22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jadikan Tabanan Sebagai Kota Pelangi

Dewa Nyoman Budiasa by Dewa Nyoman Budiasa
December 1, 2022
in Esai, Pilihan Editor
Jadikan Tabanan Sebagai Kota Pelangi

Dewa Nyoman Budiasa

“Semoga dengan dibongkarnya patung Bung Karno, Tabanan segera menjadi Kota Pelangi lagi,”

Beberapa waktu yang lalu sempat heboh soal pembongkaran patung Bung Karno di simpang Kediri oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan.

Bahkan, menurut cerita teman saya orang-orang rela hujan-hujanan saat malam untuk melihat pembongkaran patung yang terbuat dari perunggu ini.

Sebagai warga Tabanan, saya tidak begitu mengikuti sejarah bagaimana patung Bung Karno ini menjadi kontroversi atau buah bibir warga dan netizen. Tapi, ketika nyalon sebagai wakil Bupati Tabanan pada 2020 saya sempat mendengar isu soal patung ini.

Warga di Kecamatan Kediri konon katanya menginginkan patung ini digusur. Itu bagus, sehingga kontroversi pun selesai. Saya secara pribadi mengucapkan terimakasih pada Bupati Tabanan dan jajaran.

Entah kenapa, di banyak tempat ikon Sukarno bermunculan. Bahkan tidak hanya patung, Tabanan memiliki Taman Bung Karno. Di sana-lah patung karya Nyoman Nuarta diletakkan.

Mungkin, sebagai partai penguasa PDI Perjuangan harus menonjolkan trah Sukarno. Sehingga patung Sang Proklamator harus dibuat di banyak tempat. Ini secara logika sejalan dengan Tabanan yang dikenal sebagai basis partai banteng atau wilayah merah.

Dalam perjalanan pulang ke kampung di Tabanan, ada seorang teman asal Buleleng berkelakar pada saya. Ia mengatakan mungkin Tabanan ingin mendapat sebutan Kota Bung Karno. Senda gurau teman saya ini sah-sah saja. Apalagi sebelum itu, ia bilang harusnya Buleleng yang memperlakukan Bung Karno seperti itu karena ikatan historis.

Ngomong-ngomong soal sejarah, memang orang tua, tepatnya ibu Sukarno merupakan orang Buleleng, lebih tepatnya berasal dari wilayah Bale Agung.

Saya dalam obrolan itu tidak mau kalah. Tabanan juga punya sejarah tapi tidak berkaitan dengan patung Bung Karno. Saat itu saya menunjuk patung Sri Wedari yang berada di wilayah Sanggulan. Kebetulan mobil yang saya kendarai lewat di sana.

Sama-sama patung toh.

Teman saya bertanya, apa kaitannya dengan patung Sri Wedari?

Saya menjelaskan dengan sok tahu, bahwa Tabanan pada tahun 80’an pernah memiliki julukan sebagai Kota Pelangi. Teman saya terdiam sejenak.

Lantas ia bertanya lagi, apa kaitannya Patung Sri Wedari tadi dengan sebutan Kota Pelangi?

Saya jelaskan dengan seksama. “Dulu, di Tabanan dianggaplah wilayah yang sering hujan. Terutama di wilayah Kecamatan Baturiti, Kecamatan Penebel dan Kecamatan Pupuan,”

“Nah, setelah turun hujan akan ada gerimis. Saat gerimis ini, dalam cerita dongeng bidadari akan turun ke bumi,”

“Jika sepanjang tahun selalu ada gerimis, maka akan selalu ada pelangi. Makanya disebut Kota Pelangi,”

Mendengar cerita tadi, teman saya hanya ngangguk-ngangguk pelan. Tampaknya ia percaya dengan perkataan saya. Dalam hati saya hanya tertawa. Saya tidak mengetahui secara jelas asal muasal sebutan Kota Pelangi ini. Pastinya, pada tahun 80’an seingat saya ketika pulang ke kampung, radio sering mengatakan Tabanan adalah Kota Pelangi.

Sebagai seorang Ketua Partai Nasdem di Denpasar, plus pernah nyalon di Tabanan sebagai calon Wakil Bupati pada Pilkada 2020, tentu obrolan tidak sesedehana itu. Lagi-lagi saya bercerita, di era tahun 80’an Tabanan warnanya banyak. Maksud saya, warna partai politiknya. Ketika mendengar itu, teman tadi lebih serius melihat saya.

Saya mengutip pernyataan Filsuf Yunani Aristoteles yang mengatakan, dalam demokrasi setiap warga negara dapat saling berbagi kekuasaan di dalam negaranya sendiri. Jadi, setiap warga negara atau perwakilan warga negara berhak mendapatkan kekuasaan. Sehingga tidak ada kekuasaan absolut.

Mendengar penjelasan sok intelektual ini teman saya hanya berkata, “Ooooh,”

Beberapa detik setelahnya, “Duaaar,” ban depan mobil saya tidak sengaja melewati jalan berlubang. Bahkan, kami berdua sempat terguncang dari tempat duduk.

Lantas teman saya spontan berkata. “Semoga dengan dibongkarnya patung Bung Karno, Tabanan segera menjadi Kota Pelangi lagi,”

Kami pun tertawa. “Hahahahaaa….” [T][*]

Anak Muda Tabanan Menyoal Rempah Lewat Film Petualangan Tara dan Pramana
Mengenal Permainan Megandu dari Tabanan | Bisa Dikembangkan jadi Cabang Olahraga
Sejarah Perdagangan Beras Tabanan-Buleleng Lewat Short-cut Senganan-Bukit Puwun-Tamblingan
Tags: Dewa Nyoman BudiasaPatung Bung KarnoPatung SoekarnotabananTabanan Kota Pelangi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Winda Karuna Dita, Gadis Disabilitas yang Terus Melukis Hingga Jadi Tulang Punggung Keluarga

Next Post

Sri Diana Wati, Raih Emas di Porprov, Kini Kejar Tiket SEA Games 2023

Dewa Nyoman Budiasa

Dewa Nyoman Budiasa

Dewa Nyoman Budiasa [DNB], adalah Sekjen Kesatuan Pelaut Indonesia

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Sri Diana Wati, Raih Emas di Porprov, Kini Kejar Tiket SEA Games 2023

Sri Diana Wati, Raih Emas di Porprov, Kini Kejar Tiket SEA Games 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co