25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenal Permainan Megandu dari Tabanan | Bisa Dikembangkan jadi Cabang Olahraga

Made Nurbawa by Made Nurbawa
August 18, 2022
in Esai
Mengenal Permainan Megandu dari Tabanan | Bisa Dikembangkan jadi Cabang Olahraga

Permainan megandu khas Kabupaten Tabanan

Di atas tanah lapang petak sawah kering berlantai jerami, dari kejauhan saya melihat puluhan anak-anak putra dan putri sedang berkerumun membentuk lingkaran. Di bagian lain ada seorang bapak berdiri sambil memberi aba-aba.

Beberapa menit kemudian mulai terdengar riuh anak-anak. Mereka bersorak sorai bergembira sambil bergerak cepat melangkah ke kiri dan ke kanan. Ada juga yang bergerak ke tengah lingkaran lalu merunduk cepat mengambil sesuatu berbentuk bola-bola.  Pada waktu yang sama sebagian anak-anak nampak maju mundur seperti gerakan menghindar ketika didekati oleh seorang anak yang bergerak di tengah lingkaran. Anak yang di tengah lingkaran memegang tali panjang yang pangkalnya diikatkan di sebatang patok kayu.

Suara riuh anak-anak tak henti-henti, begitu juga para penonton yang ada di sekitarnya.  Suara keceriaan anak-anak itulah yang menggoda saya untuk bangkit, buru-buru saya habiskan sisa kopi di gelas yang masih tinggal separo, bergegas bangkit dari tempat duduk lalu mendekat ke arah kerumunan.

Itulah bagian dari permainan “Megandu” yang berasal dari Kabupaten Tabanan.  “Megandu” berarti “melempar” –bermain lempar-lemparan.

Saya pertamakali menonton permainan megandu pada “Festival ke Uma” di Banjar Ole, Desa Dauh Puri Marga, Kec. Marga, Kab. Tabanan Bali sekitar tahun 2017. Festival Ke Uma diselenggarakan di areal sawah yang baru saja habis panen.

Sistem Permainan

Tidak sulit untuk memahami pola dan sistem dasar dari permainan Megandu ini. Saat pertama kali lihat, Megandu dimainkan oleh sekitar 15 – 20 orang anak-anak putra dan putri. Konon jumlahnya bisa menyesuaikan tergantung tempat. Sebelum bermain, terlebih dahulu masing-masing peserta membuat bola-bola dari bahan jerami kering.

Jumlah bola jerami yang dibuat kira-kira sebanyak jumlah anak yang ikut bermain. Bola jerami itu kemudian ditaruh di dekat patok kayu. Setelah itu anak-anak berjejer membentuk pola lingkaran sehingga patok dan bola jerami percis ada ditengah-tengah lingkaran. Setelah itu dibuat seutas tali dari pelepah pisang kering atau lumrah disebut tali “upas”.

Panjang tali sekitar 3-4 meter atau menyesuaikan dengan tempat bermain. Salah satu ujung tali kemudian diikatkan di patok kayu yang ada di tengah lingkaran, percis seperti cara orang desa mengikatkan tali saat mengembalakan sapi lapangan rumput.

Setelah semuanya siap meraka kemudian “mejangkit” atau “syutt” untuk menentukan satu orang yang akan bertugas menjaga telor-telor jerami.  Setelah ada satu orang yang terpilih permainan Megandu pun bisa dimulai.

Foto: Anak-anak bermain megandu di areal sawah

Sistem permainannya yaitu; bola jerami yang terkumpul di tengah lingkaran ibarat telor yang harus dijaga oleh pemiliknya. Pemiliknya adalah mereka yang terpilih saat mejangkit. Pemilik atau si penjaga telor bertugas melindungi telor-telor tersebut dari gangguan dan berusaha agar telor tidak diambil.

Saat bersamaan peserta lain yang mengitari si penjaga harus mengambil telor-telor jerami  yang tergeletak di tengah sampai habis. Di situlah tantangannya, jika ada yang mendekat hendak mengambil telor, Si penjaga harus berusaha mengusir dengan cara mendekati orang tersebut sampai tersentuh tali.

Bisa dibayangkan gerakan dan langkah Si penjaga tentu dibatasi oleh panjang tali yang dipegangnya. Ibaratnya seekor sapi yang hendak mengusir pengganggu,  namun hanya bisa bergerak ke kiri ke kanan atau memutar sejauh panjang tali tersebut saja. Bagi yang tersentuh tali  saat mencoba mencuri atau mengambil telor akan gantian bertugas sebagai penjaga telor. Begitu seterusnya sampai telor-telor jerami itu habis.

Bisa dibayangkan saat proses itu berlangsung akan terjadi gerakan yang sangat cepat dan pariatif, maju-mundur, ke kiri ke kanan atau gerakan sigzag dari seluruh peserta membuat suasana permainan menjadi menarik. Saat itulah sorak sorai peserta dan penonton tak henti-henti sambil memperhatikan gerakan dan ketangkasan masing-masing peserta saat mengambil atau mempertahankan telor-telor itu.

Gema sorak sorai terdengar lebih keras manakala ada yang bisa mengambil telor jerami dengan aman tanpa tersentuh tali Si penjaga. Telor jerami itu dipegang sambil menunggu yang lain mampu mengambil telor jerami yang tersisa. Saat inilah dibutuhkan kerjasama, ketangkasan, teknik, kekuatan, konsentrasi, dan stamina agar mampu menjalankan tugas masing-masing. Semua itu akan dipantau oleh seorang wasit.

Menariknya saat permainan ini berlangung terdengar suara atau ucapan-ucapan mulai dari suara tertawa, ejekan, sanjungan, arahan dan sebagainya. Semuanya berlangsung dalam suasana ceria dan penuh keakraban. Semakin cepat telor jerami yang ada ditengah habis, maka semakin cepat pula satu babak permainan selesai.

Selanjutnya ketika telor-telor jerami yang ada di tengah sudah habis diambil atau “dicuri”, saat itulah peserta yang mendapatkan telor jerami langsung melemparkaan ke arah tubuh si penjaga terakhir. Ibaratnya itu sebuah hukuman karena si penjaga gagal melakukan tugas menjaga telor dari ulah pencuri.  Tentu saat dilempar telor jerami itu ke badan tidak merasa sakit, karena telor jerami tidak keras alias empuk. Sebaliknya yang dilempar malah ketawa cekikikan sambil berlari-lari memutar mencoba menghindar.

Lemparan hanya boleh dilakukan sekali saja, bola jerami yang sudah dilempar tidak boleh lagi dipungut untuk melempar kedua kalinya, tetapi tetap saja ada yang curang melempar berkali-kali sehingga wasit harus benar-benar melakukan pengawasan sesuai aturan hukum yang berlaku. Setelah itu permainan bisa diulang lagi seperti proses awal. Jadi satu babak permainan Megandu dengan jumlah pemain 15 – 20 orang durasinya rata-rata sekitar 5-7 menit.

Riwayat Permainan

Berdasarkan informasi dari salah seorang warga Banjar Ole yaitu Bapak Wayan Weda yang sehari-hari berporfesi sebagai guru di SMAN 1 Marga mengatakan, pada tahun 1957 permainan ini sudah populer di Banjar Ole. Wayan Weda mengaku pada tahun 1965 dirinya pertama kali ikut bermain Megandu dengan anak-anak seusianya di Banjar Ole. Pada tahun 1998 permainan megandu pernah ditampilkan di Pesta Kesenian Bali (PKB) XIX dan pada PKB ke-36 tahun 2015  kembali dipentaskan dalam bentuk tarian.

Kata Pak Weda permainan Megandu yang dilakukannya saat masa anak-anak dulu (1965) sistemnya sama persis seperti sekarang yang dimainkan anak-anak  di “Festival Ke Uma” 2017. Bermainnya pun dilakukan di tengah sawah (uma) sehabis panen padi.

Bedanya, dulu bola jerami di tengahnya dikasi “endut” yaitu lumpur sawah. Sehingga saat bola jerami itu dilempar ke arah tubuh teman-temannya  lumpur akan membuat badan jadi kotor blepotan, pada akhirnya semua akan blepotan juga oleh lumpur sawah, di situlah seninya, kemudian setelah bermain kita sama-sama mandi di sungai atau pancoran, terang Wayan Weda.

Lanjut Wayan Weda, memang benar permainan Megandu terinsiprasi dari seekor sapi yang merumput di tengah sawah sehabis panen atau sebelum musim tanam padi.  Saat pemilik sapi mencari sayuran di sawah, tali sapinya terlebih dahulu  diikat di sebuah patok kayu, sapi pun akan bergerak merumput sepanjang talinya saja. Akan terlihat jejak kaki sapi membentuk lingkaran dengan diameter sesuai panjang tali, begitu juga kotoran sapi yang tercecer menginspirasi dibuatnya telor-telor jarami tadi.

Foto: Bola jerami yang digunakan untuk permainan megandu

Apakah permainan ini asli dari Banjar Ole? Atau sebelumnya sudah ada di daerah lain? Wayan Weda mengaku sejak anak-anak ia belum pernah melihat dan mendengar permainan Megandu ada di desa lainnya. Entah, saya hanya mengenal pertama kali di Banjar Ole saja, tegas Wayan Weda. “Megandu” dalam bahasa lokal di Banjar Ole berarti “melempar”, imbuhnya.

Jadi berdasarkan data yang disampaikan oleh Wayan Weda di atas, maka setidaknya permainan Megandu sudah bertahan sekitar 60 tahun sejak dilihatnya pertama kali pada dari tahun 1957 hingga tahun 2017 ini saat berlangsungnya Festival ke Uma. Tetapi sangat mungkin permainan ini jauh lebih tua dari tahun tersebut karena Bapak Wayan Weda menyebut pada tahun 1957

Megandu sudah populer dan menjadi permainan favorit anak-anak di desanya. Mungkin permainan tradisional Megandu berkembang secara bertahap, dan para tetua kami dulu terus menyempurnakannya.

Penjelasan senada juga disampaikan oleh narasumber lainnya seperti Made Adnyana Ole, Agung Putradhyana, Nyoman Budarsana, Bakti Wiasa dan Erik Indrawan. Nama terakhir ini adalah seorang mahasiswa IHDN yang sedang meneliti permainan Megandu ini. Menurut Erik, permainan Megandu setidaknya memiliki 9 komponen (bio motorik) penting yang sangat sejalan dengan visi pendidikan, khususnya dalam pembentukan karakter positif pada anak-anak.

Jejak Budaya dan Sejarah

Yang menonjol dari permainan tradisional Megandu adalah sisi hiburannya (rekreasi). Sehingga saat dimainkan saat Festival ke Uma permainan ini mampu menyedot perhatian pengunjung dan sangat diminati oleh anak-anak dan sebagian besar berasal dari Banjar Ole, Marga.

Permaian Megandu menjadi salah satu permainan yang bisa memberi arti, bahwa Festival ke Uma 2017 walau dalam kesederhanaanya benar-benar sebuah momentum budaya.  Disebut “momentum budaya” karena festival ini syarat dengan muatan lokal, seperti adanya nilai dan norma lokal yang mendukung, juga berada dalam lingkup sistem sosial seperti Subak dan Desa Pakraman, terbukti materi acara dalam Festival ke Uma mampu menyedot partisipasi masyarakat lokal khususnya kalangan anak-anak.

Juga dari sisi bentuk (hartifak) juga nampak kuat, seperti materi dan jenis permainan, bahan dan materi pendukung yang digunakan semuanya adalah bahan yang lumrah digunakan oleh masyarakat petani di Banjar Ole.

Secara umum materi acara yang ditampilkan dalam Festival ke Uma kali ini berhasil mewakili, menjelaskan serta mengingatkan kembali sebuah peristiwa dan nilai-nilai kehidupan di sebuah desa. Festival yang memiliki unsur peringatan, perayaan sekaligus ungkapan kegembiraan dari para pelakunya yang dikemas sedemikian rupa dan tidak asing dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Hari itu anak-anak Banjar Ole seperti sedang ber-“Wisata Desa” di desanya sendiri.  Hal ini ditegaskan kembali oleh salah satu panitia bahwa “Wisata Desa” bukan berarti kita harus pergi berkunjung ke desa-desa lain. “Wisata  Desa” adalah bagaimana kita mengetahui, memahami, dan meyakini segala sesuatu yang ada di desa sendiri.

Festival Ke Uma adalah festival desa untuk warga desa itu sendiri. Hal-hal positif yang kita rasakan selanjutnya kita rawat dan pelihara sebagai pedoman hidup bagi diri dan mudah-mudahan hal positi itu dapat memberi bermanfaat juga bagi orang lain, terang panitia itu saat duduk bareng ngopi di tumpukan jerami kering.

Selanjutnya festival juga sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, misalnya bersyukur karena hasil panen padi tercapai sesuai harapan. Festival ke Uma yang dilaksanakan untuk pertama kalinya di banjar Ole, juga dilaksanakan di areal sawah saat habis panen padi.

Foto: Permainan megandu memang membuat anak-anak bergembira

Sesuai dengan riwayatnya dulu,  permainan Megandu yang digelar kali ini tidak beda jauh seperti apa yang diceritakan saat era tahun 1950 an silam. Begitu juga sarana dan bahan-bahan yang digunakan, semuanya adalah bahan-bahan yang biasa dijumpai saat pergi menuju sawah (uma), begitu juga lokasi kegiatannya dilakukan di kawasan Subak Uma Ole. Sehingga permainan Megandu dilihat dari latar belakangnya terdapat nilai-nilai, sistem sosial, serta pelaku dan bentuk permainan yang memang asli dan ada di Banjar Ole.

Dengan demikian permainan Megandu bisa disebut sebagai “permainan budaya”. Sebuah permainan yang menghibur sehigga bisa memulihkan stamina jiwa dan raga setelah lelah bekerja dalam ruang dan aktivitas budaya, seperti bertani di carik (sawah), melaksanakan panca yadnya dan tradisi lokal lainnya. Dengan pulihnya jiwa dan raga maka produktifitas pun akan terus tercipta-berkelanjutan.

Begitu juga dari sisi pengetahuan sejarah, ada banyak bukti yang bisa memberikan gambaran kepada kita bahwa jejak sebuah permainan atau olahraga bisa memberi petunjuk tentang peristiwa sejarah di masa lalu. Juga tentang perkembangan peradaban dari jaman ke jaman. Saya tidak ragu menyebutnya bahwa, permainan tradisional Megandu adalah salah satu simbul dari tatanan budaya dan produk sejarah yang pernah ada di tanah Ole dan sekitarnya.

Dari informasi yang berhasil saya kumpulkan ditengah-tengah acara festival berlangsung Minggu tanggal 25 Juni 2017 , beberapa petunjuk penting saya dengar dari beberapa warga  seperti adanya situs tua Pura Sangawang (Subak Sangawang) yang lokasinya tidak jauh dari lokasi festival. Juga tentang nama-nama desa/banjar di sekitarnya, juga tentang tarian kuno seperti tari Wali Sangyang Celeng yang konon pernah ada di sekitar wilayah itu.

Dan tentunya Banjar Ole juga sebagai pengingat tentang kisah-kisah eroik para pejuang kemerdekaan Indonesia yaitu saat perjalanan pasukan pejuang Ciung Wanara pimpinan I Gusti Ngurah Rai (pahlawan nasional), terutama menjelang terjadinya perang Puputan pada tanggal 20 Nopember 1946 di mana sehari sebelumnya sempat melakukan konsolidasi pasukan dan persembahayangan bersama di Pura Sangwang dan Pura Dalem Basa yang ada di Banjar Ole.

Sebuah Pemikiran

Patut disyukuri di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi yang sangat cepat,  masih ada orang-orang yang peduli untuk melestarikan permainan tradisional. Begitu juga sacara pemerintahan, kini mulai dilakukan langkah-langkah revitalisasi dan sosialisasi tentang kearifan permainan dan olahraga tradisional. Memang kalau kita pelajari, banyak  cabang olahraga yang kita kenal saat ini berakar dari permainan dan olahraga tradisi yang turun temurun.

Jika ditelusuri beberapa cabang olahraga prestasi yang ada sekarang ini merupakan permainan yang sangat purba seperti atletik, bela diri, catur dan sebagainya. Dalam dunia pemerintahan, cabang olahraga  tersebut digolongkan menjadi olahraga pendidikan, rekreasi maupun sebagai olahraga prestasi. Olahraga prestasi dikelompokan lagi menjadi cabang olahraga pemainan, cabang olahraga terukur, cabang olahraga beladiri dan cabang olahraga akurasi.

Dalam perkembangannya saat ini, meraih prestasi di bidang olahraga adalah salah satu indikator kuwalitas pembangunan di sebuah wilayah. Tidak sedikit cabang olahraga sengaja diperkenalkan ke berbagai belahan dunia sebagai bentuk pertukaran budaya.

Tidak menutup kemungkinan kedepan Megandu bisa dikembangkan sebagai olahraga resmi, olahraga rekreasi maupun olahraga prestasi. Dengan menambahkan beberapa aturan standar, kelak bisa saja Megandu dipertandingan antar klub maupun antar wilayah. Hal tersebut sempat saya diskusikan dengan Bapak Wayan Weda. Agar bisa dipertandingkan, permainan Megandu bisa ditambahkan metode dan sistem penilaiannya, misalnya mengenai durasi waktu, formasi, teknik dan kecepatan.

Begitu juga mengenai standar lapangan dan peralatannya. Riset-riset kearah sana penting untuk dilakukan, siapa tahu suatu saat nanti permainan tradisonal Megandu yang asli tumbuh dan berasal dari banjar Ole bisa menjadi duta budaya oleh bangsa dan negara di kancah dunia. Rahayu. (T)

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Kemerdekaan RI, Bupati Suradnyana dan Wabup Sutjidra Sampaikan Salam Perpisahan

Next Post

Wayan Sujana ”Jedur”: Legenda Drama Gong Puspa Anom dari Banyuning

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Wayan Sujana ”Jedur”: Legenda Drama Gong Puspa Anom dari Banyuning

Wayan Sujana ”Jedur”: Legenda Drama Gong Puspa Anom dari Banyuning

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co