayah selalu menggunakan bahasa Bali alus ketika mengobrol.

Selama dua puluh dua tahun hidup, saya habiskan di kota kelahiran, sudah dipastikan bahasa, tradisi, gaya hidup dan lain-lain sudah mengikuti kota kelahiran saya. Hal ini tentu sedikit membuat saya kesusahan, ketika harus menyesuaikan di kampung halaman ayah.

Ingin rasanya saya tinggal sedikit lebih lama di kota kelahiran ayah. Seingat saya, tak pernah lama kami di sana, paling sehari dua hari, dan itu tidak membuat saya merasa puas. Belum lagi hari-hari tersebut hanya saya lalui dengan ke merajan, atau mengikuti upacara melasti, dan selebihnya istirahat.

Humm… tidak ada kesempatan mengenal keluarga atau sepupu lebih jauh di kampung halaman.

Jika nanti ada kesempatan, ingin rasanya tinggal di sana lebih lama. Semoga terwujud. Hehe.[T]

*Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Ayah, Sosok yang Saya Kagumi
Hiduplah di Masa Kini, Jangan Hidup di Masa Lalu atau di Masa Depan!
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Good Looking!
Tags: esaikampung halamanrindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peduli Digitalisasi, Selamatkan Demokrasi | Seminar Edukasi di STAHN Mpu Kuturan

Next Post

Anak-anak yang Menjelma Burung Rantau

Dewa Ayu Yuliarini

Dewa Ayu Yuliarini

Lahir di Singaraja, tahun 2001. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Anak-anak yang Menjelma Burung Rantau

Anak-anak yang Menjelma Burung Rantau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co