2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanah, Pijakan, dan Kegelisahan pada yang Asing | Catatan dari Temu Seni di Kutai

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 31, 2022
in Khas
Tanah, Pijakan, dan Kegelisahan pada yang Asing | Catatan dari Temu Seni di Kutai

Peserta, panitia dan fasilitator acara Temu Seni di Kutai, Kaltim | Foto: dok panitia

Aku tak percaya pada ketinggian—sebagaimana aku percaya pada tanah—ia tak menjanjikan keselamatan dan aku percaya bahwa keselamatan berada pada pijakan. Meskipun, pantat berpijak pada tali yang dibuat kuat, tapi seutas tali tak mampu menandingi, atau sekadar memberi perasaan aman sebagaimana tanah. Betul, orang perlu pegangan, kepercayaan, pijakan, dan tali adalah pijakan. Tapi tali tak mampu memberi kepercayaan: aku tak bisa berpijak pada tali yang kemudian membuat siapa pun meluncur lalu terkejut dengan caranya berhenti.

Di ujung luncur Flying fox, langit seolah rendah, dan tanah tampak begitu jauh di titik awal luncur. Kau tahu, di bawah jalur luncur adalah tanah merah, lalu beton, dan kolam. Tanah merah yang keras tentu tak menjamin keselamatan, sebagaimana beton, dan kolam memberi keyakinan itu, tapi hanya pada orang yang bisa berenang. Aku tidak bisa berenang.

“Aha!” Aku seolah memiliki ide untuk mengatasi ketakutan itu, “Menatap langit sebagaimana menatapnya dari tanah barangkali adalah cara untuk yakin,” pikirku.

Di ujung tatapan, aku sejajar dengan barisan bukit yang dipenuhi rerimbunan, juga awan, tapi sialnya, angin berembus kencang. Kakiku seperti sayur yang dipetik kemarin siang. Aku meminta kepastian aba-aba untuk memastikan persiapanku: mengatur posisi tali, menarik napas, dan berdoa—aku akan berdoa sepanjang jalur luncur—memegang kuat tali pinggang, berteriak agar keluar segala khawatir, tapi jangan berharap rencana berjalan mulus dalam situasi seperti ini. Penjaga mendorongku setelah hitungan ketiga. Kakiku lemas. Di tengah jalan, seolah-olah seutuh ruh tertinggal di tempat awal. “Aku akan pingsan!” gumamku dalam hati.

Berpose bersama penari

Beseluncur pada flying fox barangkali tak ada bedanya dengan memainkan satu pertunjukan. Aku perlu satu pegangan, keyakinan, seperti tanah. Tapi, meluncur pada flying fox memberi peluang lain, dan ini tetap permainan. Tapi, “Sesungguhnya, hal apa yang membuatku takut dengan ketinggian?” pikirku, “padahal, tanah tetap tak menjamin utuh keselamatan.” Ia bisa tiba-tiba retak, sebagaimana yang terjadi dalam film atau berita, longsor yang menimbun banyak orang, tanah berlumpur yang membuat seseorang terpeleset lalu jatuh dan patah tulang ekor, dan sebagainya. Tapi, aku percaya pada tanah.

Kegiatan ini berlangsung di Ladaya, Kutai, Kartanagara, Kalimantan Timur dalam rangka Temu Seni—salah satu rangkaian acara Indonesia Bertutur tahun 2022, diselenggarakan Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud Ristek—khususnya Monolog dari tanggal 18-24 Mei. Dan flying fox adalah satu selingan dalam persiapan pertunjukan. Selama kegiatan, kami mendapat luang untuk ngobrol. Dan terjadilah yang mestinya terjadi. Sesuatu yang baru kadang membuat kita merasa asing, meskipun sesuatu itu mirip dengan hal yang ada di sekitar kita: tanah di Kalimantan—sekurang-kurangnya dari yang kulihat—berwarna lebih cerah dari tanah di Bali. Tanah tampak begitu keras.

“Jika hujan, kita masih aman, tapi setelah hujan, jalan akan menjadi lumpur dan kita harus menunggu alat berat untuk meratakan jalan, membersihkan lumpur,” kata Rende Preyatno, seorang peserta Temu Seni asal Tenggarong yang tetiba menjadi pemandu kami.

“Begitu terus setiap hujan?” balasku.

“Ya.”

“Aspal?”

Dia tersenyum dan mengangkat bahu.

Sesi diskusi | Foto: Andi Eswe

Pada 20 Mei 2022, jadwal sedikit berubah: tak ada berbagi metode, tak ada latihan olah tubuh. Kami menuju Desa Lekaq Kidau, kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Sepanjang perjalanan, aku tak bisa tidur, dan tidur adalah bentuk kantuk yang paling bebal di jalan menuju perkampungan Dayak Kenyah itu. Sehari sebelumnya, fasilitator memanggilku pasca diskusi antar peserta.

“Kita ngobrol sebentar, Agus,” kata Andy Eswe selaku fasilitator.

“Kenapa, Mas?” balasku.

“Agus mau pentas besok?” katanya.

Aku tak bisa segera menjawab. Dua fasilitator, Andy Eswe dan Sri Qadariatin yang akrab disapa Uung, tetap pada posisi duduknya, menungguku mengangguk atau menggeleng, barangkali.

Pilihan yang sulit. Ini adalah kali pertama aku berkunjung ke Kalimantan, begitu pula dengan perkampungan dan orang-orangnya tapi cerita yang aku bawa berangkat dari mitos lokal, tentang maling yang mengencingi Bulan Pejeng tapi ini peluang pentas di tempat yang barangkali hanya kukunjungi sekali seumur hidup tapi seharusnya persiapan lebih panjang dan matang tapi tidakkah terlalu cepat bila diterima? tapi kesempatan tak akan datang lagi tapi bagaimana kalau semua mengalir saja? Ah….

Dengan gegas aku menjawab, “Iya”.

Aku, Fuadi S Keulayu asal Aceh, dan Novita Andriani Butar Butar asal Medan tampil di Lamin, semacam pendopo bagi masyarakat suku Dayak Kenyah. Pagi itu, Fuadi lebih mirip teh hangat ketimbang bening pagi, dan novita yang biasanya bicara dengan lugas, sepanjang jalan tak terlalu banyak berkisah, dan aku sudah menelan antimo agar lelap, tapi tentu sebagaimana kukatakan sebelumnya, aku tetap terjaga. Ada hal yang membuat kami tampak gelisah: tentu saja.

Tanah terlihat merah, kadang orange, cokelat pekat, dan tampak keras. Warna yang sama juga mendominasi air sungai Mahakam yang menjadi jalur penyeberangan kami, dan sesampai di Lekaq Kidau, hatiku berdegup. Di pinggir jalan yang tampak seperti rawa-rawa, jejeran bunga lotus putih tumbuh rimbun seperti taman bunga. Sebagian tanaman itu sedang mekar-mekarnya, sebagian lagi didominasi daun. Aku tetiba terbayang taman bagi para kaisar Jepang, barangkali juga karena orang di Lekaq Kidau memiliki kulit dan mata yang mirip dengan orang di negara itu.

Di ujung pandangan, bebukitan berbaris. Aku tak melihat satu pun rumah di bukit itu, tapi udara gerah begitu aku baru turun dari mobil, suhu mencapai 28 derajat celcius, sinyal lenyap, keringat tak ada putusnya dan orang-orang tersenyum dan tetua adat menyambut kami di pintu depan Lamin dan membacakan doa dengan bahasa setempat: berahap hal buruk terputus begitu memasuki pintu Lamin.

Lamin itu kurang lebih seukuran lapangan voli—tentu sangat luas untuk menjadi sebuah panggung—terbuat dari kayu, dan berdiri di atas rawa. Di dalam Lamin, terdapat beberapa tiang, sebuah panggung kecil di tepi, cukup kecil untuk ukuran bangunan seluas lapangan volly; tribal sepanjang tembok yang tersusun dari kayu ulin, dan jendela tak berdaun dan bebukitan terlihat dari sana. Keasingan kadang membawa kita pada bayangan tertentu: bukit dan benteng, misalnya.

Tarian dimulai, sebuah pertunjukan yang mengisahkan pernikahan adat dan pertarungan.

Kegiatan di Lamin, Lekaq Kidau | Foto dok pribadi

Aku duduk bersama peserta Indonesia Bertutur di tengah, dan masyarakat Lekaq Kidau duduk di pinggir. Penari perempuan memainkan bulu burung yang sudah tersusun di tangannya, menyusul sebaris laki-laki yang memegang tameng kayu, menghentak-hentak kaki di lantai Lamin. Tetiba, seseorang seperti menjerit. Aku tak tahu asal suara itu. Mataku pun sibuk mencari sumber suara, lalu orang lain membalasnya, ruangan menjadi ramai, dan suara seperti mengitari kami.

Suara lantai yang dihentak-hentak ikut memenuhi ruangan. Kaki para penari terlihat begitu kokoh, sebagaimana Lamin yang berdiri di atas rawa itu. Situasi ini mengingatkanku pada situasi tanah Bali dan bentuk gerak kaki pada tari Bali. Tanah sawah yang berlumpur dan gerak menginjak lumpur untuk pematang. Barangkali, Kondisi tanah berperan besar untuk membidani bentuk, atau jenis kesenian tertentu. Sementara itu, apakah karena tanah merah itulah kemudian lahir bentuk hentakan seperti itu?

Hal yang sama kurasa ketika mendengar pertunjukan dari Fuadi S Keulayu. Ia membawakan satu kesenian dari Aceh, yaitu hikayat dengan bahasa ulang alik Indonesia-Aceh. Aku tertegun karena sepanjang jalan di awal pertemuan, Fuadi mengisahkan kecemasannya pada pentas, dan permainan biola yang ia katakan seadanya, “Hanya sebagai pengiring,” terangnya. Tapi, ia berhasil membangun suasana pesisir dalam pertunjukannya; aku seperti mendengar desau angin, ombak, dan nyanyian di antara situasi itu. Aku merasakan kesenian yang lahir dari tanah pesisir itu.

Pertunjukan-pertunjukan ini pula yang membuat aku memikirkan kembali tentang ketakutanku dengan ketinggian, kepercayaan pada tanah tapi sesungguhnya kaki dibatasi sandal atau sepatu, keseharian di depan ponsel, laptop, sepeda motor. Hal apa yang lahir dari semua kebiasaan itu? Pertunjukanku berlangsung setelah pertunjukan Fuadi. Apakah aku akan meluncur? Bisakah aku percaya pada seutas tali yang sedikit lebih besar dari ibu jari? Aku harap mengalir! [T]

Tenggarong-Denpasar, 2022

Tags: KalimantanSeniseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dokter Arya: Kesehatan, Bukan Hanya Harus Dijaga, Tapi Juga Harus Ditulis

Next Post

BELAJAR DARI DESA PEDAWA: RATU SURAT-MELAYU & RATU NGURAH MELAYU

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

BELAJAR DARI DESA PEDAWA: RATU SURAT-MELAYU & RATU NGURAH MELAYU

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co