12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Lokakarya, Kosa Tubuh dan Kejutan Bola Api dari Cak Rina

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
July 22, 2022
in Khas
Dari Lokakarya, Kosa Tubuh dan Kejutan Bola Api dari Cak Rina

Cak Rina

Seluruh peserta duduk di halaman yang dilapisi karpet, ada 2 pohon jepun di halaman itu, sesekali bunganya jatuh, saat peserta mengikuti gerakan I Ketut Rina (Cak Rina).

Ada anak-anak kecil duduk dekat pohon jepun, sejumlah panitia juga duduk khusyuk di Bale Dangin, sementara para pengabadi momen sibuk mencari posisi agar mendapat gambar yang estetik.

Foto: Latihan di halama rumah Cak Rina

Saat peserta menundukan kepala, lalu menggumamkan “mmmmmmmmmmm” sambil menggerakan badan ke kanan ke kiri, seorang wartawan yang saya kenal menghidupkan dupa yang ukurannya lebih panjang daripada dupa biasa. Harum dupa itu menusuk hidung, memberi suasana magis yang sulit untuk saya jelaskan.

“Magis sekali suasananya,” ujar Ayu Diah Cempaka, satu pengamat dalam proses  Temu Seni Tari Indonesia Bertutur

Padahal belum 1 jam kawan-kawan peserta latihan dengan Cak Rina, namun gerakan mereka tampak tak gagu, mungkin tubuh-tubuh mereka sudah memiliki bekal, sehingga bertemu dengan Cak Rina jadi lebih mudah, dibanding kawan-kawan yang tubuhnya masih dalam keadaan kosong.

Kamis 21 Juli 2021, merupakan satu program kunjungan budaya ke sanggar Cak Rina dalam acara Temu Seni Tari _ Indonesia Bertutur. Tujuan ke sanggar itu adalah untuk lokakarya, menelisik, kemudian lebih jauh mendalami nafas kesenian Cak Rina selama ia mendalami kecak dalam praktek artistiknya berkesenian.

“Mmmmmmmmmmmmm…”

“Iiiiiiiiiiiit…”

“ Es, es byuk sirrrr.”

“Siiiiiir dir dur dir, Siiir dir dur dir.”

“Pung, pung, pung, pung, pung…”

“Cak, cak, cak…”

“Cak, Cak, Cak, Cak, Cak…”

“Cak, Cak, Cak, Cak, Cak, Cak, Cak…”

Suara kedelapan belas peserta saling bertabrakan, saling mengisi, antara suara satu dengan yang lainnya. Berulang kali Cak Rina memberhentikan latihan, untuk memberikan arahan kepada peserta. Cak Rina saat itu bertelanjang dada, menggunakan kamen, saput, dan senteng, rambutnya terurai begitu saja, ada pernak pernik dan gelang menggelayut dipergelangan tangan mereka, sejumlah cincin di jarinya.

Foto: Latihan di Jaba Pura Khayanga Tiga Desa Teges

Saat ia membentangkan jari tangannya, dan tubuhnya menari kecak, rambut Cak Rina mengikuti arah gerakan. Peserta seolah terhipnotis lalu menirukan suara, gerakan, serta arahannya.

Seperti kita tahu, peserta Temu Seni Tari berasal dari berbagai kota di Indonesia seperti Laboan Bajo, Yogjakarta, Jakarta, Surakarta, Surabaya, Lampung, Jayapura, Jailolo dan lain sebagainya. Tentu memori tubuh mereka memiliki keberagaman gerak, endapan kultural yang lain, serta teks-teks gerak yang berbeda satu sama lainnya.

“Saya tidak mau gerakan kalian seragam, saya mau kalian menunjukan diri,” ujar Cak Rina di sela-sela lokakarya.

Meminjam kata-kata pemandu acara Desi Nurani, hadirlah kosa kata tubuh yang bermacam rupa dalam tari kecak Seni Temu Tari itu. Cak Rina tambah bersemangat ketika melihat gerakan Razan Wirjosanjojo-Yogjakarta yang meliuk tinggi, dengan tangan yang mengangkat melebihi kepala, kemudian Ayuni Praise – Laboan Bajo memulai gerakannya dengan melempar kedua tangannya ke bawah, lalu ke atas, dibarengi irama kaki yang berdecak-decak pendek. Sementara Kurniadi Ilham tampak bergoyang, melebarkan kuda-kuda kakinya, kedua tangannya pun demikian.

“Menari kecak, harus tersenyum, mata berinteraksi dengan kawan sebelahnya, tidak boleh sendiri-sendiri,” tegas Cak Rina

Seketika itu juga, wajah para peserta ceria, sambil mengucapkan cak,cak,cak , lalu menari ke sana kemari, melewati tubuh-tubuh penari lainnya. Saya yang melihat itu, terdiam sejenak. Memperhatikan bagaimana ruang-ruang kebudayaan tampak cair dalam satu tarian kecak. Aiiih Cak Rina memang penuh kejutan.

Foto: Pentas lokakarya

Lokakarya ini nantinya akan dipentaskan di Pura Khayangan Tiga, Banjar Teges Kanginan tidak jauh dari Sanggar Cak Rina. Setelah dirasa latihan cukup, kemudian kawan-kawan beranjak ke lokasi pentas dengan berjalan kaki. Saya memikirkan satu tulisan yang diberikan oleh Mbak Helly Minarti berjudul  Alam, Manusia dan Kesenian : Terciptanya Kecak Teges, dari Buku Sardono W. Kusumo Hanuman, Tarzan, Homo Erectus, di jalan aspal itulah Sardono dan warga Desa Teges bertemu, dalam tulisan ia mengatakan bahwa rumah-rumah di desa itu terlihat hidup karena ada anjing, ayam, babi, yang berkeliaran di halaman rumah.

Cak Rina juga mengatakan bahwa suasana desanya sering ia bawakan dalam garapan kecaknya, seperti anak bebek yang ditabrak oleh mobil penumpang. Dulu petani menggiring bebek ke sawah dengan mengandalkan sebuah kayu panjang, lalu datanglah mobil penumpang yang menabrak anak bebek secara tidak sengaja. Mobil penumpang itu baginya satu bentuk modernisasi yang memasuki wilayah desanya. Jadi konteksnya penting kemudian fragmen insiden tersebut di bawakan saat ia pentas.

“Kecak saya kebanyakan mengambil cerita orang desa, salah satunya bebek yang ditabrak mobil. Waktu itu mobil kan jarang (mengacu tahun 1974-an), jadi benda mewah itu penting, dan semua orang bengong melihat mobil,” ujarnya saat kami berbincang santai

Sekarang, di jalan aspal menuju tempat pentas banyak terlihat mobil-mobil pribadi parkir di depan rumah, ada yang ditutup dengan kain, ada juga yang dibuatkan garase dengan atap seng, berangka kayu.

Pentas Kawan Peserta dan Pentas Cak Rina (Ssst!! ini kejutan!)

Langit tampak mendung, bergumpal awan abu-abu saling tindih, tidak ada celah sinar matahari yang menjulur keluar. Pukul 18.00 Wita, hujan gerimis membasahi arena petunjukan, tapi bukan gerimis dengan bulir air yang besar, melainkan lembut, jatuhnya perlahan, kecil-kecil. Terlihat jelas ketika lampu di arena pertunjukan menyala.

Foto: Komang Adi Pranata (berdiri) menari

Beberapa panitia tampak kebingungan untuk menghalau hujan, padahal banten pejati dan banten lainnya sudah dihaturkan. Tapi kawan-kawan pementas, serta penonton yang hadir tidak bergeming, mereka seperti tidak menghiraukan kehadiran hujan. Seperti tidak terjadi apa-apa. Ada sebagian penonton yang menutup kepalanya dengan plastik, ada juga menutup kepala dengan robekan kotak makanan ringan, ada jaket, dan hanya beberapa saja yang membawa payung.

Pentas hari itu, tidak hanya menampilkan hasil lokakarya. Namun juga ada pementasan yang sudah disiapkan oleh peserta, baik pentas tunggal, ataupun kolaborasi. Ayu Anantha Putri – Bali, Gusbang Sada dan Razan Wirjosandjojo, Krisna Satya dan Ela Mutiara, Puri Senja dan Bathara Sawerigadi,  Ayu Permata Sari, I Komang Adi Pranata dan Alisa Soelaeman.

Setelah pementasan lokakarya bersama peserta. Ayu Ananta Putri peserta dari Bali tampil pertama, ia membawakan karya tunggal dengan judul Resap. Baginya tubuh mampu melihat, merasa, melangkah serta menggapai apa yang ia inginkan. Ia membentangkan narasi pengalaman melalui endapan-endapan laku tubuhnya.

Dari gerak pelan, kemudian cepat, dari geram, kemudian tersenyum. Sesekali agem tradisinya keluar masuk bersama agem – agem pengembangan yang ia lakukan. Cahaya lampu memancar ke tubuhnya, seketika ia hilang dalam gelap, tapi sejurus kemudian hadir kembali dalam bentuk yang berbeda.

Foto: Pentas Ayu Anantha Putri -Bali

Foto: Bathara Sawerigadi dan Puri Senja

Foto: Krisna Satya dan Ela Mutiara

Kemudian dilanjutkan Puri Senja dan Bathara Sawerigadi, pasangan ini tampak penyap di kerumunan penonton, samar bayang-bayang tubuhnya oleh redup, jatuh di tubuh penonton. Pelan-pelan memasuki panggung, kemudian berinteraksi seperti baru berkenalan.

Ada adegan puncak saat mereka melepaskan baju, mereka tarik menarik seperti enggan melepaskan. Apakah yang begitu diinginkan? Apakah yang berharga? keduanya masih menari, namun dalam tempo yang dinamis, liak-liuk tubuh mereka saling bersisian. Kemudian saling dekap, erat, membawa puri yang tampak lelah kembali ke kerumunan penonton.

Lantas Krisna Satya dan Ela Mutiara, masuk panggung dengan pelan, kaki-kaki mereka mantap menginjak lantai panggung. Tapi pelan. Tidak ada musik, berkali suara bambu berbenturan dengan lantai terdengar. Minimalis sekali suaranya, nampaknya suara itu tidak disengaja, atau sebagai dampak tubuh, bukan suatu estetika yang diharapkan dalam koreografi mereka.

Akhirnya dua bambu itu turut serta mengukur lantai panggung, tapi gerakan mereka seperti saling mengikuti satu sama lain, atau lebih tepatnya saling kejar mengejar. Siapa yang mengejar, atau siapa yang dikejar tidak tampak jelas. Dua bambu itu berada di bahu mereka, menjepit kedua kepalanya. Dalam tepuk tangan yang dibuat sebagai tempo, mereka berlari memutar panggung, kalau bambu terasa ingin jatuh, kedua tubuh itu bekerja sama agar posisinya kembali pada semula. Terakhir bambu jatuh, pementasan mereka selesai.

Foto: Gusbang Sada dan Razan Wirjosandjojo

Gusbang Sada dan Razan Wirjosandjojo tampil dengan judul dimensi. Mereka meminta anak-anak untuk mendekat ke arah mereka. Termasuk saya  juga ikut mendekat, kami menebak bentuk di tangan mereka yang sebelumnya telah disembunyikan dengan sarung warna hitam.

Kami memperagakan bentuk dengan tangan sendiri, lalu dikonfirmasi oleh Gusbang. Konfirmasi bentuk itu mereka lakukan tiga kali. Ada yang benar, ada juga yang kurang tepat, tapi yang jelas interaksi itu membuat suasana menjadi hidup dan anak-anak yang ikut berpartisipasi juga terlihat gembira.

Kemudian gerakan menjadi lebih serius, lebih lamban, dan tanpa interaksi ke penonton. Tapi kami penonton masih tetap bermain tebak-tebakan atas kejadian tak terlihat dibalik sarung. Sampai pementasan selesai kepala saya dipenuhi asumsi-asumsi

Foto: I Komang Adi Pranata

Seolah tidak mau melewatkan kesempatan Ayu Permata Sari, I Komang Adi Pranata dan Alisa Soelaeman mengambil kesempatan. Dipimpin oleh Ayu, para penonton yang tadinya mengikuti pementasan Gusbang dan Razan masih tetap di panggung, mereka membuat lingkaran sambil berkerumun. Lalu Ayu meminta penonton untuk memanggil nama mereka secara acak, sementara mereka bertiga berlarian mencari sumber suara. 

Mang Adi tampak menggeliat tubuhnya, lalu lari, lalu diam, lalu lari, lalu menari. Ayu tampak merangkak mencari suara, tubunya berlarian sambil menari, sementara Alisa sempat berlari kecil memutari lingkaran, lalu mendekat, lalu setengah berjongkok, lalu lari lagi. Anak-anak dan penonton lain, semakin keras memanggil nama mereka, sejurus itu juga mereka semakin cepat bergerak. Hingga akhirnya suara tak terdengar lagi, pementasan selesai.

“Iiiiiiiiiiiiiiiiiiit Sir buk, Sir buk, sir buk, sir buk!” Terdengar suara dari dalam pura.

27 orang penari kecak bertelanjang dada, memakai kamen dengan corak hitam putih masuk berhamburan ke panggung. Mereka menari kecak, ada 10 obor yang mereka bawa.  Suasana magis langsung memenuhi bangku penonton. Beberapa penonton yang tadinya duduk di bagian sisi, segera mengambil posisi ke bagian depan. Sebagian besar juga memegang gawai, untuk merekam adegan tersebut.

Foto: Pentas Sanggar Cak Rina

Cak Rina sebagai pemimpin repertoar koreo menari di tengah, rambut gondrongnya terurai begitu saja. Ekspresinya tampak galak, sambil mengucapkan arahan kepada para penari kecak. Dinamikapun berlanjut, ada komposisi gerak yang dilakukan bersama, ada pula yang dilakukan oleh sebagian orang.

Saya kira seluruh adegan akan berjalan menegangkan, saat anak-anak mengatakan “cik,cik,cik,cik” sambil menari menuju ke arah depan, ternyata terdapat adegan yang lucu. Cak Rina memegang kepala seorang anak kecil, lalu anak itu bersuara “cik,cik,cik,cik” berulang kali, wajahnya tampak senyum, dan suaranya kecil tapi terdengar lucu. Ada beberapa adegan lagi yang seperti itu, penonton pun terpingkal pingkal karena adegan anak anak tersebut.

“Suuuuuuuuuuuurrrrrh…” suara bola api dari kelapa kering menggelinding memecah kerumunan kecak. Semuanya kemudian berpencar memenuhi area, bola api ditendang ke sisi kiri oleh Cak Rina, penari pun berhamburan, kemudian ditendang lagi, berhamburan lagi, tapi suara kecak tetap bertalu, seolah alat komunikasi mereka untuk mencari tempat aman.

Bola api diambil oleh seorang penari, kemudian dilempar ke arah depan, suaranya mekuwus di udara, ada percikan serabut yang terbang lalu jatuh ke lantai, begitu beberapa kali yang dilakukan. Penonton pun berdecak kagum, tapi juga ketakutan, jika bola api itu mengarah pada mereka.

“Ini sebenarnya kejutan, nggak ada yang tahu Cak Rina akan maen,” ujar seorang panitia kepada saya

Kejutannya berhasil Cak! [T]

Foto: Sesi foto bersama

______

KLIK untuk baca laporan Temu Seni Tari – Indonesia Bertutur selengkapnya

Perjalanan Menuju Candi Tebing Gunung Kawi, Sebuah Pengalaman Waktu dan Ruang yang Liyan
Tags: baliIndonesia Bertuturseni tariTemu Seni Tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membuka Mata Terhadap Dunia Perbukuan Lewat Sosialisasi dari Pusat Perbukuan RI

Next Post

Di Balik Pura Samuan Tiga, Yang Tampak dan Tak Tampak | Dari Temu Seni Tari – Indonesia Bertutur

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Pura  Samuan Tiga, Yang Tampak dan Tak Tampak  | Dari Temu Seni Tari – Indonesia Bertutur

Di Balik Pura Samuan Tiga, Yang Tampak dan Tak Tampak | Dari Temu Seni Tari – Indonesia Bertutur

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co