12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanah, Pijakan, dan Kegelisahan pada yang Asing | Catatan dari Temu Seni di Kutai

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 31, 2022
in Khas
Tanah, Pijakan, dan Kegelisahan pada yang Asing | Catatan dari Temu Seni di Kutai

Peserta, panitia dan fasilitator acara Temu Seni di Kutai, Kaltim | Foto: dok panitia

Aku tak percaya pada ketinggian—sebagaimana aku percaya pada tanah—ia tak menjanjikan keselamatan dan aku percaya bahwa keselamatan berada pada pijakan. Meskipun, pantat berpijak pada tali yang dibuat kuat, tapi seutas tali tak mampu menandingi, atau sekadar memberi perasaan aman sebagaimana tanah. Betul, orang perlu pegangan, kepercayaan, pijakan, dan tali adalah pijakan. Tapi tali tak mampu memberi kepercayaan: aku tak bisa berpijak pada tali yang kemudian membuat siapa pun meluncur lalu terkejut dengan caranya berhenti.

Di ujung luncur Flying fox, langit seolah rendah, dan tanah tampak begitu jauh di titik awal luncur. Kau tahu, di bawah jalur luncur adalah tanah merah, lalu beton, dan kolam. Tanah merah yang keras tentu tak menjamin keselamatan, sebagaimana beton, dan kolam memberi keyakinan itu, tapi hanya pada orang yang bisa berenang. Aku tidak bisa berenang.

“Aha!” Aku seolah memiliki ide untuk mengatasi ketakutan itu, “Menatap langit sebagaimana menatapnya dari tanah barangkali adalah cara untuk yakin,” pikirku.

Di ujung tatapan, aku sejajar dengan barisan bukit yang dipenuhi rerimbunan, juga awan, tapi sialnya, angin berembus kencang. Kakiku seperti sayur yang dipetik kemarin siang. Aku meminta kepastian aba-aba untuk memastikan persiapanku: mengatur posisi tali, menarik napas, dan berdoa—aku akan berdoa sepanjang jalur luncur—memegang kuat tali pinggang, berteriak agar keluar segala khawatir, tapi jangan berharap rencana berjalan mulus dalam situasi seperti ini. Penjaga mendorongku setelah hitungan ketiga. Kakiku lemas. Di tengah jalan, seolah-olah seutuh ruh tertinggal di tempat awal. “Aku akan pingsan!” gumamku dalam hati.

Berpose bersama penari

Beseluncur pada flying fox barangkali tak ada bedanya dengan memainkan satu pertunjukan. Aku perlu satu pegangan, keyakinan, seperti tanah. Tapi, meluncur pada flying fox memberi peluang lain, dan ini tetap permainan. Tapi, “Sesungguhnya, hal apa yang membuatku takut dengan ketinggian?” pikirku, “padahal, tanah tetap tak menjamin utuh keselamatan.” Ia bisa tiba-tiba retak, sebagaimana yang terjadi dalam film atau berita, longsor yang menimbun banyak orang, tanah berlumpur yang membuat seseorang terpeleset lalu jatuh dan patah tulang ekor, dan sebagainya. Tapi, aku percaya pada tanah.

Kegiatan ini berlangsung di Ladaya, Kutai, Kartanagara, Kalimantan Timur dalam rangka Temu Seni—salah satu rangkaian acara Indonesia Bertutur tahun 2022, diselenggarakan Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud Ristek—khususnya Monolog dari tanggal 18-24 Mei. Dan flying fox adalah satu selingan dalam persiapan pertunjukan. Selama kegiatan, kami mendapat luang untuk ngobrol. Dan terjadilah yang mestinya terjadi. Sesuatu yang baru kadang membuat kita merasa asing, meskipun sesuatu itu mirip dengan hal yang ada di sekitar kita: tanah di Kalimantan—sekurang-kurangnya dari yang kulihat—berwarna lebih cerah dari tanah di Bali. Tanah tampak begitu keras.

“Jika hujan, kita masih aman, tapi setelah hujan, jalan akan menjadi lumpur dan kita harus menunggu alat berat untuk meratakan jalan, membersihkan lumpur,” kata Rende Preyatno, seorang peserta Temu Seni asal Tenggarong yang tetiba menjadi pemandu kami.

“Begitu terus setiap hujan?” balasku.

“Ya.”

“Aspal?”

Dia tersenyum dan mengangkat bahu.

Sesi diskusi | Foto: Andi Eswe

Pada 20 Mei 2022, jadwal sedikit berubah: tak ada berbagi metode, tak ada latihan olah tubuh. Kami menuju Desa Lekaq Kidau, kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Sepanjang perjalanan, aku tak bisa tidur, dan tidur adalah bentuk kantuk yang paling bebal di jalan menuju perkampungan Dayak Kenyah itu. Sehari sebelumnya, fasilitator memanggilku pasca diskusi antar peserta.

“Kita ngobrol sebentar, Agus,” kata Andy Eswe selaku fasilitator.

“Kenapa, Mas?” balasku.

“Agus mau pentas besok?” katanya.

Aku tak bisa segera menjawab. Dua fasilitator, Andy Eswe dan Sri Qadariatin yang akrab disapa Uung, tetap pada posisi duduknya, menungguku mengangguk atau menggeleng, barangkali.

Pilihan yang sulit. Ini adalah kali pertama aku berkunjung ke Kalimantan, begitu pula dengan perkampungan dan orang-orangnya tapi cerita yang aku bawa berangkat dari mitos lokal, tentang maling yang mengencingi Bulan Pejeng tapi ini peluang pentas di tempat yang barangkali hanya kukunjungi sekali seumur hidup tapi seharusnya persiapan lebih panjang dan matang tapi tidakkah terlalu cepat bila diterima? tapi kesempatan tak akan datang lagi tapi bagaimana kalau semua mengalir saja? Ah….

Dengan gegas aku menjawab, “Iya”.

Aku, Fuadi S Keulayu asal Aceh, dan Novita Andriani Butar Butar asal Medan tampil di Lamin, semacam pendopo bagi masyarakat suku Dayak Kenyah. Pagi itu, Fuadi lebih mirip teh hangat ketimbang bening pagi, dan novita yang biasanya bicara dengan lugas, sepanjang jalan tak terlalu banyak berkisah, dan aku sudah menelan antimo agar lelap, tapi tentu sebagaimana kukatakan sebelumnya, aku tetap terjaga. Ada hal yang membuat kami tampak gelisah: tentu saja.

Tanah terlihat merah, kadang orange, cokelat pekat, dan tampak keras. Warna yang sama juga mendominasi air sungai Mahakam yang menjadi jalur penyeberangan kami, dan sesampai di Lekaq Kidau, hatiku berdegup. Di pinggir jalan yang tampak seperti rawa-rawa, jejeran bunga lotus putih tumbuh rimbun seperti taman bunga. Sebagian tanaman itu sedang mekar-mekarnya, sebagian lagi didominasi daun. Aku tetiba terbayang taman bagi para kaisar Jepang, barangkali juga karena orang di Lekaq Kidau memiliki kulit dan mata yang mirip dengan orang di negara itu.

Di ujung pandangan, bebukitan berbaris. Aku tak melihat satu pun rumah di bukit itu, tapi udara gerah begitu aku baru turun dari mobil, suhu mencapai 28 derajat celcius, sinyal lenyap, keringat tak ada putusnya dan orang-orang tersenyum dan tetua adat menyambut kami di pintu depan Lamin dan membacakan doa dengan bahasa setempat: berahap hal buruk terputus begitu memasuki pintu Lamin.

Lamin itu kurang lebih seukuran lapangan voli—tentu sangat luas untuk menjadi sebuah panggung—terbuat dari kayu, dan berdiri di atas rawa. Di dalam Lamin, terdapat beberapa tiang, sebuah panggung kecil di tepi, cukup kecil untuk ukuran bangunan seluas lapangan volly; tribal sepanjang tembok yang tersusun dari kayu ulin, dan jendela tak berdaun dan bebukitan terlihat dari sana. Keasingan kadang membawa kita pada bayangan tertentu: bukit dan benteng, misalnya.

Tarian dimulai, sebuah pertunjukan yang mengisahkan pernikahan adat dan pertarungan.

Kegiatan di Lamin, Lekaq Kidau | Foto dok pribadi

Aku duduk bersama peserta Indonesia Bertutur di tengah, dan masyarakat Lekaq Kidau duduk di pinggir. Penari perempuan memainkan bulu burung yang sudah tersusun di tangannya, menyusul sebaris laki-laki yang memegang tameng kayu, menghentak-hentak kaki di lantai Lamin. Tetiba, seseorang seperti menjerit. Aku tak tahu asal suara itu. Mataku pun sibuk mencari sumber suara, lalu orang lain membalasnya, ruangan menjadi ramai, dan suara seperti mengitari kami.

Suara lantai yang dihentak-hentak ikut memenuhi ruangan. Kaki para penari terlihat begitu kokoh, sebagaimana Lamin yang berdiri di atas rawa itu. Situasi ini mengingatkanku pada situasi tanah Bali dan bentuk gerak kaki pada tari Bali. Tanah sawah yang berlumpur dan gerak menginjak lumpur untuk pematang. Barangkali, Kondisi tanah berperan besar untuk membidani bentuk, atau jenis kesenian tertentu. Sementara itu, apakah karena tanah merah itulah kemudian lahir bentuk hentakan seperti itu?

Hal yang sama kurasa ketika mendengar pertunjukan dari Fuadi S Keulayu. Ia membawakan satu kesenian dari Aceh, yaitu hikayat dengan bahasa ulang alik Indonesia-Aceh. Aku tertegun karena sepanjang jalan di awal pertemuan, Fuadi mengisahkan kecemasannya pada pentas, dan permainan biola yang ia katakan seadanya, “Hanya sebagai pengiring,” terangnya. Tapi, ia berhasil membangun suasana pesisir dalam pertunjukannya; aku seperti mendengar desau angin, ombak, dan nyanyian di antara situasi itu. Aku merasakan kesenian yang lahir dari tanah pesisir itu.

Pertunjukan-pertunjukan ini pula yang membuat aku memikirkan kembali tentang ketakutanku dengan ketinggian, kepercayaan pada tanah tapi sesungguhnya kaki dibatasi sandal atau sepatu, keseharian di depan ponsel, laptop, sepeda motor. Hal apa yang lahir dari semua kebiasaan itu? Pertunjukanku berlangsung setelah pertunjukan Fuadi. Apakah aku akan meluncur? Bisakah aku percaya pada seutas tali yang sedikit lebih besar dari ibu jari? Aku harap mengalir! [T]

Tenggarong-Denpasar, 2022

Tags: KalimantanSeniseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dokter Arya: Kesehatan, Bukan Hanya Harus Dijaga, Tapi Juga Harus Ditulis

Next Post

BELAJAR DARI DESA PEDAWA: RATU SURAT-MELAYU & RATU NGURAH MELAYU

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

BELAJAR DARI DESA PEDAWA: RATU SURAT-MELAYU & RATU NGURAH MELAYU

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co