23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Lokakarya, Kosa Tubuh dan Kejutan Bola Api dari Cak Rina

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
July 22, 2022
in Khas
Dari Lokakarya, Kosa Tubuh dan Kejutan Bola Api dari Cak Rina

Cak Rina

Seluruh peserta duduk di halaman yang dilapisi karpet, ada 2 pohon jepun di halaman itu, sesekali bunganya jatuh, saat peserta mengikuti gerakan I Ketut Rina (Cak Rina).

Ada anak-anak kecil duduk dekat pohon jepun, sejumlah panitia juga duduk khusyuk di Bale Dangin, sementara para pengabadi momen sibuk mencari posisi agar mendapat gambar yang estetik.

Foto: Latihan di halama rumah Cak Rina

Saat peserta menundukan kepala, lalu menggumamkan “mmmmmmmmmmm” sambil menggerakan badan ke kanan ke kiri, seorang wartawan yang saya kenal menghidupkan dupa yang ukurannya lebih panjang daripada dupa biasa. Harum dupa itu menusuk hidung, memberi suasana magis yang sulit untuk saya jelaskan.

“Magis sekali suasananya,” ujar Ayu Diah Cempaka, satu pengamat dalam proses  Temu Seni Tari Indonesia Bertutur

Padahal belum 1 jam kawan-kawan peserta latihan dengan Cak Rina, namun gerakan mereka tampak tak gagu, mungkin tubuh-tubuh mereka sudah memiliki bekal, sehingga bertemu dengan Cak Rina jadi lebih mudah, dibanding kawan-kawan yang tubuhnya masih dalam keadaan kosong.

Kamis 21 Juli 2021, merupakan satu program kunjungan budaya ke sanggar Cak Rina dalam acara Temu Seni Tari _ Indonesia Bertutur. Tujuan ke sanggar itu adalah untuk lokakarya, menelisik, kemudian lebih jauh mendalami nafas kesenian Cak Rina selama ia mendalami kecak dalam praktek artistiknya berkesenian.

“Mmmmmmmmmmmmm…”

“Iiiiiiiiiiiit…”

“ Es, es byuk sirrrr.”

“Siiiiiir dir dur dir, Siiir dir dur dir.”

“Pung, pung, pung, pung, pung…”

“Cak, cak, cak…”

“Cak, Cak, Cak, Cak, Cak…”

“Cak, Cak, Cak, Cak, Cak, Cak, Cak…”

Suara kedelapan belas peserta saling bertabrakan, saling mengisi, antara suara satu dengan yang lainnya. Berulang kali Cak Rina memberhentikan latihan, untuk memberikan arahan kepada peserta. Cak Rina saat itu bertelanjang dada, menggunakan kamen, saput, dan senteng, rambutnya terurai begitu saja, ada pernak pernik dan gelang menggelayut dipergelangan tangan mereka, sejumlah cincin di jarinya.

Foto: Latihan di Jaba Pura Khayanga Tiga Desa Teges

Saat ia membentangkan jari tangannya, dan tubuhnya menari kecak, rambut Cak Rina mengikuti arah gerakan. Peserta seolah terhipnotis lalu menirukan suara, gerakan, serta arahannya.

Seperti kita tahu, peserta Temu Seni Tari berasal dari berbagai kota di Indonesia seperti Laboan Bajo, Yogjakarta, Jakarta, Surakarta, Surabaya, Lampung, Jayapura, Jailolo dan lain sebagainya. Tentu memori tubuh mereka memiliki keberagaman gerak, endapan kultural yang lain, serta teks-teks gerak yang berbeda satu sama lainnya.

“Saya tidak mau gerakan kalian seragam, saya mau kalian menunjukan diri,” ujar Cak Rina di sela-sela lokakarya.

Meminjam kata-kata pemandu acara Desi Nurani, hadirlah kosa kata tubuh yang bermacam rupa dalam tari kecak Seni Temu Tari itu. Cak Rina tambah bersemangat ketika melihat gerakan Razan Wirjosanjojo-Yogjakarta yang meliuk tinggi, dengan tangan yang mengangkat melebihi kepala, kemudian Ayuni Praise – Laboan Bajo memulai gerakannya dengan melempar kedua tangannya ke bawah, lalu ke atas, dibarengi irama kaki yang berdecak-decak pendek. Sementara Kurniadi Ilham tampak bergoyang, melebarkan kuda-kuda kakinya, kedua tangannya pun demikian.

“Menari kecak, harus tersenyum, mata berinteraksi dengan kawan sebelahnya, tidak boleh sendiri-sendiri,” tegas Cak Rina

Seketika itu juga, wajah para peserta ceria, sambil mengucapkan cak,cak,cak , lalu menari ke sana kemari, melewati tubuh-tubuh penari lainnya. Saya yang melihat itu, terdiam sejenak. Memperhatikan bagaimana ruang-ruang kebudayaan tampak cair dalam satu tarian kecak. Aiiih Cak Rina memang penuh kejutan.

Foto: Pentas lokakarya

Lokakarya ini nantinya akan dipentaskan di Pura Khayangan Tiga, Banjar Teges Kanginan tidak jauh dari Sanggar Cak Rina. Setelah dirasa latihan cukup, kemudian kawan-kawan beranjak ke lokasi pentas dengan berjalan kaki. Saya memikirkan satu tulisan yang diberikan oleh Mbak Helly Minarti berjudul  Alam, Manusia dan Kesenian : Terciptanya Kecak Teges, dari Buku Sardono W. Kusumo Hanuman, Tarzan, Homo Erectus, di jalan aspal itulah Sardono dan warga Desa Teges bertemu, dalam tulisan ia mengatakan bahwa rumah-rumah di desa itu terlihat hidup karena ada anjing, ayam, babi, yang berkeliaran di halaman rumah.

Cak Rina juga mengatakan bahwa suasana desanya sering ia bawakan dalam garapan kecaknya, seperti anak bebek yang ditabrak oleh mobil penumpang. Dulu petani menggiring bebek ke sawah dengan mengandalkan sebuah kayu panjang, lalu datanglah mobil penumpang yang menabrak anak bebek secara tidak sengaja. Mobil penumpang itu baginya satu bentuk modernisasi yang memasuki wilayah desanya. Jadi konteksnya penting kemudian fragmen insiden tersebut di bawakan saat ia pentas.

“Kecak saya kebanyakan mengambil cerita orang desa, salah satunya bebek yang ditabrak mobil. Waktu itu mobil kan jarang (mengacu tahun 1974-an), jadi benda mewah itu penting, dan semua orang bengong melihat mobil,” ujarnya saat kami berbincang santai

Sekarang, di jalan aspal menuju tempat pentas banyak terlihat mobil-mobil pribadi parkir di depan rumah, ada yang ditutup dengan kain, ada juga yang dibuatkan garase dengan atap seng, berangka kayu.

Pentas Kawan Peserta dan Pentas Cak Rina (Ssst!! ini kejutan!)

Langit tampak mendung, bergumpal awan abu-abu saling tindih, tidak ada celah sinar matahari yang menjulur keluar. Pukul 18.00 Wita, hujan gerimis membasahi arena petunjukan, tapi bukan gerimis dengan bulir air yang besar, melainkan lembut, jatuhnya perlahan, kecil-kecil. Terlihat jelas ketika lampu di arena pertunjukan menyala.

Foto: Komang Adi Pranata (berdiri) menari

Beberapa panitia tampak kebingungan untuk menghalau hujan, padahal banten pejati dan banten lainnya sudah dihaturkan. Tapi kawan-kawan pementas, serta penonton yang hadir tidak bergeming, mereka seperti tidak menghiraukan kehadiran hujan. Seperti tidak terjadi apa-apa. Ada sebagian penonton yang menutup kepalanya dengan plastik, ada juga menutup kepala dengan robekan kotak makanan ringan, ada jaket, dan hanya beberapa saja yang membawa payung.

Pentas hari itu, tidak hanya menampilkan hasil lokakarya. Namun juga ada pementasan yang sudah disiapkan oleh peserta, baik pentas tunggal, ataupun kolaborasi. Ayu Anantha Putri – Bali, Gusbang Sada dan Razan Wirjosandjojo, Krisna Satya dan Ela Mutiara, Puri Senja dan Bathara Sawerigadi,  Ayu Permata Sari, I Komang Adi Pranata dan Alisa Soelaeman.

Setelah pementasan lokakarya bersama peserta. Ayu Ananta Putri peserta dari Bali tampil pertama, ia membawakan karya tunggal dengan judul Resap. Baginya tubuh mampu melihat, merasa, melangkah serta menggapai apa yang ia inginkan. Ia membentangkan narasi pengalaman melalui endapan-endapan laku tubuhnya.

Dari gerak pelan, kemudian cepat, dari geram, kemudian tersenyum. Sesekali agem tradisinya keluar masuk bersama agem – agem pengembangan yang ia lakukan. Cahaya lampu memancar ke tubuhnya, seketika ia hilang dalam gelap, tapi sejurus kemudian hadir kembali dalam bentuk yang berbeda.

Foto: Pentas Ayu Anantha Putri -Bali

Foto: Bathara Sawerigadi dan Puri Senja

Foto: Krisna Satya dan Ela Mutiara

Kemudian dilanjutkan Puri Senja dan Bathara Sawerigadi, pasangan ini tampak penyap di kerumunan penonton, samar bayang-bayang tubuhnya oleh redup, jatuh di tubuh penonton. Pelan-pelan memasuki panggung, kemudian berinteraksi seperti baru berkenalan.

Ada adegan puncak saat mereka melepaskan baju, mereka tarik menarik seperti enggan melepaskan. Apakah yang begitu diinginkan? Apakah yang berharga? keduanya masih menari, namun dalam tempo yang dinamis, liak-liuk tubuh mereka saling bersisian. Kemudian saling dekap, erat, membawa puri yang tampak lelah kembali ke kerumunan penonton.

Lantas Krisna Satya dan Ela Mutiara, masuk panggung dengan pelan, kaki-kaki mereka mantap menginjak lantai panggung. Tapi pelan. Tidak ada musik, berkali suara bambu berbenturan dengan lantai terdengar. Minimalis sekali suaranya, nampaknya suara itu tidak disengaja, atau sebagai dampak tubuh, bukan suatu estetika yang diharapkan dalam koreografi mereka.

Akhirnya dua bambu itu turut serta mengukur lantai panggung, tapi gerakan mereka seperti saling mengikuti satu sama lain, atau lebih tepatnya saling kejar mengejar. Siapa yang mengejar, atau siapa yang dikejar tidak tampak jelas. Dua bambu itu berada di bahu mereka, menjepit kedua kepalanya. Dalam tepuk tangan yang dibuat sebagai tempo, mereka berlari memutar panggung, kalau bambu terasa ingin jatuh, kedua tubuh itu bekerja sama agar posisinya kembali pada semula. Terakhir bambu jatuh, pementasan mereka selesai.

Foto: Gusbang Sada dan Razan Wirjosandjojo

Gusbang Sada dan Razan Wirjosandjojo tampil dengan judul dimensi. Mereka meminta anak-anak untuk mendekat ke arah mereka. Termasuk saya  juga ikut mendekat, kami menebak bentuk di tangan mereka yang sebelumnya telah disembunyikan dengan sarung warna hitam.

Kami memperagakan bentuk dengan tangan sendiri, lalu dikonfirmasi oleh Gusbang. Konfirmasi bentuk itu mereka lakukan tiga kali. Ada yang benar, ada juga yang kurang tepat, tapi yang jelas interaksi itu membuat suasana menjadi hidup dan anak-anak yang ikut berpartisipasi juga terlihat gembira.

Kemudian gerakan menjadi lebih serius, lebih lamban, dan tanpa interaksi ke penonton. Tapi kami penonton masih tetap bermain tebak-tebakan atas kejadian tak terlihat dibalik sarung. Sampai pementasan selesai kepala saya dipenuhi asumsi-asumsi

Foto: I Komang Adi Pranata

Seolah tidak mau melewatkan kesempatan Ayu Permata Sari, I Komang Adi Pranata dan Alisa Soelaeman mengambil kesempatan. Dipimpin oleh Ayu, para penonton yang tadinya mengikuti pementasan Gusbang dan Razan masih tetap di panggung, mereka membuat lingkaran sambil berkerumun. Lalu Ayu meminta penonton untuk memanggil nama mereka secara acak, sementara mereka bertiga berlarian mencari sumber suara. 

Mang Adi tampak menggeliat tubuhnya, lalu lari, lalu diam, lalu lari, lalu menari. Ayu tampak merangkak mencari suara, tubunya berlarian sambil menari, sementara Alisa sempat berlari kecil memutari lingkaran, lalu mendekat, lalu setengah berjongkok, lalu lari lagi. Anak-anak dan penonton lain, semakin keras memanggil nama mereka, sejurus itu juga mereka semakin cepat bergerak. Hingga akhirnya suara tak terdengar lagi, pementasan selesai.

“Iiiiiiiiiiiiiiiiiiit Sir buk, Sir buk, sir buk, sir buk!” Terdengar suara dari dalam pura.

27 orang penari kecak bertelanjang dada, memakai kamen dengan corak hitam putih masuk berhamburan ke panggung. Mereka menari kecak, ada 10 obor yang mereka bawa.  Suasana magis langsung memenuhi bangku penonton. Beberapa penonton yang tadinya duduk di bagian sisi, segera mengambil posisi ke bagian depan. Sebagian besar juga memegang gawai, untuk merekam adegan tersebut.

Foto: Pentas Sanggar Cak Rina

Cak Rina sebagai pemimpin repertoar koreo menari di tengah, rambut gondrongnya terurai begitu saja. Ekspresinya tampak galak, sambil mengucapkan arahan kepada para penari kecak. Dinamikapun berlanjut, ada komposisi gerak yang dilakukan bersama, ada pula yang dilakukan oleh sebagian orang.

Saya kira seluruh adegan akan berjalan menegangkan, saat anak-anak mengatakan “cik,cik,cik,cik” sambil menari menuju ke arah depan, ternyata terdapat adegan yang lucu. Cak Rina memegang kepala seorang anak kecil, lalu anak itu bersuara “cik,cik,cik,cik” berulang kali, wajahnya tampak senyum, dan suaranya kecil tapi terdengar lucu. Ada beberapa adegan lagi yang seperti itu, penonton pun terpingkal pingkal karena adegan anak anak tersebut.

“Suuuuuuuuuuuurrrrrh…” suara bola api dari kelapa kering menggelinding memecah kerumunan kecak. Semuanya kemudian berpencar memenuhi area, bola api ditendang ke sisi kiri oleh Cak Rina, penari pun berhamburan, kemudian ditendang lagi, berhamburan lagi, tapi suara kecak tetap bertalu, seolah alat komunikasi mereka untuk mencari tempat aman.

Bola api diambil oleh seorang penari, kemudian dilempar ke arah depan, suaranya mekuwus di udara, ada percikan serabut yang terbang lalu jatuh ke lantai, begitu beberapa kali yang dilakukan. Penonton pun berdecak kagum, tapi juga ketakutan, jika bola api itu mengarah pada mereka.

“Ini sebenarnya kejutan, nggak ada yang tahu Cak Rina akan maen,” ujar seorang panitia kepada saya

Kejutannya berhasil Cak! [T]

Foto: Sesi foto bersama

______

KLIK untuk baca laporan Temu Seni Tari – Indonesia Bertutur selengkapnya

Perjalanan Menuju Candi Tebing Gunung Kawi, Sebuah Pengalaman Waktu dan Ruang yang Liyan
Tags: baliIndonesia Bertuturseni tariTemu Seni Tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membuka Mata Terhadap Dunia Perbukuan Lewat Sosialisasi dari Pusat Perbukuan RI

Next Post

Di Balik Pura Samuan Tiga, Yang Tampak dan Tak Tampak | Dari Temu Seni Tari – Indonesia Bertutur

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Pura  Samuan Tiga, Yang Tampak dan Tak Tampak  | Dari Temu Seni Tari – Indonesia Bertutur

Di Balik Pura Samuan Tiga, Yang Tampak dan Tak Tampak | Dari Temu Seni Tari – Indonesia Bertutur

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co